Terlahir Kembali Di Dunia Kultivasi (Jadi Ibu Muda)
"Wah, wah... Gak berasa udah dua bulan aja nih nganggur," gumam seorang gadis yang lagi santai-sandaran di sofa ruang tengah rumahnya.
Kedua matanya fokus banget menatap layar televisi besar yang lagi menayangkan kelanjutan episode drama Korea kesukaannya. Tangan kanannya asyik meraba-raba ke dalam bungkus keripik kentang, lalu memasukkannya ke dalam mulut dengan santai.
"Coba aja gue miskin, dua bulan nganggur begini pasti udah jadi gembel beneran. Biarpun gue yatim piatu, untung aja orang tua gue ninggalin harta yang banyak banget," lanjutnya ngomong sendiri, sama sekali gak mengalihkan pandangannya dari layar.
Gadis yang hobi ngomong sendirian itu namanya Kim Sejeong. Malangnya, Sejeong udah jadi anak yatim piatu sejak usianya masih kecil banget, yaitu lima tahun. Setelah orang tuanya meninggal, dia dirawat dan dibesarkan oleh neneknya dengan penuh kasih sayang. Tapi, takdir kembali menguji dia. Waktu Sejeong umur 15 tahun, nenek yang jadi satu-satunya tempat bersandar pun meninggal dunia karena udah tua dan sakit-sakitan.
Walaupun hidup sebatang kara, Sejeong gak pernah kekurangan uang atau materi. Sebelum meninggal, kedua orang tuanya yang merupakan pengusaha sukses udah meninggalkan warisan harta kekayaan yang melimpah ruah, cukup buat biayain hidupnya sampai kapan pun.
Secara sifat, Sejeong ini bukan tipe cewek lemah lembut yang gampang menangis meratapi nasib. Dia itu gadis yang agak bar-bar, cuek, keras kepala, punya prinsip "bodo amat" yang kuat, tapi sebenarnya sangat pintar. Gak cuma cerdas di sekolah, Sejeong juga jago banget bela diri. Hidup sendirian di rumah segede istana bikin dia harus bisa melindungi dirinya sendiri. Bukannya dia gak sedih karena kehilangan semua keluarganya, tapi dia tipe orang yang lebih memilih buat mengikhlaskan semuanya dan melanjutkan hidup daripada larut dalam kesedihan yang gak ada ujungnya. Saat ini usianya baru 17 tahun, dan dia baru aja lulus dari bangku SMA.
Kringgg... Kringgg...
Suara dering HP memecah keheningan rumah besar itu, mengalihkan perhatian Sejeong dari oppa-oppa di layar televisi. Dia meraih HP-nya yang tergeletak di atas meja. Nama "Melisa" muncul di layar.
"Halo, Mel. Kenapa?" tanya Sejeong setelah menggeser tombol hijau.
"Sejeong, lo lagi ngapain sekarang?" tanya Melisa dari seberang telepon.
"Biasa, lagi nonton drakor. Mau apa lo?" jawab Sejeong dengan nada santai.
"Lo tuh, ya! Gak ada niatan buat daftar kuliah apa? Sebentar lagi pendaftaran kampus mau ditutup, lho!" Melisa mengomel, kedengaran gemas banget sama kelakuan sahabatnya yang kelewat santai.
"Nanti-nanti ajalah. Lagipula gue lagi malas mikir," sahut Sejeong sambil menguap kecil.
"Lo ini ya, Sejeong! Otak pintar begitu kalau gak dimanfaatkan sayang banget! Jangan disia-siain!"
"Iya, iya, bawel. Nanti gue pasti kuliah, kok. Lo tenang aja, gak usah panik gitu," ucap Sejeong menenangkan sahabatnya sambil tertawa pelan.
"Oke deh kalau gitu. Gue tutup dulu ya teleponnya, mau beres-beres rumah," balas Melisa.
"Sip," jawab Sejeong singkat sebelum mematikan telepon.
Gadis yang meneleponnya tadi adalah Melisa, satu-satunya sahabat sejati yang dia punya sejak zaman SMP. Melisa adalah orang yang selalu ada buat Sejeong, paham semua sifat buruk dan baiknya, serta jadi tempatnya mengobrol saat rumahnya terasa terlalu sepi.
Sore berganti malam. Suasana rumah mewah itu terasa makin sunyi. Pembantu di rumah Sejeong cuma datang dari pagi sampai siang buat membersihkan rumah dan memasak, setelah itu mereka langsung pulang. Jadinya, pas malam tiba, Sejeong benar-benar sendirian di dalam rumah yang besar itu.
Entah kenapa, malam itu langkah kaki Sejeong menuntunnya berjalan ke sebuah ruangan yang udah lama gak dia masuki: ruang kerja almarhum ayahnya. Begitu membuka pintu kayu yang tebal, aroma buku-buku tua dan wangi parfum ayahnya yang samar masih terasa di sana.
Sejeong terdiam di depan pintu. "Kok gue bisa jalan ke sini, ya?" ujarnya bingung sendiri.
Dia melangkah masuk, melihat ke sekeliling ruangan yang tertata rapi. Foto keluarga mereka bertiga saat Sejeong masih kecil terpajang di dinding. Tanpa disadari, pertahanan diri Sejeong yang selama ini kelihatan kuat langsung runtuh. Air matanya menetes membasahi pipi. Dia memang selalu bersikap tegar di depan orang lain, tapi di dalam hatinya, dia tetaplah seorang remaja yang kangen pelukan hangat orang tuanya. Dia bukan gadis yang benar-benar kuat, tapi keadaan memaksa dia buat jadi kuat.
Sambil menghapus air matanya, pandangan Sejeong mendadak tertuju pada sebuah benda di atas meja kerja ayahnya. Ada sesuatu yang gak biasa di ruangan itu. Di sudut meja, tergeletak sebuah gelang giok berwarna hijau tua yang sangat indah dan mengkilap.
"Gelang siapa nih? Kayaknya kemarin-kemarin benda ini gak ada di sini deh," ucapnya heran sambil mendekati meja dan mengambil gelang tersebut.
Tanpa berpikir panjang, seolah-olah ada yang menggerakkan tubuhnya, Sejeong langsung merenggangkan gelang itu dan memakainya di pergelangan tangan kiri. Gelang itu terasa pas banget dan memberikan rasa dingin yang nyaman di kulitnya. Karena merasa suasana ruang kerja bikin dia makin sedih, Sejeong segera keluar dan kembali ke kamarnya buat tidur.
...****************...
jangan lupa support nya guys
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 36 Episodes
Comments
penggemar_Uangkecil?!
👍
2026-08-25
0