KEBAYA PUTIH YANG TERNODA

KEBAYA PUTIH YANG TERNODA

Bab 1. Kebaya Putih yang Ternoda-1

Aroma melati yang ronceannya menjuntai tebal dari tatanan rambut hingga ke dada terasa kian pekat, beradu dengan wangi dupa yang mulai membuat kepala Alin pening. Sudah hampir tiga jam dia berdiri di atas pelaminan yang didekorasi layaknya taman musim dingin artifisial. Sepatu selop berhak tinggi di balik kain jarik motif sidomukti yang melilit ketat kakinya mulai membuat tumitnya berdenyut nyeri. Setiap kali Alin melangkah sedikit untuk menyambut tamu, kain prada emas yang menghiasi tepian jariknya terasa berat, membatasi ruang geraknya. Namun, setiap kali rasa lelah dan sesak itu menyergap, Alin memaksa sepasang sudut bibirnya untuk tetap melengkung sempurna ke atas. Ia harus terlihat seperti pengantin wanita paling bahagia hari ini—setidaknya di depan ratusan pasang mata tamu undangan korporat dan kolega bisnis sang suami.

Alin melirik pria di sebelahnya lewat sudut mata.

Elang. Suaminya yang baru beberapa jam lalu mengucapkan kalimat kabul dengan satu tarikan napas mantap.

Pria berusia tiga puluh tahun itu tampak begitu gagah sekaligus berwibawa dalam balutan beskap pengantin khas Yogyakarta berwarna putih gading, lengkap dengan blangkon yang membingkai wajah tegasnya. Sebagai CEO yang baru saja naik jabatan di salah satu startup teknologi terkemuka di Jakarta, Elang memiliki aura kepemimpinan yang pekat. Rahangnya kokoh, tatapan matanya selalu fokus, dan pembawaannya tenang. Namun, ketenangan itu terasa begitu dingin bagi Alin. Kulit dahi Elang yang dihiasi sedikit pulasan paes hitam sisa prosesi adat tadi pagi tampak mengeras, menunjukkan gurat ketegangan yang coba dia sembunyikan di balik senyum formalnya.

Sejak prosesi akad nikah tadi pagi hingga resepsi mewah di ballroom hotel bintang lima ini berlangsung, jemari Elang yang sesekali menggandeng tangan Alin terasa begitu kaku. Tidak ada kehangatan yang merembes ke kulit Alin. Genggaman itu hanya ada ketika kamera fotografer terarah pada mereka, atau ketika Nenek menatap mereka dari kursi barisan depan dengan binar mata penuh harap. Begitu lampu kilat padam atau saat Nenek beralih menyapa kerabat lain, jemari tegap itu akan terlepas dengan perlahan, kembali terselip di balik saku atau sibuk membenarkan letak keris yang terselip di pinggang belakangnya.

Alin sangat tahu diri. Pernikahan ini bukanlah sepasang dongeng tentang dua hati yang saling bertaut sejak pandangan pertama. Jika bukan karena permintaan terakhir Sang Nenek—satu-satunya sosok yang paling dihormati dan ditakuti Elang di keluarga besar mereka—pria mapan dengan karier melejit ini tidak akan pernah sudi melirik gadis berusia dua puluh dua tahun yang baru saja menyelesaikan sidang skripsinya seperti Alin. Bagi Elang, pernikahan ini tak lebih dari sebuah bentuk bakti, kewajiban, dan balas budi yang harus dituntaskan secepat mungkin agar hidupnya bisa kembali fokus pada dunia korporasi yang dia gilai. Alin hanyalah orang asing yang kebetulan dipilih Nenek untuk mengisi kekosongan di sisi Elang.

"Mas, minum dulu? Bibir Mas Elang kelihatan kering," bisik Alin lirih, memanfaatkan jeda singkat saat antrean tamu di bawah pelaminan sedikit lengang. Tangan Alin yang terbungkus sarung tangan brokat tipis bergerak mengambil segelas air putih kecil dari nampan perak yang diantarkan oleh seorang pramusaji bertubuh tegap.

Elang menoleh sedikit. Gerakan lehernya terasa kaku karena kalung karset melati yang melingkari lehernya ikut bergeser. Pria itu melirik gelas di tangan Alin dengan tatapan datar, lalu menggeleng pelan tanpa menyentuh jemari istrinya. "Tidak perlu, Alin. Masih banyak kolega dari kantor pusat dan investor yang belum naik ke pelaminan. Kamu saja yang minum kalau memang sudah lelah berdiri."

Suaranya bariton, rendah, dan begitu berjarak. Alin menarik kembali tangannya dengan perlahan. Dia meletakkan kembali gelas itu ke atas nampan dengan gerakan yang sangat hati-hati, berusaha keras agar tidak menimbulkan bunyi dencing kaca yang bisa memecah kesunyian canggung di antara mereka. Alin mengangguk kecil, mencoba menelan ludahnya sendiri yang mendadak terasa kelat di tenggorokan. Kebaya beludru putih dengan hiasan payet berkilau yang melekat di tubuhnya mendadak terasa mencekik, seolah kekurangan oksigen.

Tepat saat Alin meluruskan kembali pandangannya ke arah pintu masuk utama ballroom, kerumunan tamu yang berdiri di dekat karpet merah bertabur kelopak bunga mendadak terbelah. Kasak-kusuk rendah yang semula samar mulai terdengar riuh, beradu dengan alunan musik syahdu dari grup instrumen gesek di sudut ruangan yang mendadak kehilangan temponya. Beberapa pagar ayu yang berjaga di depan pintu tampak saling berbisik dengan wajah panik, sesekali melirik ke arah pelaminan.

Seorang wanita melangkah masuk membelah kemegahan pesta.

Dia sama sekali tidak mengenakan gaun pesta mewah atau kebaya brokat seperti tamu undangan lainnya yang hadir malam itu. Wanita itu hanya mengenakan blus katun sewarna krem yang tampak agak kusut di bagian lengan, dipadukan dengan rok plisket hitam yang panjangnya tanggung, memperlihatkan flat shoes-nya yang tampak berdebu. Rambutnya yang sedikit kecokelatan diikat asal ke belakang dengan jepit plastik murah, menyisakan beberapa anak rambut yang berantakan membingkai wajah pucatnya yang sama sekali tanpa riasan tebal. Matanya sembap, dikelilingi lingkaran hitam yang kontras dengan kulit wajahnya yang tirus.

Namun, bukan penampilannya yang membuat atmosfer di sekitar pelaminan megah itu mendadak membeku layaknya es, melainkan sosok anak laki-laki kecil berusia sekitar empat tahun yang berada di dalam gandengan erat tangan kirinya. Bocah itu memakai kemeja kotak-kotak kusam yang tampak kekecilan, melangkah ragu dengan sepasang sepatu karet murah yang mengeluarkan bunyi berdecit setiap kali menapak di atas lantai marmer hotel yang mengilap.

Alin merasakan perubahan drastis di sebelahnya sebelum otaknya sendiri sempat mencerna apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Tubuh tegap Elang mendadak menegang sempurna, mengeras layaknya batu karang. Alin bisa mendengar embusan napas Elang yang tertahan di tenggorokan, berubah menjadi tarikan napas yang pendek dan berat. Sepasang mata elang milik suaminya, yang biasanya menatap tajam, dingin, dan penuh perhitungan, kini melebar dengan pupil yang bergetar hebat. Seluruh fokus Elang runtuh dalam satu detik. Tatapan itu terkunci rapat, seolah terhipnotis pada sosok wanita yang baru saja menghentikan langkahnya di ujung karpet merah, tepat beberapa meter di bawah undakan pelaminan tempat mereka berdiri.

"Cindy ...?"

Bersambung ...

Assalamualaikum, halo Kakak semuanya. Mommy Ghina kembali datang, ada yang kangen nggak sih? Yuk tinggalkan komentarnya nih, Mommy Ghina bawa karya terbarunya, kalau banyak yang komentar, ceritanya dilanjut nih.

Terpopuler

Comments

Kar Genjreng

Kar Genjreng

selamat datang kembali' Mommy sehat selalu ya di tunggu karya terbarunya ternya sudah update 🙏 terimakasih banget ,,,banget nget 💪🌹😂. semangat yang sudah rindu membaca karya Mommy Ghina,,,

2026-05-20

2

Teh Euis Tea

Teh Euis Tea

alhamdulilah momy ghina balik lg ke noveltoon, dpt notif lngsung baca. srpertinya seru ini

2026-05-20

1

Ais

Ais

aku kangen novel mommy semangat updatenya mom makasih🙏😍

2026-05-20

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Kebaya Putih yang Ternoda-1
2 Bab 2. Kebaya Putih yang Ternoda-2
3 Bab 3. Bisik-Bisik di Balik Dinding Beludru
4 Bab 4. Malam Pertama Yang Hancur
5 Bab 5. Malam Pertama Yang Kau Abaikan
6 Bab 6. Sarapan Beraroma Asing
7 Bab 7. Tuan Egois
8 Bab 8. Penolakan Alin
9 Bab 9. Sisa Tujuh Pertemuan dan Kenyataan yang Hancur
10 Bab 10. Tangisan Buatan
11 Bab 11. Langkah yang Mantap
12 Bab 12. Maafin Alin, Nek
13 Bab 13. Syarat Satu Bulan
14 Bab 14. Rumah yang Kosong
15 Bab 15. Panggilan Darurat
16 Bab 16. Gemuruh di Beranda Kolonial
17 Bab 17. Topeng yang Retak
18 Bab 18. Wanita Bermuka Dua?
19 Bab 19. Tamparan di Sisi Ranjang Sepuh
20 Bab 20. Hidangan Hambar di Meja Makan
21 Info Sejenak
22 Bab 21. Ketegasan Alin
23 Bab 22. Saran Tia
24 Bab 23. Panggilan Dari Masa Lalu
25 Bab 24. Ancaman dari Takhta Tertinggi
26 Bab 25. Pilih Menginap
27 Bab 26. Komplain Langsung Saja
28 Bab 27. Sindiran Makan Malam
29 Bab 28. Jejak Di Bali
30 Bab 29. Mas Elang Kok Belum Pulang?
31 Bab 30. Tembok Tinggi di Kamar Tamu
32 Bab 31. Sindiran di Dapur Kering
33 Bab 32. Sandiwara di Balik Pagar Belakang
34 Bab 33. Selalu Kena Sindiran
35 Bab 34. Kondisi Nenek Aisyah
36 Bab 35. Sandiwara Kembali
37 Bab 36. Pria Asing dan Batas yang Tak Dianggap
38 Bab 37. Bara Cemburu di Lorong
39 Bab 38. Kedatangan Tamu
40 Bab 39. Sidang Takhta
41 Bab 40. Siasat di Balik Selembar Kertas Tes
42 Info sejenak
43 Bab 41. Batas Sabar
44 Bab 42. Hantaman di Selasar
45 Bab 43. Komedi yang Tak Lucu
46 Bab 44. Otoritas yang Kembali
Episodes

Updated 46 Episodes

1
Bab 1. Kebaya Putih yang Ternoda-1
2
Bab 2. Kebaya Putih yang Ternoda-2
3
Bab 3. Bisik-Bisik di Balik Dinding Beludru
4
Bab 4. Malam Pertama Yang Hancur
5
Bab 5. Malam Pertama Yang Kau Abaikan
6
Bab 6. Sarapan Beraroma Asing
7
Bab 7. Tuan Egois
8
Bab 8. Penolakan Alin
9
Bab 9. Sisa Tujuh Pertemuan dan Kenyataan yang Hancur
10
Bab 10. Tangisan Buatan
11
Bab 11. Langkah yang Mantap
12
Bab 12. Maafin Alin, Nek
13
Bab 13. Syarat Satu Bulan
14
Bab 14. Rumah yang Kosong
15
Bab 15. Panggilan Darurat
16
Bab 16. Gemuruh di Beranda Kolonial
17
Bab 17. Topeng yang Retak
18
Bab 18. Wanita Bermuka Dua?
19
Bab 19. Tamparan di Sisi Ranjang Sepuh
20
Bab 20. Hidangan Hambar di Meja Makan
21
Info Sejenak
22
Bab 21. Ketegasan Alin
23
Bab 22. Saran Tia
24
Bab 23. Panggilan Dari Masa Lalu
25
Bab 24. Ancaman dari Takhta Tertinggi
26
Bab 25. Pilih Menginap
27
Bab 26. Komplain Langsung Saja
28
Bab 27. Sindiran Makan Malam
29
Bab 28. Jejak Di Bali
30
Bab 29. Mas Elang Kok Belum Pulang?
31
Bab 30. Tembok Tinggi di Kamar Tamu
32
Bab 31. Sindiran di Dapur Kering
33
Bab 32. Sandiwara di Balik Pagar Belakang
34
Bab 33. Selalu Kena Sindiran
35
Bab 34. Kondisi Nenek Aisyah
36
Bab 35. Sandiwara Kembali
37
Bab 36. Pria Asing dan Batas yang Tak Dianggap
38
Bab 37. Bara Cemburu di Lorong
39
Bab 38. Kedatangan Tamu
40
Bab 39. Sidang Takhta
41
Bab 40. Siasat di Balik Selembar Kertas Tes
42
Info sejenak
43
Bab 41. Batas Sabar
44
Bab 42. Hantaman di Selasar
45
Bab 43. Komedi yang Tak Lucu
46
Bab 44. Otoritas yang Kembali

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!