Siapa Wanda

"Kenapa bukan hukuman yang lain aja, sih?" omel Gio tiada henti saat sudah berada di dalam mobil. Mereka berada di tiga mobil yang berbeda.

"Aku masih ngga ngerti kenapa Aditama mau aja dihukum membersihkan kamar mandi. Kenapa dia ngga menego." Zio juga ikut mengomel.

"Aku yakin dia akan menyuruh orang lain yang melakukannya," tukas Naresh geram.

'Pastilah. Di dalam kepalanya, isinya hanya suka memerintah teman temannya saja," dengus Denish kesal.

"Begitulah dia. Apa lagi yang bisa dilakukan pecundang itu," kekeh Zio mengejek.

Tawa mereka pun terdengar. Tapi sama sekali tidak bahagia.

"Kian hanya niat menolong Wanda atau beneran suka dengannya, ya?" gumam Gio yang masih bisa di dengar ketiganya.

"Kadang ada juga perasaan suka yang berawal dari rasa kasian," analisa Naresh.

"Berarti dia berhutang banyak pada kita kalo nanti jadian dengan Wanda," kekeh Denish.

"Sangat banyak," sambung Zio dengan seringai penuh arti.

"Yaah, siap siap saja kita akan jadi tumbal hubungan mereka," canda Gio.

Tawa mereka meledak lagi, kali ini lebih lepas dan bermakna.

*

*

*

Di mobil yang lainnya.

"Dylan, lebih baik kita bantu Om Ezra biar jadian dengan Bu Elia," usul Alen.

"Yakin Bu Elia mau dengan Om Ezra?" Dylan menyahut pesimis.

"Aku heran dengan Om Ezra. Dia ganteng, kaya raya, tapi sulit dapat perempuan yang benar, buat dia nikahi." Emil ikut memberikan penilaiannya dengan menistakan Ezra.

"Kutukannya mungkin karena selalu php-in perempuan." Reyhan mengutarakan kecurigaannya.

"Mungkin juga." Azka menganggukkan kepalanya setuju.

"Kalo Bu Elia jadi pacarnya Om Ezra, kita akan punya banyak keuntungan. Misalnya saja bisa terhindar dari hukuman," tukas Alen sangat bersemangat.

"Masalahnya aku ngga yakin Bu Elia mau," sahut Dylan masih pesimis.

"Karena itu kita yang harus berusaha yakinkan bu Elia." Alen tetap yakin dengan rencananya.

"Kalo Om Ezra sudah pasti mau?" Emil menatap Alen yang menurutnya terlalu bersemangat untuk hal yang belum pasti.

"Dia sudah ngga bisa milih milih lagi. Usianya sudah tua. Siapa aja yang mau dengannya dan siap dinikahi, paati akan dia terima," cibir Alen membuat tawa Dilan tersembur.

Nasibmu, om.

"Kian, gimana pendapat lo. Dari tadi diam aja," colek Reyhan membuat Kian yang sedari tadi memikirkan hal lain, tersenyum.

"Otaknya sudah penuh dengan Wanda." Azka menyindir kembarannya dengam suara tenang.

"Kamu beneran suka Wanda, Kian?" todong Alen dengan tatapan mengarah tajam pada Kian.

Kian mengedikkan bahu.

"Aku ngga tega aja melihatnya. Maaf, ya, sudah bikin kalian kena hukuman juga."

"Santai aja. Kita sudah biasa konfrontasi dengan Aditama. Sekarang apes aja." Dylan yang menyahut maklum.

"Tapi Wanda cantik juga," cetus Emil.

"Jangan bilang kamu suka juga, Mil?" kekeh Alen mencoba membakar hati Kian.

Anehnya Kian sedikit merasa terusik dengan tuduhan Alen.

"Enggak. Ya, mungkin perasaanku sama kayak Kian. Kasian lihat perempuan selalu dikasarin begitu," jelas Emil dengan sekelumit senyumnya.

Kian sama sekali ngga merasa lega mendengarnya.

"Aku sudah menyelidikinya. Mendiang mamanya Wanda pernah jadi asisten papanya Aditama," tukas Azka.

"Meninggal tiga tahun yang lalu ," sambung Kian.

"Kalian berdua kompak sekali," ejek Alen.

"Namanya juga kembar," kekeh Reyhan.

"Si Kian penasaran, karena Wanda selalu nurut aja disuruh suruh sama Aditama." jelas Azka sambil melirik Kian.

Kian memandang keluar jendela mobil.

"Jadi aku membantu Kian mencari tau tentang Wanda," sambung Azka.

"Papanya kerja di Hasta grup?" Emil kepo juga.

Azka menggelengkan kepalanya.

"Kami tidak menemukan siapa papanya dan ada dimana. Mamanya Wanda sudah lama keluar dari Hasta grup." Azka menjawab lagi.

"Papanya Wanda bukan papanya Aditama, kan?" ceplos Alen ngawur.

"Kayaknya bukan. Kalo papanya sama, Aditama ngga mungkin memperlakukannya dengan kasar, kan," tukas Dylan meminta pendapat mereka.

"Kenapa enggak? Bisa saja Aditama ngga terima papanya selingkuh," ngeyel Alen.

Hening. Kata kata Alen cukup mempengaruhi mereka juga.

"Tapi kalo anak selingkuhan papanya, pasti Aditama akan melakukan yang lebih dari ini," pungkas Reyhan.

Kian dan Azka.saling tatap. Juga Emil dan Reyhan. Mereka paham maksud ucapan Reyhan. Aditana sosok yang be-ngis dan ngga kenal kasihan terhadap orang yang dibencinya.

"Karena cuma dijadikan babu, pasti karena pecundang itu memang menganggapnya babu. Begitu, kan?" simpul Alen.

"Iya, sih. Neneknya Wanda sudah lama mengabdi jadi asisten rumah tangga di rumah Aditama. Mungkin karena itu Wanda di sekolah, kan, di sini bareng Aditama," jelas Kian. Tapi hatinya jadi tergelitik ingin tau siapa papanya Wanda.

Kalo memang Wanda anak selingkuhan papanya Aditama, kondisinya akan lebih menderita dari sekarang jika Aditama sudah tau. Mungkin sekarang Aditama belum tau.

Ah... Kian mencoba mengusir dugaan buruknya.

"Oooh.... Jadi karena neneknya udah jadi pembantu lama ditambah mamanya Wanda juga kerja sama bokapnya, jadi Aditama merasa Wanda pembantunya juga." Reyhan menghembuskan nafas panjang setelah mengatakannya. Dia mulai merasa nasib Wanda sangat menyedihkan. Jadi pembantu sampai tiga generasi.

"Lo beneran ngga suka sana Wanda?" Alen mengganggu Kian lagi dengan pertanyaannya.

"Kadang kadang perasaan kasian lama lama bisa berubah jadi cinta," cuit Dylan. Senyumnya melebar.

Reyhan, Emil dan Azka tertawa pelan. Sedangkan Alen langsung ngakak.

Kian ngga menyahut. Ekspresinya datar.

"Kalo kalian sampai jadian, kita bisa minta apapun, kan. Soalnya kita yang babak belur," hasut Alen.

"Karena perjalanan cinta mereka masih panjang, siap siap aja kita makin babak belur." Azka menyahut kalem, tapi tawa Alen makin keras terdengar.

Kian hanya menyipitkan matanya melihat ejekan kembaran dan kerabatnya.

*

*

*

PLAK!

Tubuh Wanda agak terdorong begitu pipinya ditampar dengan sangat keras. Terasa sangat perih dan panas.

Aditama terdiam melihat raut murka mamanya. Tapi tidak ada keterkejutan di matanya, karena dia sudah pernah melihat Wanda ditampar oleh mamanya.

Hanya terselip perasaan bingung.di pikirannya, kenapa mamanya tidak mengusir Wanda saja kalo membencinya.

Tapi mamanya bersikap baik pada nenek Sumarni, juga pada pelayan lainnya. Hanya pada Wanda sikap mamanya berbeda.

"Kamu malah menyusahkan anakku. Dasar tidak tau diri!" maki Merelin-mamanya Aditama.

'Nyonya, maafkan cucu saya." Nenek Wanda, Sunarmi, langsung bersujud tepat di ujung kaki Merelin-nyonya besarnya.

Merelin tidak menjawab, dia melihat gadis yang masih tetap berdiri dengan tangan yang memegang pipinya yang terdapat tanda merah kelima jarinya.

"Wanda! Ayo, minta maaf!" perintah Nenek Sunarmi ketika menyadari tatapan nyonyanya pada Wanda-cucunya yang masih saja berdiri tegak.

Wanda tersentak mendengar bentakan neneknya. Dia masih terpaku akibat tamparan sang nyonya tadi.

Karena melihat cucunya masih belum menuruti kata katanya, Nenek Sunarmi menarik tangan cucunya hingga jatuh berlutut di hadapan Nyonya Merelin.

Wanda mengernyit menahan sakit di lututnya yang beradu keras dengan lantai. Dia menggigit kuat kuat bibirnya agar suara teriakannya tidak terdengar.

Satu tangan Nenek Sunarmi menekan kepala Wanda hingga keningnya menyentuh lantai. Bersujud sama seperti dirinya di hadapan majikan yang sudah lama diabdinya.

"Ada apa ini, ma. Bik Sunarmi, bangunlah." Terdengar suara Panji Hasta-papanya Aditama. Beliau baru saja tiba di rumah.

Istrinya mendengus kemudian pergi tanpa berkata apa apa.

Aditama melihat papanya menghela nafas panjang.

Seingatnya sudah tiga tahun hubungan mama dan papanya tidak seharmonis dulu.

Terpopuler

Comments

Pujierde

Pujierde

sepertinya dugaan kian cs benar klo wanda anaknya selingkuhannya papanya aditama

2026-06-20

1

Rahmawati

Rahmawati

hmmm. sepertinya kecurigaan kian ada bener nya, Wanda anaknya tuan hasta

2026-06-07

1

sleepyhead

sleepyhead

Kompor bgt si Alen, demen bgt kalau situasi begini

2026-06-07

1

lihat semua
Episodes
1 Pagi ini di sekolah
2 Dijemur?
3 Mendapat hukuman tambahan
4 Siapa Wanda
5 Debat keluarga
6 Debat keluarga part dua
7 Permintaan Kian
8 Penyelidikan dimulai
9 Ke gap
10 Yang dilakukan Keyra
11 Ingatan masa lalu Panji
12 Nyaman Sesaat
13 Makian Nyonya Merelin
14 Hukuman rekayasa
15 Ancaman Dewa
16 Keraguan Ezra
17 Adu fisik lagi
18 Diselesaikan dengan mudah?
19 Perhatian Kian
20 Ketakutan Panji Hasta
21 Keputusan Panji sudah tidak bisa dirubah
22 Hari pertama di rumah Kian
23 Ke sekolah bersama Kian
24 Ponsel dari Kian
25 Di rumah si kembar Dira dan Vira
26 Dilamar Kian
27 Kecurigaan Aditama
28 Permintaan Kian
29 Rencana rencana tuan muda
30 Firasat Elia
31 Selalu ada masalah saat kencan
32 Ajakan Kencan
33 Rahasianya terbongkar?
34 Harapan Wanda
35 Kemarahan Aditama
36 Hati yang penuh benci
37 Dugaan Bayu
38 Marahnya Aditama dan hilal jodoh Ezra
39 Aksi lanjutan Ezra
40 Di kantin
41 Kelakuan Alen
42 Marahnya Kian
43 Kemarahan yang tertunda
44 Taktik Ezra
45 Sudah tau?
46 Sedikit info tentang Elia
47 Ezra yang perlu dibàntu
48 Dukungan penuh untuk Ezra
49 Masih Ezra Elia
50 Gerak cepat Kaysar
51 Mengajak Wanda pergi
52 Terbang bersama Wanda
53 Kebenarannya
54 Khilafnya Kian
55 Curiga
56 Melamar Elia
57 Kian khawatir
58 Bicara dari hati ke hati
59 Masih di rumah Elia
60 Tak disangka
61 Akhirnya diberitau
62 Bertemu keluarga Aditama lagi
63 Pemakaman Nenek Sunarni
64 Hasil pemeriksaan awal
65 Sakit yang beruntun
66 Diselamatkan Gio?
67 Bertemu di rumah sakit
68 Kekhawatiran Kian
69 Cemburu?
70 Penjelasan Richie
Episodes

Updated 70 Episodes

1
Pagi ini di sekolah
2
Dijemur?
3
Mendapat hukuman tambahan
4
Siapa Wanda
5
Debat keluarga
6
Debat keluarga part dua
7
Permintaan Kian
8
Penyelidikan dimulai
9
Ke gap
10
Yang dilakukan Keyra
11
Ingatan masa lalu Panji
12
Nyaman Sesaat
13
Makian Nyonya Merelin
14
Hukuman rekayasa
15
Ancaman Dewa
16
Keraguan Ezra
17
Adu fisik lagi
18
Diselesaikan dengan mudah?
19
Perhatian Kian
20
Ketakutan Panji Hasta
21
Keputusan Panji sudah tidak bisa dirubah
22
Hari pertama di rumah Kian
23
Ke sekolah bersama Kian
24
Ponsel dari Kian
25
Di rumah si kembar Dira dan Vira
26
Dilamar Kian
27
Kecurigaan Aditama
28
Permintaan Kian
29
Rencana rencana tuan muda
30
Firasat Elia
31
Selalu ada masalah saat kencan
32
Ajakan Kencan
33
Rahasianya terbongkar?
34
Harapan Wanda
35
Kemarahan Aditama
36
Hati yang penuh benci
37
Dugaan Bayu
38
Marahnya Aditama dan hilal jodoh Ezra
39
Aksi lanjutan Ezra
40
Di kantin
41
Kelakuan Alen
42
Marahnya Kian
43
Kemarahan yang tertunda
44
Taktik Ezra
45
Sudah tau?
46
Sedikit info tentang Elia
47
Ezra yang perlu dibàntu
48
Dukungan penuh untuk Ezra
49
Masih Ezra Elia
50
Gerak cepat Kaysar
51
Mengajak Wanda pergi
52
Terbang bersama Wanda
53
Kebenarannya
54
Khilafnya Kian
55
Curiga
56
Melamar Elia
57
Kian khawatir
58
Bicara dari hati ke hati
59
Masih di rumah Elia
60
Tak disangka
61
Akhirnya diberitau
62
Bertemu keluarga Aditama lagi
63
Pemakaman Nenek Sunarni
64
Hasil pemeriksaan awal
65
Sakit yang beruntun
66
Diselamatkan Gio?
67
Bertemu di rumah sakit
68
Kekhawatiran Kian
69
Cemburu?
70
Penjelasan Richie

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!