Dijemur?

Karena ini spin off dari novel Pesona Cassanova, diinfokan aja, ya, anak anak mereka😊

Anak Khalid& Ziza \= Dylan

Anak Ziyan&Vivian \= Emil

Anak Malik&Casaie\= Keyra

Anak Sean&Ariella\=Alen

Anak Quin \= Dira dan Vira

Anak Deva&Vina.\= Zio dan Gio

Anak Dewa&Emily \= Kian dan Azka

Anak Theo&Rubby \= Naresh dan Denish

Anak Shakti&Sheila\=Reyhan

"Kalian ngapain mau ikutan dijemur?" sindir Alen sambil menatap Reyhan, Emil dan Dylan yang tidak ikut berkelahi bersama mereka tadi. Tatapannya jelas meremehkan.

Reyhan tersenyum miring. Ngga mungkin dia, Dylan dan Emil melarikan diri dari hukuman yang baru pertama kali dijatuhkan pada kerabatnya.

"Kalo mereka ikut, lawan bakal kalah jumlah. Namanya ngga adil, kan," bela Denish santai sambil melirik Aditama yang menyeringai marah mendengarnya.

Alen tergelak, memprovokasi Aditama cs. Mahesa sampai mengeluarkan geraman marahnya. Dibanding yang lainnya, Mahesa teman terdekat Aditama.

Pagi ini tim Aditama belum full. Sudah lumrah mereka maen keroyok, karena anggota mereka lebih banyak dari Kian cs.

Berbeda dengan Kian cs yang mengandalkan tim dengan keanggotaan berdasarkan kekerabatan. Tim Aditama merekrut timnya berdasarkan pertemanan dan sebagiannya lagi karena hubungan bisnis orang tua mereka.

"Sampai kapan kita dijemur seperti ikan begini?" keluh Zio. Walaupun hari masih pagi, panas matahari sudah sangat menyengat.

"Aku akan minta papa memberikan sanksi pada Bu Elia," geram Mahesa sambil menyeka keringat yang mengalir di keningnya. Punggung seragamnya juga sudah basah. Dia memang paling gampang berkeringat. Apalagi dijemur di bawah terik matahari. Sebentar saja keringat sudah membanjiri tubuhnya. Mahesa melepas jas sekolahnya dan melemparkannya begitu saja karena tubuhnya sudah merasa sangat gerah

"Bu Elia berani sekali pada kita," dengus Bayu, salah satu anggota tim Aditama. Dia juga melakukan hal yang sama.

"Aku juga akan meminta papa melakukan hal itu," sambungnya lagi dengan nada marah. Dia juga melempar jasnya sembarangan.

"Aku akan meminta pengawal mengantarkan seragam baru untuk kita," ucap Reyhan. Dia paling awal melepaskan jasnya. Begitu juga Kian dan yang lainnya.

"Ini semua karena lo. Kalo lo ngga bikin gue marah, kita ngga akan dijemur begini." Aditama menatap Kian mangkel.

"Apa, sih, yang membuat lo selalu membela babu gue, hah?!" marah Aditama lagi. Dia ngga suka ada yang mengganggu kesenangannya.

"Babu, babu. Dasar majikan yang hanya bisa ngandalin uang orang tua," ejek Kian mebuat hati Aditama tambah panas.

"Uang orang tua gue, ya, uang gue. Lo orang luar, jangan ikut campur!" sentak Aditama lagi dengan tatapan makin horor.

"Jangan jangan si Kian beneran suka sama Wanda, Tama," kompor Bayu menyahuti. Tawa meremehkannya terdengar. Temen temannya juga ikut mengurai tawa.

Aditama menyeringai.

"Drama tuan muda yang menyukai gadis miskin." Mahesa ikut mengejek.

Tangan Kian mengepal.

"Lebih bagus lagi drama tuan muda yang menyukai babunya sendiri," skak math Denish, kemudian tergelak dengan perasaan sangat pu@s bersama kembarannya Naresh. Alen juga ikut mengeluarkan tawa kerasnya

Wajah Aditama makin merah membara. Harga dirinya dijatuhkan di depan teman dan lawannya.

"B@ngs@aaatt!" Tinjunya terarah pada Denish yang sudah mengeluarkan kalimat merendahkannya.

"Aku lawanmu, pecundang!" Kian yang ambil alih perkelahian ini.

Seperti dikomando, Mahesa dan yang lainnya juga langsung menghajar Denish cs. Perkelahian ngga berimbang pun terjadi. Reyhan, Dylan dan Emil terpaksa ikut serta dalam perkelahian ini. Tim Kian cs menang dari segi kuantitas dan kualitas.

Peluit kencang dan kepanikan para sekuriti kembali terdengar bersahut sahutan. Mereka yang diminta menjaga anak anak donatur ini kini berusaha keras meleraikan perkelahian mereka lagi.

*

*

*

Ezra-adik Ziza-maminya Dylan, diminta mewakili keluarga Kian cs datang menghadap guru BP. Laki laki yang masih menjomblo di usia yang sudah melewati angka tiga puluhan itu hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat seragam keponakan dan kerabatnya yang sudah kotor berlumuran tanah dan rumput. Wajah dan rambut mereka juga acak acakan.

Mereka berada di ruangan yang terpisah dari Aditama cs.

"Kalian maunya apa, sih Berantem melulu," omel laki laki yang belum laku itu gusar.

Kakaknya terpaksa menelponnya agar mengurus Dylan dan yang lainnya karena hari ini kebetulan dia dan para mami mereka sedang belanja bareng di Singapura. Butuh waktu dua jam untuk kembali dan mengurus masalah anak anak mereka di sekolah.

Sedangkan daddy daddy mereka kebetulan sedang sibuk meeting di.luar kota. Ezra yang berada di Jakarta terpaksa harus mengurusi masalah yang kerap terjadi ini.

Efek dari pergulatan kedua tim yang dilakukan di lapangan, Bu Elia akhirnya memutuskan untuk memanggil orang tua mereka lagi. Sekarang beliau sedang berada di ruang sebelah, tempat di mana Aditama cs berada bersama para walinya.

"Bukan kita yang mulai," cuit Gio membela diri. Kancing seragamnya hilang dua hingga kaos dalamnya terlihat jelas.

Harusnya kalian abaikan mereka, sungut Ezra dalam hati

"Kok, om, yang datang. Mami mana?" Dylan bertanya dengan heran. Baru kali ini maminya ngga datang ke sekolah.

"Mami kalian sedang shopping di Singapura." Ezra menatap penampilan keponakannya dengan miris. Bisa dia bayangkan perasaan Ziza yang selalu shock setiap tau putranya kerap berkelahi di sekolah. Mungkin bukan hanya Ziza saja, tapi mami mami mereka yang lain pasti juga punya perasaan yang sama.

Ezra merasa aneh dan pusing dengan generasi anak kakak kakaknya yang hobi berantem adu kekuatan fisik di sekolah. Beda dengan generasinya dulu, juga generasi daddy daddy mereka yang jauh dari perkelahian seperti ini.

Kian cs hanya ber oo aja meresponnya.

"Bu Elia mana? Kita mau pulang sekarang, nih. Aku gerah mau mandi." Alen melihat ke arah pintu.

"Gara gara Om Ezra datangnya telat, Bu Elia ke tempat si lemah itu duluan," omel Gio dengan lirikan kesal ke arah Ezra yang reflek mendelikkan matanya.

"Masih untung aku bisa datang, anak nakal." Ezra balas mengomel.

"jadi kita harus berterimakasih?" sindir Azka.

"Sepertinya begitu." Naresh yang sejak tadi diam saja juga mengeluarkan keluhannya. Dia sudah tidak tahan dengan kondisi tubuhnya. Basah dan kotor.

"Kalian ini....." Belum lagi Ezra meneruskan rutukannya, pintu ruangan terbuka.

Bu Elia datang. Wanita muda itu menatap Ezra dengan tatapan aneh, kemudian melihat ke sekitarnya.

Dia siapa?

Biasanya dia akan menemukan wajah wajah cantik nan anggun yang tersenyum lembut ke arahnya.

Elia berjalan pelan diiringi tatap ngga sabar dari para murid bengalnya. Sorot tatapan itu sama seperti yang dia dapatkan di ruang sebelah. Mungkin kalo dia bukan anak kepala sekolah Dharmawarsa, semua orang pasti akan memarahi tindakannya yang sudah berani beraninya menjemur anak anak dengan kekayaan dan kekuasaan yang hampir tanpa batas.

"Bu Elia, apakah kita sudah boleh pulang?" tanya Kian sambil berdiri setelah gurunya berjalan di dekatnya. Ucapannya terdengar sangat sopan.

"Kami mau mandi dan ganti baju, bu," sambung Denish. Walaupun AC sudah mendinginkan suhu tubuhnya, tapi tetap saja dia tidak suka lama lama mengenakan baju yang bekas keringat dan kotor.

"Aku belum pernah berkeringat dan sekotor ini, bu," sambung Alen ikut merengek menyuarakan isi hati yang lainnya juga.

Anak anak ini, batin Elia gemas. Jika saja tidak melihat kelakukan mereka di luar tadi, orang orang pasti akan menduga mereka anak anak yang manis. Apalagi mereka juga berprestasi.

"Bisa kita bicara sekarang? Maaf, waktu saya tidak banyak." Ezra juga ikut menyela sambil melihat jarum jam tangannya.

Elia melirik sebal pada satu satunya laki laki dewasa yang ada di ruangan ini. Perasaan dongkolnya makin menjadi jadi

Terpopuler

Comments

Bunda Keisha

Bunda Keisha

Anaknya Sakha blm lounching ya 🤣

2026-06-23

1

Rahmawati

Rahmawati

pantes aja bu elia berani hukum anak donatur, ternyata anak kepala sekolah

2026-06-06

1

✨@dian_$💫

✨@dian_$💫

Asyeeekkkk... bau-baunya Ezra vs Elia nih hihiiiii gasssss authoorr 🫶

2026-06-06

1

lihat semua
Episodes
1 Pagi ini di sekolah
2 Dijemur?
3 Mendapat hukuman tambahan
4 Siapa Wanda
5 Debat keluarga
6 Debat keluarga part dua
7 Permintaan Kian
8 Penyelidikan dimulai
9 Ke gap
10 Yang dilakukan Keyra
11 Ingatan masa lalu Panji
12 Nyaman Sesaat
13 Makian Nyonya Merelin
14 Hukuman rekayasa
15 Ancaman Dewa
16 Keraguan Ezra
17 Adu fisik lagi
18 Diselesaikan dengan mudah?
19 Perhatian Kian
20 Ketakutan Panji Hasta
21 Keputusan Panji sudah tidak bisa dirubah
22 Hari pertama di rumah Kian
23 Ke sekolah bersama Kian
24 Ponsel dari Kian
25 Di rumah si kembar Dira dan Vira
26 Dilamar Kian
27 Kecurigaan Aditama
28 Permintaan Kian
29 Rencana rencana tuan muda
30 Firasat Elia
31 Selalu ada masalah saat kencan
32 Ajakan Kencan
33 Rahasianya terbongkar?
34 Harapan Wanda
35 Kemarahan Aditama
36 Hati yang penuh benci
37 Dugaan Bayu
38 Marahnya Aditama dan hilal jodoh Ezra
39 Aksi lanjutan Ezra
40 Di kantin
41 Kelakuan Alen
42 Marahnya Kian
43 Kemarahan yang tertunda
44 Taktik Ezra
45 Sudah tau?
46 Sedikit info tentang Elia
47 Ezra yang perlu dibàntu
48 Dukungan penuh untuk Ezra
49 Masih Ezra Elia
50 Gerak cepat Kaysar
51 Mengajak Wanda pergi
52 Terbang bersama Wanda
53 Kebenarannya
54 Khilafnya Kian
55 Curiga
56 Melamar Elia
57 Kian khawatir
58 Bicara dari hati ke hati
59 Masih di rumah Elia
60 Tak disangka
61 Akhirnya diberitau
62 Bertemu keluarga Aditama lagi
63 Pemakaman Nenek Sunarni
64 Hasil pemeriksaan awal
65 Sakit yang beruntun
66 Diselamatkan Gio?
67 Bertemu di rumah sakit
68 Kekhawatiran Kian
69 Cemburu?
70 Penjelasan Richie
Episodes

Updated 70 Episodes

1
Pagi ini di sekolah
2
Dijemur?
3
Mendapat hukuman tambahan
4
Siapa Wanda
5
Debat keluarga
6
Debat keluarga part dua
7
Permintaan Kian
8
Penyelidikan dimulai
9
Ke gap
10
Yang dilakukan Keyra
11
Ingatan masa lalu Panji
12
Nyaman Sesaat
13
Makian Nyonya Merelin
14
Hukuman rekayasa
15
Ancaman Dewa
16
Keraguan Ezra
17
Adu fisik lagi
18
Diselesaikan dengan mudah?
19
Perhatian Kian
20
Ketakutan Panji Hasta
21
Keputusan Panji sudah tidak bisa dirubah
22
Hari pertama di rumah Kian
23
Ke sekolah bersama Kian
24
Ponsel dari Kian
25
Di rumah si kembar Dira dan Vira
26
Dilamar Kian
27
Kecurigaan Aditama
28
Permintaan Kian
29
Rencana rencana tuan muda
30
Firasat Elia
31
Selalu ada masalah saat kencan
32
Ajakan Kencan
33
Rahasianya terbongkar?
34
Harapan Wanda
35
Kemarahan Aditama
36
Hati yang penuh benci
37
Dugaan Bayu
38
Marahnya Aditama dan hilal jodoh Ezra
39
Aksi lanjutan Ezra
40
Di kantin
41
Kelakuan Alen
42
Marahnya Kian
43
Kemarahan yang tertunda
44
Taktik Ezra
45
Sudah tau?
46
Sedikit info tentang Elia
47
Ezra yang perlu dibàntu
48
Dukungan penuh untuk Ezra
49
Masih Ezra Elia
50
Gerak cepat Kaysar
51
Mengajak Wanda pergi
52
Terbang bersama Wanda
53
Kebenarannya
54
Khilafnya Kian
55
Curiga
56
Melamar Elia
57
Kian khawatir
58
Bicara dari hati ke hati
59
Masih di rumah Elia
60
Tak disangka
61
Akhirnya diberitau
62
Bertemu keluarga Aditama lagi
63
Pemakaman Nenek Sunarni
64
Hasil pemeriksaan awal
65
Sakit yang beruntun
66
Diselamatkan Gio?
67
Bertemu di rumah sakit
68
Kekhawatiran Kian
69
Cemburu?
70
Penjelasan Richie

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!