Sekar Menghilang!

"Nduk, ayo bangunkan kakakmu. Sebentar lagi dia akan dirias." Kata Bu Ratmini pada Dila, adik Sekar, sambil membereskan beberapa perlengkapan di ruang tengah yang sejak tadi ramai oleh para tetangga dan perias pengantin yang sudah bangun dari jam 4 subuh.

"Baik, Bu." Sahut Dila cepat lalu berlari kecil menuju kamar kakaknya.

Saat itu hari masih sangat pagi, bahkan matahari belum sepenuhnya muncul. Jam dinding di rumah kayu sederhana itu menunjukkan hampir pukul lima subuh. Udara desa masih terasa dingin dan embun pagi belum mengering di halaman rumah.

Dila berdiri di depan kamar Sekar. Tadi dia sempat mencoba membuka pintunya, namun ternyata terkunci dari dalam. Hal itu membuatnya sedikit heran karena biasanya Sekar tidak pernah mengunci pintu kamar saat tidur.

Apalagi, setiap subuh kakaknya itu selalu sudah bangun untuk sholat. Bahkan sering kali Sekar yang membangunkan semua orang di rumah.

"Kak, Sekar bangun. Ibu bilang sebentar lagi kakak akan dirias!" Teriak Dila sambil mengetuk pintu cukup keras.

Namun tidak ada jawaban dari dalam kamar.

"Kak Sekar..." Panggilnya lagi, kali ini lebih keras.

Tetap sunyi.

"Kak Sekar!" Teriak Dila mulai kesal. Kesabarannya memang setipis tisu, terlebih sejak tadi dia mondar-mandir membantu ibunya.

"Bangun kak! Nanti telat lho. Masa mau telat akad nikah sendiri?" Omelnya sambil terus mengetuk pintu.

Dila lalu menyandarkan telinganya ke pintu kayu itu.

"Entar Mas Lindu keburu marah karena telat jadi suami kakak!" Tambahnya lagi polos.

Namun, tetap saja tidak ada suara sedikit pun dari dalam kamar Sekar.

"Bu... Kak Sekar nda mau membuka pintu. Sepertinya tidurnya nyenyak sekali. Mungkin dia sedang bermimpi sudah jadi istri Mas Lindu, makanya nda mau bangun." Kata Dila polos sambil cemberut kecil.

Ucapan bocah itu langsung membuat beberapa orang yang berada di ruang tengah tertawa kecil. Bahkan perias pengantin yang sedang menyiapkan alat rias ikut tersenyum mendengarnya.

"Dasar mulutmu itu, Dila." Ujar salah satu tetangga sambil menggeleng geli.

Dila hanya mengedikkan bahu lalu memandang pintu kamar Sekar dengan wajah kesal. Dari tadi dia sudah memanggil berkali-kali, tetapi kakaknya tetap tidak menjawab sama sekali.

"Mungkin dia kelelahan." Sahut Bu Bena, tetangga yang sejak semalam membantu persiapan pernikahan dan menginap di rumah itu.

"Biasanya kalau mau jadi pengantin baru itu gugup. Jadi nda bisa tidur nyenyak," Lanjut Bu Bena sambil melipat kain seserahan di atas meja.

"Iya juga sih." Timpal wanita lain.

Bu Ratmini yang sejak tadi tampak sibuk, mulai merasa sedikit heran. Sekar memang mudah lelah, tetapi anaknya itu bukan tipe yang susah dibangunkan. Apalagi hari ini adalah hari akad nikahnya sendiri.

"Dila, coba panggil lagi baik-baik." Ujar Bu Ratmini sambil melirik ke arah kamar putrinya.

"Ibu saja. Siapa tahu Kak Sekar langsung bangun kalau dengar suara Ibu." Kata Dila malas. Anak kecil itu sudah menyerah setelah berkali-kali memanggil kakaknya tanpa hasil.

Sesampainya di depan kamar, Bu Ratmini langsung mengetuk pintu kayu itu beberapa kali.

"Sekar, ayo bangun nduk." Ucapnya dengan suara lembut seperti biasanya.

"Ini sudah jam lima. Nanti kamu terlambat dirias, nduk."

Bu Ratmini menunggu beberapa detik. Namun tetap tidak ada jawaban.

Dia kembali mengetuk pintu lebih keras.

"Sekaaar..."

Masih sunyi.

Tidak terdengar suara langkah kaki, suara ranjang bergerak, ataupun jawaban pelan dari dalam kamar.

Wajah wanita paruh baya itu perlahan berubah khawatir.

"Sekar..." panggilnya lagi.

Dila yang berdiri di belakang ibunya ikut diam. Bahkan anak kecil itu mulai merasa ada yang tidak beres.

"Bu... Kak Sekar kenapa ya?" bisiknya pelan.

Perasaan takut tiba-tiba memenuhi hati Bu Ratmini. Dadanya terasa sesak memikirkan Sekar yang sejak tadi tidak juga memberi jawaban dari dalam kamar.

"Cepat, bangunkan pakde mu, suruh kesini!" kata Bu Ratmini dengan suara gemetar, meminta Dila segera memanggil pamannya yang tidur di rumah tetangga sebelah.

"Iya, Bu!" jawab Dila panik sebelum berlari keluar rumah.

Beberapa ibu-ibu yang sejak tadi membantu sibuk untuk persiapan nanti mulai menghampiri Bu Ratmini yang berdiri di depan pintu kamar Sekar.

"Ada apa, Bu?" tanya salah seorang dari mereka khawatir.

"Sekar, Bu. Nda bangun-bangun, saya jadi khawatir." Ujar Bu Ratmini dengan mata mulai berkaca-kaca.

Ibu-ibu itu pun ikut cemas. Mereka bergantian mengetuk pintu kamar Sekar lebih keras dari sebelumnya.

"Sekar..." panggil mereka bersahut-sahutan.

Namun, tetap tidak ada jawaban sedikit pun dari dalam kamar itu. Suasana rumah yang tadi ramai perlahan berubah tegang dan penuh kecemasan.

"Pakde... bangun, Pakde!" Tanpa memberi salam, Dila langsung masuk ke dalam rumah tetangga itu. Gadis kecil itu segera menggoyangkan tubuh Pakde Banyu yang masih tertidur lelap di atas tikar.

Pakde Banyu terbangun kaget sambil mengucek matanya yang masih berat.

"Ada apa? Apa pengantinnya sudah siap?" tanyanya terburu-buru, mengira dirinya kesiangan untuk membantu persiapan pernikahan Sekar.

"Nda, Pakde... Kak Sekar." Ucap Dila dengan napas memburu karena panik.

"Sekar kenapa?" Tanya Pakde Banyu yang kini mulai sadar sepenuhnya.

"Dari tadi aku sama ibu bangunkan Kak Sekar, tapi Kak Sekar nda bangun-bangun. Pintu kamarnya terkunci." Jelas Dila dengan wajah cemas.

"Apa?" Pakde Banyu langsung duduk tegak. Rasa kantuknya seketika hilang mendengar ucapan Dila.

"Ya sudah, ayo cepat!" katanya sambil segera berdiri. Meski kepalanya masih terasa pusing karena baru bangun tidur, dia tetap bergegas mengikuti Dila kembali ke rumah Bu Ratmini yang mulai dipenuhi rasa panik.

"Ayo, Mas, cepat! Dobrak pintunya!" Kata Bu Ratmini dengan suara gemetar kepada Pakde Banyu. Wajahnya sudah pucat dipenuhi rasa takut.

Tanpa banyak bertanya lagi, Pakde Banyu langsung menghantam pintu kamar Sekar dengan bahunya. Namun karena melakukannya sendirian, pintu kayu itu hanya berguncang keras tanpa terbuka.

Brak!

Suara rusuh di atas rumah Bu Ratmini membuat beberapa pria yang tinggal di sekitar rumah itu ikut terbangun. Mereka segera naik ke rumah panggung milik Bu Ratmini.

"Ada apa ini?" Tanya salah seorang dari mereka heran.

"Itu, kamar Sekar mau didobrak." Jawab ibu-ibu yang berkumpul di depan kamar dengan wajah tegang.

"Kenapa sampai didobrak?"

"Sekar dari tadi dipanggil-panggil nda muncul-muncul. Pintunya juga terkunci." Jelas salah satu ibu.

Mendengar itu, para pria langsung membantu Pakde Banyu. Mereka bersama-sama menghantam pintu kamar Sekar berkali-kali.

Brak!

Brak!

Pintu kayu itu akhirnya terbuka dengan keras.

Semua orang terdiam.

Kamar kecil berukuran dua kali tiga meter itu tampak kosong.

"Sekar..." Panggil Bu Ratmini lirih sambil masuk ke dalam kamar. Matanya bergerak ke setiap sudut ruangan, berharap anaknya hanya bersembunyi atau tertidur di lantai.

Namun tidak ada siapa-siapa.

"Sekar..." kini Pakde Banyu ikut memanggil dengan suara lebih keras.

Tetap tidak ada jawaban.

Kasur Sekar masih berantakan, jendela kamar sedikit terbuka, sementara angin pagi masuk perlahan menggerakkan tirai tipis di sudut ruangan.

Semua orang saling berpandangan dengan wajah penuh kebingungan.

Lalu... ke mana perginya Sekar di hari pernikahannya sendiri?

Terpopuler

Comments

kayyaaa

kayyaaa

apa iya sekar di culik sama si . . . . .

2026-06-07

0

Nurr Tika

Nurr Tika

pa sekar di culik ya

2026-05-21

0

❤️‍🩹

❤️‍🩹

lanjut thorr, semangatt

2026-05-20

3

lihat semua
Episodes
1 Lamaran
2 Harus laki-laki seperti Lindu
3 Aku juga mencintai Sekar
4 Sekar Menghilang!
5 Surat yang di tinggalkan Sekar
6 Cemohan orang desa
7 Pernikahan yang batal
8 Lamaran untuk Wulan
9 Terima saja
10 Wulan dan Lindu
11 Kematian Shinta
12 Ada yang melihat Sekar
13 Joko, pria yang melihat Sekar
14 Di suruh siapa?
15 Orang misterius!
16 Baskoro!
17 Wulan Hamil?
18 Darimana saja Nduk?
19 Aku melihatnya!
20 Kapan kak Sekar pulang?
21 Wulan dan Baskoro!
22 Dia itu suamiku!
23 Kabar angin yang berembus
24 Harapan yang tidak pernah hilang
25 Ketakutan Wulan
26 Bau busuk yang menyengat!
27 Bau apa itu?
28 Masuk ke sumur
29 Bukan Sapi!
30 Tidak Mungkin!!!
31 Seorang ibu yang kehilangan anaknya
32 Sudah berapa lama?
33 Pasti bukan Sekar!
34 Harus segera di makamkan
35 Hari pemakaman
36 Menunggu hasil autopsi.
37 Anakku Sekar....
38 Luka yang sama
39 Suara lantai yang berdecit!
40 Lidah yang tajam!
41 Flashback, hilangnya Sekar
42 Bu Idah
43 Nda Mungkin!
44 Sosok mengerikan!
45 Ini pasti ulah perempuan itu!
46 Tuduhan yang tidak mendasar
47 Menemui Wulan untuk bertanya.
48 Cerita Wulan
49 Fitnah Kejam itu!
50 Penyesalan Lindu
51 Mendatangi Gaga!
52 Kejujuran Gaga.
53 Flashback, pertemuan Gaga dan Sekar.
54 Sekar dan Gaga
55 Akhir yang melegakan
56 Berbicara sendiri
57 Halusinasi atau nyata?
58 Sosok itu!
59 Malam pertama.
60 Perubahan Lindu
61 Ketakutan Baskoro
62 Siapa yang menakutinya?
63 Berdiri di luar rumah.
64 Kehabisan nafas!
65 Kematian Ratna
66 Kematian Baskoro
67 Kedatangan Udin dan Jaka
68 Sulit untuk membedakan!
69 Menyembunyikannya
70 Apa yang di sembunyikan Wulan?
71 Kebohongan Wulan!
72 Rencana yang gagal!
73 Penuh kepura-puraan!
74 Di teror!
75 Harus memecahkan teka-teki itu.
76 Meninggikan menantunya
77 Bertamu dengan maksud lain.
78 Konon, dukun sakti
79 Ketukan di pintu
80 Aku akan mengejarmu!
81 Fakta yang tidak bisa di sangkal!
82 pertengkaran di pagi hari
83 Di Hantui!
84 Tidak ingin berakhir gila!
85 Alasan yang diberikan
86 Menemui Mbah Wening
87 Meminta bantuan dukun itu
88 Perjanjian Wulan dan mbah Wening
89 Harus menemui Wulan
90 Pertengkaran Gaga dan Wulan
91 Menuduh balik!
92 Fitnah Kejam Wulan
93 Kabar mengejutkan!
94 Cacian yang di terima
95 Mantra Wulan!
96 Tidak ingin melepaskan
97 Suara berat itu?
98 Maryo yang di rasuki!
99 Kedatangan Sekar!
100 Pergi!
101 Tidak akan melepaskanmu!
102 Bukan aku!
103 Mulai terungkap kebenarannya.
104 Kebohongan yang terus di rangkai
105 Akan terungkap!
106 Tidak Suci lagi!
107 Sulit di cerna dengan nalar
108 Tidak bisa berdalih lagi
109 Sekar!
110 Awal mula semuanya terjadi!
111 Kau mempercayainya!
112 Rasa Iri!
113 Bertemu dengan Baskoro!
114 Senyum iblis itu!
115 Rasa yang berubah
116 Melihat keduanya
117 Menuju kebun Pak Nanang
118 Yang akan disesali seumur hidup!
119 Perbuatan terkutuk!
120 Satu dendam yang terbalas!
121 Akhir sebuah dendam
122 Judul: TEROR!
Episodes

Updated 122 Episodes

1
Lamaran
2
Harus laki-laki seperti Lindu
3
Aku juga mencintai Sekar
4
Sekar Menghilang!
5
Surat yang di tinggalkan Sekar
6
Cemohan orang desa
7
Pernikahan yang batal
8
Lamaran untuk Wulan
9
Terima saja
10
Wulan dan Lindu
11
Kematian Shinta
12
Ada yang melihat Sekar
13
Joko, pria yang melihat Sekar
14
Di suruh siapa?
15
Orang misterius!
16
Baskoro!
17
Wulan Hamil?
18
Darimana saja Nduk?
19
Aku melihatnya!
20
Kapan kak Sekar pulang?
21
Wulan dan Baskoro!
22
Dia itu suamiku!
23
Kabar angin yang berembus
24
Harapan yang tidak pernah hilang
25
Ketakutan Wulan
26
Bau busuk yang menyengat!
27
Bau apa itu?
28
Masuk ke sumur
29
Bukan Sapi!
30
Tidak Mungkin!!!
31
Seorang ibu yang kehilangan anaknya
32
Sudah berapa lama?
33
Pasti bukan Sekar!
34
Harus segera di makamkan
35
Hari pemakaman
36
Menunggu hasil autopsi.
37
Anakku Sekar....
38
Luka yang sama
39
Suara lantai yang berdecit!
40
Lidah yang tajam!
41
Flashback, hilangnya Sekar
42
Bu Idah
43
Nda Mungkin!
44
Sosok mengerikan!
45
Ini pasti ulah perempuan itu!
46
Tuduhan yang tidak mendasar
47
Menemui Wulan untuk bertanya.
48
Cerita Wulan
49
Fitnah Kejam itu!
50
Penyesalan Lindu
51
Mendatangi Gaga!
52
Kejujuran Gaga.
53
Flashback, pertemuan Gaga dan Sekar.
54
Sekar dan Gaga
55
Akhir yang melegakan
56
Berbicara sendiri
57
Halusinasi atau nyata?
58
Sosok itu!
59
Malam pertama.
60
Perubahan Lindu
61
Ketakutan Baskoro
62
Siapa yang menakutinya?
63
Berdiri di luar rumah.
64
Kehabisan nafas!
65
Kematian Ratna
66
Kematian Baskoro
67
Kedatangan Udin dan Jaka
68
Sulit untuk membedakan!
69
Menyembunyikannya
70
Apa yang di sembunyikan Wulan?
71
Kebohongan Wulan!
72
Rencana yang gagal!
73
Penuh kepura-puraan!
74
Di teror!
75
Harus memecahkan teka-teki itu.
76
Meninggikan menantunya
77
Bertamu dengan maksud lain.
78
Konon, dukun sakti
79
Ketukan di pintu
80
Aku akan mengejarmu!
81
Fakta yang tidak bisa di sangkal!
82
pertengkaran di pagi hari
83
Di Hantui!
84
Tidak ingin berakhir gila!
85
Alasan yang diberikan
86
Menemui Mbah Wening
87
Meminta bantuan dukun itu
88
Perjanjian Wulan dan mbah Wening
89
Harus menemui Wulan
90
Pertengkaran Gaga dan Wulan
91
Menuduh balik!
92
Fitnah Kejam Wulan
93
Kabar mengejutkan!
94
Cacian yang di terima
95
Mantra Wulan!
96
Tidak ingin melepaskan
97
Suara berat itu?
98
Maryo yang di rasuki!
99
Kedatangan Sekar!
100
Pergi!
101
Tidak akan melepaskanmu!
102
Bukan aku!
103
Mulai terungkap kebenarannya.
104
Kebohongan yang terus di rangkai
105
Akan terungkap!
106
Tidak Suci lagi!
107
Sulit di cerna dengan nalar
108
Tidak bisa berdalih lagi
109
Sekar!
110
Awal mula semuanya terjadi!
111
Kau mempercayainya!
112
Rasa Iri!
113
Bertemu dengan Baskoro!
114
Senyum iblis itu!
115
Rasa yang berubah
116
Melihat keduanya
117
Menuju kebun Pak Nanang
118
Yang akan disesali seumur hidup!
119
Perbuatan terkutuk!
120
Satu dendam yang terbalas!
121
Akhir sebuah dendam
122
Judul: TEROR!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!