Istana Sang Majikan

Langkah kaki mereka akhirnya terhenti di ujung jalan kompleks. Azizah seketika terpaku di tempatnya berdiri, mendongak dengan mulut sedikit terbuka. Di hadapannya, berdiri sebuah bangunan megah berlantai dua dengan arsitektur modern yang didominasi warna putih bersih yang sangat indah.

Merasa tidak percaya dengan penglihatannya, Azizah perlahan menepuk bahu Dewi yang berdiri di sampingnya. Tangannya bergerak dengan ragu.

‘Bi, apa kita tidak salah alamat? Apa ini benar-benar rumah tempat Bibi bekerja?’

Dewi menoleh ke arah keponakannya, lalu tersenyum lebar sambil mengangguk pasti, “Tidak salah lagi, Zah. Ini memang tempat Bibi mengais rezeki selama ini. Kenapa, Zah? Bagus sekali ya rumahnya?”

Azizah mengangguk cepat tanpa mengalihkan pandangannya dari kemegahan bangunan itu. Jemarinya kembali bergerak lincah, menyuarakan kekagumannya yang luar biasa.

‘Bukan hanya bagus, Bi. Sepanjang perjalanan masuk dari gerbang depan tadi, dari semua rumah yang kita lewati, ini adalah rumah yang paling mewah dan besar.’

Dewi terkekeh pelan melihat kepolosan Azizah. Ia merapikan letak tas jinjingnya sebelum menjawab, “Tentu saja, Zah. Keluarga Nyonya besar itu bukan orang sembarangan. Kekayaan dan bisnis mereka sudah turun-menurun sejak dulu. Makanya rumahnya bisa semegah ini.”

Dewi kemudian menepuk pundak Azizah dengan lembut, menyadarkan gadis itu dari lamunannya, “Ayo, jangan melamun terus di depan pagar. Kita masuk sekarang.”

Begitu Dewi membuka pintu depan, suasana riuh langsung menyapa pendengaran mereka. Dari arah dalam rumah, terdengar suara tawa renyah seorang bayi yang bersahutan dengan gelak tawa orang-orang dewasa yang tampak sedang sangat terhibur.

Sebelum melangkah lebih jauh ke dalam ruang tamu yang megah itu, Dewi mendadak menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke arah Azizah, memberikan isyarat agar keponakannya ikut berhenti sejenak. Sebelum benar-benar masuk dan memperkenalkan Azizah, Dewi merasa perlu menjelaskan silsilah keluarga pemilik rumah ini agar keponakannya tidak kebingungan.

“Zah, sebelum kita masuk, Bibi jelaskan dulu ya siapa saja yang tinggal di rumah ini,” ucap Dewi setengah berbisik, “Nyonya besar di rumah ini bernama Nyonya Amisha. Beliau seorang janda setelah suaminya, Tuan Bakhtiar, meninggal dunia lima tahun yang lalu. Nyonya Amisha memiliki tiga orang anak. Yang pertama Tuan Ezra, yang kedua Tuan Darel, dan yang bungsu Nona Clara.”

Dewi menjeda kalimatnya sejenak sambil melirik ke arah sumber suara riuh di dalam, “Nah, Tuan Darel itu sudah menikah dengan Nona Windy. Suara bayi yang kita dengar tertawa senang dari tadi itu adalah anak mereka, namanya Nona Keira. Sedangkan anak bungsu Nyonya Amisha, Nona Clara, sekarang masih sekolah SMP kelas dua.”

Azizah mengangguk-angguk mengerti, otaknya dengan cepat merekam nama-nama penghuni rumah mewah itu. Namun ia menyadari ada satu hal yang janggal. Jemarinya segera bergerak, menanyakan soal anak pertama Nyonya Amisha yang tadi hanya disebutkan namanya tanpa penjelasan lebih lanjut oleh bibinya.

Melihat gerakan tangan Azizah, ekspresi wajah Dewi seketika berubah. Wanita itu tiba-tiba bergidik ngeri, membuat bahunya meremang.

“Ah, soal Tuan Ezra...” Dewi mendesah pelan dengan raut wajah tegang, “Dia tidak tinggal di rumah ini, Zah. Bahkan hampir tidak pernah datang berkunjung ke sini. Sudah lama sekali Bibi tidak melihat batang hidungnya.”

Melihat reaksi berlebihan dari bibinya, Azizah mengerutkan dahi. Ia kembali menggerakkan tangannya, bertanya penasaran kenapa Bibi Dewi tampak begitu ketakutan hanya karena membicarakan anak sulung keluarga ini.

Dewi refleks mendekatkan tubuhnya ke arah Azizah, lalu berbisik dengan nada yang sangat serius di dekat telinga keponakannya, “Tuan Ezra itu sangat berbeda dengan kedua adiknya, Zah. Dia itu luar biasa dingin dan punya watak yang sangat kaku. Tahu tidak? Hanya dengan dia lewat di depan kita saja, aura mistisnya itu sudah bisa membuat bulu kuduk berdiri!”

Mendengar penuturan dramatis dari bibinya, Azizah tidak bisa menahan diri. Bahunya berguncang pelan saat ia terkekeh tanpa suara. Tangannya bergerak cepat meledek sang bibi.

‘Bibi ada-ada saja. Memangnya Tuan Ezra itu hantu sampai bisa membuat bulu kuduk berdiri?’

Dewi langsung memundurkan tubuhnya dan berdecak kesal melihat keponakannya malah menganggap ceritanya sebagai lelucon, “Ih, dibilangin malah bercanda! Kau itu belum pernah bertemu langsung dengannya, Zah, makanya bisa mengira Bibi berlebihan begitu. Nanti kalau sudah lihat sendiri, baru tahu rasa!”

Dewi mengibas-ngibaskan tangannya di udara, mencoba mengusir rasa merinding yang sempat mampir, “Sudahlah, ayo kita masuk sekarang sebelum mereka sadar kita berdiri lama di ambang pintu.”

Dengan langkah yang kembali diatur sopan, Dewi menggandeng lengan Azizah untuk melangkah masuk ke dalam riuhnya suasana istana keluarga Amisha.

Begitu langkah kaki mereka melewati batas ruang tamu dan menuju ruang keluarga, pandangan semua orang seketika tertuju ke arah mereka. Suasana riuh yang tadinya dipenuhi tawa bayi langsung berganti dengan seruan ramah.

“Dewi! Wah, kau sudah sampai,” sapa Amisha dengan wajah yang berbinar gembira.

Sambutan hangat dari keluarga itu begitu tulus. Amisha bahkan langsung berdiri dari sofa mewahnya dan melangkah cepat untuk memeluk Dewi tanpa ragu sedikit pun. Setelah melepaskan pelukannya, wanita paruh baya yang tetap terlihat anggun itu memukul gemas bahu Dewi.

“Kau ini ya, kenapa tidak mengabari kalau sudah sampai terminal? Kan bisa minta tolong sopir di rumah untuk menjemput. Pasti repot kan bawa barang banyak begitu naik angkot,” omel Amisha dengan nada perhatian yang kental.

Dewi hanya tersenyum sopan dan membungkuk sedikit, “Aduh, tidak apa-apa, Nyonya. Saya bisa ke sini sendiri kok, sudah biasa juga. Oh iya, Nyonya...” Dewi menggeser sedikit tubuhnya ke samping, lalu mengarahkan tangannya ke arah gadis yang sejak tadi berdiri di belakangnya, “Ini keponakan saya yang waktu itu saya ceritakan. Namanya Azizah.”

Azizah menundukkan kepalanya dalam-dalam, memberikan penghormatan yang sangat sopan. Jantungnya berdegup kencang, bersiap menerima pandangan menilai atau canggung dari orang-orang kaya di hadapannya.

Namun respons yang ia terima justru benar-benar di luar dugaan Azizah. Alih-alih menatapnya dengan pandangan asing atau meremehkan, keluarga itu justru menatapnya dengan senyum yang sangat ramah. Amisha bahkan melangkah mendekat, lalu tanpa ragu menggenggam kedua tangan Azizah yang terasa dingin karena gugup.

“Oh, ini yang namanya Azizah? Manis sekali kau, Nak,” puji Amisha tulus. Ia mengusap punggung tangan Azizah dengan lembut, berusaha menyalurkan rasa hangat.

Sambil tetap memegangi tangan Azizah, Amisha mulai memperkenalkan anggota keluarganya satu per satu dengan sabar.

“Azizah, jangan sungkan, ya. Di sini seluruh keluarga kami sudah tahu bagaimana keadaanmu. Dewi sudah menceritakannya, dan kami sama sekali tidak keberatan. Kami semua berjanji akan membuat lingkungan kerja yang nyaman untukmu di sini. Anggap saja rumah sendiri.”

Mendengar kalimat itu, dada Azizah mendadak bergemuruh oleh rasa haru yang luar biasa. Matanya terasa panas dan berkaca-kaca. Di dalam benaknya, ia sempat mengira bahwa kehidupan menjadi pelayan di kota besar akan sangat kaku dan penuh tekanan. Namun hari ini, ia baru tahu bahwa ada majikan yang hatinya begitu mulia, menyambut kedatangan seorang asisten rumah tangga baru layaknya sedang menyambut anak sendiri.

“Iya, Azizah. Selamat datang di rumah kami, ya. Semoga betah bekerja di sini,” sahut Darel dari atas sofa, melambaikan tangannya dengan ramah.

“Selamat datang, Azizah. Nanti kalau ada apa-apa, jangan sungkan bicara lewat Mbak Dewi atau langsung ke kami, ya,” sambung Windy, istri Darel, yang ikut melemparkan senyum manisnya.

Tidak ketinggalan, Clara yang berada di karpet bulu bersama si kecil Keira ikut mendongak, “Selamat datang, Mbak Azizah! Kalau senggang temani aku bermain, ya!” serunya ceria, sementara bayi Keira di pangkuannya ikut mengoceh lucu seolah-olah mengerti bahwa rumah mereka baru saja kedatangan anggota baru.

Azizah hanya bisa tersenyum sangat lebar dengan air mata haru yang tertahan di sudut matanya. Ia mengangguk berkali-kali dan menempelkan kedua telapak tangannya di dada sebagai isyarat rasa terima kasih yang tidak terhingga atas sambutan yang begitu indah ini.

Amisha kemudian menepuk pelan bahu Dewi, “Dewi, bawa Azizah ke kamar belakang dulu saja. Kasihan pasti capek setelah perjalanan jauh. Tadi aku sudah minta Mbak Iyem untuk menyiapkan kamar kosong di sebelah kamarmu untuk Azizah.”

Dewi mengangguk patuh, “Baik, Nyonya. Terima kasih banyak.” Ia lalu melirik ke arah Azizah dan memberikan isyarat agar keponakannya itu segera mengikutinya.

Sementara mereka berdua mulai melangkah menjauh, Amisha kembali berjalan menuju sofa, lalu ikut duduk di karpet bulu untuk bergabung bermain bersama cucu tercintanya.

Sebelum benar-benar berbelok ke koridor arah dapur dan area belakang, Azizah sempat melirik ke belakang sekali lagi. Matanya menatap lurus ke arah ruang tengah, di mana keluarga hangat itu kini tengah berkumpul, tertawa, dan saling melempar candaan yang tulus. Pemandangan itu begitu indah di mata Azizah.

Dewi yang menyadari langkah keponakannya sedikit melambat segera menoleh. Ia tersenyum lembut melihat ekspresi wajah Azizah yang tampak penuh emosi.

“Kenapa, Zah? Kau baik-baik saja?” tanya Dewi pelan.

Azizah menatap bibinya, lalu mengangguk mantap. Jemarinya bergerak perlahan, mengekspresikan apa yang bergolak di dalam dadanya.

‘Aku baik-baik saja, Bi. Aku hanya masih terharu dan tidak menyangka akan mendapatkan respons sehangat itu dari orang-orang kaya seperti mereka.’

Dewi terkekeh pelan seraya merangkul pundak Azizah, membimbingnya berjalan menyusuri koridor rumah yang bersih berkilau, “Bibi kan sudah bilang, keluarga ini memang sangat baik dan memanusiakan kami yang bekerja di sini. Bibi sendiri merasa sangat beruntung bisa diterima bekerja di rumah ini sejak dulu.”

Sambil terus melangkah menuju area belakang, Dewi memanfaatkan momen itu untuk menjelaskan pembagian kerja di istana megah itu.

“Oh ya, Zah, biar kau tidak bingung nanti. Di rumah ini total ada lima orang pembantu termasuk Bibi. Nah, karena sekarang kau sudah bergabung, berarti jumlah kita ada enam orang. Di sini sistem kerjanya tidak kaku. Tidak ada yang tugasnya khusus hanya memasak atau khusus bersih-bersih saja. Semua pekerjaan dilakukan secara fleksibel, saling bahu-membahu dan melengkapi satu sama lain. Kalau untuk urusan halaman dan tanaman, tenang saja, sudah ada tukang kebun sendiri yang mengurusnya.”

Dewi menghentikan langkahnya tepat di depan sebuah pintu kayu bercat putih di koridor area belakang, “Nanti, setelah semuanya selesai beristirahat, Bibi akan mengenalkanmu ke teman-teman pembantu yang lain. Mereka semua orangnya asyik dan ramah kok. Oh ya, setelah ini kabari nenekmu lewat ponsel ayahku ya, agar nenekmu tahu kalau kau sudah sampai dengan aman.”

Azizah mengangguk-angguk mengerti, merasa hatinya jauh lebih tenang dan siap. Rasa takut yang sempat menghantuinya sebelum berangkat ke kota kini telah menguap, digantikan oleh semangat baru untuk mulai bekerja dengan giat di tempat yang luar biasa ini.

Episodes
1 Langkah Awal
2 Tekad Azizah
3 Kabar Baik dari Kota
4 Gerbang Dunia Baru
5 Istana Sang Majikan
6 Hari Pertama Bekerja
7 Misteri Anak Sulung
8 Kedekatan yang mulai tumbuh
9 Saat Azizah Kehilangan Kesabaran
10 Restu yang tidak pernah ada
11 Permintaan Mengejutkan
12 Target Menantu
13 Penolakan Ezra
14 Keputusan Terpaksa
15 Pilihan Terakhir
16 Lamaran
17 Hari Pernikahan
18 Malam Pertama
19 Pindah Rumah
20 Tidak Sadar
21 Sikap Dingin
22 Kalah oleh ego
23 Akhirnya Tumbang
24 Diam-diam ketagihan
25 Kebaikan yang mengetuk hati
26 Panggilan Baru
27 Obat Lelah
28 Belanja Pertama
29 Ide Cemerlang
30 Kembali Berjarak
31 Kunjungan Mendadak
32 Kedatangan Ibu
33 Perdebatan Tanpa Akhir
34 Tuntutan Paksa
35 Sisa Mabuk
36 Jejak Masa Lalu
37 Bukan wanita desa biasa
38 Hubungan yang mulai mencair
39 Kembalinya Sang Kekasih
40 Aku bukan wanita lemah
41 Perbandingan yang mengganggu
42 Pesona Tidak Terduga
43 Sengatan Kecemburuan
44 Berani Melawan
45 Mulai Peduli
46 Peringatan untuk Ezra
47 Pengakuan di tengah malam
48 Momen Mustahil
49 Permintaan Konyol
50 Menjadi Tempat Berlindung
51 Melepasnya Pergi
52 Firasat Tidak Enak
53 Prinsip yang diuji
54 Akhirnya Terbongkar
55 Antara Hidup dan Mati
56 Masih Belum Sadar
57 Maaf yang terucap
58 Memilih Bertahan
59 Kesempatan Kedua
60 Pelukan Ternyaman
61 Sesi Terapi
62 Diperbolehkan Pulang
63 Batas yang meluruh
64 Saling Menyembuhkan
65 Cincin yang tersemat kembali
66 Telepon dari sang nenek
67 Memberi Solusi
68 Tanpa Firasat
69 Azizah Diculik
70 Mencari Tanpa Henti
71 Permainan Jahat
72 Pertaruhan Terakhir
73 Pengorbanan Cinta
74 Akhir Kejahatan
75 Pilihan Hati Azizah
76 Awal yang baru
77 Menjadi imam untuk pertama kalinya
78 Pulang ke desa
79 Permata yang tersembunyi
80 Anugerah Terindah [END]
81 Extra Part 01
Episodes

Updated 81 Episodes

1
Langkah Awal
2
Tekad Azizah
3
Kabar Baik dari Kota
4
Gerbang Dunia Baru
5
Istana Sang Majikan
6
Hari Pertama Bekerja
7
Misteri Anak Sulung
8
Kedekatan yang mulai tumbuh
9
Saat Azizah Kehilangan Kesabaran
10
Restu yang tidak pernah ada
11
Permintaan Mengejutkan
12
Target Menantu
13
Penolakan Ezra
14
Keputusan Terpaksa
15
Pilihan Terakhir
16
Lamaran
17
Hari Pernikahan
18
Malam Pertama
19
Pindah Rumah
20
Tidak Sadar
21
Sikap Dingin
22
Kalah oleh ego
23
Akhirnya Tumbang
24
Diam-diam ketagihan
25
Kebaikan yang mengetuk hati
26
Panggilan Baru
27
Obat Lelah
28
Belanja Pertama
29
Ide Cemerlang
30
Kembali Berjarak
31
Kunjungan Mendadak
32
Kedatangan Ibu
33
Perdebatan Tanpa Akhir
34
Tuntutan Paksa
35
Sisa Mabuk
36
Jejak Masa Lalu
37
Bukan wanita desa biasa
38
Hubungan yang mulai mencair
39
Kembalinya Sang Kekasih
40
Aku bukan wanita lemah
41
Perbandingan yang mengganggu
42
Pesona Tidak Terduga
43
Sengatan Kecemburuan
44
Berani Melawan
45
Mulai Peduli
46
Peringatan untuk Ezra
47
Pengakuan di tengah malam
48
Momen Mustahil
49
Permintaan Konyol
50
Menjadi Tempat Berlindung
51
Melepasnya Pergi
52
Firasat Tidak Enak
53
Prinsip yang diuji
54
Akhirnya Terbongkar
55
Antara Hidup dan Mati
56
Masih Belum Sadar
57
Maaf yang terucap
58
Memilih Bertahan
59
Kesempatan Kedua
60
Pelukan Ternyaman
61
Sesi Terapi
62
Diperbolehkan Pulang
63
Batas yang meluruh
64
Saling Menyembuhkan
65
Cincin yang tersemat kembali
66
Telepon dari sang nenek
67
Memberi Solusi
68
Tanpa Firasat
69
Azizah Diculik
70
Mencari Tanpa Henti
71
Permainan Jahat
72
Pertaruhan Terakhir
73
Pengorbanan Cinta
74
Akhir Kejahatan
75
Pilihan Hati Azizah
76
Awal yang baru
77
Menjadi imam untuk pertama kalinya
78
Pulang ke desa
79
Permata yang tersembunyi
80
Anugerah Terindah [END]
81
Extra Part 01

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!