Chapter 5

Setelah beberapa saat kemudian, Baby Ziva akhirnya melepaskan sarapan nya tanda ia sudah kenyang meminum ASI eksklusif dari Shanum. Dengan gerakan yang sangat telaten, Shanum segera menegakkan tubuh mungil Ziva di pundaknya. Tangan kanannya dengan lembut menepuk-nepuk punggung bayi itu secara perlahan agar ia bisa bersendawa, sebuah metode yang sangat efektif untuk mencegah bayi mengalami gumoh atau muntah.

Daniel yang sejak tadi sudah membalikkan tubuhnya kembali, terpaku menyaksikan pemandangan itu. Melihat cara Shanum yang begitu cekatan, tenang, dan sangat mengerti bagaimana cara mengurus bayi dengan benar, sebuah keyakinan kuat mendadak muncul di hati Daniel. Pengalaman pahit Shanum yang baru kehilangan bayinya ternyata membekali wanita itu dengan naluri keibuan yang luar biasa. Akhirnya, Daniel mantap mengambil keputusan.

"Shanum, boleh kita bicara sebentar?" tanya Daniel pelan.

Shanum mengangguk patuh. Ia melangkah mendekati boks bayi, menempatkan kembali tubuh Baby Ziva yang kini sudah tertidur pulas dengan napas yang teratur. Setelah memastikan selimut sang bayi terpasang rapi, Shanum dan Daniel berjalan keluar dari ruangan tersebut menuju koridor yang lebih sepi.

Raut wajah Daniel menunjukkan keseriusan yang mendalam saat ia menatap mantap wanita di hadapannya.

"Apa yang ingin Pak Dokter bicarakan kepada saya?" tanya Shanum sopan.

"Begini, Shanum. Melihat bagaimana Ziva begitu tenang bersamamu, aku ingin meminta kesediaan mu untuk menjadi pengasuh sekaligus ibu susu untuk Ziva. Mengenai gaji, aku akan membayar berapapun yang kamu mau, asalkan kau mau mengabulkan permintaanku ini," ucap Daniel langsung pada intinya.

Shanum terdiam sejenak. Otaknya mencoba berpikir keras. Tawaran ini tentu saja sangat besar dan bisa menjadi jalan keluar bagi seluruh biaya rumah sakit neneknya. Di sisi lain, Daniel menunggu jawaban itu dengan debar jantung yang tak menentu. Jauh di dalam lubuk hatinya, selain demi kebutuhan Ziva, Daniel juga ingin sekali membantu wanita ini. Kisah hidup Shanum yang memilukan telah mengetuk pintu hatinya yang selama ini beku, ditambah lagi Shanum telah menjadi penyelamat bagi putrinya malam ini.

"Tapi Pak... saya merasa tidak enak dengan majikan saya yang sekarang, jika saya harus keluar begitu saja setelah baru beberapa hari bekerja," jawab Shanum bimbang. Ia menunduk, namun pikirannya kembali berputar pada kebaikan Daniel yang telah mengoperasi neneknya tanpa menuntut bayaran di awal.

Mendengar keraguan itu, raut wajah Daniel seketika menyiratkan kekecewaan yang samar. Namun, sebelum kekecewaan itu menetap, Shanum kembali mendongak dan memberikan jawaban lanjutannya.

"Tapi... demi Baby Ziva, dan demi semua kebaikan Pak Dokter yang sudah menyelamatkan nyawa Nenek saya... baik Pak, saya mau menjadi pengasuh sekaligus ibu susu untuk Baby Ziva."

Mendengar keputusan akhir dari bibir Shanum, Dokter Daniel seketika tersenyum lebar. Sebuah senyuman manis yang begitu langka, hingga memperlihatkan lesung pipi yang selama ini tersembunyi di balik wajah dinginnya. Keramahan itu membuat ketampanannya berlipat ganda dan terlihat sangat mempesona.

Shanum yang tidak sengaja melihat senyuman itu mendadak salah tingkah. Pipinya menghangat, dan ia buru-buru menundukkan kepalanya dalam-dalam untuk menyembunyikan rona merah yang terbit di wajahnya.

Saking bahagianya, tanpa sadar Daniel melangkah maju dan meraih kedua bahu Shanum dengan lembut. "Terima kasih banyak, Shanum. Aku benar-benar berhutang budi padamu!"

Shanum sedikit tersentak merasakan kehangatan tangan Daniel di bahunya, namun ia tetap menjaga pandangannya ke bawah, tidak berani menatap mata sang dokter. "Tidak, Pak Dokter. Justru ini adalah cara saya untuk membalas budi atas semua kebaikan Dokter selama ini terhadap Nenek."

Di saat momen penuh kehangatan itu tercipta, dari arah ujung lorong dekat pintu masuk ruangan pasien, Dokter Maura berdiri membeku. Menyaksikan bagaimana tangan Daniel mendarat di bahu Shanum dan bagaimana pria dingin itu tersenyum begitu lepas, Dokter Maura mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat hingga kukunya memutih.

'Apa-apaan ini?! Kenapa Dokter Daniel bisa begitu dekat dan bahkan menyentuh wanita kampungan itu? Ini tidak bisa dibiarkan!' batin Dokter Maura penuh dengan emosi dan rasa cemburu yang membakar dadanya.

Setelah pembicaraan penting dengan Dokter Daniel selesai, Shanum segera kembali ke kamar rawat inap kelas tiga untuk menemui sang Nenek. Dengan napas yang masih sedikit memburu akibat rasa haru yang membuncah, ia menceritakan seluruh kejadian yang baru saja dialaminya, tentang Baby Ziva yang demam, kecocokan ASI nya, hingga tawaran Daniel untuk menjadikannya pengasuh sekaligus ibu susu.

Mendengar penuturan jujur dari cucunya itu, air mata kebahagiaan meleleh di pipi keriput Bu Siti. Beliau berkali-kali melafalkan kalimat hamdalah, melangitkan rasa syukur yang tak terhingga kepada Sang Pencipta.

"Alhamdulillah, Ya Allah... Gusti Allah tidak pernah tidur, Num," ucap Bu Siti sambil menggenggam jemari Shanum. Beliau tersenyum penuh arti, merasa bahwa jalan menuju jodoh antara cucunya dengan Dokter Daniel kini semakin terbuka lebar.

Di dalam lubuk hatinya, Bu Siti hanya memiliki satu keinginan terakhir di sisa umurnya, yakni ia ingin melihat Shanum kembali bahagia. Setelah segala kepedihan, pengkhianatan mantan suaminya, dan kehilangan bayi yang menyayat hati, Shanum berhak mendapatkan pria baik yang akan memperlakukannya layaknya wanita terhormat, dihargai, dan dilindungi dengan sepenuh hati. Dan Bu Siti melihat sosok pelindung itu ada pada diri Dokter Daniel.

Keesokan Harinya

Keesokan harinya berjalan begitu cepat. Shanum mendatangi rumah majikan lamanya untuk mengundurkan diri secara baik-baik. Beruntung, sang majikan dapat memahami situasinya setelah Shanum menjelaskan bahwa ia harus mengurus bayi seorang dokter yang telah berjasa menyelamatkan Neneknya.

Selepas urusan itu selesai, Shanum bergegas kembali ke Rumah Sakit Citra Medika. Langkah kakinya membawa Shanum menuju lantai atas, tempat di mana Baby Ziva kini sudah dipindahkan ke ruang rawat inap kelas VVIP yang sangat mewah, luas, dan tenang.

Saat jemarinya mendorong pintu kayu yang kokoh itu, Shanum sempat dihinggapi rasa canggung yang luar biasa. Ruangan itu begitu megah, sangat kontras dengan kehidupan sederhananya selama ini. Namun, seluruh rasa canggung dan minder itu seketika sirna begitu pandangannya menangkap sosok Dokter Daniel yang sedang berdiri di dekat jendela, menggendong Baby Ziva dalam dekapannya.

Sadar akan kehadiran seseorang, Daniel menoleh dan tersenyum hangat. Di dalam gendongannya, Baby Ziva yang semula tenang mendadak bergerak aktif begitu melihat wajah Shanum. Sepasang mata bulatnya berbinar, dan kedua tangan mungilnya langsung terangkat ke udara, bergerak-gerak heboh memberi isyarat kuat bahwa ia ingin segera berpindah ke pelukan Shanum.

Melihat respons menggemaskan itu, Shanum tidak dapat menahan senyumnya. Ia melangkah mendekat dengan senang hati, menjulurkan kedua tangannya untuk meraih tubuh mungil Ziva dari dekapan hangat sang dokter.

"Aduh, Ziva cantik sudah bangun ya? Kangen sama Bunda ya, Nak?" tanya Shanum spontan dengan nada yang sangat gemas, secara alami menyebut dirinya 'Bunda' karena naluri keibuannya yang terketuk.

Ziva yang kini sudah berada di pelukan nyaman Shanum langsung mendongak. Seolah mengerti ucapan wanita itu, sang bayi mulai berceloteh riang dengan bahasa bayinya yang khas, memamerkan gusi mungilnya yang belum tumbuh gigi.

Celotehan tak bergelombang dan ekspresi lucu Ziva sontak membuat Shanum dan Dokter Daniel tertawa terbahak-bahak secara bersamaan. Suara tawa mereka bersahutan, mengisi setiap sudut ruangan VVIP yang semula sunyi itu dengan kehangatan yang baru.

Dokter Daniel perlahan melangkah mundur satu jengkel, memandangi pemandangan indah di depannya dengan perasaan lega yang teramat sangat. Hatinya dipenuhi rasa beruntung yang luar biasa. Baru kali ini, semenjak kepergian mantan istrinya, ia melihat Baby Ziva bisa sebahagia dan seaktif ini bersama orang lain. Di mata Daniel, di antara Ziva dan Shanum seperti sudah memiliki sebuah ikatan batin yang sangat kuat, seperti seorang anak yang akhirnya menemukan kembali belahan jiwa ibunya yang sempat hilang.

Bersambung...

Terpopuler

Comments

~Ni Inda~

~Ni Inda~

Bantu do'a Nek
Sbg pengganti Ibu dari Shanum...aku yakin do'a Nenek makbul...Insyaa Allah

2026-05-20

1

Teh Euis Tea

Teh Euis Tea

wahh blatung nangka udah mulai ada nih jgn sampe dr Maura bikin ulah ya

2026-05-20

1

~Ni Inda~

~Ni Inda~

Saling cocok lah ya
Tp hrs tabah & kuat ya Num...pesona Dokter Daniel kan begitu kuat menghipnotis perempuan² diluar sana
Bakal bnyk gangguan terutama dari Dokter Maura yg sdh menampakkan taringnya

2026-05-20

2

lihat semua
Episodes
1 Chapter 1
2 Chapter 2
3 Chapter 3
4 Chapter 4
5 Chapter 5
6 Chapter 6
7 Chapter 7
8 Chapter 8
9 Chapter 9
10 Chapter 10
11 Chapter 11
12 Chapter 12
13 Chapter 13
14 Chapter 14
15 Chapter 15
16 Chapter 16
17 Chapter 17
18 Chapter 18
19 Chapter 19
20 Chapter 20
21 Chapter 21
22 Chapter 22
23 Chapter 23
24 Chapter 24
25 Chapter 25
26 Chapter 26
27 Chapter 27
28 Chapter 28
29 Chapter 29
30 Chapter 30
31 Chapter 31
32 Chapter 32
33 Chapter 33
34 Chapter 34
35 Chapter 35
36 Chapter 36
37 Chapter 37
38 Chapter 38
39 Chapter 39
40 Chapter 40
41 Chapter 41
42 Chapter 42
43 Chapter 43
44 Chapter 44
45 Chapter 45
46 Chapter 46
47 Chapter 47
48 Chapter 48
49 Chapter 49
50 Chapter 50
51 Chapter 51
52 Chapter 52
53 Chapter 53
54 Chapter 54
55 Chapter 55
56 Chapter 56
57 Chapter 57
58 Chapter 58
59 Chapter 59
60 Chapter 60
61 Chapter 61
62 Chapter 62
63 Chapter 63
64 Chapter 64
65 Chapter 65
66 Chapter 66
67 Chapter 67
68 Chapter 68
69 Chapter 69
70 Chapter 70
71 Chapter 71
72 Chapter 72
73 Chapter 73
74 Chapter 74
75 Chapter 75
76 Chapter 76
77 Chapter 77
78 Chapter 78
79 Chapter 79
80 Chapter 80
81 Chapter 81
82 Chapter 82
83 Chapter 83
84 Chapter 84
85 Chapter 85
86 Chapter 86
87 Chapter 87
88 Chapter 88
89 Chapter 89
90 Chapter 90
91 Chapter 91
92 Chapter 92
93 Chapter 93
94 Chapter 94
95 Chapter 95
96 Chapter 96
97 Chapter 97 (End)
Episodes

Updated 97 Episodes

1
Chapter 1
2
Chapter 2
3
Chapter 3
4
Chapter 4
5
Chapter 5
6
Chapter 6
7
Chapter 7
8
Chapter 8
9
Chapter 9
10
Chapter 10
11
Chapter 11
12
Chapter 12
13
Chapter 13
14
Chapter 14
15
Chapter 15
16
Chapter 16
17
Chapter 17
18
Chapter 18
19
Chapter 19
20
Chapter 20
21
Chapter 21
22
Chapter 22
23
Chapter 23
24
Chapter 24
25
Chapter 25
26
Chapter 26
27
Chapter 27
28
Chapter 28
29
Chapter 29
30
Chapter 30
31
Chapter 31
32
Chapter 32
33
Chapter 33
34
Chapter 34
35
Chapter 35
36
Chapter 36
37
Chapter 37
38
Chapter 38
39
Chapter 39
40
Chapter 40
41
Chapter 41
42
Chapter 42
43
Chapter 43
44
Chapter 44
45
Chapter 45
46
Chapter 46
47
Chapter 47
48
Chapter 48
49
Chapter 49
50
Chapter 50
51
Chapter 51
52
Chapter 52
53
Chapter 53
54
Chapter 54
55
Chapter 55
56
Chapter 56
57
Chapter 57
58
Chapter 58
59
Chapter 59
60
Chapter 60
61
Chapter 61
62
Chapter 62
63
Chapter 63
64
Chapter 64
65
Chapter 65
66
Chapter 66
67
Chapter 67
68
Chapter 68
69
Chapter 69
70
Chapter 70
71
Chapter 71
72
Chapter 72
73
Chapter 73
74
Chapter 74
75
Chapter 75
76
Chapter 76
77
Chapter 77
78
Chapter 78
79
Chapter 79
80
Chapter 80
81
Chapter 81
82
Chapter 82
83
Chapter 83
84
Chapter 84
85
Chapter 85
86
Chapter 86
87
Chapter 87
88
Chapter 88
89
Chapter 89
90
Chapter 90
91
Chapter 91
92
Chapter 92
93
Chapter 93
94
Chapter 94
95
Chapter 95
96
Chapter 96
97
Chapter 97 (End)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!