Bab 05 //MBKCM

​Sore itu, riuh rendah suara klakson kendaraan dan kepulan asap knalpot menyambut Kiana saat melangkah keluar dari lobi mall. Kiana selesai sif di jam empat sore. Dia sudah berganti pakaian santai, sebuah kaus longgar dan legging yang nyaman berjalan menuju halte bus bersama Saskia. Sepanjang jalan, Saskia tidak membiarkan suasana menjadi sunyi. Gadis berambut sebahu itu terus mencoba menghiburnya dengan merekomendasikan makanan kaki lima yang enak yang belum mereka coba berdua di dekat kosan mereka.

​"Kia, pokoknya kamu harus coba seblak ceker di dekat pertigaan gang kos kita. Itu pedasnya nampol banget, dijamin bisa bikin semua stres dan emosi kamu meluap keluar lewat keringat!" seru Saskia sambil merangkul lengan Kiana, mencoba memancing senyum di wajah sahabatnya.

​Kiana tersenyum tipis, menghargai usaha keras Saskia. "Iya, Sas. Nanti kita beli dibungkus saja, ya. Badanku masih agak lemas kalau makan di tempat."

​"Siap, Tuan Putri! Apa pun buat kamu hari ini," sahut Saskia riang.

​Namun, kedamaian mereka terhenti seketika begitu mereka sampai di area halte. Bukan bus yang datang menjemput mereka, tapi sesosok pria yang sangat familier muncul dari balik tiang beton halte.

​Pria itu adalah Dafa. Dengan penampilan yang berantakan, baju kemeja yang sedikit bernoda dan lingkaran hitam di bawah mata, sepertinya dia memang sedang berusaha lari dari pak Adnan si rentenir itu selama belasan jam terakhir. Begitu melihat Kiana, mata Dafa langsung berbinar lega. Dia langsung melangkah cepat, mencoba merayu Kiana dengan raut wajahnya yang seolah tidak ada rasa bersalah sama sekali atas kebiadaban yang dia lakukan semalam.

​"Kiana! Sayang, akhirnya aku nemuin kamu di sini," panggil Dafa dengan suara yang dibuat selembut mungkin. Dia mengulurkan tangan, hendak menyentuh jemari Kiana. "Baby, aku senang kamu baik-baik saja. Aku khawatir banget sama kamu seharian ini."

​Melihat wajah pria yang telah menghancurkan hidupnya dalam semalam, sekujur tubuh Kiana mendadak gemetar hebat. Rasa takut, jijik, dan amarah yang luar biasa bergejolak di dalam dadanya. Namun, Kiana tahu halte bus ini sedang ramai oleh pekerja kantoran yang hendak pulang. Dia tidak ingin menjadi tontonan.

​Dengan sentakan kasar, Kiana menepis tangan Dafa. "Jangan sentuh aku! Ikut aku sekarang."

​Kiana membawa Dafa menuju ke tempat yang lebih sepi, di area taman kecil yang agak tersembunyi di samping halte, agar pertengkaran mereka tidak menjadi pusat perhatian umum. Saskia mengikuti dari belakang dengan langkah lebar, melipat kedua tangannya di dada sambil memasang wajah super galak untuk berjaga-jaga jika Dafa macam-macam.

​Begitu sampai di area yang cukup sepi, Kiana langsung menghempaskan tangan Dafa dengan penuh rasa muak. Air mata kemarahan mulai menggenang di pelupuk matanya.

​"Kamu gila, Daf! Kamu tega menyerahkan aku pada pria tua bangka itu!" bentak Kiana, suaranya bergetar menahan ledakan emosi yang mahadahsyat.

​Dafa langsung memasang wajah memelas, seolah-olah dia adalah korban paling menderita di dunia. "Maafkan aku, baby. Aku bersumpah, aku tidak berniat seperti itu. Aku benar-benar terdesak semalam!"

​"Tidak berniat apanya?!" potong Kiana berang, air matanya akhirnya luruh. "Kamu jelas menaruh obat dalam minumanku semalam! Kamu menjebakku, Daf! Kamu membuatku lemas sampai tidak bisa berjalan demi membiarkan rentenir tua itu menyentuhku!"

​"Maaf, aku tidak punya pilihan lain, baby," ratap Dafa, mencoba maju selangkah untuk meraih pundak Kiana, namun langsung dihadang oleh tatapan tajam Saskia. "Anak buah Pak Adnan sudah mengancam mau memotong jariku kalau utang seratus juta itu tidak lunas semalam. Aku terpaksa melakukan itu. Tapi aku menyesal, Kiana. Begitu aku sadar, aku langsung merasa bersalah. Aku tidak akan mengulanginya lagi, aku bersumpah! Aku mencintaimu, Kiana."

​"Hah? Cinta katamu?!" Kiana tertawa getir di sela tangisnya, merasa kata cinta yang keluar dari mulut Dafa adalah lelucon paling menjijikkan yang pernah dia dengar. "Cinta itu melindungi, Daf! Cinta itu tidak menjualku ke pria hidung belang sebagai jaminan hutangmu! Kamu menukar harga diriku demi judi yang selalu kamu tutupi dengan kata bisnis sialanmu itu!"

​Dafa menggeleng panik. "Enggak, Sayang. Aku janji bakal tebus kesalahan ini. Aku bakal cari uang buat gantiin semuanya. Jangan kayak gini, please..."

​Kiana menghapus air matanya dengan kasar, memantapkan hatinya yang sudah telanjur patah menjadi serpihan tak berbentuk. "Cukup, Daf. Mulai hari ini kita putus! Hubungan kita selesai sampai di sini. Dan aku mau kamu kembalikan semua uang yang sudah kamu pinjam dariku selama tiga tahun ini!"

​Dafa terkejut mendengarnya. Kehilangan Kiana berarti dia kehilangan sumber bantuan finansialnya selama ini. Dia masih mencoba merayu, meraih ujung baju Kiana dengan memelas. "Aku akan kembalikan, Kiana. Aku janji bakal cicil semua uang kamu. Tapi tolong, jangan putus. Aku gak bisa hidup tanpa kamu..."

​Saskia yang sejak tadi menahan diri, akhirnya habis kesabaran melihat akting murahan Dafa. "Heh, lelaki kardus! Banyak bacot banget ya kamu!"

​Saskia yang tidak sabaran langsung maju dan menginjak kakinya Dafa dengan sepatu kets nya yang berhak tinggi dengan sekuat tenaga.

​"AGHHH!" Dafa menjerit kesakitan, langsung bertelut di tanah sambil memegangi kakinya yang berdenyut nyeri akibat injakan maut Saskia.

​"Rasain itu, pria biadab!" maki Saskia puas. Lalu tanpa membuang waktu lagi, dia menarik Kiana pergi dari taman tersebut, kebetulan bus di depan halte sudah datang dan membuka pintunya. "Yuk, Kia, masuk! Biarin si sampah ini membusuk di sini!"

​Kiana melangkah cepat mengikuti Saskia naik ke dalam bus, meninggalkan Dafa yang masih mengerang kesakitan di atas tanah. Di dalam bus yang mulai berjalan, Kiana bersandar di bahu Saskia, menatap kosong ke luar jendela dengan sisa rasa sesak yang masih memenuhi dadanya.

***

​Sementara itu, beberapa kilometer dari sana, di lantai teratas gedung pencakar langit Arkatama Group, atmosfer yang dingin dan kaku menyelimuti ruangan kerja sang CEO.

​Di kantornya, Ardan sedang berkutat dengan pekerjaan kantornya yang menumpuk. Tumpukan dokumen laporan keuangan dan berkas proyek kuartal pertama menjadi pelariannya yang paling efektif untuk melupakan kekacauan batin yang dia alami sejak subuh tadi.

​Tok, tok, tok.

​Pintu ruangan terbuka setelah ketukan pelan. Bimo masuk ke dalam ruangannya membawa berkas baru yang harus diperiksa Ardan. Langkah kakinya terdengar ringan saat mendekati meja kerja besar berbahan kayu mahoni tersebut.

​"Pak Ardan, ini berkas revisi untuk akuisisi lahan di Jakarta Barat. Perlu tanda tangan Anda sekarang untuk diajukan ke rapat komisaris besok," kata Bimo sambil meletakkan dokumen itu dengan rapi.

​Ardan tidak menyahut, dia langsung meraih pena fountain miliknya dan mulai meneliti lembar demi lembar berkas tersebut dengan jeli.

​Melihat bosnya yang tampak begitu tegang dan kaku sejak makan bersama paman Arya di rumah utama tadi pagi, Bimo berdehem kecil. Tapi seperti biasa, Bimo selalu mencoba mencairkan suasana dengan sifatnya yang agak cerewet dan sok tahu. Dia menyandarkan tangannya di tepi meja, menatap Ardan dengan senyum usil.

​"Oh iya, Pak Ardan. Ngomong-ngomong soal sarapan heboh tadi pagi... saya diam-diam sudah melihat foto Dania Abraham di berkas keluarga yang dikirim Pak Arya," buka Bimo memancing obrolan. "Wah, dia cantik banget, Pak. Persis seperti yang Pak Arya katakan. Elegan, modis, dan sepertinya tipe wanita berkelas yang biasanya mendampingi pria-pria sukses."

​Ardan tetap diam, menggoreskan tanda tangannya di lembar pertama tanpa mengalihkan pandangan.

​Bimo tidak menyerah, dia melanjutkan dengan nada membujuk. "Dan bukannya jadwal Anda juga banyak yang luang minggu ini, Pak? Kebetulan beberapa rapat eksternal diundur ke bulan depan. Anda yakin tidak ingin menemuinya, Pak? Sekadar minum kopi atau makan malam formal. Siapa tahu ada kecocokan."

​Mendengar desakan halus itu, gerakan pena Ardan mendadak terhenti. Dia menegakkan tubuhnya, menyandarkan punggungnya pada kursi kerja kulitnya yang empuk, lalu menatap Bimo dengan tatapan mata elangnya yang dingin dan menusuk.

​"Untuk apa, Bimo?" tanya Ardan, suaranya rendah namun sarat akan intimidasi. "Kau tahu sendiri ujungnya nanti bagaimana kalau aku menemui wanita mana pun yang mereka sodorkan."

​Bimo menelan ludahnya kelat, senyum di wajahnya langsung memudar melihat keseriusan sang bos.

​"Menikah pun percuma. Aku ini... kamu tahu sendiri bagaimana kondisinya," lanjut Ardan dengan nada getir yang disembunyikan di balik ketegasannya. Kata mandul sengaja tidak dia ucapkan dengan lantang, namun gema dari fakta medis itu terasa begitu nyata di antara mereka berdua. "Mereka menuntut pewaris, bukan sekadar istri pajangan. Dan aku tidak bisa memberikan itu."

​Bimo menundukkan kepalanya, merasa bersalah karena telah salah melangkah dan menyentuh luka batin terbesar atasannya. "Maaf, Pak Ardan. Saya tidak bermaksud..."

​"Jangan bahas itu lagi. Bahas pekerjaan saja," potong Ardan mutlak, melempar kembali berkas yang sudah ditandatanganinya ke arah Bimo.

​"Baik, Pak. Saya minta maaf atas kelancangan saya," ujar Bimo dengan nada menyesal yang tulus. Dia segera merapikan berkas-berkas tersebut ke dalam pelukannya. Untuk mengalihkan suasana yang canggung, Bimo buru-buru mengecek jadwal harian di tabletnya.

​"Ini untuk agenda resmi Anda selanjutnya, Pak. Jadwal Anda akhir minggu ini adalah kunjungan di mall Royal Plaza. Pihak manajemen mall sudah mempersiapkan segalanya untuk menyambut kedatangan Anda sebagai pemilik baru," lapor Bimo profesional.

​Ardan mengangguk samar, memijat pelipisnya yang mendadak pening. "Sampaikan pada mereka, aku tidak suka penyambutan yang berlebihan. Lakukan inspeksi seperti biasa saja."

​"Baik, dimengerti, Pak. Saya akan koordinasikan dengan pihak operasional mall," jawab Bimo sebelum akhirnya berbalik dan berjalan keluar dari ruangan kerja Ardan.

​Ardan kembali menatap jendela besar di belakang mejanya, menatap pemandangan kota Jakarta yang mulai dihiasi lampu-lampu malam. Di dalam hatinya, sebuah perasaan asing yang mengganggu kembali muncul. Sebuah bayangan tentang tatapan mata ketakutan milik Kiana saat melangkah tertatih meninggalkan jembatan waktu subuh tadi. Ardan memejamkan matanya rapat-rapat, mencoba mengusir wajah gadis itu dari pikirannya yang sudah telanjur rumit.

Episodes
1 Bab 01 // MBKCM
2 Bab 02// MBKCM
3 Bab 03 // MBKCM
4 Bab 04 // MBKCM
5 Bab 05 //MBKCM
6 Bab 06 // MBKCM
7 Bab 07 // MBKCM
8 Bab 08 // MBKCM
9 Bab 09// MBKCM
10 Bab 10// MBKCM
11 Bab 11 // MBKCM
12 Bab 12 // MBKCM
13 Bab 13 // MBKCM
14 Bab 14 // MBKCM
15 Bab 15 // MBKCM
16 Bab 16 // MBKCM
17 Bab 17 // MBKCM
18 Bab 18 // MBKCM
19 Bab 19 // MBKCM
20 Bab 20 // MBKCM
21 Bab 21 // MBKCM
22 Bab 22 // MBKCM
23 Bab 23 // MBKCM
24 Bab 24 // MBKCM
25 Bab 25 // MBKCM
26 Bab 26 // MBKCM
27 Bab 27 // MBKCM
28 Bab 28 // MBKCM
29 Bab 29 // MBKCM
30 Bab 30 // MBKCM
31 Bab 31 // MBKCM
32 Bab 32 // MBKCM
33 Bab 33 // MBKCM
34 Bab 34 // MBKCM
35 Bab 35 // MBKCM
36 Bab 36 // MBKCM
37 Bab 37 // MBKCM
38 Bab 38 // MBKCM
39 Bab 39 // MBKCM
40 Bab 40 // MBKCM
41 Bab 41 // MBKCM
42 Bab 42 // MBKCM
43 Bab 43 // MBKCM
44 Bab 44 // MBKCM
45 Bab 45 // MBKCM
46 Bab 46// MBKCM
47 Bab 47 // MBKCM
48 Bab 48 // MBKCM
49 Bab 49 // MBKCM
50 Bab 50 // MBKCM
51 Bab 51 // MBKCM
52 Bab 52 // MBKCM
53 Bab 53 // MBKCM
54 Bab 54 // MBKCM
55 Bab 55 // MBKCM
56 Bab 56 // MBKCM
57 Bab 57 // MBKCM
58 Bab 58 // MBKCM
59 Bab 59// MBKCM
60 Bab 60 // MBKCM
61 Bab 61 // MBKCM
62 Bab 62 // MBKCM
63 Bab 63 // MBKCM
64 Bab 64 // MBKCM
65 Bab 65 // MBKCM
66 Bab 66 // MBKCM
67 Bab 67 // MBKCM
68 Bab 68 // MBKCM
69 Bab 69 // MBKCM
70 Bab 70 // MBKCM
71 Bab 71 // MBKCM
72 Bab 72 // MBKCM
73 Bab 73 // MBKCM
74 Bab 74 // MBKCM
75 Bab 75 // MBKCM
76 Bab 76 // MBKCM
77 Bab 77 / MBKCM
78 Bab 78 // MBKCM
79 Bab 79 // MBKCM
80 Bab 80 // MBKCM
81 Bab 81 // MBKCM
82 Bab 82 // MBKCM
83 Bab 83 // MBKCM
84 Bab 84 // MBKCM
85 Bab 85 // MBKCM
86 Bab 86 // MBKCM
87 Bab 87 // MBKCM
88 Bab 88 // MBKCM
89 Bab 89 // MBKCM
90 Bab 90 // MBKCM
91 Bab 91 // MBKCM
92 Bab 92 // MBKCM
93 Bab 93 // MBKCM
94 Bab 94 // MBKCM
95 Bab 95 // MBKCM
96 Bab 96 // MBKCM
97 Bab 97 // MBKCM
98 Bab 98 // MBKCM
99 Bab 99 // MBKCM
100 Bab 100-END
101 Promo Novel baru
102 Karya Baru
Episodes

Updated 102 Episodes

1
Bab 01 // MBKCM
2
Bab 02// MBKCM
3
Bab 03 // MBKCM
4
Bab 04 // MBKCM
5
Bab 05 //MBKCM
6
Bab 06 // MBKCM
7
Bab 07 // MBKCM
8
Bab 08 // MBKCM
9
Bab 09// MBKCM
10
Bab 10// MBKCM
11
Bab 11 // MBKCM
12
Bab 12 // MBKCM
13
Bab 13 // MBKCM
14
Bab 14 // MBKCM
15
Bab 15 // MBKCM
16
Bab 16 // MBKCM
17
Bab 17 // MBKCM
18
Bab 18 // MBKCM
19
Bab 19 // MBKCM
20
Bab 20 // MBKCM
21
Bab 21 // MBKCM
22
Bab 22 // MBKCM
23
Bab 23 // MBKCM
24
Bab 24 // MBKCM
25
Bab 25 // MBKCM
26
Bab 26 // MBKCM
27
Bab 27 // MBKCM
28
Bab 28 // MBKCM
29
Bab 29 // MBKCM
30
Bab 30 // MBKCM
31
Bab 31 // MBKCM
32
Bab 32 // MBKCM
33
Bab 33 // MBKCM
34
Bab 34 // MBKCM
35
Bab 35 // MBKCM
36
Bab 36 // MBKCM
37
Bab 37 // MBKCM
38
Bab 38 // MBKCM
39
Bab 39 // MBKCM
40
Bab 40 // MBKCM
41
Bab 41 // MBKCM
42
Bab 42 // MBKCM
43
Bab 43 // MBKCM
44
Bab 44 // MBKCM
45
Bab 45 // MBKCM
46
Bab 46// MBKCM
47
Bab 47 // MBKCM
48
Bab 48 // MBKCM
49
Bab 49 // MBKCM
50
Bab 50 // MBKCM
51
Bab 51 // MBKCM
52
Bab 52 // MBKCM
53
Bab 53 // MBKCM
54
Bab 54 // MBKCM
55
Bab 55 // MBKCM
56
Bab 56 // MBKCM
57
Bab 57 // MBKCM
58
Bab 58 // MBKCM
59
Bab 59// MBKCM
60
Bab 60 // MBKCM
61
Bab 61 // MBKCM
62
Bab 62 // MBKCM
63
Bab 63 // MBKCM
64
Bab 64 // MBKCM
65
Bab 65 // MBKCM
66
Bab 66 // MBKCM
67
Bab 67 // MBKCM
68
Bab 68 // MBKCM
69
Bab 69 // MBKCM
70
Bab 70 // MBKCM
71
Bab 71 // MBKCM
72
Bab 72 // MBKCM
73
Bab 73 // MBKCM
74
Bab 74 // MBKCM
75
Bab 75 // MBKCM
76
Bab 76 // MBKCM
77
Bab 77 / MBKCM
78
Bab 78 // MBKCM
79
Bab 79 // MBKCM
80
Bab 80 // MBKCM
81
Bab 81 // MBKCM
82
Bab 82 // MBKCM
83
Bab 83 // MBKCM
84
Bab 84 // MBKCM
85
Bab 85 // MBKCM
86
Bab 86 // MBKCM
87
Bab 87 // MBKCM
88
Bab 88 // MBKCM
89
Bab 89 // MBKCM
90
Bab 90 // MBKCM
91
Bab 91 // MBKCM
92
Bab 92 // MBKCM
93
Bab 93 // MBKCM
94
Bab 94 // MBKCM
95
Bab 95 // MBKCM
96
Bab 96 // MBKCM
97
Bab 97 // MBKCM
98
Bab 98 // MBKCM
99
Bab 99 // MBKCM
100
Bab 100-END
101
Promo Novel baru
102
Karya Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!