"Cindy ...?"
Nama itu meluncur begitu saja dari sela bibir Elang yang mendadak pias. Suaranya sangat lirih, hampir menyerupai bisikan angin yang tersapu riuh rendah ruangan, tetapi Alin yang berdiri tepat di sisinya bisa mendengarnya dengan teramat jelas. Itu adalah sebuah nama yang diucapkan Elang dengan nada yang belum pernah Alin dengar selama mereka saling mengenal akibat perjodohan ini—sebuah nada yang sarat akan kerinduan yang menggebu, keterkejutan yang menghantam dada, dan luka lama yang mendadak terkoyak kembali.
Alin membeku di tempatnya berdiri. Otaknya yang masih muda mencoba memutar kembali memori beberapa bulan lalu. Cindy. Nama itu bukanlah nama yang asing. Itu adalah nama yang pernah dibisikkan oleh salah satu sepupu Elang saat awal mula proses perjodohan mereka dimulai. Mantan kekasih Elang yang mengakhiri hubungan secara sepihak, mengemas barang-barangnya, dan menghilang tanpa jejak dari Jakarta beberapa tahun lalu. Kepergian Cindy meninggalkan luka menganga yang sangat dalam di hati Elang, membuat pria itu bertahun-tahun menutup diri dari wanita mana pun dan menolak segala bentuk kedekatan—hingga akhirnya Nenek mengambil tindakan tegas dengan memaksa Alin masuk ke dalam hidup Elang.
Wanita bernama Cindy itu perlahan mendongak. Sepasang matanya yang merah dan berkaca-kaca menatap lurus ke atas pelaminan, tepat mengarah ke manik mata Elang. Cindy sama sekali tidak menoleh atau memedulikan keberadaan Alin yang berdiri kaku dalam balutan kebaya pengantin indahnya. Bagi Cindy, ruangan mewah itu seolah hanya berisi dirinya dan Elang.
"Mas Elang ...," suara Cindy terdengar sangat rapuh, bergetar di udara seolah dia bisa tumbang kapan saja di atas lantai marmer jika tidak memegang tangan anaknya.
Anak kecil di sampingnya meremas kuat-kuat ujung blus krem milik Cindy. Bocah itu mendongak, menatap deretan lampu kristal besar di langit-langit gedung dengan binar mata ketakutan karena mendadak menjadi pusat perhatian ratusan pasang mata yang mulai berbisik menghakiminya. Wajah bocah itu ... Alin merasakan pasokan udara di parunya mendadak hilang, digantikan oleh rasa sesak yang menghantam ulu hati saat dia memperhatikan fitur wajah anak itu lebih dekat dari atas pelaminan. Struktur rahang kecil itu, bentuk hidungnya yang tegas, bahkan helai rambutnya yang tumbuh lebat ... semuanya seolah menjadi replika sempurna dari pria yang baru beberapa jam lalu sah mengucapkan janji suci di depan penghulu untuk menjadi suaminya.
Suasana di dalam ballroom mewah itu mendadak sunyi senyap seketika, menyisakan alunan biola dari pengiring musik yang kini terdengar sangat sumbang dan canggung sebelum akhirnya benar-benar berhenti total. Beberapa anggota keluarga besar Elang yang duduk di barisan kursi VIP mulai berdiri dengan wajah tegang, bersiap untuk melangkah maju guna meredam potensi skandal yang bisa merusak nama baik keluarga dan perusahaan.
Namun, Elang sudah tidak peduli pada apa pun lagi di dunia ini.
Tanpa memikirkan harga diri Alin yang kini berdiri layaknya pajangan mati di sisinya, tanpa memedulikan tatapan shock dari para kolega bisnis yang memadati ruangan, Elang mengambil satu langkah besar ke depan. Kakinya yang panjang menuruni undakan pelaminan dengan tergesa-gesa. Keris di pinggang belakangnya bergoyang pelan, dan ronce melati yang menghiasinya tampak berguncang, melupakan semua aturan tata krama pernikahan adat Yogyakarta yang sejak pagi tadi dia patuhi dengan kaku demi menghormati Nenek.
"Cindy, kamu ... ke mana saja selama ini? Kenapa baru sekarang?" Elang bersuara, suaranya kini bergetar hebat menahan emosi yang meluap. Kedua tangannya terangkat ke udara, menggantung kaku seolah ingin merengkuh bahu wanita itu tetapi tertahan oleh sisa-sisa akal sehatnya.
Cindy tidak menjawab dengan untaian kata. Air matanya yang sejak tadi ditahan kini luruh berkejaran melewati pipinya yang tirus dan pucat. Dengan gerakan lambat yang penuh kepasrahan, dia perlahan mendorong anak kecil di sampingnya untuk maju satu langkah ke depan, tepat di hadapan kaki Elang yang berbalut selop pengantin.
"Dia Ega, Mas," lirih Cindy di sela isak tangisnya yang akhirnya pecah di hadapan semua orang. "Dia ... darah dagingmu. Anak kandungmu yang selama ini aku besarkan sendirian tanpa arah. Aku terpaksa datang hari ini karena aku sudah tidak punya tempat bersandar lagi di kota ini, Mas El. Ega sakit-sakitan, dan dia ... dia butuh ayahnya."
Deg.
Buket bunga mawar putih dan sedap malam yang sejak pagi digenggam erat oleh Alin hingga jemarinya memutih, perlahan merosot dari telapak tangannya yang mendadak lemas. Bunga itu jatuh berdebam pelan ke atas lantai pelaminan, kelopak-kelopaknya yang rapuh hancur dan berserakan di dekat kain jariknya. Namun, Alin bahkan tidak memiliki kekuatan lagi hanya untuk sekadar menoleh ke bawah dan melihat bunganya yang rusak.
Seluruh jemarinya mendadak mati rasa, sedingin es yang membeku di kutub. Alin menatap lurus ke depan, menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana punggung tegap suaminya kini sudah berlutut di atas lantai marmer dingin tanpa memedulikan beskap putihnya yang bergesekan dengan debu. Elang menyamakan tingginya dengan bocah bernama Ega yang kini mulai menangis karena ketakutan.
Kedua tangan Elang yang sejak pagi tadi begitu enggan untuk sekadar menyentuh atau menggandeng jemari Alin, kini justru bergerak dengan begitu protektif merengkuh bahu kecil Ega. Elang menarik bocah itu ke dalam pelukannya dengan sangat erat, menyembunyikan wajah anak itu di dadanya, mengabaikan fakta bahwa seluruh tamu undangan dan saksi pernikahan mereka sedang menyaksikan bagaimana pesta pernikahan megah sang CEO baru saja hancur berantakan menjadi panggung sandiwara masa lalu yang penuh noda.
Alin tetap berdiri sendirian di atas panggung pelaminan yang tinggi dan megah. Di bawah sorot lampu sorot yang terang, dia merasa seolah kebaya putih khas Yogyakarta yang melekat di tubuhnya saat ini berubah menjadi pakaian paling memalukan dan menyedihkan yang pernah dia kenakan seumur hidupnya. Pernikahannya baru saja dimulai, tetapi hatinya sudah hancur sebelum malam pertama sempat menyapa.
Bersambung ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments
Noor hidayati
apa bener anaknya ega,setelah sekian lama pergi ga ada kabar,jangan jnagan dulu cindy itu kabur karena punya gebetan baru,terus itu si ega hasil dari cindy dan gebetan barunya,mungkin setelah cindy punya anak cindy malah ditelantarkan sana gebetanya,terus sekarang dia datang kembali ke elang untuk mengacau keluarga baru elang,dan tahu elang sudah kaya
2026-05-21
0
Sugiharti Rusli
sepertinya si Cindy sengaja memilih waktu yang ga mungkin keluarga Elang akan menolaknya yah,,,
2026-05-20
1
merry yuliana
hiks awalnya udh bikin shock ini kak
ditunggu crazy upnya ya kak cantik
cemungud💪💪💪
2026-05-20
1