Gerbang Dunia Baru

Seminggu telah berlalu seperti kedipan mata. Hari yang dinantikan sekaligus ditakuti itu akhirnya tiba juga. Pagi-pagi sekali, saat kabut pegunungan masih tebal menyelimuti jalanan desa, suasana di halaman rumah sudah dipenuhi rasa haru.

Kini waktunya Dewi untuk kembali ke kota setelah masa mudiknya usai. Namun kali ini ia tidak melangkah sendiri. Di sisinya, ada Azizah yang berdiri tegak dengan sebuah tas ransel usang di punggung dan satu tas jinjing kain di tangannya. Semua pakaian terbaiknya yang tidak seberapa banyak sudah dikemas rapi di sana.

Laksmi berdiri di ambang pintu, merapatkan selendang batiknya ke bahu demi menghalau dinginnya angin subuh. Matanya yang mulai rabun tampak berkaca-kaca, menatap lekat cucu semata wayangnya yang kini bersiap melangkah keluar dari zona nyamannya.

Sebelum benar-benar melangkah ke luar pagar, Azizah berbalik. Ia meletakkan tas jinjingnya ke tanah, lalu mendekati sang nenek. Ia meraih tangan kanan Laksmi, mencium punggung tangan itu lama untuk menyalurkan seluruh rasa hormat dan cinta yang membuncah di dadanya.

Saat Azizah menegakkan tubuhnya, Laksmi segera memeluknya erat-erat.

“Hati-hati di jalan, Zah. Ingat syarat dari Nenek seminggu yang lalu. Jangan pernah telat mengabari Nenek,” bisik Laksmi dengan suara bergetar di telinga Azizah, “Turuti apa kata bibimu, dan selalu rajin bekerja di rumah majikanmu nanti.”

Azizah mengangguk pelan di dalam dekapan sang nenek. Ia melepaskan pelukan itu, lalu jemarinya bergerak lincah menyuarakan janji setianya.

‘Iya, Nek. Azizah akan selalu ingat. Nenek harus jaga kesehatan di rumah. Jangan terlalu lelah di ladang.’

Arif yang berdiri di samping Laksmi ikut menepuk bahu Azizah, “Jaga dirimu baik-baik di kota orang, Zah. Aku sudah menasihati Dewi agar selalu menjagamu.”

“Sudah, Yah, Bibi Laksmi... jangan menangis terus. Nanti kami malah ketinggalan bus di terminal,” sela Dewi mencoba mencairkan suasana yang terlanjur melankolis, walau matanya sendiri juga tampak berkaca-kaca. Dewi kemudian merangkul pundak Azizah, “Yuk, Zah. Kita berangkat sekarang.”

Azizah mengambil kembali tas jinjingnya. Sebelum benar-benar membalikkan badan menuju jalan raya tempat angkutan desa lewat, ia menatap rumah semen sederhananya untuk terakhir kali. Ada rasa berat yang menggelayuti hatinya, namun binar tekad di matanya mengalahkan segalanya.

Sepanjang perjalanan di dalam angkutan desa menuju terminal bus antarkota, Azizah hanya diam menatap keluar jendela. Ia memperhatikan jajaran pohon teh yang perlahan menghilang, digantikan oleh pemandangan perumahan yang semakin padat dan jalanan yang mulai melebar.

Bagi Azizah, setiap kilometer yang mereka tempuh adalah langkah yang membawanya semakin dekat ke gerbang dunia baru. Dunia yang asing, riuh, dan penuh tanda tanya bagi seorang wanita tunawicara sepertinya.

Sesampainya di terminal, Azizah tampak kelimpungan karena suasana yang begitu riuh dan sibuk. Klakson bus yang saling bersahutan, teriakan para kondektur yang mencari penumpang, serta hilir mudik orang-orang yang tergesa-gesa membuat wanita itu refleks berjalan sangat dekat di belakang Dewi sambil meremas tali tas jinjingnya dengan erat.

Setelah membeli tiket, mereka akhirnya naik ke atas bus ekonomi jurusan ibu kota. Beruntung, mereka masih mendapatkan tempat duduk kosong di baris tengah. Azizah memilih duduk di dekat jendela, sementara Dewi di sebelahnya. Begitu bus perlahan bergerak meninggalkan terminal dan melaju membelah jalan raya, ketegangan di bahu Azizah sedikit mengendur.

Dewi menoleh, menatap keponakannya yang sejak tadi terus menatap lurus ke luar jendela, memperhatikan deretan sawah yang lambat laun berganti menjadi ruko-ruko beton. Dewi menghela napas pendek, lalu menyentuh punggung tangan Azizah yang membuat wanita itu menoleh.

“Zah,” panggil Dewi setengah berbisik agar suaranya tidak tenggelam oleh deru mesin bus yang bising, “Mumpung perjalanannya masih jauh, Bibi mau bicara sedikit.”

Azizah mengangguk, memusatkan seluruh perhatiannya pada gerak bibir dan ekspresi wajah sang bibi.

“Keadaan di kota itu sangat berbeda dengan di desa kita,” ujar Dewi dengan raut wajah yang mendadak serius, “Di desa, semua orang saling kenal. Kalau ada apa-apa, tetangga pasti langsung menolong. Tapi di kota... orang-orangnya cenderung cuek dan hidup masing-masing. Tekanan di sana juga lebih tinggi, ritme kerjanya cepat.”

Dewi menjeda kalimatnya sejenak, menatap sepasang mata jernih Azizah dengan pandangan penuh perlindungan.

“Karena itu, kau harus benar-benar berhati-hati dan jaga diri. Jangan mudah percaya dengan orang asing yang bersikap terlalu baik di jalanan. Nanti kalau sudah sampai di rumah Nyonya besar, fokus saja dengan pekerjaanmu. Kalau ada hal yang membingungkan atau ada orang yang membuatmu tidak nyaman, langsung beri tahu Bibi. Jangan dipendam sendiri, ya?”

Azizah terdiam menyerap setiap untaian nasihat dari bibinya. Ia tahu, keterbatasannya yang tidak bisa bersuara akan menjadi tantangan ganda di lingkungan baru yang serba cepat itu. Namun alih-alih merasa takut, peringatan dari Dewi justru membuat kewaspadaannya meningkat.

Wanita itu tersenyum teduh, lalu menganggukkan kepalanya dengan mantap. Jemarinya bergerak lincah di atas pangkuan untuk memberikan jawaban.

‘Iya, Bi. Azizah akan selalu ingat nasihat Bibi. Azizah akan berhati-hati dan tidak akan merepotkan Bibi di sana.’

Dewi tersenyum lega melihat kedewasaan keponakannya, “Ya sudah, sekarang istirahatlah dulu. Perjalanan kita masih beberapa jam lagi. Tidurlah, biar nanti pas sampai kota badanmu tidak terlalu lelah.”

Azizah kembali menoleh ke arah jendela, menyandarkan kepalanya yang berbalut hijab pada kaca bus yang bergetar halus. Diiringi deru mesin dan nasihat sang bibi yang terngiang di telinga, ia perlahan memejamkan mata, membawa serta seluruh harapan dan doa neneknya ke kota tujuan.

......................

“Zah, bangun... sudah sampai.”

Dewi menggoyangkan bahu Azizah pelan. Azizah mengerjapkan matanya, perlahan mengumpulkan kesadaran. Ia melirik sekeliling dan mendapati kabin bus sudah kosong melompong. Wajahnya seketika merona karena malu. Ia buru-buru menyusun gerak isyarat.

‘Maaf, Bi, aku tertidur terlalu lama sampai tidak sadar.’

Dewi tertawa kecil, berniat menggoda keponakannya, “Iya, sampai-sampai ada sisa air liur di pipimu tuh!”

Sontak Azizah membelalakkan mata. Tanpa berpikir panjang, ia segera mengusap kedua pipinya dengan panik, memastikan kebenarannya. Namun tawa Dewi yang meledak membuatnya sadar bahwa ia baru saja dikerjai. Azizah mengembuskan napas panjang, menggelengkan kepala antara gemas dan lega karena ternyata wajahnya masih bersih.

Mereka pun bergegas turun dan mengambil tas dari bagasi bus yang panas. Udara kota yang pengap dan penuh polusi langsung menyambut mereka begitu kaki melangkah keluar terminal.

Dewi segera mengajak Azizah menuju pinggir jalan raya yang ramai. Di sana, Azizah terpaku. Matanya membulat melihat lautan pengendara motor dan mobil yang melaju sangat cepat, seolah-olah semuanya sedang dikejar sesuatu yang sangat mendesak. Kebisingan klakson yang bersahutan membuat jantungnya berdegup tidak beraturan.

“Kaget, ya?” Dewi terkekeh melihat ekspresi polos keponakannya, “Di kota memang seperti ini, Zah. Semua orang terburu-buru, tidak seperti di desa yang jalannya santai.”

Tidak lama kemudian, sebuah angkutan kota berwarna mencolok muncul dari kejauhan. Dewi segera mengulurkan tangan dengan sigap untuk menghentikannya. Mereka pun naik ke dalam angkot, berdesakan dengan penumpang lain, dan memulai perjalanan menuju kawasan perumahan tempat majikan Dewi berada. Azizah menatap pemandangan kota dari balik jendela angkot dengan perasaan campur aduk. Antara antusias, gugup, sekaligus siap menghadapi tantangan hidup yang baru.

Karena peraturan ketat dari pihak pengelola perumahan yang melarang angkutan umum masuk ke area dalam, akhirnya Dewi dan Azizah harus turun tepat di depan gerbang utama perumahan.

Baru saja menapaki pelataran di dekat gerbang, Azizah sudah dibuat takjub. Matanya memandang lurus ke arah sebuah plakat nama perumahan yang berukuran besar dan megah, disinari oleh lampu berwarna emas yang memberikan kesan mewah. Di desa mereka, tidak ada kompleks hunian semegah ini.

Sementara Azizah masih mengagumi pemandangan di depannya, Dewi mengeluarkan dompet untuk membayar ongkos angkot mereka. Setelah mengucapkan terima kasih, angkot itu pun seketika melaju pergi, meninggalkan mereka berdua di depan gerbang.

Dewi kemudian menepuk pundak Azizah, mengajaknya untuk melangkah masuk. Namun mereka tidak bisa langsung melenggang begitu saja. Perumahan elit ini memiliki sistem keamanan yang sangat ketat, sehingga setiap orang asing wajib melapor terlebih dahulu ke petugas keamanan yang berjaga di pos depan.

Untungnya, karena Dewi sudah bekerja cukup lama di sana dan sering keluar masuk untuk membelikan perlengkapan rumah majikannya, petugas keamanan yang sedang berjaga langsung mengenalinya.

“Eh, Mbak Dewi baru kembali dari mudik?” sapa petugas itu dengan ramah dari balik jendela pos. Namun pandangannya kemudian melirik ke arah wanita yang berdiri di samping Dewi, “Lalu, ini siapa, Mbak?”

Dewi tersenyum ramah, “Iya, Pak, baru sampai. Oh, ini Azizah, keponakan saya dari desa. Rencananya mau saya ajak bekerja juga di rumah Nyonya besar.”

Petugas itu mengangguk-angguk mengerti tanpa menaruh curiga, “Oh, begitu. Ya sudah, silakan masuk, Mbak Dewi,” ucapnya ramah sambil menekan tombol untuk membukakan portal keamanan otomatis bagi mereka.

Dewi berterima kasih lalu berpamitan, sementara Azizah memberikan anggukan kepala yang sangat sopan dengan senyum tulus, yang langsung dibalas dengan anggukan ramah pula oleh pria berseragam itu.

Begitu mereka melewati portal, hamparan jalanan aspal yang mulus dan bersih serta jajaran rumah-rumah megah berlantai dua langsung menyambut pandangan. Di tengah perjalanan menyusuri trotoar kompleks, Dewi menoleh ke arah Azizah.

“Zah, kita bakal jalan agak jauh ya ke dalam, soalnya posisi rumah Nyonya besar itu letaknya agak di area belakang, dekat taman ujung,” jelas Dewi memberi tahu agar keponakannya tidak kaget.

Azizah tersenyum tipis lalu menggerakkan tangannya, memberi kode bahwa hal itu sama sekali tidak menjadi masalah baginya. Berjalan kaki adalah kebiasaan sehari-harinya selama di desa, jadi jarak di perumahan ini tentu bukan halangan besar.

Dewi lalu melirik jam tangan digitalnya sejenak, “Untungnya waktu zuhur belum selesai. Jadi nanti begitu kita sampai di rumah dan menaruh barang-barang, kita bisa langsung salat tepat waktu di kamar belakang.”

Azizah mengangguk mengerti, hatinya merasa sedikit lega karena kewajiban ibadahnya tidak akan terlewat. Mereka berdua pun melanjutkan langkah kaki mereka, membelah keheningan kompleks elit itu, bersiap menghadapi babak baru yang sesungguhnya di balik dinding rumah megah sang majikan.

Terpopuler

Comments

Lilik Juhariah

Lilik Juhariah

ceritanya bagus aku suka

2026-06-19

0

lihat semua
Episodes
1 Langkah Awal
2 Tekad Azizah
3 Kabar Baik dari Kota
4 Gerbang Dunia Baru
5 Istana Sang Majikan
6 Hari Pertama Bekerja
7 Misteri Anak Sulung
8 Kedekatan yang mulai tumbuh
9 Saat Azizah Kehilangan Kesabaran
10 Restu yang tidak pernah ada
11 Permintaan Mengejutkan
12 Target Menantu
13 Penolakan Ezra
14 Keputusan Terpaksa
15 Pilihan Terakhir
16 Lamaran
17 Hari Pernikahan
18 Malam Pertama
19 Pindah Rumah
20 Tidak Sadar
21 Sikap Dingin
22 Kalah oleh ego
23 Akhirnya Tumbang
24 Diam-diam ketagihan
25 Kebaikan yang mengetuk hati
26 Panggilan Baru
27 Obat Lelah
28 Belanja Pertama
29 Ide Cemerlang
30 Kembali Berjarak
31 Kunjungan Mendadak
32 Kedatangan Ibu
33 Perdebatan Tanpa Akhir
34 Tuntutan Paksa
35 Sisa Mabuk
36 Jejak Masa Lalu
37 Bukan wanita desa biasa
38 Hubungan yang mulai mencair
39 Kembalinya Sang Kekasih
40 Aku bukan wanita lemah
41 Perbandingan yang mengganggu
42 Pesona Tidak Terduga
43 Sengatan Kecemburuan
44 Berani Melawan
45 Mulai Peduli
46 Peringatan untuk Ezra
47 Pengakuan di tengah malam
48 Momen Mustahil
49 Permintaan Konyol
50 Menjadi Tempat Berlindung
51 Melepasnya Pergi
52 Firasat Tidak Enak
53 Prinsip yang diuji
54 Akhirnya Terbongkar
55 Antara Hidup dan Mati
56 Masih Belum Sadar
57 Maaf yang terucap
58 Memilih Bertahan
59 Kesempatan Kedua
60 Pelukan Ternyaman
61 Sesi Terapi
62 Diperbolehkan Pulang
63 Batas yang meluruh
64 Saling Menyembuhkan
65 Cincin yang tersemat kembali
66 Telepon dari sang nenek
67 Memberi Solusi
68 Tanpa Firasat
69 Azizah Diculik
70 Mencari Tanpa Henti
71 Permainan Jahat
72 Pertaruhan Terakhir
73 Pengorbanan Cinta
74 Akhir Kejahatan
75 Pilihan Hati Azizah
76 Awal yang baru
77 Menjadi imam untuk pertama kalinya
78 Pulang ke desa
79 Permata yang tersembunyi
80 Anugerah Terindah [END]
81 Extra Part 01
Episodes

Updated 81 Episodes

1
Langkah Awal
2
Tekad Azizah
3
Kabar Baik dari Kota
4
Gerbang Dunia Baru
5
Istana Sang Majikan
6
Hari Pertama Bekerja
7
Misteri Anak Sulung
8
Kedekatan yang mulai tumbuh
9
Saat Azizah Kehilangan Kesabaran
10
Restu yang tidak pernah ada
11
Permintaan Mengejutkan
12
Target Menantu
13
Penolakan Ezra
14
Keputusan Terpaksa
15
Pilihan Terakhir
16
Lamaran
17
Hari Pernikahan
18
Malam Pertama
19
Pindah Rumah
20
Tidak Sadar
21
Sikap Dingin
22
Kalah oleh ego
23
Akhirnya Tumbang
24
Diam-diam ketagihan
25
Kebaikan yang mengetuk hati
26
Panggilan Baru
27
Obat Lelah
28
Belanja Pertama
29
Ide Cemerlang
30
Kembali Berjarak
31
Kunjungan Mendadak
32
Kedatangan Ibu
33
Perdebatan Tanpa Akhir
34
Tuntutan Paksa
35
Sisa Mabuk
36
Jejak Masa Lalu
37
Bukan wanita desa biasa
38
Hubungan yang mulai mencair
39
Kembalinya Sang Kekasih
40
Aku bukan wanita lemah
41
Perbandingan yang mengganggu
42
Pesona Tidak Terduga
43
Sengatan Kecemburuan
44
Berani Melawan
45
Mulai Peduli
46
Peringatan untuk Ezra
47
Pengakuan di tengah malam
48
Momen Mustahil
49
Permintaan Konyol
50
Menjadi Tempat Berlindung
51
Melepasnya Pergi
52
Firasat Tidak Enak
53
Prinsip yang diuji
54
Akhirnya Terbongkar
55
Antara Hidup dan Mati
56
Masih Belum Sadar
57
Maaf yang terucap
58
Memilih Bertahan
59
Kesempatan Kedua
60
Pelukan Ternyaman
61
Sesi Terapi
62
Diperbolehkan Pulang
63
Batas yang meluruh
64
Saling Menyembuhkan
65
Cincin yang tersemat kembali
66
Telepon dari sang nenek
67
Memberi Solusi
68
Tanpa Firasat
69
Azizah Diculik
70
Mencari Tanpa Henti
71
Permainan Jahat
72
Pertaruhan Terakhir
73
Pengorbanan Cinta
74
Akhir Kejahatan
75
Pilihan Hati Azizah
76
Awal yang baru
77
Menjadi imam untuk pertama kalinya
78
Pulang ke desa
79
Permata yang tersembunyi
80
Anugerah Terindah [END]
81
Extra Part 01

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!