Bab 4. Malam Pertama Yang Hancur

Mesin mobil sedan mewah milik Mas Elang menderu halus, membelah jalanan ibu kota yang mulai lengang menjelang tengah malam. Di dalam kabin, kesunyian terasa begitu pekat dan menekan, seolah oksigen enggan singgah di paru-paru mereka. Elang fokus menatap jalanan di depan dengan rahang yang mengeras tegang, kedua tangannya mencengkeram kemudi dengan begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.

Di kursi penumpang depan, Alin menyandarkan kepalanya pada kaca jendela yang dingin. Rambut sanggulnya sudah dilepas oleh perias di hotel tadi, menyisakan helai-helai rambut yang agak lengket karena sisa sasakan dan minyak rambut. Ronce melati yang semula wangi kini telah layu, ia letakkan begitu saja di dalam tas jinjingnya. Di kursi belakang, Cindy duduk mendekap Ega yang akhirnya tertidur pulas setelah diberi obat penurun demam oleh dokter hotel. Sesekali, suara helaan napas berat atau isak lirih yang sengaja ditahan oleh Cindy terdengar, memecah keheningan kabin. Namun, Alin memilih memejamkan mata, berpura-pura tidur demi menghindari interaksi apa pun.

Pikiran Alin melayang kembali pada percakapan terakhir di ruang transit hotel satu jam yang lalu.

Setelah keputusan sepihak Elang untuk membawa Cindy dan Ega pulang, Nenek Aisyah tampak begitu terpukul. Wanita sepuh itu bersandar pada tongkat kayunya dengan tubuh yang gemetar hebat, menatap cucu laki-laki kesayangannya dengan pandangan yang sarat akan kekecewaan mendalam.

"Nenek tidak pernah mengajari kamu menjadi pria yang tidak punya harga diri, Elang," ucap Nenek Aisyah saat itu, suaranya bergetar menahan amarah sekaligus kesedihan. "Hari ini, kamu bukan hanya menginjak-injak martabat Alin dan keluarganya, tapi kamu juga sudah menodai kepercayaan Nenek. Rumah itu... rumah baru itu dibangun dengan doa agar kamu bisa memulai lembaran baru yang bersih. Bukan untuk menampung masa lalumu yang cacat moral!"

Elang hanya menunduk kaku, menerima setiap makian sang nenek tanpa berniat mengubah keputusannya. Baginya, logika sebagai seorang pria yang bertanggung jawab atas anak kandungnya jauh lebih mendesak daripada sekadar menjaga gengsi keluarga besar di malam pernikahan.

Sebelum mereka meninggalkan hotel, Nenek Aisyah menarik Alin ke dalam pelukan hangatnya. Aroma minyak mawar yang familier dari tubuh sang nenek sempat membuat pertahanan Alin runtuh, air matanya menetes pelan di bahu wanita tua itu.

"Nduk, Alin ... Nenek mohon, tetaplah berada di samping Elang," bisik Nenek Aisyah dengan suara yang parau, menggenggam kedua tangan Alin dengan sangat erat seolah sedang menitipkan seluruh harapan terakhirnya. "Jangan biarkan wanita itu merebut posisimu. Kamu adalah istri sah Elang yang direstui. Pegang kendali rumah itu, jangan biarkan dirimu tersingkir."

Saat itu, Alin hanya mengangguk kecil dan mengiyakan penuturan Nenek Aisyah sekadar untuk menenangkan jantung sang nenek yang sempat tidak stabil. Namun, di dalam hatinya yang paling dalam, Alin tahu situasinya sudah berbeda. Jauh di dalam lubuk hatinya, Alin sudah bersiap untuk menyerah. Dia sudah menyusun rencana untuk membatalkan atau menyudahi status pernikahan konyol ini secepat mungkin setelah badai mereda.

Alin bukan wanita bodoh yang buta karena cinta. Melalui sepasang mata Mas Elang saat pria itu menatap Cindy tadi, Alin bisa melihat dengan sangat jelas bahwa riak-riak cinta, rasa memiliki, dan penyesalan masa lalu untuk mantan kekasihnya itu masih menyala dengan begitu hebat. Di antara Elang dan Cindy, ada jembatan emosi yang belum runtuh. Sementara dirinya? Alin hanyalah orang asing yang dipaksa masuk karena selembar kertas kontrak perjodohan. Berdiri di antara dua orang yang masih saling mencintai hanya akan membuat dirinya berakhir sebagai korban yang mengenaskan.

Citt.

Mobil berhenti dengan perlahan. Alin membuka matanya, mendapati mereka sudah sampai di depan pagar besi hitam sebuah rumah klaster mewah bergaya minimalis modern di kawasan Jakarta Selatan. Rumah berlantai dua dengan cat dominan putih gading itu tampak begitu sunyi. Lampu taman yang temaram menyala otomatis, menyiram dinding rumah dengan cahaya kuning yang hangat. Rumah ini harusnya menjadi saksi dimulainya kehidupan ia Alin sebagai seorang istri, tempat di mana dia dan Elang belajar menumbuhkan rasa dari nol. Namun malam ini, rumah ini justru menyambut mereka dengan atmosfer sebuah tragedi.

Elang mematikan mesin mobil, lalu menoleh ke belakang dengan gerakan yang sangat lembut—kontras dengan bagaimana dia bersikap dingin pada Alin sejak sore tadi. "Cindy, sudah sampai. Biar Ega Mas yang gendong ke dalam."

"Maaf ya, Mas ... aku benar-benar merepotkanmu. Harusnya malam ini–" Cindy menggantung kalimatnya sengaja, melirik ke arah spion tengah untuk memastikan Alin mendengarnya. Ia meremas ujung blusnya dengan wajah yang penuh rasa bersalah yang tampak begitu natural.

"Sudah, jangan dibahas lagi. Ayo turun," potong Elang, nadanya melembut.

Alin membuka sabuk pengamannya sendiri. Ia tidak menunggu Elang untuk membukakan pintu mobilnya. Dengan gerakan lambat karena kakinya yang masih terasa kaku dan jarik yang membelit, Alin turun dari mobil, membawa tas jinjingnya sendiri. Ia melangkah mendahului mereka, membuka pintu utama rumah menggunakan kunci cadangan yang dipegangnya.

Begitu pintu terbuka, aroma cat baru dan keharuman pewangi ruangan beraroma lavender menyergap indra penciuman Alin. Di dalam ruang tengah, sebuah sofa beludru berwarna abu-abu yang nyaman sudah tertata rapi. Semuanya tampak sempurna, disiapkan oleh keluarga besar suaminya untuk menyambut pengantin baru.

Elang melangkah masuk paling akhir, mendekap Ega yang tertidur pulas di dadanya dengan begitu protektif. Di belakangnya, Cindy mengekor dengan langkah ragu-ragu, matanya mengedar menatap kemewahan rumah baru milik mantan kekasihnya itu dengan binar yang sulit dibaca.

"Alin," panggil Elang, membuat langkah Alin yang hendak menaiki tangga menuju kamar utama di lantai dua terhenti. Alin membalikkan tubuhnya perlahan, menatap suaminya datar.

"Kamar tamu di bawah ... apakah sudah siap dipakai?" tanya Elang, nadanya kembali formal dan berjarak. "Maksud Mas, sprei dan selimutnya. Ega harus segera dibaringkan, badannya masih agak hangat."

Alin menatap Elang selama beberapa detik tanpa ekspresi. Alih-alih menjawab dengan kata-kata, Alin berjalan menuju lemari penyimpanan di dekat dapur bawah. Ia mengambil satu set sprei bersih dan selimut tebal yang baru, lalu melangkah menuju kamar tamu yang terletak di sudut lantai satu. Dengan gerakan yang efisien dan tanpa suara, Alin memasang sprei tersebut ke atas kasur, menepuk-nepuk bantal dengan ritme yang teratur, dari gerakan tangan Alin yang kaku menunjukkan betapa ia sedang menekan seluruh emosi negatifnya ke titik terdalam.

Elang masuk ke dalam kamar tamu setelah Alin selesai, meletakkan Ega di atas kasur dengan sangat hati-hati, lalu menyelimuti tubuh mungil itu hingga sebatas dada. Cindy berdiri di ambang pintu, menatap punggung Elang dengan tatapan penuh kelembutan yang sengaja ia pamerkan di hadapan Alin.

"Terima kasih ya, Alin," ucap Cindy dengan suara berbisik, memasang wajah sekaku mungkin seolah ia tahu diri atas posisinya yang mengganggu. "Aku benar-benar minta maaf karena harus mengacaukan malam pertamamu dengan Mas Elang."

Bersambung ...

Terpopuler

Comments

Puput Assyfa

Puput Assyfa

berharap Alin pergi jauh dr Elang dan pernikahannya tidak seharusnya km tersakiti dan menderita karena pernikahan yg menyakitkan ini Alin percuma bertahan Elang punya anak dgn wanita lain dan hatinya masih terpaut cinta masalalu

2026-05-22

0

Yunita Sophi

Yunita Sophi

klo si pelakor punya hati gak mungkin dia akan datang ke pesta penikahan... klo dia punya malu dan dia merasa jd perempuan... dia gak mungkin datang ke gedung penikahan dgn pakaian dekil

2026-06-16

0

Sugiharti Rusli

Sugiharti Rusli

apa Alin masih memiliki kedua ortu atau sudah ga ada yah, soalnya saat kehormatan putrinya dipermalukan di depan orang banyak, pasti akan jadi garda terdepan buat membelanya

2026-05-22

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Kebaya Putih yang Ternoda-1
2 Bab 2. Kebaya Putih yang Ternoda-2
3 Bab 3. Bisik-Bisik di Balik Dinding Beludru
4 Bab 4. Malam Pertama Yang Hancur
5 Bab 5. Malam Pertama Yang Kau Abaikan
6 Bab 6. Sarapan Beraroma Asing
7 Bab 7. Tuan Egois
8 Bab 8. Penolakan Alin
9 Bab 9. Sisa Tujuh Pertemuan dan Kenyataan yang Hancur
10 Bab 10. Tangisan Buatan
11 Bab 11. Langkah yang Mantap
12 Bab 12. Maafin Alin, Nek
13 Bab 13. Syarat Satu Bulan
14 Bab 14. Rumah yang Kosong
15 Bab 15. Panggilan Darurat
16 Bab 16. Gemuruh di Beranda Kolonial
17 Bab 17. Topeng yang Retak
18 Bab 18. Wanita Bermuka Dua?
19 Bab 19. Tamparan di Sisi Ranjang Sepuh
20 Bab 20. Hidangan Hambar di Meja Makan
21 Info Sejenak
22 Bab 21. Ketegasan Alin
23 Bab 22. Saran Tia
24 Bab 23. Panggilan Dari Masa Lalu
25 Bab 24. Ancaman dari Takhta Tertinggi
26 Bab 25. Pilih Menginap
27 Bab 26. Komplain Langsung Saja
28 Bab 27. Sindiran Makan Malam
29 Bab 28. Jejak Di Bali
30 Bab 29. Mas Elang Kok Belum Pulang?
31 Bab 30. Tembok Tinggi di Kamar Tamu
32 Bab 31. Sindiran di Dapur Kering
33 Bab 32. Sandiwara di Balik Pagar Belakang
34 Bab 33. Selalu Kena Sindiran
35 Bab 34. Kondisi Nenek Aisyah
36 Bab 35. Sandiwara Kembali
37 Bab 36. Pria Asing dan Batas yang Tak Dianggap
38 Bab 37. Bara Cemburu di Lorong
39 Bab 38. Kedatangan Tamu
40 Bab 39. Sidang Takhta
41 Bab 40. Siasat di Balik Selembar Kertas Tes
42 Info sejenak
43 Bab 41. Batas Sabar
44 Bab 42. Hantaman di Selasar
45 Bab 43. Komedi yang Tak Lucu
46 Bab 44. Otoritas yang Kembali
Episodes

Updated 46 Episodes

1
Bab 1. Kebaya Putih yang Ternoda-1
2
Bab 2. Kebaya Putih yang Ternoda-2
3
Bab 3. Bisik-Bisik di Balik Dinding Beludru
4
Bab 4. Malam Pertama Yang Hancur
5
Bab 5. Malam Pertama Yang Kau Abaikan
6
Bab 6. Sarapan Beraroma Asing
7
Bab 7. Tuan Egois
8
Bab 8. Penolakan Alin
9
Bab 9. Sisa Tujuh Pertemuan dan Kenyataan yang Hancur
10
Bab 10. Tangisan Buatan
11
Bab 11. Langkah yang Mantap
12
Bab 12. Maafin Alin, Nek
13
Bab 13. Syarat Satu Bulan
14
Bab 14. Rumah yang Kosong
15
Bab 15. Panggilan Darurat
16
Bab 16. Gemuruh di Beranda Kolonial
17
Bab 17. Topeng yang Retak
18
Bab 18. Wanita Bermuka Dua?
19
Bab 19. Tamparan di Sisi Ranjang Sepuh
20
Bab 20. Hidangan Hambar di Meja Makan
21
Info Sejenak
22
Bab 21. Ketegasan Alin
23
Bab 22. Saran Tia
24
Bab 23. Panggilan Dari Masa Lalu
25
Bab 24. Ancaman dari Takhta Tertinggi
26
Bab 25. Pilih Menginap
27
Bab 26. Komplain Langsung Saja
28
Bab 27. Sindiran Makan Malam
29
Bab 28. Jejak Di Bali
30
Bab 29. Mas Elang Kok Belum Pulang?
31
Bab 30. Tembok Tinggi di Kamar Tamu
32
Bab 31. Sindiran di Dapur Kering
33
Bab 32. Sandiwara di Balik Pagar Belakang
34
Bab 33. Selalu Kena Sindiran
35
Bab 34. Kondisi Nenek Aisyah
36
Bab 35. Sandiwara Kembali
37
Bab 36. Pria Asing dan Batas yang Tak Dianggap
38
Bab 37. Bara Cemburu di Lorong
39
Bab 38. Kedatangan Tamu
40
Bab 39. Sidang Takhta
41
Bab 40. Siasat di Balik Selembar Kertas Tes
42
Info sejenak
43
Bab 41. Batas Sabar
44
Bab 42. Hantaman di Selasar
45
Bab 43. Komedi yang Tak Lucu
46
Bab 44. Otoritas yang Kembali

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!