Bab 4 — Mimpi yang Ditertawakan

Sinar matahari pagi menyelinap lewat celah-celah anyaman bambu rumah Damar. Setelah menyiramkan air dingin ke wajahnya dan meminum segelas air hangat, Damar segera berbenah. Pekerjaan mengganjal tiang rumah sudah ia selesaikan seadanya sejak subuh tadi. Pagi ini, seluruh warga desa dijadwalkan berkumpul di balai desa untuk kerja bakti membersihkan saluran air dan merapikan halaman utama.

Dengan kaos oblong abu-abunya yang kemarin dan kacamata tebal yang duduk agak miring di hidungnya, Damar melangkah menuju pusat desa. Ia memegang cangkul tua yang kepalanya sudah sedikit goyang.

"Pagi, Mar! Tumben cepat amat datangnya?" sapa Pak Karto yang sedang memegang cangkul di tepi selokan balai desa.

Damar membetulkan kacamatanya lalu tersenyum pelan. "Pagi, Pak Karto. Iya nih, biar cepat selesai. Biar bisa lanjut cari rongsokan atau gawean lain nanti siang."

"Oalah, rajin amat lu, Mar. Tapi ya baguslah, daripada menganggur di gubuk," sahut Pak Karto sambil terkekeh pelan.

Tak berapa lama, rombongan warga lain mulai berdatangan. Jaka dan kawan-kawannya yang kemarin memergoki Damar di gardu ronda juga muncul membawa sapu lidi dan sabit. Di sudut teras balai desa, tampak ibu-ibu warga sedang menyiapkan teh hangat dan gorengan, termasuk Bu RT dan Mbak Sri pemilik warung.

"Woi, kuli rumput sudah datang duluan ternyata!" teriak Jaka dari kejauhan sambil tertawa bersama dua temannya.

"Sudah, Jak. Jangan digodain terus si Damar. Kasihan itu dari tadi pagi sudah pegang cangkul," celetuk Pak RT yang baru keluar dari dalam balai desa membawa ember.

"Bercanda doang, Pak RT. Biar si Damar semangat nyangkulnya," sahut Jaka santai.

Pekerjaan pun dimulai. Suara dentangan cangkul yang menghantam tanah dan tawa para warga riuh memenuhi halaman balai desa. Damar berada di bagian dalam selokan, mengeruk lumpur hitam yang menyumbat aliran air. Bau busuk lumpur menyengat hidungnya, tetapi Damar tidak peduli. Ia tetap bekerja tekun tanpa banyak bicara.

Matahari mulai meninggi dan hawa panas mulai terasa menyengat. Pak RT menepuk tangannya keras-keras memberi isyarat agar warga beristirahat sejenak.

"Istirahat dulu, bapak-bapak, mas-mas! Ini kopi sama gorengannya sudah siap di teras!" seru Pak RT.

Semua orang meletakkan alat kerjanya dan berbondong-bondong menuju teras balai desa. Damar ikut mencuci tangan dan kakinya di kran air samping, lalu duduk di pinggiran fondasi semen yang agak teduh, sedikit terpisah dari kerumunan utama.

"Nih, Mar. Ambil pisang gorengnya," kata Bu RT sambil menyodorkan piring seng berisi gorengan hangat.

"Terima kasih banyak, Bu RT," jawab Damar sopan sambil mengambil satu potong.

Di tengah suasana santai itu, Pak Karto yang sedang menyulut rokok kreteknya tiba-tiba membuka obrolan dengan nada bercanda.

"Eh, kalian tahu kagak? Kemarin si Damar ini ganjal tiang rumahnya pakai kayu bekas dari kali. Rumahnya itu makin hari makin miring ke arah sawah saya," kata Pak Karto sambil tertawa kecil.

"Hahaha! Beneran, Pak Karto? Buset dah, Mar, itu rumah apa menara Pisa kok miring begitu?" sahut Jaka geli.

"Iya tuh, Mar. Lu kagak ada niat benerin rumah apa? Kasihan ibu lu yang lagi sakit," timpal Mbak Sri dari balik meja konsumsi.

Damar mengunyah pisang gorengnya pelan-pulang, lalu menjawab jujur. "Niat mah ada, Mbak Sri, Bang Jaka. Nanti kalau saya sudah punya uang banyak, bukan cuma rumah yang dibenerin, tapi saya mau bangun rumah baru yang layak buat Ibu."

Mendengar ucapan itu, Jaka langsung menyemburkan kopi yang baru saja ditelannya. "Uang banyak? Hahaha! Lu mau dapat uang banyak dari mana, Mar? Dari nyangkul rumput liar begini?"

"Ya dari kerja keras, Bang. Siapa tahu suatu saat nanti saya bisa jadi orang sukses," sahut Damar dengan nada polos tanpa maksud menceramahi.

Seketika, gelak tawa pecah di teras balai desa. Ucapan Damar bak sebuah lelucon paling lucu yang pernah mereka dengar sepanjang tahun.

"Hahaha! Dengarin tuh, warga! Si Damar mimpi mau jadi orang sukses!" teriak Jaka sambil menunjuk-nunjuk muka Damar dengan ujung rokoknya.

"Astaga, Damar, Damar... Lu tuh kalau mimpi jangan ketinggian, Nanti kalau jatuh sakitnya setengah mati!" sahut teman Jaka yang gondrong sambil memegangi perutnya yang mulas karena terlalu banyak tertawa.

Pak Karto ikut menggeleng-gelengkan kepala sambil terkekeh sinis. "Mar, Mar... Lu bisa makan hari ini aja sudah sukur banget. Nggak usah ngayal jadi orang sukses segala. Sadar diri, ijazah kagak punya, penampilan kucel begini, mau sukses lewat jalan mana?"

Damar terdiam di tempat duduknya. Wajahnya perlahan memerah. Kacamata tebalnya agak melorot, tetapi ia enggan membetulkannya. Tatapan mata dari belasan tetangga di sekitarnya begitu menyudutkan, penuh dengan rasa merendahkan yang teramat sangat.

Mbak Sri menimpali sambil mengibas-ngibaskan kain lapnya. "Iya nih si Damar. Kemarin beli beras sekilo aja kembaliannya dihitung sampai teliti banget, sekarang ngomongin mau jadi orang sukses. Ngimpi tuh siang bolong, Mar!"

"Lagian, Mar, kalau lu jadi orang sukses, kasihan orang sukses yang beneran. Masa orang sukses modelannya culun dan kusam begini?" celetuk warga lainnya yang disambut sorakan setuju dari yang lain.

"Sudah-sudah, kalian ini kok malah ngetawain Damar begitu," potong Bu RT berusaha meredakan suasana, meski ia sendiri tidak bisa menyembunyikan senyum gelinya. "Ya namanya juga anak muda, wajar kalau punya cita-cita."

"Tapi ya cita-cita tuh yang realistis dong, Bu RT!" sahut Jaka tidak mau kalah. "Kalau si Damar ngomong mau jadi tukang rumput langganan kabupaten sih masih masuk akal. Lah ini ngomong mau jadi orang sukses? Lucu banget, asli!"

Gema tawa kembali membumbung di teras balai desa. Semua mata tertuju pada Damar, menatap pemuda itu seolah-olah ia adalah tontonan sirkus yang menggelikan.

Damar meletakkan sisa pisang goreng di tangannya ke atas kertas minyak. Tangannya agak bergetar, bukan karena takut, melainkan menahan rasa malu yang teramat sangat. Dipermalukan oleh anak-anak muda di sungai kemarin sore ternyata belum cukup. Hari ini, di hadapan orang-orang tua dan tetangga desanya sendiri, mimpinya diinjak-injak tanpa sisa.

"Kenapa, Bang? Memangnya orang miskin kayak saya kagak boleh punya mimpi jadi orang sukses?" tanya Damar akhirnya, suara pelannya menembus riuhnya tawa warga.

Jaka menghentikan tawanya, lalu menatap Damar dengan pandangan remeh. "Boleh aja, Mar. Kagak ada yang melarang. Tapi ya jangan diomongin keras-keras kalau kagak mau ditertawakan orang se-desa! Lu lihat diri lu di cermin dulu napa sebelum ngomong begitu?"

"Betul kata Jaka, Mar," tambah Pak Karto dengan nada yang berpura-pura menasihati. "Bukannya kita menghina, tapi lu tuh harus tahu kapasitas diri. Biar kagak makin kelihatan konyol di depan orang banyak."

Damar menunduk. Ia bisa merasakan tatapan mata dari semua orang yang ada di sana—tatapan yang memvonisnya bahwa ia tidak akan pernah menjadi apa-apa selain kuli serabutan yang hidup di gubuk reyot.

"Sudah, istirahatnya sudah cukup. Ayo lanjut kerja lagi biar cepat kelar sebelum makin panas!" sela Pak RT mengalihkan perhatian, mencoba mengakhiri kehebohan tersebut.

Warga mulai berdiri satu per satu sambil masih menyisakan bisik-bisik dan kekehan kecil. Mereka kembali ke selokan dan halaman dengan sikap seolah tidak peduli kalau baru saja mereka menghancurkan perasaan seorang pemuda.

Damar berdiri perlahan. Ia membetulkan letak kacamatanya yang melorot, menyapu debu di celananya, lalu berjalan mengambil cangkulnya kembali. Ia melangkah menuju bagian selokan yang paling ujung, membelakangi kerumunan warga yang masih sesekali menoleh dan terkekeh ke arahnya.

Bruk! Sret!

Damar menghantamkan mata cangkulnya ke dalam lumpur dengan bertenaga. Lumpur hitam terangkat dan terlempar ke pinggir saluran. Di dalam hatinya, rasa sakit dan malu bercampur menjadi satu. Namun, di balik rasa perih itu, ada sesuatu yang perlahan-lahan mengeras di dalam dadanya.

Ia mengingat wajah ibunya yang pucat di pembaringan. Ia mengingat tiang rumahnya yang miring dan hampir roboh. Ia mengingat tawa Mawar di tepi sungai, dan tawa Jaka serta tetangganya barusan.

"Tertawalah sepuas kalian hari ini..." bisik Damar pelan pada dirinya sendiri, nyaris tak terdengar di antara bisingnya suara cangkul yang dihantamkan ke tanah.

Ia menyapu keringat bercampur debu yang menetes di pipinya dengan lengan baju. Tanpa mengeluh lagi, Damar terus mengayunkan cangkulnya, menyerap setiap hinaan dan tawa tawa mengejek itu menjadi tenaga untuk menyelesaikan pekerjaannya hari ini.

Episodes
1 Bab 1 — Pemuda yang Selalu Diremehkan
2 Bab 2 — Rumah Reyot di Ujung Sawah
3 Bab 3 — Luka yang Paling Menyakitkan
4 Bab 4 — Mimpi yang Ditertawakan
5 Bab 5 — Gadis yang Pernah Ia Sukai
6 Bab 6 — Hutang dan Penghinaan
7 Bab 7 — Malam Hujan Penuh Keputusasaan
8 Bab 8 — Penemuan di Gudang Tua
9 Bab 9 — Kitab Tabib Langit
10 Bab 10 — Tulisan yang Bergerak
11 Bab 11 — Warisan Sang Tabib Misterius
12 Bab 12 — Pelajaran Pertama
13 Bab 13 — Kesembuhan yang Mustahil
14 Bab 14 — Rahasia Energi Kehidupan
15 Bab 15 — Ibunya Bangkit dari Sakit
16 Bab 16 — Keajaiban Menyebar
17 Bab 17 — Pasien Berikutnya
18 Bab 18 — Tatapan yang Mulai Berubah
19 Bab 19 — Kedatangan Dokter Kota
20 Bab 20 — Pertarungan Harga Diri
21 Bab 21 — Nama Damar Mulai Dikenal
22 Bab 22 — Wanita Cantik yang Menyesal
23 Bab 23 — Mobil Mewah di Pekarangan Gubuk
24 Bab 24 — Tatapan Pertama Amara
25 Bab 25 — Sentuhan Sang Tabib
26 Bab 26 — Keajaiban dan Niat Sang Ayah
27 Bab 27 — Menginap di Desa
28 Bab 28 — Kejadian Lucu di Pinggir Sawah
29 Bab 29 — Rival Lokal Muncul
30 Bab 30 — Cemburu yang Disembunyikan
31 Bab 31 — Sosok dari Kota: Julian Santoso
32 Bab 32 — Penghinaan Sang Direktur Farmasi
33 Bab 33 — Pembuktian Diri dalam Diam
34 Bab 34 — Hadiah Rumah Baru
35 Bab 35 — Masak Dapur dan Salah Tingkah
36 Bab 36 — Rina yang Tak Mau Kalah
37 Bab 37 — Julian Merasa Tersaingi
38 Bab 38 — Niat Licik
39 Bab 39 — Pernyataan Perang
40 Bab 40 — Sabotase Racikan Herbal
41 Bab 41 — Fitnah Membara
42 Bab 42 — Amara dan Rina yang Pasang Badan
43 Bab 43 — Analisis Tabib Langit
44 Bab 44 — Dukungan Pak Hendrawan & Dokter Adrian
45 Bab 45 — Momen Hujan di Saung Sawah
46 Bab 46 — Amara Mulai Jujur pada Hatinya
47 Bab 47 — Pengakuan Rina yang Menyentuh
48 Bab 48 — Kebiasaan Manis yang Baru
49 Bab 49 — Cerita Masa Lalu Bu Rahmi
50 Bab 50 — Kesembuhan Total Pak Hendrawan
51 Bab 51 — Dilema Perpisahan & Janji Setia
52 Bab 52 — Cemburu yang Manis
53 Bab 53 — Wujud Hadiah Klinik Desa
54 Bab 54 — Syarat Lisensi & Kejutan Manis
55 Bab 55 — Titipan Hangat di Desa
56 Bab 56 — Tiba di Kediaman Mewah Hendrawan
57 Bab 57 — Bantuan Amara, Menyusun Berkas
58 Bab 58 — Mata-Mata Julian Bertindak
Episodes

Updated 58 Episodes

1
Bab 1 — Pemuda yang Selalu Diremehkan
2
Bab 2 — Rumah Reyot di Ujung Sawah
3
Bab 3 — Luka yang Paling Menyakitkan
4
Bab 4 — Mimpi yang Ditertawakan
5
Bab 5 — Gadis yang Pernah Ia Sukai
6
Bab 6 — Hutang dan Penghinaan
7
Bab 7 — Malam Hujan Penuh Keputusasaan
8
Bab 8 — Penemuan di Gudang Tua
9
Bab 9 — Kitab Tabib Langit
10
Bab 10 — Tulisan yang Bergerak
11
Bab 11 — Warisan Sang Tabib Misterius
12
Bab 12 — Pelajaran Pertama
13
Bab 13 — Kesembuhan yang Mustahil
14
Bab 14 — Rahasia Energi Kehidupan
15
Bab 15 — Ibunya Bangkit dari Sakit
16
Bab 16 — Keajaiban Menyebar
17
Bab 17 — Pasien Berikutnya
18
Bab 18 — Tatapan yang Mulai Berubah
19
Bab 19 — Kedatangan Dokter Kota
20
Bab 20 — Pertarungan Harga Diri
21
Bab 21 — Nama Damar Mulai Dikenal
22
Bab 22 — Wanita Cantik yang Menyesal
23
Bab 23 — Mobil Mewah di Pekarangan Gubuk
24
Bab 24 — Tatapan Pertama Amara
25
Bab 25 — Sentuhan Sang Tabib
26
Bab 26 — Keajaiban dan Niat Sang Ayah
27
Bab 27 — Menginap di Desa
28
Bab 28 — Kejadian Lucu di Pinggir Sawah
29
Bab 29 — Rival Lokal Muncul
30
Bab 30 — Cemburu yang Disembunyikan
31
Bab 31 — Sosok dari Kota: Julian Santoso
32
Bab 32 — Penghinaan Sang Direktur Farmasi
33
Bab 33 — Pembuktian Diri dalam Diam
34
Bab 34 — Hadiah Rumah Baru
35
Bab 35 — Masak Dapur dan Salah Tingkah
36
Bab 36 — Rina yang Tak Mau Kalah
37
Bab 37 — Julian Merasa Tersaingi
38
Bab 38 — Niat Licik
39
Bab 39 — Pernyataan Perang
40
Bab 40 — Sabotase Racikan Herbal
41
Bab 41 — Fitnah Membara
42
Bab 42 — Amara dan Rina yang Pasang Badan
43
Bab 43 — Analisis Tabib Langit
44
Bab 44 — Dukungan Pak Hendrawan & Dokter Adrian
45
Bab 45 — Momen Hujan di Saung Sawah
46
Bab 46 — Amara Mulai Jujur pada Hatinya
47
Bab 47 — Pengakuan Rina yang Menyentuh
48
Bab 48 — Kebiasaan Manis yang Baru
49
Bab 49 — Cerita Masa Lalu Bu Rahmi
50
Bab 50 — Kesembuhan Total Pak Hendrawan
51
Bab 51 — Dilema Perpisahan & Janji Setia
52
Bab 52 — Cemburu yang Manis
53
Bab 53 — Wujud Hadiah Klinik Desa
54
Bab 54 — Syarat Lisensi & Kejutan Manis
55
Bab 55 — Titipan Hangat di Desa
56
Bab 56 — Tiba di Kediaman Mewah Hendrawan
57
Bab 57 — Bantuan Amara, Menyusun Berkas
58
Bab 58 — Mata-Mata Julian Bertindak

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!