Chapter 2

Rasa syukur yang tak terhingga membuncah di dadanya Shanum saat melihat monitor di ruang High Care Unit (HCU) menunjukkan grafik detak jantung Bu Siti yang kian stabil. Operasi pasang ring itu berjalan lancar.

Shanum berdiri di depan meja perawat, berharap bisa bertemu langsung dengan Dokter Daniel Lee untuk mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya, sekaligus membicarakan masalah biaya yang masih mengganjal di pikirannya.

"Maaf, Mbak Shanum," ucap suster jaga dengan nada menyesal. "Dokter Daniel baru saja pergi sekitar sepuluh menit yang lalu. Beliau ada keperluan medis yang sangat mendesak di luar rumah sakit."

Shanum menghela napas, menyembunyikan sedikit kekecewaan di wajahnya yang lelah. "Oh, begitu ya, Sus. Ya sudah tidak apa-apa. Besok sore selepas saya pulang bekerja, saya akan coba menemui beliau lagi."

Keesokan Harinya di Ruang Rawat

Matahari pagi menembus celah gorden kamar rawat kelas tiga. Bu Siti sudah dipindahkan dari ruang HCU. Beliau kini duduk bersandar pada tumpukan bantal di atas ranjang pasien, wajahnya yang kemarin pucat pasi kini mulai dialiri semburat darah segar.

Pintu kamar berdecit pelan. Bu Siti cukup terkejut saat melihat sosok jangkung berjas putih melangkah masuk bersama seorang suster. Gurat ketampanan dan karisma yang menenangkan langsung memenuhi ruangan itu.

"Selamat pagi, Ibu Siti. Bagaimana kondisi Anda saat ini? Apakah Anda sudah merasa baikan?" tanya Dokter Daniel ramah sambil melemparkan senyumnya yang menawan.

Bu Siti tersenyum lemah namun tulus, matanya berkaca-kaca menatap pria di hadapannya. "Alhamdulillah, Dokter. Terima kasih banyak karena Dokter sudah menyelamatkan nyawa saya..."

Dokter Daniel membalasnya dengan anggukan hangat. "Berterima kasihlah kepada Sang Pencipta, Ibu. Saya hanyalah sebagai perantara."

Dengan gerakan yang terampil dan telaten, Dokter Daniel mulai melakukan pemeriksaan serius pada dada dan denyut nadi Bu Siti menggunakan stetoskopnya. Detik berikutnya, sebuah senyuman tipis namun puas terukir di bibir sang dokter. Operasinya sukses besar, kondisi Bu Siti jauh melampaui perkiraan medisnya untuk pasien seusia beliau.

Dokter Daniel kemudian merapikan kembali selimut Bu Siti dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar yang sepi.

"Ibu Siti, tidak ada yang menunggu Ibu di sini? Padahal pascaoperasi seperti ini, harus ada yang menjaga Ibu minimal satu orang untuk membantu keperluan Ibu," tanya Dokter Daniel dengan nada penuh perhatian.

Mendengar pertanyaan itu, gurat kesedihan mendalam kembali membayang di wajah keriput Bu Siti. Beliau menghela napas panjang sebelum akhirnya membuka suara.

"Cucu saya, Shanum... Dia cucu satu-satunya yang saya punya, Dok. Saat ini dia terpaksa harus pergi bekerja sebagai Asisten Rumah Tangga di perumahan dekat sini. Nanti sore setelah pulang kerja, baru dia ke sini untuk menjaga saya sampai pagi," ujar Bu Siti lirih.

Dokter Daniel mendengarkan dengan saksama, dahinya agak mengernyit heran. "Bekerja sampai sore lalu menjaga Ibu semalaman? Apa dia tidak kelelahan?"

"Mau bagaimana lagi, Dokter... Shanum itu tulang punggung saya satu-satunya sekarang," air mata Bu Siti mulai menetes saat ia teringat nasib malang cucunya. "Anak itu baru saja kehilangan bayinya dua minggu lalu karena kecelakaan ojek, tepat di usia kandungan tujuh bulan. Suaminya yang jadi TKI di luar negeri juga tega menceraikannya sebulan yang lalu. Sekarang, dia harus membanting tulang sendirian demi mencari biaya pengobatan saya..."

Mendengar cerita itu, Dokter Daniel tertegun. Jantungnya berdenyut nyeri mendengar rentetan kemalangan yang menimpa seorang wanita muda dalam waktu yang begitu singkat. Rasa iba yang mendalam seketika merayapi hatinya. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana beratnya beban yang dipikul oleh cucu pasiennya itu.

Dokter Daniel mendekat, memegang pundak Bu Siti dengan lembut untuk menenangkannya.

"Semoga Mbak Shanum selalu kuat menghadapi hidup ini ya, Bu. Bilang padanya jangan mudah menyerah, begitu juga dengan Bu Siti. Ibu harus cepat sembuh agar tidak membuat Mbak Shanum semakin cemas," ucap Dokter Daniel dengan suara yang begitu tulus.

Mendengar untaian kalimat yang begitu menyejukkan, Bu Siti langsung meraih dan menggenggam erat tangan Dokter Daniel dengan kedua tangannya yang gemetar.

"Terima kasih, Dokter... Terima kasih banyak," bisik Bu Siti penuh haru.

Sepanjang hidupnya yang serba kekurangan, baru kali ini Bu Siti bertemu dengan seorang dokter yang tidak hanya hebat dan dihormati, tetapi juga memiliki hati selembut malaikat seperti Dokter Daniel Lee.

*

*

Matahari mulai condong ke barat saat Shanum melangkah gontai meninggalkan meja administrasi Rumah Sakit Citra Medika. Untuk kedua kalinya, ia harus menelan kekecewaan karena lagi-lagi gagal menemui sang dokter spesialis jantung.

"Maaf, Mbak Shanum. Dokter Daniel baru saja masuk ke ruang operasi untuk tindakan darurat," ucap suster jaga dengan raut wajah menyesal.

Shanum menghela napas berat, bahunya merosot lesu. "Kenapa susah sekali bertemu dengan dokter dermawan itu!" gumamnya pelan pada dirinya sendiri.

Dengan perasaan campur aduk, Shanum akhirnya memutuskan untuk langsung menuju ruang rawat inap kelas tiga. Namun, rasa kecewanya seketika menguap begitu ia membuka pintu kamar. Di atas ranjang, Bu Siti sudah duduk tegak dengan wajah yang terlihat jauh lebih segar, tidak ada lagi rona pucat pasi yang mengerikan seperti beberapa hari yang lalu.

"Nenek!" Shanum bergegas mendekat dan langsung memeluk erat tubuh ringkih sang nenek, menumpahkan segala rasa rindu dan khawatirnya. "Bagaimana kabarnya hari ini? Ada yang sakit?"

Bu Siti terkekeh pelan, mengusap punggung cucunya. "Alhamdulillah, Nenek sudah sehat sekali, Num. Ini semua berkat Dokter Daniel. Tadi pagi dia memeriksa Nenek. Ya Allah, Num... dokternya baik sekali, ramah, sopan, pinter lagi!"

Mendengar nama itu disebut, Shanum menoleh. "Oh ya? Jadi Dokter Daniel yang periksa Nenek?"

Bu Siti mengangguk antusias, matanya berbinar-binar. "Kalau kamu bertemu dengan Dokter Daniel, Nenek yakin kamu bakalan jatuh hati, Num. Kalau Nenek masih muda saja, ya minimal seusiamu lah, pasti Nenek naksir...!" ucap Bu Siti sambil tertawa cekikikan.

Shanum sampai menepuk jidatnya sendiri, tak percaya dengan apa yang didengarnya. "Nenek genit ih! Lihat cowok bening dikit langsung kepincut!" goda Shanum sambil menahan tawa. Sudah lama ia tidak melihat neneknya seceria ini.

"Tapi beneran, Num! Dokter Daniel itu sangat tampan, mirip sama aktor Korea yang pernah Nenek tonton di TV tetangga dulu!" Bu Siti tetap tidak mau kalah.

Shanum kembali menghela napasnya, kali ini sambil tersenyum geli. "Sudahlah, Nek. Tambah ke sini omongan Nenek tambah ngawur, ah."

"Kau ini kalau dibilangin suka saja seperti itu. Pokoknya nanti pas kamu lihat sendiri, Nenek yakin kamu akan terpesona... Mudah-mudahan saja kamu dan Dokter Daniel berjodoh!" Sang nenek kembali tertawa cekikikan, menggoda cucu satu-satunya itu.

"Nenek...!" balas Shanum dengan pipi yang sedikit merona, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah sang nenek yang semakin menjadi-jadi.

Keesokan Harinya

Pagi hari berikutnya, suasana di sekitar area luar Rumah Sakit Citra Medika tampak ramai. Shanum berjalan setengah berlari menyusuri trotoar menuju halte bus untuk pergi ke tempat kerjanya. Jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan angka yang kritis, ia hampir saja kesiangan.

Karena terburu-buru dan terus melihat ke arah jalan, Shanum tidak memperhatikan langkah orang dari arah berlawanan.

Bruk!

Bahu Shanum menyenggol keras dada bidang seorang pria yang baru saja turun dari mobilnya. Sentuhan itu membuat beberapa berkas yang dipegang sang pria hampir terjatuh.

"Maaf, maaf! Saya tidak sengaja!" ucap Shanum panik tanpa melihat siapa yang ditabraknya.

Pria itu reflex menahan lengan Shanum agar tidak terjatuh. Saat itulah, kedua mata mereka bertemu selama sepersekian detik. Shanum tertegun sesaat melihat sepasang mata tajam namun teduh di balik kacamata tipis pria itu. Namun, rasa takut terlambat kerja mengalahkan segalanya. Shanum buru-buru menarik tangannya dan pergi begitu saja tanpa menoleh lagi.

Sementara itu, pria yang tak lain adalah Dokter Daniel Lee, terpaku di tempatnya berdiri. Ia memandangi punggung wanita yang menjauh itu dengan pandangan takjub. Paras cantik alami yang berpadu dengan hijab yang melekat rapi di kepalanya sempat membuat detak jantung sang dokter berdesir aneh.

"Cantik..." bisik Dokter Daniel pelan.

Sebuah senyuman tipis yang jarang terlihat akhirnya terukir di bibirnya. Pria itu kemudian merapikan jasnya dan bergegas masuk menuju lobby rumah sakit.

Begitu Dokter Daniel melangkah masuk ke dalam lobby, suasana langsung berubah riuh secara berbisik. Para wanita jomblo yang bekerja di bagian resepsionis dan administrasi yang sudah menantikan kehadirannya sedari tadi langsung heboh.

"Woy, Oppa Lee kesayangan kita sudah datang!" bisik salah satu petugas resepsionis dengan heboh kepada teman-temannya.

Beberapa wanita lainnya mulai sibuk merapikan seragam, membetulkan riasan, dan memastikan penampilan mereka terlihat sempurna di hadapan pria matang dengan status duda anak satu itu. Di rumah sakit ini, Dokter Daniel adalah sosok idola yang begitu dipuja.

Namun, Dokter Daniel Lee tetaplah Dokter Daniel. Langkah kakinya terdengar tegas, wajahnya kembali bertukar menjadi dingin dan datar seolah tak memedulikan para wanita yang mencoba menebarkan pesona padanya.

Semenjak bercerai dengan mantan istrinya tiga bulan yang lalu, sikap Daniel memang berubah menjadi sangat dingin, tertutup, dan menjaga jarak dengan wanita. Namun, kebekuan sikapnya itu akan runtuh seketika saat ia berhadapan dengan pasiennya. Di dalam ruang rawat, ia akan kembali menjadi sosok dokter yang sangat baik, lembut, dan hangat, sosok malaikat penolong yang sesungguhnya.

Bersambung...

Terpopuler

Comments

🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍

🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍

Iya Nek selain berterima kasih pada Allah sang pencipata juga harus berterima kasih sama Author sang pencipta tokoh Nenek.🤭

Oya kok perceraian Dan Dan sama Shanun mirip sebulan lalu, Author bisa aja nyiptain karangannya.😁✌️

2026-08-12

1

Teh Euis Tea

Teh Euis Tea

padahal udah bertemu tuh num ktnya mau bilang terimakasih tp karna terburu2 jd ga sempet ya num

2026-05-19

1

neny

neny

emng dasar nya blm waktu nya,,mau berterima kasih sm dokter ajh masih ada ajh halangan nya🤭

2026-05-19

1

lihat semua
Episodes
1 Chapter 1
2 Chapter 2
3 Chapter 3
4 Chapter 4
5 Chapter 5
6 Chapter 6
7 Chapter 7
8 Chapter 8
9 Chapter 9
10 Chapter 10
11 Chapter 11
12 Chapter 12
13 Chapter 13
14 Chapter 14
15 Chapter 15
16 Chapter 16
17 Chapter 17
18 Chapter 18
19 Chapter 19
20 Chapter 20
21 Chapter 21
22 Chapter 22
23 Chapter 23
24 Chapter 24
25 Chapter 25
26 Chapter 26
27 Chapter 27
28 Chapter 28
29 Chapter 29
30 Chapter 30
31 Chapter 31
32 Chapter 32
33 Chapter 33
34 Chapter 34
35 Chapter 35
36 Chapter 36
37 Chapter 37
38 Chapter 38
39 Chapter 39
40 Chapter 40
41 Chapter 41
42 Chapter 42
43 Chapter 43
44 Chapter 44
45 Chapter 45
46 Chapter 46
47 Chapter 47
48 Chapter 48
49 Chapter 49
50 Chapter 50
51 Chapter 51
52 Chapter 52
53 Chapter 53
54 Chapter 54
55 Chapter 55
56 Chapter 56
57 Chapter 57
58 Chapter 58
59 Chapter 59
60 Chapter 60
61 Chapter 61
62 Chapter 62
63 Chapter 63
64 Chapter 64
65 Chapter 65
66 Chapter 66
67 Chapter 67
68 Chapter 68
69 Chapter 69
70 Chapter 70
71 Chapter 71
72 Chapter 72
73 Chapter 73
74 Chapter 74
75 Chapter 75
76 Chapter 76
77 Chapter 77
78 Chapter 78
79 Chapter 79
80 Chapter 80
81 Chapter 81
82 Chapter 82
83 Chapter 83
84 Chapter 84
85 Chapter 85
86 Chapter 86
87 Chapter 87
88 Chapter 88
89 Chapter 89
90 Chapter 90
91 Chapter 91
92 Chapter 92
93 Chapter 93
94 Chapter 94
95 Chapter 95
96 Chapter 96
97 Chapter 97 (End)
Episodes

Updated 97 Episodes

1
Chapter 1
2
Chapter 2
3
Chapter 3
4
Chapter 4
5
Chapter 5
6
Chapter 6
7
Chapter 7
8
Chapter 8
9
Chapter 9
10
Chapter 10
11
Chapter 11
12
Chapter 12
13
Chapter 13
14
Chapter 14
15
Chapter 15
16
Chapter 16
17
Chapter 17
18
Chapter 18
19
Chapter 19
20
Chapter 20
21
Chapter 21
22
Chapter 22
23
Chapter 23
24
Chapter 24
25
Chapter 25
26
Chapter 26
27
Chapter 27
28
Chapter 28
29
Chapter 29
30
Chapter 30
31
Chapter 31
32
Chapter 32
33
Chapter 33
34
Chapter 34
35
Chapter 35
36
Chapter 36
37
Chapter 37
38
Chapter 38
39
Chapter 39
40
Chapter 40
41
Chapter 41
42
Chapter 42
43
Chapter 43
44
Chapter 44
45
Chapter 45
46
Chapter 46
47
Chapter 47
48
Chapter 48
49
Chapter 49
50
Chapter 50
51
Chapter 51
52
Chapter 52
53
Chapter 53
54
Chapter 54
55
Chapter 55
56
Chapter 56
57
Chapter 57
58
Chapter 58
59
Chapter 59
60
Chapter 60
61
Chapter 61
62
Chapter 62
63
Chapter 63
64
Chapter 64
65
Chapter 65
66
Chapter 66
67
Chapter 67
68
Chapter 68
69
Chapter 69
70
Chapter 70
71
Chapter 71
72
Chapter 72
73
Chapter 73
74
Chapter 74
75
Chapter 75
76
Chapter 76
77
Chapter 77
78
Chapter 78
79
Chapter 79
80
Chapter 80
81
Chapter 81
82
Chapter 82
83
Chapter 83
84
Chapter 84
85
Chapter 85
86
Chapter 86
87
Chapter 87
88
Chapter 88
89
Chapter 89
90
Chapter 90
91
Chapter 91
92
Chapter 92
93
Chapter 93
94
Chapter 94
95
Chapter 95
96
Chapter 96
97
Chapter 97 (End)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!