Debat keluarga

"Kenapa hobi banget adu fisik, sih, sayang?" Emily yang baru pulang sore harinya langsung menyidang putra kembarnya. Dewa suaminya juga ada di sampingnya.

"Aku ngga tahan, mam, melihat perempuan diperlakukan dengan kasar." Kian mengeluarkan unek uneknya, membela diri.

Kening Emily berkerut.

"Perempuan?" tanyanya ngga paham.

Dewa menatap Kian lebih serius.

"Iya, mam." Kian menyahut tenang

"Teman di sekolah, mam." Azka menambahkan.

"Maksudnya putranya Panji Hasta memperlakukan perempuan dengan kasar?" Dewa ikut menginterogasi.

Kian mengangguk.

"Keluarga Wanda bekerja di rumah Aditama. Neneknya asisten rumah tangga yang sudah bekerja sejak lama. Mendiang mamanya pernah jadi asisten papanya. Jadi dia menganggap Wanda asistennya juga," ungkap Kian mejelaskan silsilah keluarga Wanda.

"Ooh... Jadi Wanda itu perempuan yang diperlakukan kasar?" Emily menatap Kian penuh makna.

"Ya, dikata-in babu, disuruh suruh. Sampai didorong. Aku kasian, mam," ungkap Kian agak menggebu gebu.

Emily bertatapan dengan Dewa. Baru kali ini kedua putranya membahas perempuan di luar Keyra, Dira dan Vira atau kerabat mereka yang lain. Terutama Kian.

"Jadi kalian bela-in sampai akhirnya berkelahi rame rame?" Dewa mengangguk anggukkan kepalanya, mulai mengerti akar masalah kali ini. Karena Ezra tidak menjelaskan dengan detil waktu ditanya. Hanya mengatakan tentang hukuman mereka dan soal ganti rugi saja.

"Dia yang mulai duluan. Kita hanya melayani aja," sahut Kian anteng. Cengirannya terlihat jelas.

Emily tersenyum, begitu juga Dewa.

"Jadi mau sampai kapan begini terus? Berkelahi karena perempuan. Yang melibatkan banyak orang lagi." Emily melepaskan nafas panjang. Kalo begini, sampai kelulusan di tiga tahun ke depan, putranya dan putra putra kerabatnya akan selalu bermasalah.

"Kalo berantem fisik di sekolah cukup sampai hari ini, mam. Soalnya guru BP yang baru ngasih hukuman berat banget," lapor Kian dengan wajah berubah be-te.

Alis Emily berkerut.

"Masih Bu Elia, kan?" Seingatnya Bu Elia baru dua minggu yang lalu bekerja di sekolah putra kembarnya. Mereka sudah pernah bertemu.

Masa diganti lagi?

"Masih, mam. Kan, hitungannya belum lama." Azka yang menyahut

"Kata Ezra kalian harus membersihkan kamar mandi selama satu minggu, bergantian dengan putranya Panji Hasta. Begitu?" Dewa tersenyum sedikit lebar

Kian menghembuskan nafas panjang.

"Kalo kami berkelahi lagi, hukumannya diperpanjang satu bulan."

Emily dan Dewa serentak tergelak

"Ya, udah, jangan kelahi lagi," nasehat Emily sambil mengacak gemas rambut Kian.

"Susah, mam. Aditama itu kompor yang gampang meledak," omel Kian.

Emily menghembuskan nafas pelan. Masalah putranya seperti biasa, pasti akan berlanjut.

"Azka. Kamu dengan yang lainnya ngga masalah ikut dihukum?" tanya Dewa mengalihkan pembicaraan.

"Mau gimana lagi, dad. Aditama itu suka keroyokan."

"Kalo gitu ngga ada solusinya," tukas Dewa sambil menatap Azka dan Kian bergantian.

"Kalian bakal ngegantiin tugas pembantu sekolah membersihkan kamar mandi selama tiga tahun," sambungnya kemudian tertawa lagi. Meledek kekesalan yang ada di wajah putra kembarnya.

Azka dan Kian menatap horor pada daddynya.

"Laen kali, sayang, pikir dulu sebelum menyesal nantinya," nasehat Emily lagi.

Kian dan Azka sama sama menghembuskan nafas kesal.

"Dad, bisakah kita saja yang membayar uang sekolah Wanda?" usul Kian setelah keheningan sempat tercipta.

Tawa Emily dan Dewa sudah mereda.

"Biar Aditama ngga kasar kasar lagi sama Wanda?" Emily yang menyahut.

Kian mengangguk.

"Biar kita juga ngga bersihin kamar mandi lagi, mam," tambah Azka.

"Oke. Nanti daddy bicarakan sama papanya Aditama," janjinya ngga yakin perseteruan anak anak mereka akan berakhir. Wanda hanya satu saja dari sekian keributan yang mereka lakukan.

Wajah putra kembarnya tampak berbinar.

"Thank's, dad." Kian benar benar lega mendengarnya.

Sikap putranya membuat Dewa curiga.

"Kian, kamu suka dengan Wanda?" todong Dewa membuat Kian agak berubah ekspresinya.

Emily sekarang fokus menatap Kian, menunggu jawabannya.

Kian menggelengkan kepalanya lebih dulu sebelum menjawab pertanyaan daddynya.

"Aku kasian aja melihatnya, dad." Saat mengatakan penyangkalannya, hati Kian merasa ngga nyaman.

Dia juga bingung kenapa merasa begini. Beberapa kali menolong Wanda karena Kian merasa cewe itu wajib dia tolong. Apalagi Wanda terlihat nurut saja menerima perlakuan yang ngga seharusnya dia dapatkan.

Emily dan Dewa menganggukkan kepala mereka. Tidak i bertanya lagi yang bisa menyudutkan Kian.

"Oke, besok daddy akan janjian ketemu Papanya Aditama. Tapi kalo mereka menolak, daddy ngga bisa maksa. Itu privasi mereka."

"Oke, dad." Kian tau keberhasilannya mungkin nol koma nol nol nol persen. Tapi setidaknya dia sudah mengusahakan yang terbaik buat Wanda.

Anehnya dia merasa perutnya mendadak mulas tapi bukan seringai sakit yang ada di wajahnya, melainkan sekelumit senyum.

*

*

*

"Pa, Bu Elia bisa dipecat?" tanya Aditama yang menyusul papanya ke ruang kerjanya.

Langkah Panji Hasta terhenti. Tubuhnya berbalik menatap putranya yang hanya berjarak dua meter saja darinya.

"Kenapa harus dipecat?"

Aditama menghembuskan nafas kesal.

"Dia berani sekali menjemur kami dan menyuruh membersihkan kamar mandi selama satu minggu," omel Aditama mengeluarkan unek uneknya.

"Kenapa kalian hobi banget bertengkar? Setau papa, ini pertengkaran yang sudah kesekian kalinya." Panji Hasta berkata setelah duduk di sofanya. Tubuh lelahnya menyandar.

Selain di sekolah, anaknya juga pernah berantem di luar sana. Tiap ketemu kalo lagi nongkrong, buntutnya berkelahi. Untung saja para orang tua bisa menganankan situasi hingga tidak ada aparat yang terlibat.

"Kian yang mulai, pa," sergah Aditama ngga mau disalahkan. Dia duduk di sofa yang berada di depan papanya.

"Kali ini masalahnya apa? Sampai dapat hukuman begitu?"

"Dia mengganggu Wanda."

Alis Panji berkerut. Rasanya aneh mendengar kata kata putranya. Dia cukup mengenal orang tua Kian, juga kerabatnya.

"Pokoknya dia mengganggu Wanda. Aku ngga suka."

Panji menghela nafas berat.

"Jadi pertengkaran kali ini karena Wanda?"

Aditama menganggukkan kepalanya.

"Oh ya, papa bisa pecat Bu Elia?"

Panji Hasta menggeleng.

"Kenapa?"

"Bu Elia anak bu kepala sekolah yang juga pemilik.yayasan Dharnawarsa."

Aditama terhenyak. Di luar dugaannya. Pantasan guru BP itu berani sekali menghukum mereka.

"Kalo begitu aku mau pindah sekolah."

Panji Hasta tertawa pelan.

'Pindah karena takut dengan Kian?" pancingnya.

Aditama mendengus jengkel. Panji tertawa melihat anaknya yang memang memiliki sumbu pendek. Gampang meledak.

"Aku ngga takut sama dia, pa. Aku ngga mau terus terusan bersihin kamar mandi."

Papanya masih tertawa.

"Ya, sudah. Jangan cari masalah lagi dengan Kian atau siapa pun. Kamu harus serius sekolah. Siapa lagi nanti yang akan ngurusin bisnis papa kalo bukan kamu."

Aditama terdiam.

"Latihan sabar. Nanti kalo kamu sudah gantiin papa, akan sulit dapat klien kalo kamu gampang naik darah."

"Aku masih SMA, Pa. Masih jauh," ngeles Aditama.

"Karena masih jauh makanya dimulai dari sekarang. Kian juga bakal gantiin papanya. Masa kalian masih mau gontok gontokan juga nantinya?"

Rahang Aditama mengeras. Karena bukan solusi yang dia dapatkan dari papanya.

"Selain Kian, kamu juga pernah berantem dengan Alen, Denish, Gio. Mereka semua itu bakal jadi bos, sama kayak kamu. Kamu akan butuh mereka untuk berbisnis."

"Aku ngga perlu berbisnis dengan mereka. Aku sudah punya Mahesa dan teman teman pendukungku yang lain," sanggah Aditama keras kepala.

Panji Hasta mengangguk anggukkan kepalanya.

"Dunia itu berputar, Tama. Mungkin nanti kamu akan butuh mereka."

"Nggak akan pernah, pa."

Terpopuler

Comments

sleepyhead

sleepyhead

Hi Emily Hi Dewa long time no see...
dah jadi parenting aja niiih...

seorang Ibu lebih peka dengan anak lelakinya bukan karena iba, tapi karena ibu pernah menjadi wanita dan pernah menjadi anak juga.
jadi ibu paham dua sisi: sisi anak yang lagi belajar suka, dan sisi wanita yang sedang dilihat dan berawal dr rasa iba...

2026-06-08

1

Pujierde

Pujierde

nah begini didikan orang tua yang benar orang kaya tp lowprofile gak membela anaknya krn memang anaknya yang salah 👍👍

2026-06-20

1

Rahmawati

Rahmawati

calon penerus perusahaan besar, suatu saat pasti kalian akan ketemu karna urusan bisnis

2026-06-08

1

lihat semua
Episodes
1 Pagi ini di sekolah
2 Dijemur?
3 Mendapat hukuman tambahan
4 Siapa Wanda
5 Debat keluarga
6 Debat keluarga part dua
7 Permintaan Kian
8 Penyelidikan dimulai
9 Ke gap
10 Yang dilakukan Keyra
11 Ingatan masa lalu Panji
12 Nyaman Sesaat
13 Makian Nyonya Merelin
14 Hukuman rekayasa
15 Ancaman Dewa
16 Keraguan Ezra
17 Adu fisik lagi
18 Diselesaikan dengan mudah?
19 Perhatian Kian
20 Ketakutan Panji Hasta
21 Keputusan Panji sudah tidak bisa dirubah
22 Hari pertama di rumah Kian
23 Ke sekolah bersama Kian
24 Ponsel dari Kian
25 Di rumah si kembar Dira dan Vira
26 Dilamar Kian
27 Kecurigaan Aditama
28 Permintaan Kian
29 Rencana rencana tuan muda
30 Firasat Elia
31 Selalu ada masalah saat kencan
32 Ajakan Kencan
33 Rahasianya terbongkar?
34 Harapan Wanda
35 Kemarahan Aditama
36 Hati yang penuh benci
37 Dugaan Bayu
38 Marahnya Aditama dan hilal jodoh Ezra
39 Aksi lanjutan Ezra
40 Di kantin
41 Kelakuan Alen
42 Marahnya Kian
43 Kemarahan yang tertunda
44 Taktik Ezra
45 Sudah tau?
46 Sedikit info tentang Elia
47 Ezra yang perlu dibàntu
48 Dukungan penuh untuk Ezra
49 Masih Ezra Elia
50 Gerak cepat Kaysar
51 Mengajak Wanda pergi
52 Terbang bersama Wanda
53 Kebenarannya
54 Khilafnya Kian
55 Curiga
56 Melamar Elia
57 Kian khawatir
58 Bicara dari hati ke hati
59 Masih di rumah Elia
60 Tak disangka
61 Akhirnya diberitau
62 Bertemu keluarga Aditama lagi
63 Pemakaman Nenek Sunarni
64 Hasil pemeriksaan awal
65 Sakit yang beruntun
66 Diselamatkan Gio?
67 Bertemu di rumah sakit
68 Kekhawatiran Kian
69 Cemburu?
70 Penjelasan Richie
Episodes

Updated 70 Episodes

1
Pagi ini di sekolah
2
Dijemur?
3
Mendapat hukuman tambahan
4
Siapa Wanda
5
Debat keluarga
6
Debat keluarga part dua
7
Permintaan Kian
8
Penyelidikan dimulai
9
Ke gap
10
Yang dilakukan Keyra
11
Ingatan masa lalu Panji
12
Nyaman Sesaat
13
Makian Nyonya Merelin
14
Hukuman rekayasa
15
Ancaman Dewa
16
Keraguan Ezra
17
Adu fisik lagi
18
Diselesaikan dengan mudah?
19
Perhatian Kian
20
Ketakutan Panji Hasta
21
Keputusan Panji sudah tidak bisa dirubah
22
Hari pertama di rumah Kian
23
Ke sekolah bersama Kian
24
Ponsel dari Kian
25
Di rumah si kembar Dira dan Vira
26
Dilamar Kian
27
Kecurigaan Aditama
28
Permintaan Kian
29
Rencana rencana tuan muda
30
Firasat Elia
31
Selalu ada masalah saat kencan
32
Ajakan Kencan
33
Rahasianya terbongkar?
34
Harapan Wanda
35
Kemarahan Aditama
36
Hati yang penuh benci
37
Dugaan Bayu
38
Marahnya Aditama dan hilal jodoh Ezra
39
Aksi lanjutan Ezra
40
Di kantin
41
Kelakuan Alen
42
Marahnya Kian
43
Kemarahan yang tertunda
44
Taktik Ezra
45
Sudah tau?
46
Sedikit info tentang Elia
47
Ezra yang perlu dibàntu
48
Dukungan penuh untuk Ezra
49
Masih Ezra Elia
50
Gerak cepat Kaysar
51
Mengajak Wanda pergi
52
Terbang bersama Wanda
53
Kebenarannya
54
Khilafnya Kian
55
Curiga
56
Melamar Elia
57
Kian khawatir
58
Bicara dari hati ke hati
59
Masih di rumah Elia
60
Tak disangka
61
Akhirnya diberitau
62
Bertemu keluarga Aditama lagi
63
Pemakaman Nenek Sunarni
64
Hasil pemeriksaan awal
65
Sakit yang beruntun
66
Diselamatkan Gio?
67
Bertemu di rumah sakit
68
Kekhawatiran Kian
69
Cemburu?
70
Penjelasan Richie

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!