Matahari mulai condong ke arah barat, memancarkan sinar oranye keemasan yang menerpa alur sungai di pinggir desa. Damar berjalan menyusuri jalanan berkerikil sambil membawa sebuah parang tua yang sudah agak tumpul di tangan kanannya. Langkah kakinya membawanya menuju tepian kali, tempat di mana warga desa biasanya membuang sisa-sisa kayu bangunan atau tempat kayu-kayu hanyut tersangkut di antara bebatuan.
Ujung celana jinsnya yang ditambal sengaja ia gulung hingga ke betis agar tidak basah terkena air. Matanya yang terlindung di balik kacamata tebal terus menyapu semak-semak dan tumpukan sampah kayu di tepi sungai.
"Semoga saja ada kayu gelondongan yang masih kokoh. Kalau cuma dahan rapuh, mana kuat menahan beban tiang rumah," gumam Damar pelan pada dirinya sendiri.
Saat ia sedang asyik memilah-milah batang kayu di balik rimbunan pohon bambu, terdengar tawa renyah dan gelak tawa beberapa wanita dari arah belokan sungai. Suara itu cukup ramai, memecah kesunyian sore di tepi kali. Damar menghentikan langkahnya, menengok ke balik semak-semak untuk melihat siapa yang ada di sana.
Di sana, di atas batu-batu kali yang datar, tampak empat orang gadis muda desa tetangga yang selesai mencuci pakaian dan membersihkan diri. Mereka mengenakan pakaian santai yang rapi dan modis untuk ukuran anak desa. Salah satunya adalah Mawar, kembang desa yang memang terkenal paling cantik dan kerap jadi bahan perbincangan para pemuda.
Damar yang tidak ingin mengganggu mereka berniat mundur perlahan dan mencari kayu di tempat lain. Namun, nasib sial malah menghampirinya. Langkah kakinya menapak ranting kering hingga berbunyi cukup keras.
Krek!
"Eh! Siapa itu di balik semak-semak?!" teriak salah satu gadis berambut sebahu sambil menunjuk ke arah tempat Damar berdiri.
Damar terperanjat. Ia keluar dari balik semak-semak dengan canggung, sambil memegang parang dan potongan kayu kecil yang sempat ia ambil.
"Maaf, Mbak... Saya tidak bermaksud mengintip atau apa. Saya cuma lagi cari kayu bekas," kata Damar gagap, mencoba menjelaskan situasinya agar tidak terjadi salah paham.
Gadis-gadis itu saling pandang, lalu tatapan mereka tertuju pada sosok Damar dari ujung kepala sampai ujung kaki. Pandangan heran itu dengan cepat berubah menjadi tatapan geli dan jijik.
"Oalah, tak kirain siapa! Ternyata si Damar, anak ujung sawah itu," cetus Mawar sambil menyilangkan tangan di dada dan tertawa sinis.
"Astaga, Mar! Lu ngapain sih keluyuran di kali pakai bawa parang begitu? Penampilan lu sudah kayak orang gila tahu kagak?" sahut teman Mawar yang memakai baju merah, namanya Siska.
"Iya nih, kaget-kagetin orang aja. Mana bajunya kotor banget lagi, baunya sampai sini," timpal gadis satu lagi sambil memegangi hidungnya dengan gaya berlebihan.
Damar mencoba tersenyum, meski hatinya mulai terasa tidak nyaman. "Maaf ya, Mbak-Mbak sekalian. Saya cuma butuh beberapa batang kayu buat mengganjal tiang rumah yang mau roboh. Saya permisi cari di sebelah sana saja."
Namun, saat Damar hendak berbalik dan melangkah pergi, Mawar justru memanggilnya dengan nada mengejek.
"Sebentar dulu, Mar! Jangan kabur dulu dong!" panggil Mawar sambil melangkah mendekat, diikuti ketiga temannya.
Damar menghentikan langkahnya dan berbalik ragu-ragu. "Ada apa lagi, Mbak Mawar?"
Mawar menatap kacamata tebal Damar yang melorot, lalu menggeleng-gelengkan kepala dengan mimik wajah merendahkan. "Gue cuma heran saja sama lu. Lu tuh kagak sadar diri ya? Udah miskin, rumah mau roboh, penampilan kotor dan culun begitu, kok betah banget sih hidup?"
Damar menghela napas pelan, berusaha menahan emosinya. "Ya... mau bagaimana lagi, Mbak. Ini sudah jalan hidup saya. Yang penting saya tidak merugikan orang lain."
"Tapi mata kita yang rugi kalau melihat lu tiap hari, Mar!" sahut Siska disambut derai tawa teman-temannya. "Lu tuh harusnya berkaca. Udah umur segini kagak ada masa depan. Lu kagak berniat cari pacar apa?"
"Iya, Mar. Lu pernah kagak sih kepikiran mau mendekati cewek?" tanya teman Mawar lainnya sambil tersenyum mengejek.
Damar menundukkan kepalanya, menatap tanah basah di bawah sandal jepitnya. "Kagak pernah, Mbak. Saya sadar diri. Siapa juga yang mau sama pemuda miskin dan serabutan seperti saya."
Mawar melangkah makin dekat, menatap Damar dengan pandangan yang sangat menyakitkan. "Bagus deh kalau lu sadar diri! Lu tuh memang kagak pantas mendekati cewek manapun di desa ini, apalagi cewek seperti kita! Jangan sampai ya lu mimpi atau punya niat mendekati cewek, kasihan ceweknya nanti ketularan apes dan miskin kayak lu!"
"Betul banget itu, War!" Siska menimpali dengan semangat. "Siapa coba yang mau hidup di gubuk reyot dekat sawah sama cowok culun kayak begini? Mending jomblo seumur hidup daripada dapat yang modelan kayak Damar."
"Lagian, muka lu aja kusam begitu, Mar. Baju lu lecek, kacamata segede gaban. Lu mendekat lima meter aja orang udah males melihatnya," tambah Mawar tanpa perasaan, diiringi tawa terbahak-bahak dari teman-temannya yang menggema di tepi sungai.
Kata-kata itu terngiang berulang-ulang di telinga Damar. Sudah biasa ia dihina oleh bapak-bapak atau pemuda desa karena masalah pekerjaan, tetapi dipermalukan secara terang-terangan oleh sekelompok wanita sebayanya mengenai fisiknya dan kepantasannya sebagai seorang laki-laki terasa menusuk jauh lebih dalam. Rasanya ada luka yang tak berdarah, tetapi sangat perih di dalam dadanya.
Damar hanya bisa membetulkan posisi kacamatanya yang basah oleh sedikit peluh. Ia tidak membalas, tidak juga marah. Ia sadar, membalas ucapan mereka hanya akan membuat dirinya makin dipermalukan.
"Sudah kan, Mbak-Mbak sekalian? Kalau sudah selesai bicaranya, saya mau lanjut cari kayu lagi," ucap Damar dengan suara yang ditahan agar tidak terdengar bergetar.
Mawar mengibaskan tangannya dengan gaya acuh tak acuh. "Sana-sana gih! Pergi yang jauh, jangan dekat-dekat kita. Nanti bau lu nempel di baju bersih kita!"
"Hus, hus! Pergi sana, kuli rumput!" seru Siska sambil tertawa puas.
Damar tidak menjawab lagi. Ia membalikkan badan, memegang potongan kayu dan parangnya erat-erat, lalu melangkah menjauhi area sungai tersebut tanpa menoleh ke belakang sedikit pun. Tawa mengejek dari Mawar dan teman-temannya masih terdengar samar-samar ditelan angin sore, mengiringi setiap langkah kakinya yang terasa berat.
Damar berjalan terus menyusuri pinggiran saluran air hingga sampai di area semak-semak yang sepi. Di sana, ia menemukan dua batang kayu jati bekas yang cukup tebal dan masih keras. Ia berjongkok, lalu mulai memotong bagian-bagian kayu yang tidak terpakai menggunakan parangnya.
Tuk! Tuk! Tuk!
Suara parang yang menghantam kayu terdengar ritmis. Di tengah kesendirian itu, ucapan Mawar kembali berputar di kepalanya.
'Lu tuh memang kagak pantas mendekati cewek manapun... Kasihan ceweknya nanti ketularan apes dan miskin kayak lu!'
Damar menghentikan ayunan parangnya. Ia terduduk di atas tanah, memandangi kedua tangannya yang kasar, penuh kapalan, dan berdebu tanah. Ia meraba wajahnya sendiri, menyentuh kacamata tebalnya. Memang benar apa yang mereka katakan. Penampilannya sangat jauh dari kata menarik. Tidak ada hal menarik dari seorang pemuda miskin yang hanya bisa memotong rumput dan mengangkut karung.
Airmata hampir saja menetes dari sudut matanya, tetapi Damar segera mengusapnya kasar dengan lengan bajunya. Ia menggelengkan kepala kuat-kuat.
"Kagak usah dipikirin, Mar... Mereka benar, lu memang kagak pantas buat siapa-siapa. Fokus lu sekarang cuma buat Ibu dan rumah," bisik Damar memotivasi dirinya sendiri dengan nada pahit.
Ia kembali mengangkat parangnya, memotong kayu itu hingga ukurannya pas untuk dijadikan tiang penyangga. Setelah mendapatkan dua batang kayu yang dirasa cukup kuat, Damar mengikatnya dengan tali rafia bekas yang ia temukan di jalan, lalu memikulnya di atas bahu kirinya.
Hari sudah benar-benar gelap ketika Damar berjalan kembali menuju gubuknya di ujung sawah. Langit malam tanpa bintang membuat suasana desa terasa makin sepi. Udara dingin berembus makin kencang, menembus pakaian tipis yang dikenakannya.
Langkah kakinya gontai. Beban kayu di bahunya tidak seberapa berat jika dibandingkan dengan beban pikiran dan rasa malu yang terpatri di dadanya. Namun, begitu ia melihat pendar cahaya lampu minyak dari balik celah dinding bambu rumahnya, Damar memaksakan diri untuk mengusap wajahnya dan menyunggingkan senyum tipis. Ia tidak ingin ibunya melihat raut wajahnya yang hancur.
"Kulanuwun, Bu... Damar pulang," panggil Damar sambil mendorong pintu rumah yang berderit.
Dari dalam kamar, terdengar suara batuk kecil ibunya yang disusul sahutan pelan. "Iya, Le... Sudah dapat kayunya?"
"Sudah, Bu. Dapet dua batang kayu bagus di dekat kali," jawab Damar sambil meletakkan kayu-kayu itu di teras depan.
Damar masuk ke dalam gubuk, meletakkan parangnya di dapur, lalu berjalan mendekati kamar ibunya. Ia melihat ibunya sedang menyalakan lampu tempel minyak tanah di atas meja kayu.
"Kok pulangnya agak malam, Mar? Ibu khawatir," kata Bu Rahmi sambil menatap wajah anaknya yang tampak sangat lelah.
"Tadi nyarinya agak jauh, Bu. Kayu yang bagus lumayan susah dicarinya," bohong Damar lagi, enggan menceritakan kejadian pahit yang baru saja dialaminya di sungai.
Bu Rahmi menatap anak tunggalnya itu dengan tatapan penuh kasih sayang. Ia bisa melihat ada sesuatu yang berbeda dari tatapan mata Damar malam ini, ada rasa sedih yang amat dalam yang berusaha disembunyikan di balik kacamata tebal itu.
"Kamu tidak apa-apa kan, Le? Wajahmu kok lesu sekali?" tanya Bu Rahmi penuh perhatian.
Damar membetulkan letak kacamatanya, lalu tersenyum selebar yang ia bisa. "Kagak apa-apa kok, Bu. Cuma agak capek saja. Besok pagi-pagi sekali Damar pasang kayunya buat ganjal tiang rumah kita."
Bu Rahmi mengangguk pelan, meski dalam hatinya ia tahu anaknya sedang menanggung beban yang berat. "Ya sudah, kamu mandi dulu sana, terus istirahat. Jangan dipaksa kalau capek."
"Iya, Bu. Ibu tidur lagi ya, biar batuknya tidak kumat," ucap Damar lembut.
Damar berbalik berjalan menuju dapur. Ia mengambil gayung dan berjalan ke gentong air di luar. Di bawah kegelapan malam dan dinginnya angin sawah, Damar menyiramkan air dingin ke wajah dan kepalanya, berharap air itu bisa membilas bersih rasa sakit hati dan rasa tidak berharga yang terus menghantuinya sejak sore tadi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments