Asap tipis membubung dari kompor minyak tanah tua di sudut dapur. Damar mematikan apinya begitu air di dalam panci kecil mulai mendidih. Ia menuangkan bubur encer yang baru saja dimasak ke dalam dua mangkuk seng yang sudah terkelupas catnya. Aroma beras murah bercampur sedikit garam menyeruak, aroma sederhana yang menjadi penopang hidup mereka saban hari.
"Uhuk... Uhuk! Uhuk!"
Suara batuk kering berkepanjangan terdengar dari balik tirai kain yang menjadi pembatas antara dapur dan kamar tidur. Damar buru-buru menyapu keringat di pelipisnya, lalu mengambil salah satu mangkuk bubur beserta segelas air hangat.
"Ibu? Sudah bangun?" panggil Damar pelan sambil mendorong tirai kusam itu.
Di atas pembaringan berakar kayu yang beralaskan kasur kapuk tipis dan berdebu, seorang wanita paruh baya tampak berusaha duduk. Wajahnya pucat pasi, matanya cekung, dan badannya kurus kering hingga tulang-tulangnya menonjol di balik daster lusuh yang dipakainya.
"Eh, Damar... Sudah pulang, Le?" tanya Bu Rahmi, ibunya, dengan suara serak dan napas yang agak terengah-engah.
"Sudah dari tadi, Bu. Ini Damar buatkan bubur hangat. Ibu makan dulu ya, mumpung masih panas," ujar Damar lembut sambil duduk di tepi dipan kayu yang berderit menahan bebannya.
Bu Rahmi tersenyum tipis, matanya menatap sendok seng yang disodorkan anak tunggalnya itu. "Kamu sudah makan belum, Mar? Jangan cuma mikirin Ibu."
"Sudah, Bu. Tadi Damar disuguhi makan di rumah Pak RT habis tebas rumput," bohong Damar tanpa ragu sedikit pun demi menyembunyikan kenyataan bahwa porsi beras tadi memang sengaja ia bagi lebih banyak untuk ibunya.
"Alhamdulillah kalau begitu. Pak RT kasih upah berapa hari ini, Le?" tanya Bu Rahmi lagi setelah menelan satu sendok bubur encer tersebut.
"Lima puluh ribu, Bu. Cukup kok buat beli beras sama telur tadi di warung Mbak Sri," jawab Damar sambil meniup sendok berikutnya.
Bu Rahmi menghela napas panjang, tatapannya menyusuri dinding bambu rumah mereka yang sudah banyak berlubang dan rapuh. Di beberapa bagian, anyaman bambu itu sudah menghitam dan lapuk dimakan usia. Jika angin malam berembus kencang dari arah sawah yang membentang tepat di belakang rumah, angin dingin itu meluncur bebas masuk lewat celah-celah dinding, membuat ibunya makin sering kumat batuknya.
"Maafkan Ibu ya, Mar... Karena Ibu sakit-sakitan begini, kamu jadi harus kerja keras sendirian dari kecil. Mana bapakmu sudah lama meninggal, tidak ada yang bisa bantu kamu," ucap Bu Rahmi dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Damar menggeleng cepat. Ia membetulkan letak kacamatanya yang melorot, lalu tersenyum menenangkan. "Ibu ngomong apa sih? Sudah jadi kewajiban Damar buat merawat Ibu. Lagipula Damar masih kuat kok, cuma bersihin rumput sama angkat karung mah gampang."
"Tapi Ibu sedih dengar omongan tetangga, Mar. Kemarin waktu Ibu masih kuat jalan ke depan, ada yang bilang kamu itu kasihan, umur segini cuma bisa kerja serabutan dan hidup di rumah yang mau roboh begini..."
"Alah, Ibu tidak usah dengerin omongan orang desa," potong Damar cepat. "Mereka kan cuma bisa ngomong, kagak bisa bantuin kita juga. Yang penting kita kagak minta-minta dan tidak merugikan siapapun."
"Tapi rumah kita ini memang sudah parah, Le..." Bu Rahmi menunjuk ke arah tiang penyangga di sudut kamar yang tampak makin miring. "Lihat tiang itu, kemarin waktu hujan deras disertai angin, bunyinya sudah kerot-kerot seperti mau patah. Ibu takut rumah ini roboh pas kita lagi tidur."
Damar mengalihkan pandangannya ke tiang kayu yang ditunjuk ibunya. Memang benar, kayu penyangga gubuk mereka sudah sangat tua dan dimakan rayap. Rumah ini berdiri terpencil di ujung desa, tepat di perbatasan antara pemukiman dan hamparan sawah milik warga. Jika musim hujan tiba, tanah di bawahnya sering becek dan membuat fondasi bambunya makin tidak stabil.
"Nanti sore Damar coba cari kayu bekas di pinggir kali ya, Bu. Buat mengganjal tiang yang miring itu biar makin kokoh," kata Damar berusaha membesarkan hati ibunya.
"Punya uang dari mana buat beli paku sama kayunya, Mar?" tanya ibunya penuh kekhawatiran.
"Tidak usah beli, Bu. Di dekat jembatan suka banyak kayu hanyut atau sisa bangunan warga yang dibuang. Nanti Damar pilih yang masih bagus," sahut Damar telaten menyuapkan sisa bubur terakhir di mangkuk.
Bu Rahmi menerima suapan terakhir itu, lalu meminum air hangat yang disodorkan anaknya. Ia menatap wajah anaknya yang kusam dan lelah, merasa bersalah karena kondisi fisiknya yang terus menurun sejak suaminya wafat lima tahun lalu akibat sakit keras.
"Sudah habis, Bu. Ibu istirahat lagi ya," ucap Damar sambil merapikan mangkuk kosong.
"Kamu tidak capek, Le? Habis dari rumah Pak RT langsung mau cari kayu?" tanya Bu Rahmi iba.
"Kagak, Bu. Damar masih segar begini kok. Ibu tidur saja, jangan banyak pikiran," balas Damar sambil menyelimuti ibunya dengan kain sarung tua yang sudah tipis.
Damar keluar dari kamar dan melangkah menuju dapur kecilnya. Ia mengambil mangkuk buburnya sendiri yang ukurannya jauh lebih sedikit, lalu memakannya dengan cepat tanpa lauk apapun. Baginya, rasa lapar sudah menjadi teman akrab yang tidak perlu terlalu diratapi.
Setelah menyapu lantai tanah yang berdebu dan mencuci dua mangkuk seng di gentong air luar, Damar melangkah ke samping rumah. Dari situ, sejauh mata memandang hanya terlihat hamparan hijau tanaman padi milik warga desa yang bergoyang tertiup angin siang. Bau lumpur dan aroma khas sawah menyengat hidungnya.
"Duh, tiang depan juga ternyata sudah rapuh begini," gumam Damar ketika tangannya menggerakkan salah satu tiang bambu di teras depan. Tiang itu goyang cukup keras hanya dengan satu dorongan tangan.
Tiba-tiba dari arah pematang sawah, muncul Pak Karto, salah seorang pemilik sawah di dekat situ yang sedang mengontrol saluran air. Pria yang memakai caping itu menghentikan langkahnya sewaktu melihat Damar sedang mengamati dinding rumahnya.
"Oalah, Damar! Lagi ngapain kamu?" teriak Pak Karto dari kejauhan sambil melambaikan tangan.
Damar menoleh dan melangkah mendekati batas sawah. "Eh, Pak Karto. Ini Pak, lagi nengok tiang rumah yang makin miring."
Pak Karto berjalan mendekat, lalu memperhatikan gubuk reyot milik Damar dari jarak dekat. Ia menggeleng-gelengkan kepala sambil menyulut rokok lintingannya.
"Buset dah, Mar. Itu rumah kamu apa kandang ayam? Kok makin miring saja ke arah sawah?" celetuk Pak Karto tanpa tedeng aling-aling.
Damar terkekeh canggung sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Ya begitulah, Pak. Namanya juga rumah tua, belum ada rezeki buat merenovasi."
"Bukan cuma belum di-renovasi, Mar, ini sih sudah kagak layak huni! Kalau ada angin kencang dari arah selatan, bisa roboh beneran itu rumah. Kasihan ibu kamu yang lagi sakit di dalam. Lu kagak ada niat benerin apa?" tanya Pak Karto dengan nada blak-blakan.
"Niat sih ada, Pak. Tapi ya uangnya dari mana? Buat makan sehari-hari sama beli obat Ibu saja sudah pas-pasan banget," jawab Damar sejujurnya.
"Ya makanya, kamu itu cari kerjaan yang bener di kota sana! Jangan mendekam di desa terus jadi kuli serabutan. Lihat anak-anak muda lain, pada merantau ke Jakarta, pulang-pulang bisa megang uang banyak, benerin rumah orang tuanya. Lah kamu? Dari dulu stuck di ujung sawah begini," omel Pak Karto memberi nasihat dengan gayanya yang kasar.
"Pernah kepikiran ke kota, Pak. Tapi siapa yang mau menjaga Ibu di rumah? Ibu kan sakit-sakitan, kagak bisa ditinggal sendirian," tutur Damar pelan, menyuarakan alasan utamanya selama ini tidak pernah meninggalkan desa.
Pak Karto menghela napas panjang, mengembuskan asap rokoknya yang tebal ke udara. "Ya repot juga sih kalau begitu... Tapi ya tetep saja, kamu harus mikirin keselamatan rumah ini. Tar kalau rubuh pas malam hari kan bahaya banget buat kalian berdua."
"Iya, Pak. Ini rencana sore nanti saya mau cari kayu bekas buat menopang tiang yang miring dulu," kata Damar.
"Yo wis, terserah kamu lah. Saya cuma mengingatkan saja sebagai tetangga. Awas ya, jangan sampai rumahmu roboh terus sampahnya berserakan ke sawah saya!" kelakar Pak Karto sambil terkekeh pelan.
"Tenang saja, Pak Karto. Tidak bakal sampai ke sawah kok," sahut Damar ikut tersenyum tipis.
"Dah ah, saya mau lanjut ke bendungan bawah. Jangan lupa itu tiang diganjal yang benar!" pesan Pak Karto sebelum kembali melangkah menyusuri pematang sawah.
"Siap, Pak Karto. Terima kasih peringatannya," balas Damar.
Sepeninggal Pak Karto, suasana di sekitar ujung sawah itu kembali hening. Hanya terdengar gema suara jangkrik dan gesekan daun padi yang tertiup angin sore. Damar kembali berjalan memutari gubuknya. Ia meneliti setiap sudut bangunan berdinding anyaman bambu yang kini warnanya sudah kusam kecokelatan.
Kondisi rumah ini memang sangat memprihatinkan. Atap genteng tanah liatnya sudah banyak yang pecah dan diganti seadanya dengan potongan seng tua yang berkarat. Di bagian belakang dekat dapur, dinding bambunya bahkan sudah berlubang besar hingga angin malam dan hewan liar bisa masuk dengan mudah jika tidak ditutupi dengan karung bekas.
Damar berjongkok di samping rumah, memegang tiang bambu utama yang menjadi tumpuan bangunan gubuk tersebut. Ketika ia menekan tiang itu sedikit saja, terdengar suara krek dari bagian atas sambungan kayu.
"Memang sudah parah banget ini..." bisik Damar pada dirinya sendiri.
Ia mengadah menatap langit sore yang mulai berubah warna menjadi jingga keunguan. Udara dingin perlahan-lahan mulai berembus turun dari pegunungan di kejauhan, menembus kaos tipis yang dikenakannya. Damar tahu betul, sebentar lagi malam akan turun dan suhu di ujung sawah ini bakal makin menusuk tulang.
Dengan helaan napas berat, Damar membetulkan kacamata tebalnya. Ia berbalik dan kembali berjalan masuk ke dalam gubuknya yang gelap dan sepi, bersiap-siap untuk mengambil parang tua demi mencari kayu ganjalan di pinggir kali sebelum hari benar-benar gelap.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
Night Watcher
mak jlebbb banget..
2026-06-13
1