Aku juga mencintai Sekar

Malam itu, sehari sebelum pernikahan Sekar, rumah Ratmini sudah ramai dipenuhi warga desa Wanasari. Tenda besar berdiri megah di halaman rumah dengan hiasan bunga dan lampu yang terlihat cantik dan mewah.

Semua biaya acara itu ditanggung oleh Pak Ramli, mulai dari dekorasi, makanan, hingga makeup pengantin untuk Sekar.

Orang-orang desa pun kagum melihat persiapan yang begitu meriah.

Di bagian belakang rumah, para perempuan sibuk memasak untuk acara besok.

Aroma gulai dan bawang goreng memenuhi udara malam. Suasana terasa hangat dengan obrolan dan tawa yang saling bersahutan.

"Nda sabar mau liat ijab kabul besok," ujar salah seorang ibu sambil mengaduk masakan di kuali besar.

"Biasanya, kalau dengar ijab kabul begitu jadi ingat saat menikah dulu." Sambut ibu yang lain sambil tersenyum malu.

"Iya, kenangan saat indahnya baru nikah langsung di ingatan." Sahut ibu lainnya yang langsung disambut gelak tawa para wanita di sana.

Sementara itu, para pria sibuk menyusun kursi. Anak-anak kecil berlarian sambil bermain di halaman. Malam itu, rumah Ratmini benar-benar dipenuhi kebahagiaan menjelang pernikahan Sekar dan Lindu.

"Besok kau sudah akan menjadi istri orang." Ujar Wulan malam itu di kamar Sekar sambil menatap sahabatnya dengan mata sendu.

"Entah kenapa aku jadi sedih." Katanya lagi pelan.

Sekar tersenyum kecil lalu menggenggam tangan Wulan.

"Wulan, aku itu hanya akan menikah, bukan pergi jauh dan nda kembali."

"Iya, tapi tetap saja. Rasanya seperti kau diambil dariku." Ucap Wulan jujur. Dia menunduk, berusaha menahan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya. Selama ini Sekar selalu ada untuknya, menemani suka dan duka sejak mereka kecil.

"Kau itu bersama Lindu sama pentingnya bagiku." Ujar Sekar lembut.

"Meskipun aku menikah dan besok menjadi istri Lindu, kau tetap sahabat terbaikku. Nda akan ada yang berubah."

Wulan menatap Sekar lama sebelum akhirnya tersenyum tipis.

"Aku hanya takut kau sibuk dengan kehidupan barumu nanti."

Sekar menggeleng pelan.

"Nda akan. Kau tetap bagian penting dalam hidupku."

Di tempat lain, suasana berbeda terlihat di sebuah pos ronda dekat ujung desa. Beberapa botol minuman berserakan di atas meja kayu yang mulai usang.

Malam semakin larut, namun Gaga masih duduk dengan wajah merah dan mata sayu akibat mabuk. Hatinya terasa hancur memikirkan bahwa besok Sekar, gadis yang selama ini dia cintai sepihak, akan resmi menjadi istri Lindu.

"Sudahlah, Ga. Bukan cuma kau yang patah hati karena pernikahan Sekar. Hampir setengah pemuda desa ini juga patah hati." Ujar Rahman sambil menepuk bahu Gaga pelan.

"Benar itu." Sahut Pandu sambil tertawa kecil, meski sebenarnya dia juga kecewa.

"Aku juga patah hati dibuatnya. Tapi mau bagaimana lagi? Dia memang bukan jodoh kita." Ujarnya lagi.

Gaga mendongak dengan tatapan tajam. Tangannya menggenggam botol erat sebelum meneguk isinya lagi.

"Ahh! Diam kalian!" Bentaknya di tengah mabuk.

"Kalian itu cuma kagum karena Sekar kembang desa. Karena dia cantik, lembut, dan dipuja banyak orang. Sedangkan aku nda!"

Rahman dan Pandu terdiam mendengar ucapan itu.

"Aku benar-benar mencintainya." Lanjut Gaga dengan suara melemah. "Sejak lama, bahkan sebelum dia bersama Lindu." Ucap Lindu.

"Aku itu sudah sangat lama menyukainya." Ujar Gaga dengan suara berat dan kacau karena pengaruh alkohol. Dia memukul meja kayu di depannya hingga botol-botol di atasnya bergetar.

"Tapi kenapa malah Lindu brengsek itu yang dipilihnya?"

Rahman menghela napas panjang. Dia paham perasaan sahabatnya itu, meski tetap merasa Gaga terlalu berlebihan.

"Ya jelas saja Sekar memilih Lindu." Ujar Pandu santai sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi bambu.

"Lindu itu punya segalanya. Kaya, tampan, sopan, pekerja keras, disukai orang tua pula."

Pandu terkekeh pahit sebelum melanjutkan ucapannya.

"Sedangkan kita?" Katanya sambil menunjuk dirinya sendiri, Rahman, dan Gaga bergantian.

"Kelebihan kita cuma satu, mabuk."

Rahman sampai tertawa kecil mendengar ucapan itu. Bahkan Gaga yang sedang kesal pun sempat terdiam.

"Kalau dipikir-pikir, benar juga." Gumam Rahman.

"Mana ada orang tua yang rela menyerahkan anak gadisnya ke pemabuk seperti kita."

"Diam kau!" Sahut Gaga kesal, meski nada suaranya mulai melemah. Dia menunduk dengan mata kosong.

"Aku mungkin berantakan begini, tapi perasaanku ke Sekar sungguh serius."

"Jika Sekar menerimaku." Ujar Gaga lirih dengan tatapan kosong menembus gelap malam.

"Jangankan berhenti mabuk. Bekerja siang malam demi membuat dia hidup kaya, walaupun tanpa tidur, aku sanggup."

Tangannya mengepal kuat di atas meja. Untuk pertama kalinya, Rahman dan Pandu mendengar kesungguhan sebesar itu dari mulut Gaga.

Biasanya pria itu hanya bercanda, membuat keributan, atau menghabiskan malam dengan minuman. Namun malam ini berbeda. Semua rasa kecewa dan cinta yang selama ini dipendam akhirnya keluar begitu saja.

"Aku bisa berubah demi dia." Lanjutnya pelan.

"Aku bisa jadi laki-laki yang lebih baik."

Pandu dan Rahman saling pandang. Mereka tahu Gaga tidak sedang bercanda.

"Tapi…" Suara Gaga melemah. Dia tertawa kecil, namun terdengar begitu pahit.

"Dia bahkan nda pernah memberiku kesempatan untuk membuktikan diri."

Suasana di pos ronda mendadak hening. Rahman dan Pandu saling berpandangan, bingung harus berkata apa lagi.

"Sekar mungkin memang nda pernah melihatmu seperti itu, Ga." Ujar Rahman hati-hati. Dia tidak ingin memperkeruh keadaan, namun juga tidak ingin memberi harapan palsu pada sahabatnya itu.

Gaga terdiam beberapa saat. Matanya menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong. Angin malam berembus pelan menerbangkan asap rokok yang mengepul di udara.

"Aku tahu." Gumamnya lirih.

"Dari dulu, dia nda pernah melihatku sebagai pria. Mungkin bahkan nda lebih dari pemuda desa yang kerjanya bikin keributan."

"Jangan bicara begitu." Sahut Pandu pelan.

"Tapi itu kenyataannya." Gaga tersenyum miris.

"Kalau aku jadi Sekar pun, aku pasti memilih Lindu."

Rahman menghela napas panjang. "Lindu memang sulit dikalahkan. Dia baik, pekerja keras, keluarganya terpandang. Semua orang desa juga menyukainya."

"Itulah yang paling membuatku kesal." ujar Gaga sambil menggertakkan rahang.

"Aku bahkan nda bisa membenci dia sepenuhnya, karena dia memang lelaki yang pantas untuk Sekar." Ucap Gaga akhirnya. Dia sadar, dia tetap harus melepaskan Sekar.

Setelah mengatakan itu, dia menyandarkan tubuhnya ke kursi bambu tua di belakangnya. Pasrah dengan pernikahan perempuan yang di cintainya.

Rahman dan Pandu hanya diam. Mereka tahu, menerima kenyataan terkadang jauh lebih sulit dibanding mempertahankan perasaan.

Terpopuler

Comments

kayyaaa

kayyaaa

duh kasian gaga🤭

2026-06-07

0

Nurr Tika

Nurr Tika

kamu harus berubah gaga

2026-05-21

1

lihat semua
Episodes
1 Lamaran
2 Harus laki-laki seperti Lindu
3 Aku juga mencintai Sekar
4 Sekar Menghilang!
5 Surat yang di tinggalkan Sekar
6 Cemohan orang desa
7 Pernikahan yang batal
8 Lamaran untuk Wulan
9 Terima saja
10 Wulan dan Lindu
11 Kematian Shinta
12 Ada yang melihat Sekar
13 Joko, pria yang melihat Sekar
14 Di suruh siapa?
15 Orang misterius!
16 Baskoro!
17 Wulan Hamil?
18 Darimana saja Nduk?
19 Aku melihatnya!
20 Kapan kak Sekar pulang?
21 Wulan dan Baskoro!
22 Dia itu suamiku!
23 Kabar angin yang berembus
24 Harapan yang tidak pernah hilang
25 Ketakutan Wulan
26 Bau busuk yang menyengat!
27 Bau apa itu?
28 Masuk ke sumur
29 Bukan Sapi!
30 Tidak Mungkin!!!
31 Seorang ibu yang kehilangan anaknya
32 Sudah berapa lama?
33 Pasti bukan Sekar!
34 Harus segera di makamkan
35 Hari pemakaman
36 Menunggu hasil autopsi.
37 Anakku Sekar....
38 Luka yang sama
39 Suara lantai yang berdecit!
40 Lidah yang tajam!
41 Flashback, hilangnya Sekar
42 Bu Idah
43 Nda Mungkin!
44 Sosok mengerikan!
45 Ini pasti ulah perempuan itu!
46 Tuduhan yang tidak mendasar
47 Menemui Wulan untuk bertanya.
48 Cerita Wulan
49 Fitnah Kejam itu!
50 Penyesalan Lindu
51 Mendatangi Gaga!
52 Kejujuran Gaga.
53 Flashback, pertemuan Gaga dan Sekar.
54 Sekar dan Gaga
55 Akhir yang melegakan
56 Berbicara sendiri
57 Halusinasi atau nyata?
58 Sosok itu!
59 Malam pertama.
60 Perubahan Lindu
61 Ketakutan Baskoro
62 Siapa yang menakutinya?
63 Berdiri di luar rumah.
64 Kehabisan nafas!
65 Kematian Ratna
66 Kematian Baskoro
67 Kedatangan Udin dan Jaka
68 Sulit untuk membedakan!
69 Menyembunyikannya
70 Apa yang di sembunyikan Wulan?
71 Kebohongan Wulan!
72 Rencana yang gagal!
73 Penuh kepura-puraan!
74 Di teror!
75 Harus memecahkan teka-teki itu.
76 Meninggikan menantunya
77 Bertamu dengan maksud lain.
78 Konon, dukun sakti
79 Ketukan di pintu
80 Aku akan mengejarmu!
81 Fakta yang tidak bisa di sangkal!
82 pertengkaran di pagi hari
83 Di Hantui!
84 Tidak ingin berakhir gila!
85 Alasan yang diberikan
86 Menemui Mbah Wening
87 Meminta bantuan dukun itu
88 Perjanjian Wulan dan mbah Wening
89 Harus menemui Wulan
90 Pertengkaran Gaga dan Wulan
91 Menuduh balik!
92 Fitnah Kejam Wulan
93 Kabar mengejutkan!
94 Cacian yang di terima
95 Mantra Wulan!
96 Tidak ingin melepaskan
97 Suara berat itu?
98 Maryo yang di rasuki!
99 Kedatangan Sekar!
100 Pergi!
101 Tidak akan melepaskanmu!
102 Bukan aku!
103 Mulai terungkap kebenarannya.
104 Kebohongan yang terus di rangkai
105 Akan terungkap!
106 Tidak Suci lagi!
107 Sulit di cerna dengan nalar
108 Tidak bisa berdalih lagi
109 Sekar!
110 Awal mula semuanya terjadi!
111 Kau mempercayainya!
112 Rasa Iri!
113 Bertemu dengan Baskoro!
114 Senyum iblis itu!
115 Rasa yang berubah
116 Melihat keduanya
117 Menuju kebun Pak Nanang
118 Yang akan disesali seumur hidup!
119 Perbuatan terkutuk!
120 Satu dendam yang terbalas!
121 Akhir sebuah dendam
122 Judul: TEROR!
Episodes

Updated 122 Episodes

1
Lamaran
2
Harus laki-laki seperti Lindu
3
Aku juga mencintai Sekar
4
Sekar Menghilang!
5
Surat yang di tinggalkan Sekar
6
Cemohan orang desa
7
Pernikahan yang batal
8
Lamaran untuk Wulan
9
Terima saja
10
Wulan dan Lindu
11
Kematian Shinta
12
Ada yang melihat Sekar
13
Joko, pria yang melihat Sekar
14
Di suruh siapa?
15
Orang misterius!
16
Baskoro!
17
Wulan Hamil?
18
Darimana saja Nduk?
19
Aku melihatnya!
20
Kapan kak Sekar pulang?
21
Wulan dan Baskoro!
22
Dia itu suamiku!
23
Kabar angin yang berembus
24
Harapan yang tidak pernah hilang
25
Ketakutan Wulan
26
Bau busuk yang menyengat!
27
Bau apa itu?
28
Masuk ke sumur
29
Bukan Sapi!
30
Tidak Mungkin!!!
31
Seorang ibu yang kehilangan anaknya
32
Sudah berapa lama?
33
Pasti bukan Sekar!
34
Harus segera di makamkan
35
Hari pemakaman
36
Menunggu hasil autopsi.
37
Anakku Sekar....
38
Luka yang sama
39
Suara lantai yang berdecit!
40
Lidah yang tajam!
41
Flashback, hilangnya Sekar
42
Bu Idah
43
Nda Mungkin!
44
Sosok mengerikan!
45
Ini pasti ulah perempuan itu!
46
Tuduhan yang tidak mendasar
47
Menemui Wulan untuk bertanya.
48
Cerita Wulan
49
Fitnah Kejam itu!
50
Penyesalan Lindu
51
Mendatangi Gaga!
52
Kejujuran Gaga.
53
Flashback, pertemuan Gaga dan Sekar.
54
Sekar dan Gaga
55
Akhir yang melegakan
56
Berbicara sendiri
57
Halusinasi atau nyata?
58
Sosok itu!
59
Malam pertama.
60
Perubahan Lindu
61
Ketakutan Baskoro
62
Siapa yang menakutinya?
63
Berdiri di luar rumah.
64
Kehabisan nafas!
65
Kematian Ratna
66
Kematian Baskoro
67
Kedatangan Udin dan Jaka
68
Sulit untuk membedakan!
69
Menyembunyikannya
70
Apa yang di sembunyikan Wulan?
71
Kebohongan Wulan!
72
Rencana yang gagal!
73
Penuh kepura-puraan!
74
Di teror!
75
Harus memecahkan teka-teki itu.
76
Meninggikan menantunya
77
Bertamu dengan maksud lain.
78
Konon, dukun sakti
79
Ketukan di pintu
80
Aku akan mengejarmu!
81
Fakta yang tidak bisa di sangkal!
82
pertengkaran di pagi hari
83
Di Hantui!
84
Tidak ingin berakhir gila!
85
Alasan yang diberikan
86
Menemui Mbah Wening
87
Meminta bantuan dukun itu
88
Perjanjian Wulan dan mbah Wening
89
Harus menemui Wulan
90
Pertengkaran Gaga dan Wulan
91
Menuduh balik!
92
Fitnah Kejam Wulan
93
Kabar mengejutkan!
94
Cacian yang di terima
95
Mantra Wulan!
96
Tidak ingin melepaskan
97
Suara berat itu?
98
Maryo yang di rasuki!
99
Kedatangan Sekar!
100
Pergi!
101
Tidak akan melepaskanmu!
102
Bukan aku!
103
Mulai terungkap kebenarannya.
104
Kebohongan yang terus di rangkai
105
Akan terungkap!
106
Tidak Suci lagi!
107
Sulit di cerna dengan nalar
108
Tidak bisa berdalih lagi
109
Sekar!
110
Awal mula semuanya terjadi!
111
Kau mempercayainya!
112
Rasa Iri!
113
Bertemu dengan Baskoro!
114
Senyum iblis itu!
115
Rasa yang berubah
116
Melihat keduanya
117
Menuju kebun Pak Nanang
118
Yang akan disesali seumur hidup!
119
Perbuatan terkutuk!
120
Satu dendam yang terbalas!
121
Akhir sebuah dendam
122
Judul: TEROR!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!