Episode 3

Bab 03 - Mahar Untuk Anak Yang Dilupakan

Ratna tidak langsung menerima keputusan itu dengan wajah bahagia.

Ia menerima karena tidak punya pilihan yang lebih cantik untuk ditunjukkan.

Setelah Arga dan Bima pulang, ruang tamu keluarga Santoso berubah menjadi pengadilan kecil. Ratna berdiri di tengah ruangan, Rania duduk dengan lengan terlipat, Bambang mondar-mandir sambil mengusap dagu, sedangkan Safira tetap berdiri di dekat meja, seperti terdakwa yang belum boleh duduk.

"Kamu sadar apa yang baru saja kamu lakukan?" tanya Ratna.

"Sadar, Ma."

"Kamu mempermalukan Mama di depan tamu."

"Aku menyelamatkan pembicaraan yang Kak Rania tolak."

"Jangan putar balik." Ratna menunjuknya. "Kamu sengaja mencari kesempatan. Dari dulu kamu memang diam-diam punya ambisi."

Safira menatap ibunya.

Ambisi?

Kalau benar ia punya ambisi, mungkin ia tidak akan bangun sebelum subuh setiap hari untuk menanak nasi bagi orang-orang yang bahkan tidak pernah bertanya apakah ia sudah makan.

"Aku cuma bilang bersedia menikah."

"Dengan lelaki yang baru kamu lihat lima menit!"

"Kak Rania juga diminta mempertimbangkan lelaki yang baru dilihat lima menit."

Rania langsung berdiri. "Jangan samakan aku dengan kamu."

Safira menoleh. "Kenapa tidak boleh? Kita sama-sama perempuan di rumah ini."

"Karena aku punya masa depan."

Kalimat itu jatuh di ruangan seperti gelas pecah.

Bambang berhenti berjalan. Ratna menatap Rania sebentar, bukan karena tidak setuju, tetapi karena kalimat itu terlalu telanjang.

Safira tersenyum kecil.

"Berarti aku tidak punya?"

Rania menggigit bibir. "Maksudku bukan begitu."

"Tidak apa-apa. Aku sudah sering mendengar versi lain dari kalimat itu."

Ratna memijit pelipis. "Sudah. Kita bicara praktis saja. Kalau kamu memang mau menikah, jangan berharap resepsi besar. Keluarga Kusuma juga kelihatannya tidak membawa apa-apa yang luar biasa."

"Aku tidak minta resepsi."

"Bagus."

"Tapi aku minta hakku."

Ratna mengangkat wajah perlahan. "Hak apa?"

Safira menaruh nampan di meja. Suaranya tetap pelan, tetapi setiap kata jelas.

"Mahar dan seserahan dari pihak Mas Arga bukan urusan Mama. Itu hakku sebagai calon istri. Lalu dari keluarga ini, aku minta uang yang dulu Nenek tinggalkan untuk pendidikanku."

Wajah Bambang berubah.

Ratna langsung berkata, "Uang itu sudah dipakai untuk kebutuhan rumah."

"Kebutuhan rumah atau DP mobil Kevin?"

"Safira!"

"Aku tahu, Ma. Aku yang disuruh mengambil berkas di laci Papa waktu itu. Aku lihat catatannya."

Kevin yang baru turun tangga berhenti. "Kenapa namaku dibawa-bawa?"

Safira menatap adiknya. "Karena bensin, uang nongkrong, cicilan motor, semua sering dibawa ke namaku."

"Ih, lebay banget."

Ratna menunjuk ke arah kamar. "Kevin, masuk."

"Aku belum sarapan kedua."

"Masuk!"

Kevin mendengus lalu pergi.

Safira kembali menatap orang tuanya.

"Aku tidak minta semua. Aku minta bagian yang seharusnya dipakai untuk kursus desainku dulu. Mama bilang uangnya disimpan. Aku percaya. Sekarang aku butuh untuk memulai hidup setelah menikah."

Bambang menghindari tatapannya.

Ratna tertawa sinis. "Kamu baru mau menikah dengan orang biasa saja sudah mulai hitung-hitungan. Bagaimana nanti kalau dia benar-benar miskin?"

"Justru karena dia orang biasa, aku tidak mau masuk pernikahan tanpa pegangan."

Rania menyahut, "Jadi kamu menikah demi uang?"

"Kalau aku menikah demi uang, aku akan rebut Dimas dari Kakak."

Rania membeku.

Bambang dan Ratna sama-sama menoleh.

"Apa maksudmu?" tanya Bambang.

Safira mengambil ponsel dari saku apron. Ia membuka galeri, lalu menaruh layar menghadap meja.

Foto pertama memperlihatkan Rania dan Dimas duduk terlalu dekat di sebuah kafe. Foto kedua lebih jelas. Tangan Dimas menggenggam tangan Rania. Foto ketiga memperlihatkan Dimas mencium pipi Rania di parkiran.

Rania langsung pucat.

"Kamu mata-mata?"

"Aku hanya tidak buta."

Dimas adalah laki-laki yang selama setahun terakhir masih mengirim pesan kepada Safira, masih memanggilnya sayang saat butuh dibuatkan desain gratis untuk usaha temannya, tetapi diam-diam jalan dengan Rania.

Safira sudah tahu lama.

Ia tidak pernah meledak karena, anehnya, rasa cintanya kepada Dimas sudah habis lebih dulu sebelum rasa marahnya sempat tumbuh.

Ratna mengambil ponsel itu dengan tangan gemetar. "Safa, jangan buat fitnah."

"Itu foto. Kalau kurang, aku punya rekaman suara Dimas saat bilang Kak Rania lebih pantas jadi istrinya karena punya akses ke perusahaan Papa."

Rania menangis. "Ma, aku bisa jelaskan."

Ratna menatap putri kesayangannya dengan wajah panik. Bukan panik karena Rania menyakiti Safira. Panik karena skandal ini bisa menyebar.

Safira mengambil ponselnya kembali.

"Aku tidak akan menyebarkan apa-apa kalau kalian tidak memaksaku diam soal hakku."

Bambang duduk pelan. "Safa, ini keluarga."

"Aku tahu. Karena ini keluarga, aku masih bicara baik-baik di rumah."

Ratna menatapnya seperti baru pertama kali melihat Safira bukan sebagai anak yang bisa diperintah.

"Berapa yang kamu minta?"

Safira menyebut angka. Tidak besar dibanding uang belanja Rania untuk tas baru. Tidak besar dibanding biaya Kevin liburan ke Bali bersama teman-temannya. Tapi cukup untuk sewa tempat tinggal kecil dan modal awal kerja.

Ratna hampir menolak, tetapi Bambang mengangkat tangan.

"Berikan."

"Bambang!"

"Berikan," ulang Bambang, lebih lelah daripada tegas. "Kita sudah cukup kacau hari ini."

Safira mengangguk. "Terima kasih, Pa."

Ratna menatapnya dingin. "Setelah menikah, jangan berharap bisa bolak-balik meminta apa pun dari rumah ini."

Safira hampir menjawab, tetapi suara pelan dari arah lorong membuat semuanya berhenti.

"Safa mau menikah?"

Kakek Hadi berdiri dengan tangan memegang kusen. Entah sejak kapan ia berada di sana.

Safira segera menghampirinya. "Kakek, kok keluar sendiri?"

"Safa mau menikah dengan cucu Surya?"

Safira menahan napas. "Iya, Kek."

Kakek memegang tangannya. Matanya basah, tetapi senyumnya lembut.

"Bagus. Surya orang baik. Cucunya harusnya baik."

Ratna berdeham. "Pak, ini masih dibicarakan."

"Jangan sakiti Safa," kata Kakek, tiba-tiba menatap Ratna dengan mata jernih. "Anak ini sudah terlalu sering mengalah."

Ruangan kembali sunyi.

Safira menunduk, takut kalau ia menatap Kakek lebih lama, air matanya jatuh di depan orang-orang yang tidak boleh melihatnya lemah.

Malam itu, pesan dari nomor tak dikenal masuk ke ponselnya.

`Ini Arga. Bima memberi nomormu. Besok keluarga saya akan mengirim orang untuk membicarakan akad. Kamu masih bisa mundur.`

Safira membaca pesan itu berkali-kali.

Lalu ia mengetik.

`Saya tidak mundur. Tapi saya ingin akad dilakukan dengan benar. Ada wali, saksi, mahar, dan semua dokumen resmi. Saya tidak mau jadi rahasia yang mudah dibuang.`

Balasan Arga datang tidak sampai satu menit.

`Kamu tidak akan jadi rahasia yang mudah dibuang.`

Safira menatap layar lama.

Ia tidak tahu apakah harus percaya.

Tapi untuk pertama kalinya hari itu, dadanya terasa sedikit longgar.

Seperti ada pintu kecil yang terbuka.

Dan dari balik pintu itu, udara luar masuk.

Di sisi lain kota, Arga masih duduk di dalam mobil ketika pesan Safira masuk. Bima di kursi kemudi menoleh beberapa kali, menunggu komentar, tetapi Arga hanya membaca layar dengan wajah yang sulit ditebak.

"Dia minta akad yang benar?" tanya Bima akhirnya.

"Iya."

"Bagus. Berarti dia bukan tipe yang mudah diseret."

Arga tidak menjawab.

Bima bersandar. "Ga, kamu sadar kan? Kalau kamu lanjut, ini bukan lagi sekadar membuat keluarga Santoso menolak. Gadis itu benar-benar akan jadi istrimu."

"Saya sadar."

"Dan dia tidak tahu kamu siapa."

Arga menatap jalan di depan. Lampu merah memantul di kaca mobil tua yang mereka pinjam khusus untuk sandiwara hari itu.

"Justru karena itu saya ingin lihat bagaimana dia memilih."

"Dia memilih jalan keluar, bukan kamu."

Kalimat Bima tepat sasaran.

Arga menyimpan ponsel. "Saya tahu."

"Terus?"

"Kalau dia butuh jalan keluar, setidaknya saya pastikan jalan itu tidak membawanya ke tempat yang lebih buruk."

Bima menghela napas. "Kalimatmu mulai terdengar berbahaya."

"Kenapa?"

"Karena kamu biasanya tidak peduli sejauh ini."

Arga tidak membantah.

Bayangan Safira yang berdiri di ruang tamu dengan nampan kosong masih tertinggal di kepalanya. Perempuan itu tidak memohon. Tidak menjual kesedihan. Tidak juga berpura-pura tertarik pada apa yang bisa ia berikan.

Ia hanya berkata ingin jalan keluar.

Entah kenapa, Arga ingin menjadi jalan yang cukup aman untuk dilewati.

Terpopuler

Comments

Mimin Rosmini

Mimin Rosmini

ini keluarga toxic banget ya

2026-08-10

0

afri yani

afri yani

yang bener aja. mak tiri kali..

2026-06-27

0

wahida nurusshobah

wahida nurusshobah

kereeen

2026-07-30

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
Episodes

Updated 110 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!