Sekar

Sekar

Lamaran

Rumah keluarga Ratmini dipenuhi tamu yang ingin menyaksikan pertunangan Sekar dan Lindu, anak juragan Ramli. Orang terkaya di Desa Wanasari.

Semua orang desa berkumpul dengan wajah gembira. Sekar gadis cantik dan Lindu, pria tampan yang mapan, sungguh pasangan yang sangat serasi.

"Aku nanti pengen juga dapat laki macam Lindu. Tampan, kaya pula." Kata seorang gadis yang hadir di acara pertunangan itu. Dia duduk bersila di atas lantai rumah panggung sederhana milik keluarga Ratmini bersama beberapa gadis lainnya.

"Eh, bukan kau saja. Aku pun juga mau." Sahut gadis lainnya sambil tertawa kecil. Ucapan itu langsung disambut anggukan dan tawa para gadis yang berada di sana.

Mereka sama-sama mengaminkan harapan itu dalam hati. Siapa yang tidak ingin memiliki suami seperti Lindu? Wajahnya tampan, sikapnya sopan, dan kehidupan yang mapan membuat banyak perempuan diam-diam iri pada keberuntungan Sekar.

"Beruntung sekali keluarga Ratmini dapat calon menantu seperti itu. Tampan, kaya, sopan pula orangnya." kata salah satu ibu yang sedang sibuk di dapur menyiapkan kudapan untuk rombongan keluarga Lindu.

"Iya, jarang ada pemuda kaya yang tetap rendah hati seperti dia." Timpal ibu lainnya sambil menyusun piring di atas meja.

Suasana rumah malam itu dipenuhi obrolan hangat dan pujian untuk calon pengantin pria yang menjadi kebanggaan seluruh Desa Wanasari.

"Iya lah. Lindu itu kalau bicara sama orang tua lembut sekali. Jarang sekarang laki-laki begitu." Timpal ibu lainnya.

"Sekar pun cocok sama dia. Sama-sama enak dipandang." Sambung yang lain hingga dapur dipenuhi suara tawa kecil para ibu-ibu.

"Memang sudah jodohnya itu. Kalau sudah rezeki, nda ke mana." Ujar seorang ibu sambil mengangkat gorengan dari kuali.

"Aku juga berharap nanti dapat menantu seperti itu." Kata ibu yang menanak nasi.

"Tapi, sayangnya, di desa kita hanya satu laki-laki seperti Lindu." Kata ibu yang lainnya, lalu mereka semua yang ada di dapur tertawa bersama-sama.

Sementara itu, Sekar yang baru selesai dihias duduk anggun di dalam kamar bersama Wulan. Wajahnya tampak semakin cantik dengan riasan lembut yang menghiasi parasnya.

Rambut hitamnya disanggul rapi. Kebaya sederhana namun elegan yang dikenakannya membuat Sekar terlihat begitu mempesona.

Wulan yang duduk di sampingnya terus memperhatikan sahabatnya dengan senyum kagum. Sesekali dia membantu merapikan ujung pakaian Sekar sambil menggoda sahabatnya yang tampak gugup menghadapi acara pertunangan.

"Sekar, aku senang melihatmu akan menikah." Ujar Wulandari sambil menatap sahabatnya dengan senyum hangat.

Meski ada sedikit rasa sedih di hatinya, karena mereka mungkin tidak akan sesering dulu bersama. Meski begitu, Wulan tetap merasa bahagia melihat Sekar akhirnya menemukan lelaki yang dicintainya.

"Terima kasih, Wulan. Aku memang merasa sangat bahagia." Ucap Sekar lembut sambil menggenggam tangan sahabatnya erat.

"Aku harap kau juga nanti menemukan laki-laki yang baik dan menyayangimu sepenuh hati, seseorang yang akan menjadi suami terbaik untukmu kelak." Wulan tersenyum kecil mendengar ucapan itu. Dia mengangguk pelan, lalu memeluk Sekar dengan hangat di tengah ramainya suasana pertunangan mereka.

"Nda lama lagi, kau akan menjadi istri orang. Pasti nanti kita akan jarang bertemu dan bermain lagi." Wulan berkata dengan wajah murung. Matanya tampak berkaca-kaca saat menatap Sekar yang duduk di sampingnya.

Dia merasa sedih membayangkan sahabat kecilnya akan menjalani kehidupan baru setelah menikah dengan Lindu.

Selama ini mereka selalu bersama, mulai dari pergi ke pasar, bermain di sungai, hingga saling bercerita setiap malam. Sekar menggenggam tangan Wulan dengan lembut lalu tersenyum menenangkan.

"Meskipun aku menikah, kita tetap bisa sering bertemu seperti sekarang ini. Kau tetap sahabat terbaikku, dan itu nda akan berubah hanya karena aku menjadi seorang istri." Kata Sekar.

"Kak Sekar... rombongan Mas Lindu sudah datang." Ujar seorang gadis sambil berlari kecil menuju kamar Sekar.

Napasnya terdengar sedikit terengah karena terlalu bersemangat menyampaikan kabar itu.

Sekar yang sejak tadi duduk bersama Wulan langsung menoleh cepat.

Jantungnya berdebar mendengar kedatangan keluarga calon tunangannya. Sementara itu, Wulan tersenyum lebar melihat wajah gugup sahabatnya yang mendadak berubah tegang.

"Benarkah? Mereka sudah sampai?" Tanya Wulan memastikan. Gadis itu mengangguk cepat.

"Iya, mobil mereka sudah di depan rumah. Banyak sekali orang yang ikut datang."

Dari luar kamar mulai terdengar suara warga yang menyambut kedatangan rombongan keluarga juragan Ramli.

Ibu-ibu yang berada di dapur langsung meninggalkan pekerjaan mereka dan bergegas ke depan rumah untuk melihat kedatangan lelaki tampan yang sedang menjadi pembicaraan seluruh Desa Wanasari itu.

Para gadis pun ikut berdiri sambil merapikan pakaian mereka, penasaran ingin melihat Lindu dari dekat.

"Assalamualaikum..." Ucap Pak Ramli yang berdiri di barisan depan bersama istrinya.

"Waalaikumsalam..." Sahut para warga hampir bersamaan dengan suara riuh penuh antusias.

Rombongan keluarga Pak Ramli kemudian naik ke rumah panggung sederhana milik keluarga Ratmini. Langkah mereka disambut hangat oleh para tamu dan warga desa yang sejak tadi menunggu kedatangan keluarga orang terkaya di desa itu.

Suasana mendadak semakin ramai ketika Lindu muncul di tengah rombongan dengan penampilannya yang rapi dan wajah tampan yang membuat para gadis tidak berhenti mencuri pandang.

Setelah rombongan keluarga Pak Ramli duduk di atas tikar yang telah disiapkan, suasana rumah panggung itu perlahan menjadi lebih tenang.

Para tamu mulai memusatkan perhatian pada pembicaraan kedua keluarga. Beberapa ibu masih sibuk menuangkan minuman dan menyuguhkan kudapan kepada para tamu yang datang.

Setelah basa-basi dan obrolan ringan dibuka, Pak Ramli pun mulai mengutarakan maksud kedatangan mereka malam itu. Meskipun sebenarnya seluruh warga yang hadir sudah mengetahui tujuan keluarga besar itu datang ke rumah keluarga Ratmini.

Dengan wajah tenang dan penuh wibawa, Pak Ramli memandang Ratmini beserta keluarganya sebelum akhirnya berbicara.

"Kedatangan kami malam ini tentu membawa niat baik. Kami ingin mempererat hubungan kedua keluarga dan menyampaikan kesungguhan hati keluarga kami untuk melamar Sekar bagi putra kami, Lindu."

Paman Sekar yang malam itu menjadi tetua keluarga, karena ayah Sekar telah lama meninggal dunia, pun menyambut pembicaraan itu dengan tenang dan penuh kehormatan.

Dia duduk di bagian depan bersama para sesepuh keluarga lainnya, mewakili keluarga Ratmini dalam menerima lamaran tersebut.

Dengan suara pelan namun tegas, paman Sekar menyampaikan rasa syukur dan kebahagiaan keluarga mereka atas niat baik keluarga Pak Ramli.

Suasana rumah panggung sederhana itu terasa hangat dan penuh haru ketika kedua keluarga mulai membicarakan rencana pernikahan Sekar dan Lindu.

Pembicaraan berlangsung lancar tanpa hambatan. Hingga akhirnya, setelah melalui kesepakatan kedua belah pihak, ditetapkanlah tanggal pernikahan mereka jatuh pada tanggal 13, tepatnya tiga minggu lagi.

Kabar itu langsung disambut senyum bahagia para tamu yang hadir. Beberapa ibu mulai berbisik antusias membicarakan persiapan pesta besar yang pasti akan digelar nanti.

****

Hello para pembaca, kita bertemu lagi ya. jangan lupa Like, komen dan subscribe cerita baru aku ya. Terima kasih

Terpopuler

Comments

kayyaaa

kayyaaa

penasaran seperti apa ketampanan dan kecantikan mereka hihihi

2026-06-07

0

FiaNasa

FiaNasa

numpang mampir thor

2026-08-20

0

Nurr Tika

Nurr Tika

mampir thor

2026-05-21

0

lihat semua
Episodes
1 Lamaran
2 Harus laki-laki seperti Lindu
3 Aku juga mencintai Sekar
4 Sekar Menghilang!
5 Surat yang di tinggalkan Sekar
6 Cemohan orang desa
7 Pernikahan yang batal
8 Lamaran untuk Wulan
9 Terima saja
10 Wulan dan Lindu
11 Kematian Shinta
12 Ada yang melihat Sekar
13 Joko, pria yang melihat Sekar
14 Di suruh siapa?
15 Orang misterius!
16 Baskoro!
17 Wulan Hamil?
18 Darimana saja Nduk?
19 Aku melihatnya!
20 Kapan kak Sekar pulang?
21 Wulan dan Baskoro!
22 Dia itu suamiku!
23 Kabar angin yang berembus
24 Harapan yang tidak pernah hilang
25 Ketakutan Wulan
26 Bau busuk yang menyengat!
27 Bau apa itu?
28 Masuk ke sumur
29 Bukan Sapi!
30 Tidak Mungkin!!!
31 Seorang ibu yang kehilangan anaknya
32 Sudah berapa lama?
33 Pasti bukan Sekar!
34 Harus segera di makamkan
35 Hari pemakaman
36 Menunggu hasil autopsi.
37 Anakku Sekar....
38 Luka yang sama
39 Suara lantai yang berdecit!
40 Lidah yang tajam!
41 Flashback, hilangnya Sekar
42 Bu Idah
43 Nda Mungkin!
44 Sosok mengerikan!
45 Ini pasti ulah perempuan itu!
46 Tuduhan yang tidak mendasar
47 Menemui Wulan untuk bertanya.
48 Cerita Wulan
49 Fitnah Kejam itu!
50 Penyesalan Lindu
51 Mendatangi Gaga!
52 Kejujuran Gaga.
53 Flashback, pertemuan Gaga dan Sekar.
54 Sekar dan Gaga
55 Akhir yang melegakan
56 Berbicara sendiri
57 Halusinasi atau nyata?
58 Sosok itu!
59 Malam pertama.
60 Perubahan Lindu
61 Ketakutan Baskoro
62 Siapa yang menakutinya?
63 Berdiri di luar rumah.
64 Kehabisan nafas!
65 Kematian Ratna
66 Kematian Baskoro
67 Kedatangan Udin dan Jaka
68 Sulit untuk membedakan!
69 Menyembunyikannya
70 Apa yang di sembunyikan Wulan?
71 Kebohongan Wulan!
72 Rencana yang gagal!
73 Penuh kepura-puraan!
74 Di teror!
75 Harus memecahkan teka-teki itu.
76 Meninggikan menantunya
77 Bertamu dengan maksud lain.
78 Konon, dukun sakti
79 Ketukan di pintu
80 Aku akan mengejarmu!
81 Fakta yang tidak bisa di sangkal!
82 pertengkaran di pagi hari
83 Di Hantui!
84 Tidak ingin berakhir gila!
85 Alasan yang diberikan
86 Menemui Mbah Wening
87 Meminta bantuan dukun itu
88 Perjanjian Wulan dan mbah Wening
89 Harus menemui Wulan
90 Pertengkaran Gaga dan Wulan
91 Menuduh balik!
92 Fitnah Kejam Wulan
93 Kabar mengejutkan!
94 Cacian yang di terima
95 Mantra Wulan!
96 Tidak ingin melepaskan
97 Suara berat itu?
98 Maryo yang di rasuki!
99 Kedatangan Sekar!
100 Pergi!
101 Tidak akan melepaskanmu!
102 Bukan aku!
103 Mulai terungkap kebenarannya.
104 Kebohongan yang terus di rangkai
105 Akan terungkap!
106 Tidak Suci lagi!
107 Sulit di cerna dengan nalar
108 Tidak bisa berdalih lagi
109 Sekar!
110 Awal mula semuanya terjadi!
111 Kau mempercayainya!
112 Rasa Iri!
113 Bertemu dengan Baskoro!
114 Senyum iblis itu!
115 Rasa yang berubah
116 Melihat keduanya
117 Menuju kebun Pak Nanang
118 Yang akan disesali seumur hidup!
119 Perbuatan terkutuk!
120 Satu dendam yang terbalas!
121 Akhir sebuah dendam
122 Judul: TEROR!
Episodes

Updated 122 Episodes

1
Lamaran
2
Harus laki-laki seperti Lindu
3
Aku juga mencintai Sekar
4
Sekar Menghilang!
5
Surat yang di tinggalkan Sekar
6
Cemohan orang desa
7
Pernikahan yang batal
8
Lamaran untuk Wulan
9
Terima saja
10
Wulan dan Lindu
11
Kematian Shinta
12
Ada yang melihat Sekar
13
Joko, pria yang melihat Sekar
14
Di suruh siapa?
15
Orang misterius!
16
Baskoro!
17
Wulan Hamil?
18
Darimana saja Nduk?
19
Aku melihatnya!
20
Kapan kak Sekar pulang?
21
Wulan dan Baskoro!
22
Dia itu suamiku!
23
Kabar angin yang berembus
24
Harapan yang tidak pernah hilang
25
Ketakutan Wulan
26
Bau busuk yang menyengat!
27
Bau apa itu?
28
Masuk ke sumur
29
Bukan Sapi!
30
Tidak Mungkin!!!
31
Seorang ibu yang kehilangan anaknya
32
Sudah berapa lama?
33
Pasti bukan Sekar!
34
Harus segera di makamkan
35
Hari pemakaman
36
Menunggu hasil autopsi.
37
Anakku Sekar....
38
Luka yang sama
39
Suara lantai yang berdecit!
40
Lidah yang tajam!
41
Flashback, hilangnya Sekar
42
Bu Idah
43
Nda Mungkin!
44
Sosok mengerikan!
45
Ini pasti ulah perempuan itu!
46
Tuduhan yang tidak mendasar
47
Menemui Wulan untuk bertanya.
48
Cerita Wulan
49
Fitnah Kejam itu!
50
Penyesalan Lindu
51
Mendatangi Gaga!
52
Kejujuran Gaga.
53
Flashback, pertemuan Gaga dan Sekar.
54
Sekar dan Gaga
55
Akhir yang melegakan
56
Berbicara sendiri
57
Halusinasi atau nyata?
58
Sosok itu!
59
Malam pertama.
60
Perubahan Lindu
61
Ketakutan Baskoro
62
Siapa yang menakutinya?
63
Berdiri di luar rumah.
64
Kehabisan nafas!
65
Kematian Ratna
66
Kematian Baskoro
67
Kedatangan Udin dan Jaka
68
Sulit untuk membedakan!
69
Menyembunyikannya
70
Apa yang di sembunyikan Wulan?
71
Kebohongan Wulan!
72
Rencana yang gagal!
73
Penuh kepura-puraan!
74
Di teror!
75
Harus memecahkan teka-teki itu.
76
Meninggikan menantunya
77
Bertamu dengan maksud lain.
78
Konon, dukun sakti
79
Ketukan di pintu
80
Aku akan mengejarmu!
81
Fakta yang tidak bisa di sangkal!
82
pertengkaran di pagi hari
83
Di Hantui!
84
Tidak ingin berakhir gila!
85
Alasan yang diberikan
86
Menemui Mbah Wening
87
Meminta bantuan dukun itu
88
Perjanjian Wulan dan mbah Wening
89
Harus menemui Wulan
90
Pertengkaran Gaga dan Wulan
91
Menuduh balik!
92
Fitnah Kejam Wulan
93
Kabar mengejutkan!
94
Cacian yang di terima
95
Mantra Wulan!
96
Tidak ingin melepaskan
97
Suara berat itu?
98
Maryo yang di rasuki!
99
Kedatangan Sekar!
100
Pergi!
101
Tidak akan melepaskanmu!
102
Bukan aku!
103
Mulai terungkap kebenarannya.
104
Kebohongan yang terus di rangkai
105
Akan terungkap!
106
Tidak Suci lagi!
107
Sulit di cerna dengan nalar
108
Tidak bisa berdalih lagi
109
Sekar!
110
Awal mula semuanya terjadi!
111
Kau mempercayainya!
112
Rasa Iri!
113
Bertemu dengan Baskoro!
114
Senyum iblis itu!
115
Rasa yang berubah
116
Melihat keduanya
117
Menuju kebun Pak Nanang
118
Yang akan disesali seumur hidup!
119
Perbuatan terkutuk!
120
Satu dendam yang terbalas!
121
Akhir sebuah dendam
122
Judul: TEROR!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!