Bab 4

Kanisha menahan tangisnya kuat-kuat.

“Kita akan pergi ke rumah kakek sama nenek, sayang.”

“Apa papa akan ikut dengan kita?”

Langkah Kanisha langsung terhenti sesaat.

Pertanyaan polos itu lagi-lagi menghancurkan hatinya. Ia tidak tahu bagaimana menjelaskan semuanya pada anak sekecil Naira. Jadi Kanisha hanya mencium kepala putrinya pelan.

“Nanti aja ya sayang…”

Dan tanpa menunggu lebih lama lagi, Kanisha mulai berjalan keluar dari ruang kerja itu. Namun begitu wanita itu menghilang dari balik pintu— Selena langsung panik.

“Mas!” Arven menatap Selena dengan cepat. “Kita nggak bisa biarin dia bawa Naira pergi!”

“Aku tahu!”

“Kalau sampai Kanisha pergi dan—” Selena menghentikan ucapannya mendadak, Wajahnya terlihat pucat, Jantungnya berdegup cepat. Karena ada satu hal yang paling ia takutkan malam ini. Rahasia mereka terbongkar.

Arven langsung mengusap wajahnya dengan kasar karena situasi mulai di luar kendali nya. Ia tidak pernah menyangka Kanisha akan langsung memilih pergi. Selama ini pria itu terlalu yakin bahwa Kanisha akan bertahan apa pun yang terjadi. Karena Kanisha terlalu mencintainya. Tapi malam ini semuanya berubah.

“Mas…” suara Selena mulai gemetar. “Naira nggak boleh pergi.”

Arven langsung menatap Selena dengan tajam.

“Aku tahu Selena, aku tahu.”

Wanita itu tidak melanjutkan kalimatnya. Tapi mereka sama-sama tahu maksudnya. Semakin jauh Naira dari mereka, Semakin sulit semuanya dikendalikan. Dan jika suatu hari Kanisha menemukan kebenarannya maka semuanya akan selesai. Arven mengepalkan tangannya kuat-kuat. Sial, Situasi ini jauh lebih rumit dari yang ia bayangkan. Arven langsung menatap ke arah pintu dan tanpa berkata apa-apa lagi, pria itu segera melangkah cepat keluar dari ruang kerja dan membuat Selena langsung mengikuti di belakangnya dengan panik.

Langkah mereka terdengar tergesa-gesa menyusuri lorong rumah Mahendra yang besar dan sunyi. Sementara di lantai atas, Kanisha baru saja masuk ke kamar Naira sambil menurunkan putrinya perlahan ke atas tempat tidur. Tangannya tampak gemetar saat mulai membuka lemari pakaian kecil milik anak itu. Ia harus pergi malam ini sebelum dirinya benar-benar hancur lebih dalam lagi.

Dan di saat yang sama, Langkah kaki tergesa-gesa Arven dan Selena mulai mendekati kamar Naira.

Kamar Naira yang biasanya terasa hangat malam itu berubah begitu menyesakkan. Kanisha berdiri di depan lemari kecil berwarna putih sambil memasukkan pakaian-pakaian putrinya ke dalam koper mungil bermotif kelinci. Tangannya gemetar hebat sampai beberapa kali baju yang ia pegang jatuh ke lantai. Dadanya masih terasa sakit. Setiap kali mengingat apa yang terjadi di ruang kerja tadi, air matanya seperti ingin jatuh lagi. Tapi Kanisha terus memaksakan dirinya untuk tetap kuat. Ia tidak bisa hancur sekarang, tidak di depan Naira.

“Naira mau bawa boneka ini juga, ma…”

Suara kecil itu membuat Kanisha buru-buru menoleh.

Naira berdiri di atas tempat tidur sambil memeluk boneka kelinci kesayangannya dengan wajah polos. Gadis kecil itu masih terlihat bingung dengan semua yang terjadi malam ini dan membuat Kanisha langsung tersenyum tipis walaupun matanya masih merah.

“Iya sayang…” jawab Kanisha pelan. “Bonekanya dibawa juga ya.”

Naira mengangguk kecil lalu berjalan pelan menghampiri koper. Kanisha menatap putrinya lama. Hatinya kembali terasa nyeri, anak kecil ini tidak tahu apa-apa. Tidak tahu kalau malam ini keluarganya sedang hancur.

Tidak tahu kalau papanya baru saja mengkhianati mamanya dan yang paling menyakitkan, Naira bahkan tidak tahu kalau dirinya adalah alasan terbesar Kanisha bertahan selama ini. Kanisha mengusap kepala putrinya dengan lembut sebelum kembali memasukkan beberapa pakaian ke dalam koper.

Ia harus pergi malam ini sebelum dirinya berubah semakin lemah. Sebelum Arven kembali mematahkan hatinya lebih dalam lagi. Baru saja Kanisha hendak menutup koper itu—

BRAK!

Suara keras mendadak membuat Kanisha tersentak. Seseorang tiba-tiba menekan koper itu hingga tertutup paksa dan membuat Kanisha langsung mengangkat wajahnya. Arven berdiri di depannya dengan napas sedikit memburu. Tatapan pria itu terlihat tajam, rahangnya mengeras, sedangkan Selena berdiri tak jauh di belakangnya dengan wajah penuh kecemasan. Suasana kamar langsung berubah tegang.

“Apa yang kamu lakuin mas?” tanya Kanisha pelan namun dingin.

Arven tidak langsung menjawab. Tangannya masih berada di atas koper kecil milik Naira.

“Naira nggak boleh pergi.”

"Mas tidak berhak mencegat kepergian ku dan Naira setelah apa yang mas lakukan."

“Aku serius, Kanisha.”

“Aku juga serius, mas.”

Kanisha lalu berdiri walaupun matanya sembab karena menangis, namun tatapannya tidak lagi selemah tadi.

“Aku nggak akan ninggalin Naira di rumah ini.”

Arven langsung mengatupkan rahangnya kuat-kuat.

“Kamu nggak bisa seenaknya bawa dia pergi.”

“Kenapa nggak bisa?” balas Kanisha cepat. “Dia anak aku.”

“Aku ayahnya.”

“Dan aku ibunya!” suara Kanisha mulai meninggi. “Aku yang ngerawat dia selama ini!”

Napas Arven terdengar berat sedangkan Selena tampak semakin gelisah melihat pertengkaran mereka.

“Kanisha…” ujar Arven mencoba menahan emosinya. “Sekarang bukan waktu yang tepat buat pergi.”

Kanisha langsung menatap pria itu dengan tak percaya.

“Lalu kapan waktu yang tepat menurut kamu mas?” tawanya terdengar pahit. “Besok pagi setelah kamu tidur sama selingkuhan kamu lagi?”

“Jaga ucapan kamu.”

“Kenapa?” bentak Kanisha dengan matanya mulai berkaca-kaca. “Kamu malu?”

Arven mengepalkan tangannya.

“Naira masih di sini.”

Mendengar namanya disebut, Naira langsung menatap kedua orang tuanya bergantian dengan wajah takut.

“Mama…” panggil Naira yang membuat Kanisha buru-buru mengusap air matanya lalu menoleh pada putrinya.

“Nggak apa-apa sayang…”

Namun suasana kamar itu sudah terlalu menegangkan bahkan untuk anak kecil seusia Naira. Gadis kecil itu mulai terlihat ketakutan apalagi saat Arven kembali berkata tegas,

“Naira akan tetap tinggal di rumah ini.”

“Aku bilang nggak!”

Bentakan Kanisha membuat Naira langsung tersentak kecil. Tangis gadis kecil itu akhirnya pecah.

“Hiks… mama…”

Kanisha langsung panik.

“Sayang…” Ia buru-buru menghampiri putrinya. “Jangan nangis ya, sayang.”

Namun sebelum Kanisha sempat memeluk Naira— Selena lebih dulu bergerak cepat. Wanita itu langsung mengangkat tubuh kecil Naira ke dalam pelukannya dengan wajah panik.

“Nggak apa-apa sayang… jangan takut ya…”

Kanisha langsung membeku untuk sesaat.

Entah kenapa, cara Selena memeluk Naira terasa terlalu alami seperti seorang ibu. Belum sempat Kanisha berpikir lebih jauh, Arven langsung berkata cepat,

“Selena, cepat bawa Naira keluar dulu.”

Deg, Kanisha langsung menoleh cepat.

“Apa?”

“Naira ketakutan.”

“Aku bisa nenangin anak aku sendiri.”

Namun Arven mengabaikannya.

“Cepat bawa Naira pergi dulu, Selena.”

Selena mengangguk cepat sambil menggendong Naira erat.

“Naira ikut tante dulu ya sayang…”

Melihat Selena mulai berjalan menuju pintu membawa putrinya, Kanisha langsung panik.

“Selena!” teriak Kanisha namun wanita itu tidak berhenti. “Naira!”

Kanisha buru-buru mengejar. Namun baru beberapa langkah—

Bruk!

Terpopuler

Comments

Suhadi Mulyo

Suhadi Mulyo

secinta cintanya perempuan sama laki laki, tapi kl lakinya udah ngelakuin kesalahan yang nyakitin perasaan perempuan nya sendiri, maka cinta itu juga akan hilang dengan sendirinya.

2026-05-28

1

Suhadi Mulyo

Suhadi Mulyo

Naira itu memang putrinya Selena, Kanisha. selama ini kamu ngerawat putri hasil perselingkuhan suami kamu sendiri /Scowl/

2026-05-28

0

Putri_a_s

Putri_a_s

jangan harap Kanisha akan cinta sama kamu setelah apa yang kamu lakukan kepadanya, Arven.

2026-05-28

0

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 Bab 1
3 Bab 2
4 Bab 3
5 Bab 4
6 Bab 5
7 Bab 6
8 Bab 7
9 Bab 8
10 Bab 9
11 Bab 10
12 Bab 11
13 Bab 12
14 Bab 13
15 Bab 14
16 Bab 15
17 Bab 16
18 Bab 17
19 Bab 18
20 Bab 19
21 Bab 20
22 Bab 21
23 Bab 22
24 Bab 23
25 Bab 24
26 Bab 25
27 Bab 26
28 Bab 27
29 Bab 28
30 Bab 29
31 Bab 30
32 Bab 31
33 Bab 32
34 Bab 33
35 Bab 34
36 Bab 35
37 Bab 36
38 Bab 37
39 Bab 38
40 Bab 39
41 Bab 40
42 Bab 41
43 Bab 42
44 Bab 43
45 Bab 44
46 Bab 45
47 Bab 46
48 Bab 47
49 Bab 48
50 Bab 49
51 Bab 50
52 Bab 51
53 Bab 52
54 Bab 53
55 Bab 54
56 Bab 55
57 Bab 56
58 Bab 57
59 Bab 58
60 Bab 59
61 Bab 60
62 Bab 61
63 Bab 62
64 Bab 63
65 Bab 64
66 Bab 65
67 Bab 66
68 Bab 67
69 Bab 68
70 Bab 69
71 Bab 70
72 Bab 71
73 Bab 72
74 Bab 73
75 Bab 74
76 Bab 75
77 Bab 76
78 Bab 77
79 Bab 78
80 Bab 79
81 Bab 80
82 Bab 81
83 Bab 82
84 Bab 83
85 Bab 84
86 Bab 85
87 Bab 86
88 Bab 87
89 Bab 88
90 Bab 89
91 Bab 90
92 Bab 91
93 Bab 92
94 Bab 93
95 Bab 94
96 Bab 95
97 Bab 96
98 Bab 97
99 Bab 98
100 Bab 99
101 Bab 100
102 Bab 101
103 Bab 102
104 Bab 103
105 Bab 104
106 Bab 105
107 Bab 106
108 Bab 107
109 Bab 108
110 Bab 109
111 Bab 110
112 Bab 111
113 Bab 112
114 Bab 113
115 Bab 114
116 Bab 115
117 Bab 116
118 Bab 117
119 Bab 118
120 Bab 119
121 Bab 120
122 Bab 121
123 Bab 122
124 Bab 123
125 Bab 124
126 Bab 125
127 Bab 126
128 Bab 127
129 Bab 128
130 Bab 129
131 Bab 130
132 Bab 131
133 Bab 132
134 Bab 133
135 Bab 134
136 Bab 135
137 Bab 136
138 Bab 137
139 Bab 138
140 Bab 139
141 Bab 140
142 Bab 141
143 Bab 142
144 Bab 143
145 Bab 144
146 Bab 145
147 Bab 146
148 Bab 147
149 Bab 148
150 Bab 149
151 Bab 150
152 Bab 151
153 Bab 152
154 Bab 153
155 Bab 154
156 Bab 155
157 Bab 156
158 Bab 157
159 Bab 158
160 Bab 159
161 Bab 160
162 Bab 161
163 Bab 162
164 Bab 163
165 Bab 164
166 Bab 165
167 Bab 166
168 Bab 167
169 Bab 168
170 Bab 169
171 Bab 170
172 Bab 171
Episodes

Updated 172 Episodes

1
Prolog
2
Bab 1
3
Bab 2
4
Bab 3
5
Bab 4
6
Bab 5
7
Bab 6
8
Bab 7
9
Bab 8
10
Bab 9
11
Bab 10
12
Bab 11
13
Bab 12
14
Bab 13
15
Bab 14
16
Bab 15
17
Bab 16
18
Bab 17
19
Bab 18
20
Bab 19
21
Bab 20
22
Bab 21
23
Bab 22
24
Bab 23
25
Bab 24
26
Bab 25
27
Bab 26
28
Bab 27
29
Bab 28
30
Bab 29
31
Bab 30
32
Bab 31
33
Bab 32
34
Bab 33
35
Bab 34
36
Bab 35
37
Bab 36
38
Bab 37
39
Bab 38
40
Bab 39
41
Bab 40
42
Bab 41
43
Bab 42
44
Bab 43
45
Bab 44
46
Bab 45
47
Bab 46
48
Bab 47
49
Bab 48
50
Bab 49
51
Bab 50
52
Bab 51
53
Bab 52
54
Bab 53
55
Bab 54
56
Bab 55
57
Bab 56
58
Bab 57
59
Bab 58
60
Bab 59
61
Bab 60
62
Bab 61
63
Bab 62
64
Bab 63
65
Bab 64
66
Bab 65
67
Bab 66
68
Bab 67
69
Bab 68
70
Bab 69
71
Bab 70
72
Bab 71
73
Bab 72
74
Bab 73
75
Bab 74
76
Bab 75
77
Bab 76
78
Bab 77
79
Bab 78
80
Bab 79
81
Bab 80
82
Bab 81
83
Bab 82
84
Bab 83
85
Bab 84
86
Bab 85
87
Bab 86
88
Bab 87
89
Bab 88
90
Bab 89
91
Bab 90
92
Bab 91
93
Bab 92
94
Bab 93
95
Bab 94
96
Bab 95
97
Bab 96
98
Bab 97
99
Bab 98
100
Bab 99
101
Bab 100
102
Bab 101
103
Bab 102
104
Bab 103
105
Bab 104
106
Bab 105
107
Bab 106
108
Bab 107
109
Bab 108
110
Bab 109
111
Bab 110
112
Bab 111
113
Bab 112
114
Bab 113
115
Bab 114
116
Bab 115
117
Bab 116
118
Bab 117
119
Bab 118
120
Bab 119
121
Bab 120
122
Bab 121
123
Bab 122
124
Bab 123
125
Bab 124
126
Bab 125
127
Bab 126
128
Bab 127
129
Bab 128
130
Bab 129
131
Bab 130
132
Bab 131
133
Bab 132
134
Bab 133
135
Bab 134
136
Bab 135
137
Bab 136
138
Bab 137
139
Bab 138
140
Bab 139
141
Bab 140
142
Bab 141
143
Bab 142
144
Bab 143
145
Bab 144
146
Bab 145
147
Bab 146
148
Bab 147
149
Bab 148
150
Bab 149
151
Bab 150
152
Bab 151
153
Bab 152
154
Bab 153
155
Bab 154
156
Bab 155
157
Bab 156
158
Bab 157
159
Bab 158
160
Bab 159
161
Bab 160
162
Bab 161
163
Bab 162
164
Bab 163
165
Bab 164
166
Bab 165
167
Bab 166
168
Bab 167
169
Bab 168
170
Bab 169
171
Bab 170
172
Bab 171

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!