Episode 4

Bab 04 - Akad Tanpa Resepsi

Akad nikah mereka berlangsung dua minggu kemudian.

Tidak ada ballroom hotel.

Tidak ada dekorasi bunga memenuhi dinding.

Tidak ada undangan tebal dengan emboss emas seperti yang selalu Rania simpan di Pinterest untuk pernikahannya kelak.

Hanya ruang tengah rumah keluarga Santoso yang dibersihkan lebih rapi dari biasanya, meja rendah untuk penghulu dari KUA, dua orang saksi, keluarga inti, beberapa tetangga yang terlalu dekat untuk tidak diundang, dan Kakek Hadi yang duduk di kursi roda dengan peci hitam.

Safira memakai kebaya putih sederhana buatannya sendiri.

Ia menjahitnya selama tiga malam setelah semua orang tidur. Bahannya bukan yang paling mahal, tetapi jatuhnya pas di tubuh. Kerahnya rapi, lengan panjangnya menutup pergelangan, dan ada detail bordir kecil di ujung manset yang ia kerjakan sambil menahan kantuk.

Rania melihatnya dari tangga.

"Kebaya kamu lumayan juga."

"Terima kasih."

"Sayang pengantinnya cuma begini."

Safira memasang peniti di hijabnya tanpa menoleh. "Pengantinnya tetap sah."

Rania mendengus. "Kamu sekarang pintar menjawab."

"Mungkin dari dulu aku bisa. Cuma dulu tidak ada alasan untuk repot-repot."

Wajah Rania mengeras. "Jangan merasa menang cuma karena hari ini kamu akad. Kamu sendiri tahu, Mas Arga itu bukan siapa-siapa. Kalau nanti hidupmu susah, jangan kembali sambil menangis."

Safira akhirnya menatap kakaknya melalui cermin.

"Kalau aku menangis, aku akan pilih tempat yang tidak membuat Kakak repot."

Rania kehilangan kata.

Ratna masuk dengan kotak kecil berisi kalung tipis. Ia meletakkannya di meja rias.

"Pakai ini. Biar tidak terlalu kosong."

Safira melihat kalung itu. Ia mengenalinya. Kalung lama milik Rania yang pengaitnya pernah patah, lalu diperbaiki di toko emas dekat pasar.

"Tidak usah, Ma."

"Jangan keras kepala. Tamu bisa melihat."

"Aku sudah punya bros."

"Bros kain buatanmu itu?"

"Iya."

Ratna menatapnya kesal. "Kamu ini susah sekali diatur."

Safira ingin berkata bahwa ia sudah diatur seumur hidupnya. Hari ini, ia hanya ingin memilih apa yang melekat di tubuhnya sendiri.

Tapi suara Bima dari bawah membuat pembicaraan berhenti.

"Assalamualaikum! Rombongan mempelai pria sudah datang!"

Jantung Safira berdetak lebih cepat.

Ia menarik napas panjang, lalu turun.

Arga berdiri di ruang tengah memakai baju koko putih dan celana hitam. Tidak ada jas mahal, tidak ada jam mencolok. Tapi sekali lagi, kesederhanaan itu tidak berhasil membuatnya terlihat biasa.

Saat melihat Safira turun, pandangan Arga berhenti.

Bima yang berdiri di sampingnya menyenggol pelan. "Jangan kelihatan kaget begitu. Nanti ketahuan."

Arga tidak menjawab.

Safira berhenti di depan Kakek Hadi. Kakek mengangkat tangan dengan susah payah, menyentuh punggung tangannya.

"Cantik, Nak."

Hanya dua kata itu yang hampir membuat Safira runtuh.

"Terima kasih, Kek."

Prosesi dimulai tidak lama kemudian. Penghulu memeriksa dokumen, menanyakan persetujuan kedua pihak, memastikan wali dan saksi hadir. Bambang menjadi wali dengan wajah tegang. Entah karena menyesal, malu, atau hanya ingin semua cepat selesai, Safira tidak tahu.

Arga duduk di depan penghulu.

Punggungnya tegak.

Tangan kanannya menggenggam tangan Bambang.

Mahar yang disebutkan membuat ruang tengah mendadak berbisik.

Satu set alat salat, sejumlah uang dengan angka tanggal akad, dan selembar kain batik tulis motif parang rusak yang dulu dipesan khusus oleh Kakek Surya sebelum wafat.

Ratna tampak lega sekaligus sedikit kecewa. Mungkin ia berharap mahar rendah agar bisa membuktikan Arga memang tidak mampu. Tapi batik itu jelas bukan kain murah.

Safira memandang kain yang diletakkan di kotak kayu.

Ia mengerti nilai kain.

Motifnya halus. Pewarnaannya dalam. Pinggirannya rapi. Itu batik tulis asli, bukan cetak pabrik.

Arga mengucap ijab kabul dalam satu tarikan napas.

Lancar.

Tegas.

Sah.

Kata itu terdengar dari penghulu dan saksi.

Safira menunduk.

Ia sudah menikah.

Dengan lelaki yang dua minggu lalu tidak ia kenal.

Dengan lelaki yang dianggap tidak cukup oleh kakaknya.

Dengan lelaki yang menatapnya sekarang seolah akad sederhana ini bukan bahan main-main.

Setelah doa selesai, Arga mendekat untuk memasangkan cincin. Cincin itu sederhana, emas putih tipis dengan satu batu kecil. Bukan model yang akan membuat Rania iri. Tapi ukurannya pas di jari Safira.

"Kamu yang pilih?" bisik Safira tanpa sengaja.

"Iya."

"Kok ukurannya pas?"

"Saya menebak."

Bima di belakang mereka langsung batuk.

Safira curiga itu bukan tebakan, tetapi ia tidak bertanya.

Saat tiba gilirannya memasangkan cincin untuk Arga, tangannya sedikit gemetar. Arga menurunkan suara.

"Pelan saja. Saya tidak akan lari."

Safira menahan senyum.

Selesai prosesi, tetangga mulai memberi ucapan selamat. Beberapa memeluk Safira. Beberapa berbisik, bertanya kenapa bukan Rania. Ratna menjawab dengan kalimat yang sudah disiapkan.

"Rania masih ingin fokus karier. Safira yang memang lebih siap menikah."

Lebih siap.

Safira hampir tertawa.

Ia siap karena dipaksa hidup siap sejak kecil.

Dimas datang menjelang siang.

Safira sedang membantu memindahkan piring ketika lelaki itu muncul di teras bersama Rania. Wajahnya canggung, tetapi matanya tidak bisa lepas dari Safira yang memakai kebaya putih.

"Safa," panggilnya.

Safira menoleh. "Mas Dimas."

Arga yang sedang bicara dengan Bima langsung diam.

Dimas melangkah mendekat. "Aku dengar kamu menikah. Cepat sekali."

"Iya."

"Kamu seharusnya memberi tahu aku."

Safira menatapnya bingung. "Untuk apa?"

Dimas tersinggung. "Kita pernah dekat."

Rania menggenggam lengan Dimas lebih erat, tetapi wajahnya tegang.

Safira menaruh piring di meja. "Waktu Mas Dimas dekat dengan Kak Rania, Mas juga tidak memberi tahu aku."

Beberapa tetangga yang masih berada di ruang tengah langsung menoleh.

Rania berbisik tajam, "Safa!"

Dimas wajahnya memerah. "Itu tidak sesederhana yang kamu pikir."

"Memang. Selingkuh dengan kakak pacar sendiri pasti rumit."

Suara sendok jatuh terdengar dari dapur.

Ratna bergegas mendekat. "Safira, jangan bikin keributan di hari akadmu."

"Aku tidak mulai, Ma. Aku hanya menjawab."

Dimas mengepalkan tangan. "Kamu berubah."

"Alhamdulillah."

Bima menutup mulutnya.

Arga melangkah ke sisi Safira. Gerakannya tidak terburu-buru, tetapi cukup untuk membuat Dimas mundur setengah langkah.

"Ada yang perlu dibicarakan dengan istri saya?"

Istri saya.

Safira merasakan kata itu menghantam dadanya lebih keras dari yang seharusnya.

Dimas menatap Arga dari atas ke bawah, seolah sedang menilai apakah lelaki sederhana ini pantas berdiri di samping Safira.

"Saya hanya memberi selamat."

"Kalau begitu, terima kasih."

Nada Arga datar, tetapi jelas menutup percakapan.

Dimas tidak punya pilihan selain mundur. Rania menariknya pergi dengan wajah menahan malu.

Safira mengambil napas pelan.

"Terima kasih," bisiknya kepada Arga.

"Untuk apa?"

"Tadi."

"Saya cuma berdiri di samping istri saya."

Safira tidak langsung menjawab.

Ia tidak terbiasa mendengar seseorang mengatakan itu seolah dirinya layak dibela tanpa harus meminta.

Menjelang sore, acara sederhana itu selesai. Ratna tidak menangis saat melepas Safira. Bambang hanya menepuk bahunya. Kevin bertanya apakah kamar Safira nanti boleh dipakai untuk ruang game.

Safira tidak terkejut.

Ia masuk ke kamar, mengambil dua koper yang sudah ia siapkan. Tidak banyak barang. Beberapa pakaian, alat jahit, sketsa, laptop tua, dan kotak kecil berisi benda pemberian Kakek.

Saat ia keluar, Kakek Hadi menunggu di depan pintu kamar.

"Safa pulang lagi, kan?"

Safira berlutut di depannya. "Pulang, Kek. Aku akan sering datang."

"Kalau mereka jahat, bilang Kakek."

Safira tertawa kecil, air mata akhirnya jatuh. "Kakek yang harus sehat. Nanti aku buatkan kemeja baru."

Kakek mengangguk seperti anak kecil.

Arga menunggu di dekat pintu utama. Ia mengambil koper Safira tanpa bertanya.

Di halaman, Avanza tua itu terparkir.

Ratna melihatnya, lalu berbisik cukup keras kepada Rania, "Semoga dia kuat hidup sederhana."

Safira mendengar.

Arga juga.

Namun Arga hanya membuka pintu mobil untuk Safira.

"Silakan, Bu Arga."

Safira menatapnya.

"Jangan panggil begitu."

"Kenapa?"

"Aneh."

"Kalau begitu, Safa?"

Ia mengangguk pelan.

Arga menutup pintu setelah Safira duduk. Dari kaca mobil, Safira melihat rumah besar itu. Rumah yang selama ini ia rawat, bersihkan, dan perjuangkan, tetapi tidak pernah benar-benar terasa miliknya.

Mobil mulai bergerak.

Untuk pertama kalinya, Safira pergi bukan untuk membeli bahan dapur, bukan mengantar pesanan, bukan memenuhi perintah siapa pun.

Ia pergi sebagai seorang istri.

Dan anehnya, meski masa depannya belum jelas, dadanya terasa lebih ringan daripada pagi tadi.

Terpopuler

Comments

Tamirah

Tamirah

Keluarga dari rumah neraka'. paling tidak sdh bebas jadi anak rasa pembantu.

2026-05-20

2

Mimin Rosmini

Mimin Rosmini

safira sayang ..berdoa dan berusaha itu tugas seorang muslim.. hasilnya Allah yg menentukan..sabar ya safa sayang

2026-08-10

0

juwita

juwita

knpa kakek Safira g di ajak. klo g ada Safira spa yg urus kakek hadi

2026-05-27

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
Episodes

Updated 110 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!