Istri Bisu Pilihan Ibu

Istri Bisu Pilihan Ibu

Langkah Awal

Hamparan hijau kebun teh di lereng pegunungan itu masih diselimuti kabut tipis. Udara menjelang siang yang masih dingin berbaur dengan aroma segar dari pucuk-pucuk teh yang tengah dipetik oleh para buruh. Di antara belasan pekerja yang bergerak lincah menaruh hasil petikan ke dalam keranjang bambu di punggung mereka, ada Azizah dan sang nenek, Laksmi.

“Azizah,” panggil Laksmi dengan suara parau.

Wanita yang dipanggil itu menoleh. Sepasang mata jernihnya menatap sang nenek, menyiratkan tanya tanpa perlu sepatah kata pun keluar dari bibirnya.

Sambil memegangi pinggangnya yang tampak kaku, Laksmi tersenyum tipis, “Nenek istirahat sebentar di gubuk, ya? Punggung Nenek rasanya semakin hari semakin pegal.”

Bahu Azizah seketika merosot pelan. Tatapannya berubah sendu dan dipenuhi rasa bersalah. Dadanya sesak setiap kali melihat wanita lansia yang merawatnya sejak kedua orang tuanya tiada itu harus tetap memeras keringat di usia senja. Laksmi adalah pahlawan yang berhasil menyekolahkannya hingga tamat SMA, walau untuk itu, Azizah sudah harus ikut membantu memetik teh sejak masih berseragam sekolah. Sayangnya, sekeras apa pun mereka bekerja, melambungnya harga kebutuhan pokok belakangan ini membuat upah dari kebun teh tidak pernah benar-benar cukup.

“AZIZAH! BIBI LAKSMI!”

Sebuah teriakan nyaring memecah keheningan lereng gunung. Dari gubuk yang berada di ujung perkebunan, tampak seorang wanita melambai-lambai heboh sambil menyandang tas ransel besar.

Azizah menepuk pelan lengan neneknya, lalu jemarinya bergerak lincah membentuk gerakan isyarat.

‘Bibi Dewi pulang?’

Nenek Laksmi ikut mengernyit bingung, “Nenek juga tidak tahu, Zah. Tumben sekali bibimu itu pulang tidak mengabari dulu. Ayo, kita ke sana.”

Azizah mengangguk patuh. Ia melepas topi capingnya, merapikan sedikit hijab sport hitam yang dikenakannya, lalu berjalan beriringan menyelaraskan langkah kakinya dengan langkah ringkih sang nenek.

“Ya ampun, aku sangat merindukan kalian!” seru Dewi riang. Wanita itu langsung menghambur, memeluk erat Laksmi dan Azizah bergantian begitu mereka menginjakkan kaki di gubuk. Dewi adalah anak dari adik Laksmi yang merantau ke kota besar.

“Kapan kau sampai, Dewi?” tanya Laksmi.

“Aku baru saja sampai, Bi. Begitu turun dari bus, aku langsung ke sini.”

“Lho, kenapa kau tidak menemui ayahmu dulu di rumah?” sahut Laksmi lagi.

“Astaga, Bibi, aku sengaja ke sini karena mau menjemput kalian. Biar kita bisa pulang bersama,” jawab Dewi dengan senyum lebar. Pandangannya kemudian beralih pada Azizah, menatapnya dengan binar kagum, “Kau tambah cantik ya, Zah. Berapa tahun kita tidak bertemu, tahu-tahu kau sudah tumbuh sedewasa ini.”

Azizah tersenyum tulus, pipinya merona tipis. Tangannya kembali bergerak lincah membentuk isyarat yang sama.

‘Bagaimana kabar Bibi di kota?’

Dewi sempat tertegun beberapa saat, bola matanya bergerak ke atas. Ia tampak kebingungan karena sudah terlalu lama tidak mempraktikkan bahasa isyarat sejak bekerja di kota.

Melihat keponakannya yang kebingungan, Laksmi terkekeh pelan, “Azizah bertanya bagaimana kabarmu di sana.”

“Ah...” Dewi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, merasa agak sungkan, “Kabarku baik, Zah. Tapi aku cuma bisa pulang sebentar, mungkin semingguan saja. Setelah itu harus langsung kembali ke rumah majikanku.”

“Hanya seminggu?” Laksmi menghela napas, menatap Dewi dengan pandangan menyelidik khas orang tua, “Kau ini tidak ada niatan untuk berhenti bekerja di kota dan mulai mencari jodoh untuk menikah?”

Mendengar pertanyaan itu, bahu Dewi seketika layu, “Huh, urusan menikah lagi. Aku harus fokus kerja dulu, Bi. Urusan itu sama sekali belum lewat di pikiranku. Utang bank untuk menutup kebangkrutan usaha Ayah saja sampai sekarang belum lunas. Bagaimana bisa aku memikirkan pernikahan dalam kondisi seperti ini?”

Laksmi mengusap lembut punggung Dewi, memahami betul beban berat yang harus dipikul oleh keponakannya itu, “Kau anak yang berbakti, Dewi. Ya sudah, ayo kita pulang ke rumah. Tapi tunggu sebentar, ya, Nenek dan Azizah harus menimbang hasil panen teh hari ini dulu ke tempat pengepul di bawah.”

Dewi mengangguk paham. Mereka bertiga kemudian berjalan beriringan, menuruni jalan setapak perkebunan menuju area penimbangan.

Setelah menerima upah harian dari pengepul, mereka bertiga berjalan beriringan menuju desa. Letak pemukiman mereka memang berada tepat di lereng gunung. Meski begitu, akses jalannya cukup lebar untuk dilewati mobil karena sebagian area perkebunan teh ini dikembangkan menjadi tempat wisata, walaupun permukaannya masih berupa tanah merah yang dipenuhi kerikil.

Begitu melangkah masuk ke gerbang desa, kepulangan Dewi langsung menarik perhatian. Ia disapa ramah oleh para penduduk yang sedang beraktivitas di depan rumah. Alhasil, Azizah dan Laksmi harus beberapa kali menghentikan langkah, menunggu sabar karena Dewi sibuk meladeni obrolan dan sapaan para tetangga yang antusias.

Setelah berhasil lepas dari rentetan sapaan itu, mereka pun melanjutkan perjalanan hingga tiba di sebuah pelataran yang dikelilingi pagar bambu. Di dalam pagar itu, berdiri dua bangunan dengan halaman berukuran sedang yang tampak bersih dan terawat.

Satu bangunan di sebelah kiri terlihat lebih luas dengan lantai berbalut keramik hijau berkilap. Itu adalah rumah Dewi, bangunan yang berhasil didirikan saat ayahnya, Arif, masih berjaya dalam usahanya dahulu. Sementara di sisi kanannya, berdiri bangunan yang lebih sederhana. Rumah itu berbentuk memanjang, berbalut cat putih seadanya dengan lantai semen yang diperhalus tanpa keramik. Di sanalah tempat tinggal Azizah dan Laksmi menghabiskan hari-hari mereka.

Laksmi dan Arif adalah saudara kandung, dan sepetak tanah warisan dari orang tua merekalah yang menyatukan kedua rumah itu dalam satu pekarangan yang sama.

“Astaga, Dewi?!”

Arif yang sedang memegang selang untuk menyiram tanaman di halaman seketika mematikan aliran airnya. Pria paruh baya itu tampak terkejut, matanya membelalak menatap anak semata wayangnya yang tiba-tiba berdiri di depannya tanpa ada kabar sama sekali.

“Kau pulang, Nak?” tanya Arif, langsung melempar selang itu ke tanah dan melangkah cepat menghampiri Dewi.

Dewi tertawa lebar melihat ekspresi syok ayahnya. Ia langsung menyalangkan ranselnya ke samping dan menghambur ke pelukan sang ayah.

“Kejutan, Ayah! Aku sengaja tidak bilang-bilang supaya bisa melihat ekspresi kaget Ayah seperti ini.”

Arif memeluk erat putrinya, menyalurkan rasa rindu yang teramat dalam setelah bertahun-tahun terpisah jarak kota dan desa. Setelah pelukan terlepas, pandangan Arif beralih pada kakak kandungnya dan Azizah yang berjalan di belakang Dewi.

“Mbak Laksmi, Azizah, kalian barengan ketemunya?” tanya Arief beralih menyapa mereka.

Laksmi tersenyum sambil mengibas-ngibaskan capingnya untuk mengusir gerah, “Iya, Rif. Anakmu ini tiba-tiba muncul di kebun teh tadi. Membuat kami berdua sama kagetnya denganmu.”

Azizah melangkah mendekat, lalu dengan santun meraih tangan pria yang ia anggap kakek itu untuk mencium punggung tangannya sebagai tanda hormat. Arif langsung mengusap lembut kepala Azizah, merasa iba atas ketegaran wanita itu.

“Ya sudah, ayo masuk dulu. Di luar panas,” ajak Arif, “Dewi, bawa barang-barangmu masuk. Kau pasti lelah setelah perjalanan jauh dari kota.”

Sementara itu, Laksmi berpamitan untuk langsung kembali ke rumah mereka sendiri, “Rif, aku dan Azizah ke rumahku dulu, ya. Mau bersih-bersih badan, gerah sekali setelah bekerja di kebun.”

Sebelum langkah kaki nenek dan cucu itu menjauh, Dewi tiba-tiba menahan mereka, “Bibi, Azizah, tunggu sebentar!”

Laksmi dan Azizah serentak menoleh.

“Nanti malam jangan masak, ya. Datang ke rumahku,” ujar Dewi dengan senyum sumringah, “Aku mau mengadakan acara makan malam kecil-kecilan. Aku bawa banyak oleh-oleh dan makanan enak dari kota untuk kita makan sama-sama.”

Laksmi tersenyum dan mengangguk setuju, sementara Azizah mengacungkan jempolnya sambil tersenyum manis, mengisyaratkan bahwa ia tentu akan datang.

Setelah kesepakatan kecil itu, mereka pun berpisah. Masing-masing melangkah masuk ke dalam rumah, menutup pintu untuk membersihkan diri dan melepas lelah setelah beraktivitas di bawah terik matahari.

Begitu masuk ke dalam rumah, Azizah dan Laksmi segera meletakkan barang-barang keperluan panen ke gudang kecil yang terletak di samping dapur.

Azizah menatap neneknya, jemarinya bergerak lincah menyuarakan isi kepalanya.

‘Nek, jika Bibi Dewi tidak melunasi utang ayahnya, pasti uangnya sekarang sudah terkumpul banyak, ya?’

Laksmi melepas hijab jadulnya, lalu menyampirkannya di sandaran kursi kayu, “Tentu saja. Tapi bekerja sebagai pembantu di kota besar itu juga tidak mudah, Zah.”

‘Bukannya seorang pembantu sama saja seperti kita di rumah? Memasak, membersihkan rumah, dan tinggal patuh pada majikan?’ tanya Azizah lagi, menatap sang nenek dengan polos.

“Tidak semudah itu. Semua tergantung bagaimana tabiat majikannya,” sahut Laksmi sambil menghela napas pendek.

Azizah terdiam sejenak, lalu tangannya kembali bergerak.

‘Tapi sepertinya majikan Bibi Dewi orang baik. Buktinya Bibi betah bekerja di sana bertahun-tahun, bahkan sekarang hanya mengambil cuti seminggu.’

Laksmi menatap lekat wajah cucunya, mencoba menerka-nerka arah pembicaraan ini, “Jangan-jangan... kau sedang berpikir untuk mengikuti jejak bibimu bekerja di kota?”

Azizah yang merasa isi pikirannya ketahuan seketika tersentak. Ia menggelengkan kepala dengan cepat, lalu dengan gugup kembali menggerakkan tangannya.

‘Tidak, Nek. Aku hanya bertanya saja. Aku mandi dulu, ya.’

Tanpa menunggu balasan sang nenek, Azizah segera berbalik dan melangkah cepat menuju kamar untuk mengambil handuk.

Sementara itu, Laksmi hanya bisa berdiri terpaku, menatap punggung sang cucu yang menghilang di balik pintu kamar dengan perasaan campur aduk. Dada wanita tua itu mendadak terasa sesak oleh rasa kekhawatiran yang besar.

Malang sekali nasibmu, Nak. Jika suatu saat nenek sudah tidak ada di dunia ini, bagaimana kelak kau akan menjalani hidup sendirian dengan keterbatasanmu? Batin Laksmi pilu, menahan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya.

Episodes
1 Langkah Awal
2 Tekad Azizah
3 Kabar Baik dari Kota
4 Gerbang Dunia Baru
5 Istana Sang Majikan
6 Hari Pertama Bekerja
7 Misteri Anak Sulung
8 Kedekatan yang mulai tumbuh
9 Saat Azizah Kehilangan Kesabaran
10 Restu yang tidak pernah ada
11 Permintaan Mengejutkan
12 Target Menantu
13 Penolakan Ezra
14 Keputusan Terpaksa
15 Pilihan Terakhir
16 Lamaran
17 Hari Pernikahan
18 Malam Pertama
19 Pindah Rumah
20 Tidak Sadar
21 Sikap Dingin
22 Kalah oleh ego
23 Akhirnya Tumbang
24 Diam-diam ketagihan
25 Kebaikan yang mengetuk hati
26 Panggilan Baru
27 Obat Lelah
28 Belanja Pertama
29 Ide Cemerlang
30 Kembali Berjarak
31 Kunjungan Mendadak
32 Kedatangan Ibu
33 Perdebatan Tanpa Akhir
34 Tuntutan Paksa
35 Sisa Mabuk
36 Jejak Masa Lalu
37 Bukan wanita desa biasa
38 Hubungan yang mulai mencair
39 Kembalinya Sang Kekasih
40 Aku bukan wanita lemah
41 Perbandingan yang mengganggu
42 Pesona Tidak Terduga
43 Sengatan Kecemburuan
44 Berani Melawan
45 Mulai Peduli
46 Peringatan untuk Ezra
47 Pengakuan di tengah malam
48 Momen Mustahil
49 Permintaan Konyol
50 Menjadi Tempat Berlindung
51 Melepasnya Pergi
52 Firasat Tidak Enak
53 Prinsip yang diuji
54 Akhirnya Terbongkar
55 Antara Hidup dan Mati
56 Masih Belum Sadar
57 Maaf yang terucap
58 Memilih Bertahan
59 Kesempatan Kedua
60 Pelukan Ternyaman
61 Sesi Terapi
62 Diperbolehkan Pulang
63 Batas yang meluruh
64 Saling Menyembuhkan
65 Cincin yang tersemat kembali
66 Telepon dari sang nenek
67 Memberi Solusi
68 Tanpa Firasat
69 Azizah Diculik
70 Mencari Tanpa Henti
71 Permainan Jahat
72 Pertaruhan Terakhir
73 Pengorbanan Cinta
74 Akhir Kejahatan
75 Pilihan Hati Azizah
76 Awal yang baru
77 Menjadi imam untuk pertama kalinya
78 Pulang ke desa
79 Permata yang tersembunyi
80 Anugerah Terindah [END]
81 Extra Part 01
Episodes

Updated 81 Episodes

1
Langkah Awal
2
Tekad Azizah
3
Kabar Baik dari Kota
4
Gerbang Dunia Baru
5
Istana Sang Majikan
6
Hari Pertama Bekerja
7
Misteri Anak Sulung
8
Kedekatan yang mulai tumbuh
9
Saat Azizah Kehilangan Kesabaran
10
Restu yang tidak pernah ada
11
Permintaan Mengejutkan
12
Target Menantu
13
Penolakan Ezra
14
Keputusan Terpaksa
15
Pilihan Terakhir
16
Lamaran
17
Hari Pernikahan
18
Malam Pertama
19
Pindah Rumah
20
Tidak Sadar
21
Sikap Dingin
22
Kalah oleh ego
23
Akhirnya Tumbang
24
Diam-diam ketagihan
25
Kebaikan yang mengetuk hati
26
Panggilan Baru
27
Obat Lelah
28
Belanja Pertama
29
Ide Cemerlang
30
Kembali Berjarak
31
Kunjungan Mendadak
32
Kedatangan Ibu
33
Perdebatan Tanpa Akhir
34
Tuntutan Paksa
35
Sisa Mabuk
36
Jejak Masa Lalu
37
Bukan wanita desa biasa
38
Hubungan yang mulai mencair
39
Kembalinya Sang Kekasih
40
Aku bukan wanita lemah
41
Perbandingan yang mengganggu
42
Pesona Tidak Terduga
43
Sengatan Kecemburuan
44
Berani Melawan
45
Mulai Peduli
46
Peringatan untuk Ezra
47
Pengakuan di tengah malam
48
Momen Mustahil
49
Permintaan Konyol
50
Menjadi Tempat Berlindung
51
Melepasnya Pergi
52
Firasat Tidak Enak
53
Prinsip yang diuji
54
Akhirnya Terbongkar
55
Antara Hidup dan Mati
56
Masih Belum Sadar
57
Maaf yang terucap
58
Memilih Bertahan
59
Kesempatan Kedua
60
Pelukan Ternyaman
61
Sesi Terapi
62
Diperbolehkan Pulang
63
Batas yang meluruh
64
Saling Menyembuhkan
65
Cincin yang tersemat kembali
66
Telepon dari sang nenek
67
Memberi Solusi
68
Tanpa Firasat
69
Azizah Diculik
70
Mencari Tanpa Henti
71
Permainan Jahat
72
Pertaruhan Terakhir
73
Pengorbanan Cinta
74
Akhir Kejahatan
75
Pilihan Hati Azizah
76
Awal yang baru
77
Menjadi imam untuk pertama kalinya
78
Pulang ke desa
79
Permata yang tersembunyi
80
Anugerah Terindah [END]
81
Extra Part 01

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!