Motor Arya berhenti tepat di depan pagar rumahnya. Lampu teras masih nyala, kuning temaram. Jam baru nunjukin jam setengah tujuh malam, tapi langit udah gelap karena mendung.
Bianca turun duluan. Kakinya agak pegal habis seharian duduk di depan laptop. Helm dia lepas, gantung di spion. Rambutnya berantakan, kena angin jalanan.
Mereka habis perjalanan jauh,jarak tempat kerja Arya dengan rumah memakan waktu 2 jam lamanya.
Pintu depan kebuka sebelum mereka sempet ketok. Mama Arya muncul, masih pakai celemek biru. Tangannya basah, kayaknya habis cuci piring.
“Eh, Bi? Arya? Kok bareng?” Suaranya kaget tapi senang. “Masuk, masuk. Udah makan belum? Mama baru masak sayur asem.”
Bianca senyum, tapi senyumnya kaku. “Nggak usah repot, Tante. Aku… aku numpang sebentar aja. Mau ngomong bentar.”
Mama Arya langsung ngelirik ke belakang Bianca. Arya masih berdiri di teras, satu kaki di luar, satu kaki di dalam. Kayak orang bingung mau maju atau mundur. Matanya nathap lantai, nggak berani ketemu mata mamanya.
“Kenapa, Nak? Mukanya kok serius banget berdua?” Mama Arya hapus tangannya ke celemek, jalan mendekat. “Ada masalah di kantor?”
Bianca narik napas panjang. Dadanya naik turun. Dia lirik Arya lagi\, ngasih kode pakai mata: _tolong\, bilang sesuatu_. Tapi Arya tetep diam. Tangan masuk saku celana. Bibir kebuka sedikit\, terus ketutup lagi.
Akhirnya Bianca yang bicara. Suaranya pelan, tapi jelas di ruang tamu yang sepi itu.
“Tante… aku sama Mas Arya… udah pacaran empat tahun.”
Kalimat itu jatuh kayak batu. Mama Arya berhenti di tengah langkah. Celemek di tangannya lepas, melorot ke lantai. “Empat… tahun?” ulangnya, kayak nggak percaya sama telinganya sendiri.
“Iya, Tante. Empat tahun.” Bianca ngangguk. Matanya mulai panas. “Dari aku sekolah kelas 11. Waktu itu Mas Arya baru lulus, dia kerumah sama faisal temennya mas Arya yang kebetulan juga temen sekolahku tan, terus jadi sering chat, terus…”
Suara Bianca pecah sedikit. Dia tahan. “Tapi selama ini kami nggak pernah berani bilang ke Tante sama Om. Karena Mas Arya takut. Takut Tante marah. Takut Om kecewa. Takut dianggap nggak serius.”
Mama Arya langsung noleh ke arah Arya. “Ya? Arya? Bener ini?”
Arya masih diam. Rahangnya makin ngunci. Dia ngangkat kepala sedikit, ketemu mata mamanya sepersekian detik, terus nathap lantai lagi.
Bianca lanjut, suaranya makin bergetar. “Dan sekarang aku capek, Tante. Capek banget. Capek sembunyi-sembunyi. Capek kalau harus nunggu lama lagi,capek harus bersaing dengan wanita lain yang di kenla mas Arya di luar sana,capek hubungan ini tanpa arah.”
Air mata Bianca akhirnya jatuh. Satu, dua, terus ngalir. “Aku udah nunggu empat tahun, Tante. Empat tahun nunggu kepastian. Nunggu Mas Arya berani ngomong ke Tante. Tapi sampai sekarang…”
Dia berhenti, lirik Arya lagi. Harapannya tipis banget, tapi masih ada. Siapa tau Arya bakal maju, genggam tangannya, bilang “iya Ma, bener”.
Tapi nggak. Arya masih diam. Patung.
“Bi…” Mama Arya akhirnya ngomong lagi. Suaranya lembut, tapi ada luka di situ. “Kenapa nggak dari dulu bilang ke Mama? Kalau dari dulu Mama tau, Mama bisa…”
“Karena yang harusnya ngomong duluan, bukan aku, Tante,” potong Bianca. Nadanya bukan marah, lebih ke putus asa. “Aku cewek, Tante. Aku nggak bisa terus-terusan nunggu cowok berani ngomong ke mamanya. Aku juga punya harga diri.”
Ruang tamu jadi hening. Cuma ada suara jam dinding. Tik. Tok. Tik. Tok.
Mama Arya jongkok, pungut celemeknya yang jatuh. Tangannya gemetar. Dia lirik Bianca, lirik Arya, balik lagi ke Bianca. “Jadi… selama empat tahun ini… tiap Arya bilang lembur, tiap Arya pulang malem, itu sama kamu?”
Bianca ngangguk. “Sering, Tante. Kadang lembur beneran. Kadang juga… kami makan bareng. Nonton. Ngobrol di rumah sampai jam 9 malam,sering motoran jauh.”
Mama Arya tutup mulutnya pakai tangan. Matanya berkaca-kaca. “Ya Allah, Nak. Mama kira… Mama kira anak Mama masih sendiri. Mama kira…”
“Tante nggak salah,” cepat Bianca nyaut. “Ini salah kami. Salah aku juga karena mau nunggu selama ini.”
Baru kali ini Arya gerak. Dia angkat kepala. Mukanya pucat. “Bi, cukup…” suaranya serak.
Bianca noleh ke dia. “Cukup apa, Mas? Cukup aku nunggu? Cukup aku diam?”
Arya buka mulut, tapi nggak ada kata yang keluar. Dia lirik mamanya, terus natap lantai lagi.
Mama Arya jalan pelan ke arah Arya. Dia berdiri di depan anaknya. “Arya, jawab Mama. Ini bener?”
Arya diam beberapa detik yang rasanya kayak sejam. Terus dia angguk. Pelan. Sekali.
Mama Arya menghela nafas panjang. Dia tutup mata sebentar. Waktu buka lagi, dia lihat Bianca. “Bi, kamu anak baik. Mama tau kamu anak baik. Tapi kenapa… kenapa kalian nggak bilang dari awal?”
“Karena takut, Tante,” jawab Bianca jujur. “Takut Tante bilang aku nggak cocok. Takut Om bilang aku matre. Takut Mas Arya dibilang nggak becus jaga anak orang.”
“Jadi kalian milih bohong selama empat tahun?” Suara Mama Arya nggak tinggi, tapi nusuk.
Bianca nggak bisa jawab. Dia cuma bisa nangis. Air matanya udah nggak bisa dibendung.
Arya akhirnya maju selangkah. “Ma, aku…”
“Apa, Ya?” Mama Arya nathap dia tajam. “Apa yang mau kamu bilang setelah empat tahun diam?”
Arya buka mulut. Tutup lagi. Dia lirik Bianca yang udah nangis di depan mamanya. Dia lihat Bianca yang udah berjuang sendiri selama ini. Dan dia sadar, dia pengecut.
“Ma… aku minta maaf,” katanya akhirnya. Suaranya kecil, nyaris nggak kedengeran. “Aku takut. Aku takut Ma nggak setuju. Aku takut Ma bandingin Bi sama anak orang lain. Aku takut…”
“Takut, takut, takut,” ulang Mama Arya. “Terus Bi gimana? Bi nggak takut apa? Bi nggak capek nunggu kamu berani?”
Arya nggak bisa jawab. Dia lihat Bianca. Bianca udah nggak lihat dia. Bianca lagi hapus air mata pakai punggung tangan, berusaha tegar di depan mama pacarnya.
Mama Arya jalan ke arah Bianca. Dia genggam tangan Bianca. Tangannya hangat, beda sama tangan Bianca yang dingin banget.
“Bi, dengerin Mama. Mama nggak marah kamu pacaran sama Arya. Mama cuma… kecewa kalian bohongin Mama selama ini.”
Bianca angkat kepala. “Aku minta maaf, Tante.”
“Mama tau kamu anak baik. Mama lihat kamu dari dulu, waktu sering main ke sini ngerjain tugas sama Arya. Kamu sopan, kamu pinter, kamu rajin. Kalau dari awal kalian bilang, mungkin Mama udah anggap kamu anak Mama sendiri.”
Bianca sesenggukan. “Beneran, Tante?”
“Beneran,” angguk Mama Arya. “Tapi sekarang masalahnya bukan Mama setuju atau nggak. Masalahnya… Arya.”
Dia noleh ke Arya lagi. “Kamu mau apa, Ya? Kamu mau terus kayak gini? Sembunyi-sembunyi? Bikin Bi nunggu nggak jelas? Atau kamu mau jantan, ngomong jelas ke Mama, ke Papa, ke keluarga besar, kalau kamu serius sama Bi?”
Arya diam. Lama banget. Bianca nahan napas. Ini momennya. Kalau Arya masih diam, berarti empat tahunnya sia-sia.
Detik berasa menit.
Akhirnya Arya ngomong. Suaranya masih serak, tapi jelas. “Ma… aku serius sama Bi. Aku… aku mau nikahin dia.”
Bianca nengok cepat. Matanya masih basah, tapi ada kaget di situ. Beneran?
Mama Arya juga kaget. “Kamu yakin?”
Arya angguk. Kali ini lebih tegas. Dia jalan ke arah Bianca, berdiri di sampingnya. Dia nggak genggam tangan Bianca, tapi posisinya udah nunjukin dia ada di pihak Bianca.
“Ma, aku tahu aku telat. Aku tahu aku nyakitin Bi. Tapi aku sayang dia, Ma. Udah empat tahun, dan aku nggak mau kehilangan dia.”
Bianca nutup mulutnya pakai tangan. Air matanya jatuh lagi, tapi kali ini karena lega.
Mama Arya lihat mereka berdua. Lama. Terus dia senyum tipis. “Ya udah. Kalau kamu serius, buktiin. Jangan cuma ngomong. Besok panggil Papa. Kita ngomong baik-baik. Kalau kalian beneran mau lanjut, ya kita jalanin yang bener. Nggak ada lagi sembunyi-sembunyi.”
Bianca ngangguk cepat. “Iya, Tante. Makasih, Tante.”
Mama Arya peluk Bianca. Pelukan hangat yang udah lama Bianca tunggu. “Udah, Nak. Jangan nangis lagi. Mukamu bengkak nanti.”
Di belakang mereka, Arya masih berdiri. Dia lihat Bianca dipeluk mamanya. Ada lega di dadanya. Ada takut juga. Tapi yang paling besar… ada harapan.
Empat tahun nunggu. Akhirnya, pintunya kebuka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 22 Episodes
Comments