Bab 04 // MBKCM

​Langkah kaki Ardan Arkatama terdengar tegas beritme saat menuruni anak tangga menuju ruang makan mewah di lantai bawah. Di ujung ruangan, sebuah meja makan panjang dari kayu jati sudah dipenuhi oleh berbagai hidangan sarapan kelas atas. Di sana, dua orang pria dari generasi berbeda telah duduk menunggu kehadirannya.

​Wirya Arkatama, sang kepala keluarga yang rambutnya sudah memutih sepenuhnya namun masih memiliki sorot mata yang tajam, duduk di kursi utama. Di sebelah kanannya, duduk Arya Arkatama, paman Ardan yang selalu berpenampilan necis dengan senyum yang sulit diartikan.

​Ardan menarik kursi di seberang pamannya, lalu mengangguk hormat. "Selamat pagi, Kakek. Paman," sapanya dengan suara bariton yang datar, mencoba mencairkan ketegangan formalitas di antara mereka.

​Paman Arya langsung tersenyum cerah begitu melihat keponakannya duduk. Seperti yang dikatakan Bimo beberapa menit lalu, tebakan sang asisten sangat benar. Kedatangannya sepagi ini bukan tanpa misi khusus. Dia meletakkan cangkir kopinya, menatap Ardan dengan binar mata yang seolah penuh dengan perhatian seorang paman yang baik.

​"Selamat pagi, Ardan. Kebetulan sekali kamu sudah turun. Paman sengaja datang sepagi ini karena ada kabar gembira yang tidak bisa ditunda-tunda," buka Paman Arya dengan nada bicara yang sengaja dibuat antusias.

​Ardan hanya menaikkan sebelah alisnya, menyuap sepotong omelet ke dalam mulutnya tanpa minat. "Kabar apa, Paman?"

​"Paman sudah menemukan wanita yang pasti akan sangat cocok denganmu, Ardan. Benar-benar sepadan untuk bersanding dengan CEO Arkatama Group," ujar Paman Arya, lalu mengeluarkan sebuah ponsel dan menunjukkan foto seorang wanita berwajah tegas namun menawan. "Dania Abraham. Anak ketiga dari keluarga Abraham, usianya dua puluh sembilan tahun. Kamu pasti tahu kan relasi bisnis kita dengan Abraham Corp? Dia adalah seorang sosialita cantik, modis, dan berpendidikan tinggi lulusan London. Bagaimana? Sangat berkelas, bukan?"

​Ardan melirik foto itu sekilas, lalu kembali fokus pada piring sarapannya. Tapi seperti biasa, Ardan tidak tertarik. Wanita secantik atau seseksi apa pun di matanya saat ini tidak lebih dari sekadar pajangan yang tidak memicu gairah apa pun dalam dirinya—berbeda jauh dengan reaksi tubuhnya terhadap gadis asing di jembatan semalam yang bahkan masih menyisakan bayangan di benaknya.

​"Aku sedang sibuk dengan proyek merger di Singapura, Paman. Tidak ada waktu untuk urusan seperti ini," tolak Ardan dingin.

​Mendengar penolakan spontan itu, Kakek Wirya yang sejak tadi diam langsung meletakkan garpunya dengan keras ke atas piring hingga menimbulkan suara dentingan yang nyaring. Suasana di meja makan seketika mendingin.

Klang..

​"Ardan," suara Kakek Wirya terdengar berat dan penuh penekanan. "Sampai kapan kamu mau menghindar? Usiamu sudah tiga puluh lima tahun. Perusahaan membutuhkan stabilitas, dan kakek membutuhkan kepastian. Temui Dania, atau kakek tidak mau minum obat lagi mulai hari ini."

​Ardan menghela napas berat, tangannya mengepal di bawah meja. Ancaman kesehatan selalu menjadi senjata pamungkas sang kakek yang paling sulit dia lawan.

​Melihat celah tersebut, Paman Arya kembali menyambar obrolan dengan nada memanasi. "Iya, Ardan. Dengarkan Kakekmu. Dania ini bibit, bebet, bobotnya sangat sempurna untuk menjadi pasanganmu. Papi sudah menyelidiki latar belakang keluarganya dengan sangat teliti. Tentunya, nanti keturunan kalian akan sempurna dengan perpaduan gen yang kalian miliki. Kamu tampan, gagah, cerdas, dan Dania ini cantik, anggun. Bayangkan saja bagaimana pintarnya anak-anak kalian nanti sebagai pewaris tunggal Arkatama."

​Deg.

​Kata keturunan dan perpaduan gen yang diucapkan Pamannya dengan begitu enteng seolah menjadi belati yang menusuk tepat di jantung Ardan. Ardan merasa kembali diremas hatinya. Singgungan soal keturunan membuatnya ingin tenggelam ke dasar bumi saja saat itu juga.

​Rasa sesak dan amarah bercampur menjadi satu di dalam dadanya. Mereka memuji genetikanya, mengharapkan bayi-bayi jenius lahir dari darahnya, sementara fakta medis yang sesungguhnya adalah... dia mandul. Dia tidak bisa memberikan apa yang mereka sebut sebagai keturunan sempurna itu. Ardan merasa seperti seorang penipu besar yang sedang diadili di atas meja makan keluarganya sendiri.

​Mencoba menahan gejolak emosi agar tidak meledak dan mencurigakan pamannya, Ardan meminum air putihnya seteguk untuk membasahi tenggorokannya yang mendadak kering. Tapi dia hanya mengiyakan demi menyudahi siksaan mental ini.

​"Baik, Kakek. Aku akan menemuinya," ucap Ardan, suaranya terdengar datar dan pasrah. "Aku akan mencari waktu luang nanti setelah urusan kantor sedikit mereda."

​Kemudian Ardan memilih pamit pergi ke kantor, tidak sanggup lagi berlama-lama berada di atmosfer yang mencekik itu. Dia berdiri, merapikan kancing jasnya. "Aku harus berangkat sekarang. Ada rapat pagi dengan jajaran direksi."

​Paman Arya tersenyum puas, matanya berkilat penuh kemenangan yang tersembunyi. "Tenang saja, Ardan. Serahkan pada Paman. Aku pastikan Dania akan menunggu waktu luangmu itu. Aku akan mengaturkannya untukmu."

​Kakek Wirya tersenyum puas melihat cucu kesayangannya akhirnya mengalah. "Bagus. Jangan mengecewakan Kakek, Ardan."

​Ardan hanya mengangguk samar, lalu berbalik dan melangkah lebar meninggalkan ruang makan tanpa menoleh lagi. Di dalam kepalanya, rasa frustrasi itu kembali membubung tinggi, persis seperti rasa frustrasi yang membawanya ke jembatan sepi semalam.

***

​Di kota yang sama namun di tempat yang berbeda, atmosfer kehidupan berjalan dengan cara yang sangat kontras. Sebuah pusat perbelanjaan Mall Royal Plaza, di tengah ibu kota mulai beroperasi.

​Kiana di jam sepuluh pagi ini sudah berdiri di dalam butik pakaian mewah yang bernama Elegance dengan seragam kebanggaannya selama dua tahun ini. Sebuah kemeja hitam pas badan dan rok span yang menampilkan kesan profesional. Rambut panjangnya yang indah kini tersanggul rapi ke atas, memperlihatkan leher jenjangnya yang untungnya tertutup kerah kemeja yang cukup tinggi, menyembunyikan tanda kemerahan samar yang ditinggalkan Ardan semalam.

​Mata sembabnya yang membengkak karena menangis berjam-jam di kamar kos sudah tertutupi dengan riasan tipis dan concealer yang dia aplikasikan dengan bantuan Saskia tadi pagi. Dia melayani pelanggan yang mulai berdatangan dengan senyum ramah, menjawab setiap pertanyaan dengan lembut, meski hatinya sedang kacau balau memikirkan pengkhianatan Dafa dan dosa satu malamnya.

​Saat suasana butik agak lengang dan ada waktu luang ada kesempatan, Saskia mendekati Kiana yang sedang merapikan gantungan baju di sudut ruangan. Dengan gerakan lihai, Saskia mengajak Kiana mencuri obrolan di tengah pengawasan manajer mereka yang kebetulan sedang berada di ruang belakang.

​"Kia....Sini deh," bisik Saskia sambil pura-pura ikut memilah baju.

​Kiana menoleh sedikit, tangannya tetap bergerak merapikan pakaian. "Kenapa, Sas? Nanti kelihatan Manajer."

​"Bentar aja. Aku penasaran dari tadi," Saskia mendekatkan wajahnya, berbisik sangat pelan. "Dafa tidak menghubungimu, Kia? Untuk minta maaf gitu?"

​Mendengar nama pria itu, ekspresi ramah di wajah Kiana langsung lenyap, digantikan kilat kebencian yang mendalam. "Nggak, Sas. Jangankan nelepon, nomornya aja sudah gak aktif, aku sudah coba menelpon tadi." Kiana mendengus pedih. "Sepertinya si brengsek itu sedang sibuk berlari dari rentenir itu. Dia pikir dengan menumbalkanku, utangnya lunas dan dia bisa bebas."

​Saskia yang melihat raut wajah sahabatnya kembali mendung langsung merasa bersalah karena telah mengungkit hal sensitif itu. Kemudian Saskia mencoba menghibur, mengubah topik pembicaraan agar Kiana tidak kembali larut dalam kesedihan.

​Saskia mengatakan dengan antusias, matanya berbinar-binar mencoba mengalihkan perhatian Kiana. "Ah, sudahlah! Lupakan dulu soal Dafa brengsek itu, sayangku! Anggap aja dia sudah mati tertabrak truk. Oh iya, kamu sudah dengar berita terbaru belum? Minggu depan katanya ada kunjungan pemilik gedung mall ini ke butik-butik besar, termasuk butik kita!"

​Kiana mengernyitkan dahi, memindahkan satu gaun malam ke rak sebelah. "Kunjungan pemilik mall? Pak Wirya Arkatama itu ya? Bukannya beliau sudah tua dan jarang turun ke lapangan?"

​"Ya memang dia pemilik utamanya, tapi sekarang seluruh aset dan operasionalnya sudah diambil alih oleh cucu pertamanya," jawab Saskia bersemangat, mencoba mengingat-ingat informasi dari grup gosip para pegawai mall. "Namanya... namanya siapa tadi ya? Ardan... Ardan kalau aku tidak salah dengar. Pokoknya panggilannya Pak Ardan."

​Kiana menatap Saskia sambil tersenyum tipis, menganggap info itu tidak ada gunanya bagi mereka. "Terus, apa hubungannya denganku, Sis? Mau pemiliknya ganti jadi pangeran Arab sekalipun, kita tetap aja jadi pelayan butik di sini."

​Saskia menyenggol lengan Kiana gemas, gemas dengan kepolosan sahabatnya. "Ya dia kan ganteng banget katanya, Kia! Buat cuci mata gitu, kan lumayan banget buat menyegarkan pikiranmu yang lagi mumet. Siapa tahu juga dari sekian banyak pelayan butik di mall ini, dia nyantol sama kita. Iya kan?"

​Kiana tertawa kecil mendengar khayalan gila temannya itu. Rasa perih di hatinya sedikit terobati oleh tingkah konyol Saskia yang selalu berusaha membuatnya tersenyum.

​"Kamu ini, ada-ada saja. Mana mau pria sekelas pemilik mall melirik pelayan seperti kita, Sas? Jangan mimpi terlalu tinggi, nanti jatuhnya sakit," sahut Kiana menggeleng-gelengkan kepalanya geli.

​"Ih, namanya juga usaha. Mengkhayal yang baik-baik itu perlu, Kia! Siapa tahu takdir lagi baik!" bela Saskia sambil terkekeh pelan.

Episodes
1 Bab 01 // MBKCM
2 Bab 02// MBKCM
3 Bab 03 // MBKCM
4 Bab 04 // MBKCM
5 Bab 05 //MBKCM
6 Bab 06 // MBKCM
7 Bab 07 // MBKCM
8 Bab 08 // MBKCM
9 Bab 09// MBKCM
10 Bab 10// MBKCM
11 Bab 11 // MBKCM
12 Bab 12 // MBKCM
13 Bab 13 // MBKCM
14 Bab 14 // MBKCM
15 Bab 15 // MBKCM
16 Bab 16 // MBKCM
17 Bab 17 // MBKCM
18 Bab 18 // MBKCM
19 Bab 19 // MBKCM
20 Bab 20 // MBKCM
21 Bab 21 // MBKCM
22 Bab 22 // MBKCM
23 Bab 23 // MBKCM
24 Bab 24 // MBKCM
25 Bab 25 // MBKCM
26 Bab 26 // MBKCM
27 Bab 27 // MBKCM
28 Bab 28 // MBKCM
29 Bab 29 // MBKCM
30 Bab 30 // MBKCM
31 Bab 31 // MBKCM
32 Bab 32 // MBKCM
33 Bab 33 // MBKCM
34 Bab 34 // MBKCM
35 Bab 35 // MBKCM
36 Bab 36 // MBKCM
37 Bab 37 // MBKCM
38 Bab 38 // MBKCM
39 Bab 39 // MBKCM
40 Bab 40 // MBKCM
41 Bab 41 // MBKCM
42 Bab 42 // MBKCM
43 Bab 43 // MBKCM
44 Bab 44 // MBKCM
45 Bab 45 // MBKCM
46 Bab 46// MBKCM
47 Bab 47 // MBKCM
48 Bab 48 // MBKCM
49 Bab 49 // MBKCM
50 Bab 50 // MBKCM
51 Bab 51 // MBKCM
52 Bab 52 // MBKCM
53 Bab 53 // MBKCM
54 Bab 54 // MBKCM
55 Bab 55 // MBKCM
56 Bab 56 // MBKCM
57 Bab 57 // MBKCM
58 Bab 58 // MBKCM
59 Bab 59// MBKCM
60 Bab 60 // MBKCM
61 Bab 61 // MBKCM
62 Bab 62 // MBKCM
63 Bab 63 // MBKCM
64 Bab 64 // MBKCM
65 Bab 65 // MBKCM
66 Bab 66 // MBKCM
67 Bab 67 // MBKCM
68 Bab 68 // MBKCM
69 Bab 69 // MBKCM
70 Bab 70 // MBKCM
71 Bab 71 // MBKCM
72 Bab 72 // MBKCM
73 Bab 73 // MBKCM
74 Bab 74 // MBKCM
75 Bab 75 // MBKCM
76 Bab 76 // MBKCM
77 Bab 77 / MBKCM
78 Bab 78 // MBKCM
79 Bab 79 // MBKCM
80 Bab 80 // MBKCM
81 Bab 81 // MBKCM
82 Bab 82 // MBKCM
83 Bab 83 // MBKCM
84 Bab 84 // MBKCM
85 Bab 85 // MBKCM
86 Bab 86 // MBKCM
87 Bab 87 // MBKCM
88 Bab 88 // MBKCM
89 Bab 89 // MBKCM
90 Bab 90 // MBKCM
91 Bab 91 // MBKCM
92 Bab 92 // MBKCM
93 Bab 93 // MBKCM
94 Bab 94 // MBKCM
95 Bab 95 // MBKCM
96 Bab 96 // MBKCM
97 Bab 97 // MBKCM
98 Bab 98 // MBKCM
99 Bab 99 // MBKCM
100 Bab 100-END
101 Promo Novel baru
102 Karya Baru
Episodes

Updated 102 Episodes

1
Bab 01 // MBKCM
2
Bab 02// MBKCM
3
Bab 03 // MBKCM
4
Bab 04 // MBKCM
5
Bab 05 //MBKCM
6
Bab 06 // MBKCM
7
Bab 07 // MBKCM
8
Bab 08 // MBKCM
9
Bab 09// MBKCM
10
Bab 10// MBKCM
11
Bab 11 // MBKCM
12
Bab 12 // MBKCM
13
Bab 13 // MBKCM
14
Bab 14 // MBKCM
15
Bab 15 // MBKCM
16
Bab 16 // MBKCM
17
Bab 17 // MBKCM
18
Bab 18 // MBKCM
19
Bab 19 // MBKCM
20
Bab 20 // MBKCM
21
Bab 21 // MBKCM
22
Bab 22 // MBKCM
23
Bab 23 // MBKCM
24
Bab 24 // MBKCM
25
Bab 25 // MBKCM
26
Bab 26 // MBKCM
27
Bab 27 // MBKCM
28
Bab 28 // MBKCM
29
Bab 29 // MBKCM
30
Bab 30 // MBKCM
31
Bab 31 // MBKCM
32
Bab 32 // MBKCM
33
Bab 33 // MBKCM
34
Bab 34 // MBKCM
35
Bab 35 // MBKCM
36
Bab 36 // MBKCM
37
Bab 37 // MBKCM
38
Bab 38 // MBKCM
39
Bab 39 // MBKCM
40
Bab 40 // MBKCM
41
Bab 41 // MBKCM
42
Bab 42 // MBKCM
43
Bab 43 // MBKCM
44
Bab 44 // MBKCM
45
Bab 45 // MBKCM
46
Bab 46// MBKCM
47
Bab 47 // MBKCM
48
Bab 48 // MBKCM
49
Bab 49 // MBKCM
50
Bab 50 // MBKCM
51
Bab 51 // MBKCM
52
Bab 52 // MBKCM
53
Bab 53 // MBKCM
54
Bab 54 // MBKCM
55
Bab 55 // MBKCM
56
Bab 56 // MBKCM
57
Bab 57 // MBKCM
58
Bab 58 // MBKCM
59
Bab 59// MBKCM
60
Bab 60 // MBKCM
61
Bab 61 // MBKCM
62
Bab 62 // MBKCM
63
Bab 63 // MBKCM
64
Bab 64 // MBKCM
65
Bab 65 // MBKCM
66
Bab 66 // MBKCM
67
Bab 67 // MBKCM
68
Bab 68 // MBKCM
69
Bab 69 // MBKCM
70
Bab 70 // MBKCM
71
Bab 71 // MBKCM
72
Bab 72 // MBKCM
73
Bab 73 // MBKCM
74
Bab 74 // MBKCM
75
Bab 75 // MBKCM
76
Bab 76 // MBKCM
77
Bab 77 / MBKCM
78
Bab 78 // MBKCM
79
Bab 79 // MBKCM
80
Bab 80 // MBKCM
81
Bab 81 // MBKCM
82
Bab 82 // MBKCM
83
Bab 83 // MBKCM
84
Bab 84 // MBKCM
85
Bab 85 // MBKCM
86
Bab 86 // MBKCM
87
Bab 87 // MBKCM
88
Bab 88 // MBKCM
89
Bab 89 // MBKCM
90
Bab 90 // MBKCM
91
Bab 91 // MBKCM
92
Bab 92 // MBKCM
93
Bab 93 // MBKCM
94
Bab 94 // MBKCM
95
Bab 95 // MBKCM
96
Bab 96 // MBKCM
97
Bab 97 // MBKCM
98
Bab 98 // MBKCM
99
Bab 99 // MBKCM
100
Bab 100-END
101
Promo Novel baru
102
Karya Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!