Bab 03 // MBKCM

​Matahari sudah hampir bersinar sepenuhnya, membiaskan cahaya keemasan yang menembus kabut pagi saat Kiana menginjakkan kaki di rumah kos khusus putri yang terletak di dalam gang. Langkah kakinya terasa begitu berat, setiap jengkal kemajuan membuat area intinya berdenyut nyeri, sisa dari malam penuh dosa yang baru saja dia lalui. Kiana berjalan menunduk, mencoba menyembunyikan wajahnya yang pucat dan matanya yang sembap dari dunia luar.

​"Kiana! Wah, dari mana aja nih semalaman tidak pulang? Kamu diajak kemana sama Dafa?"

​Suara cempreng yang sangat familier itu seketika mengejutkan Kiana. Dia mendongak dan mendapati Saskia, teman dekat Kiana yang tinggal tepat di sebelah kamarnya dan juga satu pekerjaan yang sama sebagai pelayan di butik, sedang berdiri di koridor kos sambil memegang handuk.

​Gadis berambut sebahu itu matanya berbinar, memancarkan binar kepo yang murni. Saskia tersenyum menggoda, mengira Kiana baru saja diajak merayakan anniversary ke-3 ke suatu tempat yang indah oleh Dafa. Di mata Saskia, Dafa adalah kekasih yang manis, jadi wajar saja jika pria itu memberikan kejutan menginap di hotel mewah atau makan malam romantis sampai Kiana tidak pulang semalaman.

​Mendengar nama Dafa disebut, dada Kiana terasa seperti dihantam godam besar. Rasa sakit akibat pengkhianatan itu kembali mencuat ke permukaan, berbaur dengan rasa hina yang kini melekat pada tubuhnya.

​Kiana meremas amplop yang masih ada dalam dekapannya. Jemarinya memutih, menekan kertas tebal berisi uang 10 juta dari Ardan ke dadanya seolah benda itu adalah tameng pelindung diri. Dia menatap Saskia dengan pandangan kosong, bibirnya bergetar hebat.

​"Dafa... brengsek," kata Kiana lirih, suaranya nyaris tercekat di tenggorokan.

​Saskia tersentak, senyum goda di wajahnya langsung lenyap digantikan kerutan dahi penuh bingung. "Hah? Kia, kamu ngomong apa? Dafa kenapa?"

​Kiana tidak menjawab. Dia tidak sanggup membeberkan semuanya di koridor kos yang terbuka. Kiana berjalan cepat menuju kamarnya, membuka pintu dengan tangan gemetar, lalu melangkah masuk. Saskia yang belum mengerti apa yang terjadi, tanpa ragu mengikuti Kiana masuk ke dalam kamar Kiana, lalu menutup pintunya rapat-rapat.

​Begitu pintu terkunci, pertahanan Kiana runtuh total. Tubuhnya merosot bersandar di tembok. Kiana menangis lagi, air matanya luruh membasahi pipi. Dia membekap mulutnya sendiri, tidak berani bersuara keras takut tetangga kos lainnya mendengar karena ini merupakan aib buruk bagi dirinya.

​Saskia yang panik melihat sahabatnya histeris langsung berlutut di depan Kiana, memegang kedua pundaknya. "Kia! Astaga, kamu kenapa? Tolong jangan bikin aku takut. Baju kamu kenapa kusut begini? Terus amplop apa yang kamu pegang itu?"

​"Sas... Dafa..." Kiana terisak, napasnya tersendat-sendat. "Dafa menjualku pada rentenir tua..."

​"APA?!" Saskia menjerit tertahan, menutup mulutnya sendiri dengan mata melotot horor. "M-menjual? Maksud kamu gimana?!"

​"Dia punya utang judi seratus juta, Sas. Dia menjebakku, dia mencampuri minumanku pakai obat sampai aku pingsan dan terbangun di kelab semalam," cerita Kiana dengan suara parau, ingatan menjijikkan tentang bos rentenir itu membuat tubuhnya merinding. "Aku berhasil kabur... tapi..."

​Kiana menjeda kalimatnya, menyembunyikan wajahnya di lutut. Rasa bersalah pada mas bidadari semalam membuat dadanya sesak.

​"Tapi apa, Kiana? Rentenir itu ngapa-ngapain kamu?" tanya Saskia, suaranya sudah ikut bergetar karena takut.

​Kiana menggeleng kuat-kuat di sela tangisnya. "Bukan... bukan rentenir itu. Aku berhasil menendangnya lalu kabur keluar dan berhenti jembatan sepi. Di sana, kesadaranku benar-benar hilang karena pengaruh obat dan alkohol. Aku hampir jatuh ke sungai, tapi ada seorang pria yang menolongku. Dan aku... aku justru melakukan hal bodoh dengan menggoda seorang laki-laki yang tadinya hanya berniat menolongku."

​Saskia terperangah, otaknya mencoba mencerna informasi gila ini. "Kamu... sama pria penolong itu?"

​Kiana mengangguk pelan, menyeka air matanya dengan kasar. "Kami melakukannya di dalam mobilnya. Aku yang mulai duluan, Sas. Aku yang gila semalam. Dan pagi ini, dia memberiku uang ini." Kiana menunjukkan amplop cokelat tebal di tangannya. "Mengatakan agar aku melupakan semuanya. Dia bilang, anggap kejadian semalam tidak pernah terjadi dan kami tidak pernah bertemu."

​Saskia terdiam, menatap amplop di tangan Kiana dengan perasaan campur aduk. Dia ikut sedih, hatinya perih melihat sahabatnya yang begitu baik harus mengalami nasib setragis ini dalam satu malam. Namun, akal sehat Saskia sebagai seorang wanita langsung memikirkan konsekuensi jangka panjangnya.

​Saskia berdecak, lalu dia mengatakan, "Enak saja melupakan! Dia pikir kesucian bisa dibeli pakai uang? Terus, gimana kalau kamu hamil, Kia? Meski hanya hubungan satu malam itu beresiko besar!"

​Kiana terdiam sejenak. Kata-kata Saskia persis seperti apa yang ditakutkan Ardan semalam. Peringatan dingin Ardan kembali terngiang di kepalanya 'Aku tidak mau suatu hari nanti kamu datang dengan alasan palsu tentang kehamilan.'

​Sebenarnya, Kiana harus merahasiakan ini karena pria itu sudah mengancamnya dengan kejam. Tapi hanya pada Saskia dia akan jujur, karena Saskia adalah satu-satunya keluarga yang dia miliki di kota besar ini.

​Kiana menatap mata Saskia, mencoba meyakinkan sahabatnya sekaligus menenangkan hatinya sendiri. "Aku tidak akan hamil, Sas. Dia mengatakan dia mandul."

​Saskia menaikkan sebelah alisnya, terkejut mendengar fakta medis tersebut. "Benarkah? Dia sendiri yang bilang kalau dia mandul?"

​"Iya. Dia menegaskan itu padaku agar aku tidak mencari atau menjebaknya dengan alasan anak di kemudian hari," jawab Kiana lirih. Rasa lega sedikit terselip di hatinya, setidaknya dia tidak perlu takut mengandung anak dari pria asing.

​"Pria aneh," gumam Saskia, masih tidak habis pikir. "Tapi tunggu... Siapa nama pria itu, Ki? Kita harus tahu identitasnya buat jaga-jaga."

​Kiana menggeleng lemah. "Aku tidak tahu namanya, Sas. Dia tidak menyebutkan nama, dan aku juga terlalu takut untuk bertanya. Tapi yang pasti, melihat mobilnya, pengawalnya, dan pembawaannya... dia pria yang kaya yang bisa menghancurkan siapapun, aku yakin itu. Auranya sangat menakutkan saat mengancamku tadi."

​Melihat ketakutan yang nyata di mata Kiana, Saskia tidak tega untuk bertanya lebih jauh. Dia bergeser, lalu Saskia memeluk Kiana memberinya kekuatan. Dia mengusap punggung Kiana yang masih bergetar, mencoba menyalurkan kehangatan yang tersisa.

​"Ya Tuhan, Kian... Maafkan aku ya, semalam aku gak tahu kamu dalam bahaya," bisik Saskia emosional. Tatapan matanya mendadak berubah menjadi sangat tajam dan penuh amarah saat mengingat dalang dari semua kekacauan ini. "Dan untuk Dafa... lihat saja nanti. aku akan menendangnya jika dia berani muncul disini! Pria biadab seperti dia harusnya membusuk di penjara!"

​Kiana hanya bisa menangis pasrah di dalam pelukan Saskia, meratapi nasibnya yang kini berubah total hanya dalam hitungan jam.

***

​Sementara itu, tiga jam kemudian di sisi lain kota, kemewahan yang kontras terlihat jelas di kediaman utama keluarga Arkatama. Sebuah mansion megah yang berdiri kokoh di kawasan elite Jakarta.

​Di dalam kamarnya yang luas didominasi warna hitam dan abu-abu, Ardan sudah siap dengan setelan jas rapinya. Penampilannya pagi ini kembali sempurna. Rambutnya disisir rapi ke belakang, rahangnya dicukur bersih, dan kemeja putihnya terpasang rapi tanpa cela. Seolah-olah kekacauan di dalam mobil mewah di atas jembatan beberapa jam lalu tidak pernah terjadi.

​Ardan sedang merapikan jam tangannya yang berkilau di pergelangan tangan, sampai sebuah ketukan pintu terdengar.

​Tok! Tok! Tok!

​"Masuk," perintah Ardan dingin.

​Pintu terbuka, dan Bimo masuk sambil membawa jas yang tertinggal di mobil pribadi Ardan yang tadinya dibawa pelayan yang membersihkan mobil itu. Bimo melangkah dengan hati-hati, memegang jas hitam milik Ardan dengan posisi agak menjauh dari tubuhnya sendiri.

​"Pak Ardan," panggil Bimo, menghentikan langkahnya beberapa meter di depan meja rias bosnya. "Ini jas Anda yang semalam. Pelayan yang membersihkan mobil pribadi Anda tadi menemukannya tergeletak di kursi belakang."

​Ardan melirik jas itu sekilas melalui pantulan cermin. Ingatannya seketika melompat pada bayangan tubuh polos Kiana yang terbungkus jas tersebut semalam.

​Bimo berdehem pelan, memecah lamunan singkat Ardan. "Pak, apa jas ini langsung saya bawa saja ke tempat cuci? Atau... mau dibuang saja? Soalnya, sepertinya jas ini sudah menempel bau gadis tadi, bukan wangi parfum Anda lagi. Ada bau Alkohol dan sepertinya aroma tubuh wanita itu agak pekat di kainnya."

​Ardan terdiam. Matanya menatap tajam pada jas hitam itu. Logikanya berjalan. Ardan seharusnya mengatakan buang saja, karena meski mahal, dia bisa membeli seratus jas seperti itu lagi tanpa membuat dompetnya menipis. Pria sekaya dirinya tidak pernah memakai pakaian yang sudah dianggap terkontaminasi oleh orang asing.

​Tapi, entah kenapa, ego dan batinnya menolak. Aroma manis bercampur alkohol yang tertinggal di jas itu mendadak terlintas di indra penciumannya, memicu getaran aneh yang membuat dadanya terasa sesak. Ada bagian dari dirinya yang mendadak tidak rela jika jas itu dibuang atau disentuh oleh orang lain di tempat pencucian.

​"Taruh saja di sana," ujar Ardan akhirnya, nadanya datar dan acuh tak acuh. Dia menunjuk ke arah sofa panjang di sudut kamar. "Aku akan membuangnya sendiri nanti."

​Bimo mengerutkan kening, merasa aneh dengan keputusan bosnya yang tidak biasa. Namun, dia tidak berani membantah. "Baik, Pak."

​Tentu saja itu adalah kebohongan Ardan untuk menutupi rasa gengsinya di depan sang asisten. Dia hanya tidak ingin Bimo berpikiran macam-macam tentang ketertarikannya yang aneh pada gadis semalam.

​Kemudian Bimo setelah menaruh itu di sofa, kembali berdiri tegak dan mengecek tablet kerjanya. Expresi wajahnya berubah menjadi lebih serius dari sebelumnya.

​"Oh iya, Pak Ardan. Ada satu hal lagi yang harus saya sampaikan sebelum Anda turun ke bawah," kata Bimo dengan nada pelan. "Pak Wirya dan Pak Arya sudah menunggu di meja makan."

​Gerakan tangan Ardan yang sedang merapikan kerah jas luarannya seketika membeku. Matanya menyipit tajam menatap pantulan Bimo di cermin.

​"Paman Arya? Kenapa dia ada disini pagi-pagi?" tanya Ardan dengan nada penuh selidik, suaranya mendadak berubah menjadi sangat dingin dan penuh kewaspadaan.

​Hubungannya dengan sang paman, Arya Arkatama, memang tidak pernah benar-benar baik. Paman Arya selalu mengincar posisi CEO yang kini diduduki Ardan, dan kehadiran pria paruh baya itu di mansion utama sepagi ini jelas bukan untuk sekadar sarapan keluarga yang hangat.

​Bimo menghela napas pendek, mengangkat bahunya sedikit dengan ekspresi pasrah. "Saya kurang tahu pasti agenda resminya, Pak. Tapi... melihat senyum beliau di bawah tadi, mungkin beliau punya kandidat wanita untuk Anda lagi, Pak. Mengingat Pak Wirya terus menekan Anda soal pernikahan dan pewaris akhir-akhir ini."

​Ardan mengepalkan tangannya kuat-kuat di dalam saku celana. Tuntutan pernikahan, pewaris, dan fakta kemandulannya... tiga hal itu kembali datang menyerang kepalanya seperti gada besi, mengacaukan ketenangan yang baru saja coba dia bangun pagi ini.

Episodes
1 Bab 01 // MBKCM
2 Bab 02// MBKCM
3 Bab 03 // MBKCM
4 Bab 04 // MBKCM
5 Bab 05 //MBKCM
6 Bab 06 // MBKCM
7 Bab 07 // MBKCM
8 Bab 08 // MBKCM
9 Bab 09// MBKCM
10 Bab 10// MBKCM
11 Bab 11 // MBKCM
12 Bab 12 // MBKCM
13 Bab 13 // MBKCM
14 Bab 14 // MBKCM
15 Bab 15 // MBKCM
16 Bab 16 // MBKCM
17 Bab 17 // MBKCM
18 Bab 18 // MBKCM
19 Bab 19 // MBKCM
20 Bab 20 // MBKCM
21 Bab 21 // MBKCM
22 Bab 22 // MBKCM
23 Bab 23 // MBKCM
24 Bab 24 // MBKCM
25 Bab 25 // MBKCM
26 Bab 26 // MBKCM
27 Bab 27 // MBKCM
28 Bab 28 // MBKCM
29 Bab 29 // MBKCM
30 Bab 30 // MBKCM
31 Bab 31 // MBKCM
32 Bab 32 // MBKCM
33 Bab 33 // MBKCM
34 Bab 34 // MBKCM
35 Bab 35 // MBKCM
36 Bab 36 // MBKCM
37 Bab 37 // MBKCM
38 Bab 38 // MBKCM
39 Bab 39 // MBKCM
40 Bab 40 // MBKCM
41 Bab 41 // MBKCM
42 Bab 42 // MBKCM
43 Bab 43 // MBKCM
44 Bab 44 // MBKCM
45 Bab 45 // MBKCM
46 Bab 46// MBKCM
47 Bab 47 // MBKCM
48 Bab 48 // MBKCM
49 Bab 49 // MBKCM
50 Bab 50 // MBKCM
51 Bab 51 // MBKCM
52 Bab 52 // MBKCM
53 Bab 53 // MBKCM
54 Bab 54 // MBKCM
55 Bab 55 // MBKCM
56 Bab 56 // MBKCM
57 Bab 57 // MBKCM
58 Bab 58 // MBKCM
59 Bab 59// MBKCM
60 Bab 60 // MBKCM
61 Bab 61 // MBKCM
62 Bab 62 // MBKCM
63 Bab 63 // MBKCM
64 Bab 64 // MBKCM
65 Bab 65 // MBKCM
66 Bab 66 // MBKCM
67 Bab 67 // MBKCM
68 Bab 68 // MBKCM
69 Bab 69 // MBKCM
70 Bab 70 // MBKCM
71 Bab 71 // MBKCM
72 Bab 72 // MBKCM
73 Bab 73 // MBKCM
74 Bab 74 // MBKCM
75 Bab 75 // MBKCM
76 Bab 76 // MBKCM
77 Bab 77 / MBKCM
78 Bab 78 // MBKCM
79 Bab 79 // MBKCM
80 Bab 80 // MBKCM
81 Bab 81 // MBKCM
82 Bab 82 // MBKCM
83 Bab 83 // MBKCM
84 Bab 84 // MBKCM
85 Bab 85 // MBKCM
86 Bab 86 // MBKCM
87 Bab 87 // MBKCM
88 Bab 88 // MBKCM
89 Bab 89 // MBKCM
90 Bab 90 // MBKCM
91 Bab 91 // MBKCM
92 Bab 92 // MBKCM
93 Bab 93 // MBKCM
94 Bab 94 // MBKCM
95 Bab 95 // MBKCM
96 Bab 96 // MBKCM
97 Bab 97 // MBKCM
98 Bab 98 // MBKCM
99 Bab 99 // MBKCM
100 Bab 100-END
101 Promo Novel baru
102 Karya Baru
Episodes

Updated 102 Episodes

1
Bab 01 // MBKCM
2
Bab 02// MBKCM
3
Bab 03 // MBKCM
4
Bab 04 // MBKCM
5
Bab 05 //MBKCM
6
Bab 06 // MBKCM
7
Bab 07 // MBKCM
8
Bab 08 // MBKCM
9
Bab 09// MBKCM
10
Bab 10// MBKCM
11
Bab 11 // MBKCM
12
Bab 12 // MBKCM
13
Bab 13 // MBKCM
14
Bab 14 // MBKCM
15
Bab 15 // MBKCM
16
Bab 16 // MBKCM
17
Bab 17 // MBKCM
18
Bab 18 // MBKCM
19
Bab 19 // MBKCM
20
Bab 20 // MBKCM
21
Bab 21 // MBKCM
22
Bab 22 // MBKCM
23
Bab 23 // MBKCM
24
Bab 24 // MBKCM
25
Bab 25 // MBKCM
26
Bab 26 // MBKCM
27
Bab 27 // MBKCM
28
Bab 28 // MBKCM
29
Bab 29 // MBKCM
30
Bab 30 // MBKCM
31
Bab 31 // MBKCM
32
Bab 32 // MBKCM
33
Bab 33 // MBKCM
34
Bab 34 // MBKCM
35
Bab 35 // MBKCM
36
Bab 36 // MBKCM
37
Bab 37 // MBKCM
38
Bab 38 // MBKCM
39
Bab 39 // MBKCM
40
Bab 40 // MBKCM
41
Bab 41 // MBKCM
42
Bab 42 // MBKCM
43
Bab 43 // MBKCM
44
Bab 44 // MBKCM
45
Bab 45 // MBKCM
46
Bab 46// MBKCM
47
Bab 47 // MBKCM
48
Bab 48 // MBKCM
49
Bab 49 // MBKCM
50
Bab 50 // MBKCM
51
Bab 51 // MBKCM
52
Bab 52 // MBKCM
53
Bab 53 // MBKCM
54
Bab 54 // MBKCM
55
Bab 55 // MBKCM
56
Bab 56 // MBKCM
57
Bab 57 // MBKCM
58
Bab 58 // MBKCM
59
Bab 59// MBKCM
60
Bab 60 // MBKCM
61
Bab 61 // MBKCM
62
Bab 62 // MBKCM
63
Bab 63 // MBKCM
64
Bab 64 // MBKCM
65
Bab 65 // MBKCM
66
Bab 66 // MBKCM
67
Bab 67 // MBKCM
68
Bab 68 // MBKCM
69
Bab 69 // MBKCM
70
Bab 70 // MBKCM
71
Bab 71 // MBKCM
72
Bab 72 // MBKCM
73
Bab 73 // MBKCM
74
Bab 74 // MBKCM
75
Bab 75 // MBKCM
76
Bab 76 // MBKCM
77
Bab 77 / MBKCM
78
Bab 78 // MBKCM
79
Bab 79 // MBKCM
80
Bab 80 // MBKCM
81
Bab 81 // MBKCM
82
Bab 82 // MBKCM
83
Bab 83 // MBKCM
84
Bab 84 // MBKCM
85
Bab 85 // MBKCM
86
Bab 86 // MBKCM
87
Bab 87 // MBKCM
88
Bab 88 // MBKCM
89
Bab 89 // MBKCM
90
Bab 90 // MBKCM
91
Bab 91 // MBKCM
92
Bab 92 // MBKCM
93
Bab 93 // MBKCM
94
Bab 94 // MBKCM
95
Bab 95 // MBKCM
96
Bab 96 // MBKCM
97
Bab 97 // MBKCM
98
Bab 98 // MBKCM
99
Bab 99 // MBKCM
100
Bab 100-END
101
Promo Novel baru
102
Karya Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!