Episode 2

Bab 02 - Aku Saja Yang Menikah

Arga sudah menduga keluarga Santoso akan berubah sikap begitu melihat mobil yang ia pakai.

Tetap saja, melihatnya langsung terasa menarik.

Bu Ratna yang tadi menyambut dengan senyum lebar kini duduk dengan punggung terlalu tegak. Pak Bambang lebih banyak diam. Rania, perempuan yang seharusnya menjadi calon istrinya, menatap ponsel setiap beberapa menit, seperti sedang menunggu alasan untuk pergi dari ruang tamu.

Bima menahan diri agar tidak tertawa.

Arga tahu sahabatnya itu ingin sekali berbisik, "Kan, benar kata gue."

Tapi Bima cukup tahu diri. Di depan keluarga orang, ia masih bisa menjaga mulut.

"Jadi, Mas Arga tinggal di Jakarta?" tanya Ratna.

"Iya, Bu. Tapi beberapa bulan ini saya bolak-balik Bandung."

"Tinggal di mana kalau di Bandung?"

"Kadang di mess proyek. Kadang di penginapan."

Rania mengangkat wajah. "Belum punya rumah di Bandung?"

"Belum."

Jawaban itu pendek.

Rania tersenyum sopan, tetapi matanya kehilangan minat.

Arga menaruh cangkirnya. Ia tidak tersinggung. Justru rasa lega pelan-pelan muncul di dadanya. Kalau keluarga ini mundur, ia tidak perlu melawan wasiat Kakek Surya secara terang-terangan.

Kakeknya, sebelum meninggal, memegang tangan Arga dan berkata dengan napas tersengal, "Hadi Santoso pernah menyelamatkan hidup Kakek. Kalau keluarganya membutuhkan kita, jangan palingkan muka. Kalau cucu perempuannya baik, nikahi dia. Jangan biarkan janji Kakek mati begitu saja."

Arga mencintai kakeknya.

Tapi ia tidak suka dipaksa menikah dengan perempuan yang bahkan tidak ia kenal.

Karena itu ia datang dengan mobil tua milik salah satu staf lapangan, memakai kemeja paling sederhana, dan meminta Bima tidak memanggilnya `Pak Arga` di depan orang-orang ini.

Rencananya mudah.

Biarkan keluarga Santoso menolak.

Ia tetap bisa berkata kepada almarhum kakeknya bahwa ia sudah datang.

Hanya saja, rencana itu mulai terganggu saat perempuan pembawa teh tadi masuk.

Safira.

Ia bukan Rania. Dari cara Bu Ratna memanggilnya, Arga tahu posisinya di rumah itu berbeda. Bukan tamu utama. Bukan anak yang sedang dipamerkan. Lebih seperti seseorang yang hanya muncul ketika dibutuhkan, lalu disuruh menghilang.

Namun perempuan itu punya mata yang jernih.

Tidak ada rasa ingin menilai pakaiannya.

Tidak ada rasa ingin tahu tentang mobilnya.

Saat menuang teh, tangannya cekatan dan tenang. Di balik wajah manisnya, ada kelelahan yang terlalu rapi disembunyikan.

Arga tahu bentuk kelelahan seperti itu.

Kelelahan orang yang sudah terlalu lama diminta mengerti.

"Mas Arga," suara Rania membuyarkan pikirannya. "Saya boleh bicara terus terang?"

"Silakan."

Rania menarik napas, menoleh kepada Ratna sebentar, lalu kembali menatap Arga.

"Saya menghormati hubungan Kakek Hadi dan keluarga Kusuma. Tapi pernikahan itu bukan cuma soal janji orang tua, kan? Kita yang menjalani."

"Benar."

"Saya... tidak merasa kita cocok."

Bambang menggeser duduknya. Ratna menatap Rania, memberi isyarat agar ia tidak terlalu kasar.

Rania melanjutkan, "Saya punya rencana sendiri. Karier, kehidupan, semuanya. Saya tidak bisa menikah hanya karena pesan almarhum. Apalagi kalau Mas Arga sendiri juga belum mapan."

Bima menunduk, pura-pura melihat ponsel.

Arga hampir tersenyum.

Belum mapan.

Kalau para direktur Kusuma Group mendengar kalimat itu, mungkin ruang rapat besok akan penuh orang tersedak kopi.

"Saya mengerti," kata Arga.

Ratna cepat menyela, "Rania tidak bermaksud merendahkan. Anak perempuan zaman sekarang memang punya pertimbangan. Kami sebagai orang tua juga harus memastikan masa depannya."

"Tentu, Bu."

"Lagi pula, janji Kakek dulu kan tidak tertulis. Kita bisa tetap menjaga silaturahmi tanpa harus memaksakan pernikahan."

Kalimat itu keluar begitu halus, tetapi intinya jelas.

Mereka menolak.

Arga seharusnya lega.

Namun dari arah lorong, ia melihat Safira berdiri dengan piring buah di tangan. Perempuan itu jelas mendengar semuanya. Wajahnya tidak menunjukkan apa-apa, tetapi matanya bergerak sedikit ke arah Rania, lalu ke arah Ratna.

Di sana, ada sesuatu yang tajam.

Bukan marah.

Lebih seperti seseorang yang melihat pintu terbuka.

"Kalau begitu," Arga mulai bicara, "saya tidak akan memaksa."

Rania menghela napas lega terlalu cepat.

Safira maju menaruh piring buah di meja. "Maaf, buahnya."

"Safa, sudah. Kamu ke belakang," kata Ratna.

Tapi Safira tidak langsung pergi.

Ia menatap ibunya.

"Ma, kalau Kak Rania tidak mau, aku saja."

Ruang tamu mendadak sunyi.

Bima mengangkat kepala.

Arga menatap Safira tanpa berkedip.

Ratna seperti tidak yakin dengan pendengarannya. "Apa?"

Safira berdiri tegak. Nampan kosong masih ia pegang di depan tubuhnya.

"Aku saja yang menikah dengan Mas Arga."

"Kamu gila?" Rania spontan berdiri. "Ini pembicaraan orang tua, Safa."

"Aku juga anak di rumah ini."

Ratna tertawa pendek, tajam. "Anak? Kamu tahu apa soal pernikahan? Jangan bicara sembarangan hanya karena ingin cari perhatian."

Safira menoleh kepada Arga. Untuk pertama kalinya sejak tadi, ia menatap lelaki itu tanpa menunduk.

"Mas Arga datang karena pesan kakeknya. Kakek Hadi juga pasti ingin janji itu dihormati. Kalau Kak Rania tidak mau, dan keluarga Kusuma tidak keberatan, aku bersedia."

Bambang memukul lengan kursi. "Safa!"

"Pa," suara Safira tetap pelan, tetapi tidak gemetar. "Selama ini Mama bilang aku harus tahu diri. Aku tahu. Aku bukan anak yang dibanggakan. Aku bukan yang Mama pilih untuk tampil di depan tamu. Tapi kalau keluarga ini butuh seseorang untuk menjaga nama baik, biasanya aku yang disuruh maju, kan?"

Ratna wajahnya memerah. "Jaga mulut kamu."

"Aku sedang menjaganya, Ma. Aku tidak menyebut apa pun yang lebih buruk."

Rania menatapnya penuh amarah. "Kamu mau merebut calonku?"

Safira hampir tertawa. "Kakak baru saja menolak."

"Tetap saja ini memalukan!"

"Yang memalukan itu menilai orang dari mobilnya, Kak."

Bima batuk sekali. Kali ini ia benar-benar hampir gagal menahan tawa.

Ratna berdiri. "Kamu masuk kamar sekarang."

"Tidak sebelum Mas Arga menjawab."

Semua mata beralih kepada Arga.

Arga menatap perempuan di depannya. Safira tidak terlihat seperti perempuan yang sedang mengejar kesempatan menjadi menantu keluarga kaya. Ia bahkan belum tahu siapa dirinya. Yang ia lihat mungkin hanya lelaki biasa yang sedang ditolak karena dianggap tidak cukup.

Tapi justru itu yang membuat Arga tidak bisa langsung mengatakan tidak.

"Kamu yakin?" tanya Arga.

Ratna langsung menyela, "Mas Arga, jangan dengarkan dia. Safira ini kadang terlalu emosional."

"Saya bertanya kepada Safira, Bu."

Ratna terdiam, tersinggung.

Safira mengangguk. "Aku yakin."

"Kenapa?"

Safira menggenggam nampan lebih erat.

Karena aku ingin keluar dari rumah ini.

Karena aku lelah diminta mengalah untuk orang yang tidak pernah menganggapku.

Karena kalau aku tetap di sini, hidupku akan habis untuk membayar kesalahan dan ambisi orang lain.

Tapi semua itu tidak ia ucapkan.

Ia hanya berkata, "Karena aku menghormati Kakek Hadi. Dan karena Mas Arga tidak terlihat seperti orang jahat."

Bima menoleh cepat ke arah Arga, matanya melebar, seolah ingin berkata, "Gila, ada yang menilaimu sebaik itu cuma dari lima menit."

Arga tidak memedulikannya.

"Kalau saya tidak punya rumah di Bandung?"

"Aku bisa tinggal di kontrakan."

"Kalau penghasilan saya tidak sebesar harapan keluargamu?"

"Aku bekerja."

"Kalau hidup setelah menikah tidak nyaman?"

Safira menatapnya lebih tenang. "Hidupku sekarang juga tidak terlalu nyaman."

Kalimat itu membuat Arga diam.

Ada luka di sana, tetapi bukan luka yang meminta dikasihani. Safira hanya menyampaikan fakta.

Rania mencibir. "Bagus. Kalau begitu nikah saja. Jangan menyesal kalau hidup susah."

Ratna menatap Rania, lalu Safira, lalu Arga. Otaknya jelas bergerak cepat. Menolak Arga berarti mungkin menyinggung keluarga Kusuma. Membiarkan Rania menikah dengan lelaki yang tampaknya biasa saja membuatnya tidak rela. Tapi kalau Safira yang menikah, setidaknya janji keluarga tetap terselesaikan tanpa mengorbankan putri kesayangannya.

Perhitungan itu terlihat jelas di wajahnya.

Safira melihatnya.

Dan anehnya, ia tidak sakit lagi.

Mungkin karena ia sudah menduga.

Bambang berdeham. "Kalau... kalau keluarga Kusuma tidak keberatan, kita bisa bicarakan lagi."

Arga menatap Safira.

Perempuan itu masih berdiri dengan punggung tegak. Tidak ada kegembiraan di wajahnya. Tidak ada mimpi romantis. Hanya keputusan.

Entah kenapa, Arga ingin tahu sejauh apa keputusan itu bisa membawanya.

"Saya tidak keberatan," kata Arga.

Ratna terkejut. Rania juga.

Safira menarik napas pelan.

Arga berdiri, lalu mengulurkan tangan, bukan untuk bersalaman, tetapi seolah memberi ruang bagi Safira untuk memilih sekali lagi.

"Tapi pernikahan bukan tempat pelarian yang mudah. Kalau kamu memilih saya, kamu harus tahu, jalan setelah ini mungkin tidak seperti yang kamu bayangkan."

Safira menatap tangan itu, lalu menatap wajah Arga.

"Aku tidak sedang mencari yang mudah."

"Lalu apa yang kamu cari?"

Safira menjawab tanpa ragu.

"Jalan keluar."

Arga menurunkan tangannya perlahan.

Di ruang tamu keluarga Santoso yang mendadak sesak oleh kepentingan, ia membuat keputusan yang bahkan tidak ada di rencananya pagi tadi.

"Baik," katanya. "Kalau begitu, kita menikah."

Terpopuler

Comments

Mimin Rosmini

Mimin Rosmini

sebetulnya .safira anak kandung atau siapa?ko bisa diperlakukan seperti ke anak tiri?

2026-08-10

2

sunaryati jarum

sunaryati jarum

Itu jalan menuju kebebasan dari tekanan keluargamu,Nak Safira

2026-06-06

0

Dewa Nara

Dewa Nara

kenapa Safira diperlakukan berbeda?

2026-08-23

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
Episodes

Updated 110 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!