Tanggal sudah ada.
Ijab Qobul: 6 Mei 2015.
Resepsi: 10 Juni 2015.
Cuma selisih sebulan dari hari Bianca pingsan di depan rumah Pakde Arya. Sebulan buat beresin semua. Undangan, gedung, katering, make up, baju pengantin.
Seharusnya Bianca sibuk bahagia. Tapi yang dia rasain malah sesak.
Seminggu setelah keputusan “dipercepat” itu, Arya masih aneh. Dia jawab telepon, tapi singkat. Dia balas chat, tapi ketus. Kalau ditanya soal undangan, dia bilang: “Kamu aja yang urus, Bi. Aku percaya.”
Bianca percaya. Tapi dia juga capek.
Sore itu Bianca lagi di kos Malang, ngecek list vendor. Laptop kebuka, buku catatan berantakan. HP di sampingnya bunyi “ting”.
Chat masuk dari nomor yang udah lama nggak muncul.
Zakky : “Bi, lama banget nggak ketemu. Aku di Jogja minggu depan. Ketemuan yuk? Kangen ngobrol sama kamu.”_
Jantung Bianca lompat.
Zakky. Mantan gebetan Bianca . dia dulu kuliah di Universitas Brawijaya . Cowok yang dulu nembak Bianca, tapi ditolak halus karena Bianca masih nunggu Arya ngasih kepastian.
Setelah itu mereka lost contact. Sampai sekarang.
Jari Bianca di atas layar. Mau dibales, tapi ragu. Dia tutup chat itu. Buka lagi. Tutup lagi.
“Ah, nggak usah,” gumamnya. “Aku mau nikah.”
Tapi HP dia taruh di meja, layarnya masih nyala. Chat dari Zakky masih kebaca di preview.
Malamnya Arya main ke rumah Bianca. Bawa berkas buat tanda tangan akad. Begitu masuk, dia lihat HP Bianca di meja. Layar masih nyala. Preview chat Zakky masih nongol.
Arya ambil HP itu. Bukan buat buka\, cuma mau matiin biar nggak berisik. Tapi matanya nangkep satu baris: _“Ketemuan yuk? Kangen ngobrol sama kamu.”_
Tangan Arya berhenti.
“Ini siapa?” tanyanya tiba-tiba.
Bianca nengok dari laptop. “Hah?”
“Ini siapa, Bi?” Arya angkat HP. “Zakky? Siapa Zakky?”
Bianca langsung sadar. Napasnya ketahan. “Itu… temen lama. Waktu aku kuliah di Lampung.”
“Temen lama yang ngajak ketemuan di Jogja?” Suara Arya naik setengah nada. “Kapan dia chat kamu?”
“Sore tadi. Tapi aku belum bales,.”
“Belum bales, tapi kamu diemin HP-nya nyala di depan aku? Kamu nunggu aku lihat ya?”
Bianca bangun dari kursi. “Mas, jangan nuduh aneh-aneh. Aku nggak ada apa-apa sama dia.”
“Nggak ada apa-apa, tapi dia kangen ngobrol sama kamu? Kenapa kamu nggak langsung blokir aja kalau emang nggak ada apa-apa?”
Suasana langsung panas.
Bianca udah capek. Capek mikirin undangan, capek ngurusin keluarga, capek ngadepin Arya yang ragu-ragu. Sekarang dituduh macem-macem.
“Arya, aku mau nikah sama kamu. Tanggalnya udah ada. 6 Mei ijab qobul, 10 Juni resepsi. Aku sibuk banget ngurusin ini. Kalau kamu nggak percaya sama aku, ngapain kita lanjutin?”
Arya mundur selangkah. Wajahnya merah.
“Jadi kamu nyesel mau nikah sama aku?”
Pertanyaan itu meluncur tajam. Nancep di dada Bianca.
Bianca terdiam. Matanya panas.
“Nyesel? Mas, aku udah nunggu kamu empat tahun. Aku pingsan depan rumah Pakde kamu demi ngertiin kamu. Terus sekarang kamu tanya aku nyesel?”
“Aku cuma tanya!”
“Ya aku jawab: aku nggak nyesel! Tapi kalau kamu terus kayak gini, curiga, nggak percaya, aku yang jadi nyesel!”
Suara Bianca pecah di akhir kalimat. Dia ambil HP-nya dari tangan Arya, langsung blokir nomor Zakky. “Puas? Udah aku blokir.”
Arya diem. Dadanya naik turun. Dia lihat tumpukan berkas akad di meja. Tanggal 6 Mei 2015 dicetak tebal.
Sebulan lagi. Sebulan lagi dia harus bilang ijab qobul di depan penghulu. Sebulan lagi dia harus jadi suami.
Tapi malam ini, dia nggak yakin bisa jadi suami yang dipercaya.
“Aku pulang dulu,” kata Arya akhirnya. Suaranya rendah.
“Arya—”
“Aku perlu mikir, Bi.”
Pintu kos ketutup. Arya pergi.
Bianca ambruk di kursi. Laptop masih nyala. List vendor masih kebuka. Tapi matanya nggak fokus.
6 Mei. Tinggal sebulan.
10 Juni. Tinggal dua bulan.
Dia harusnya sibuk fitting baju pengantin. Harusnya sibuk ketawa bareng Arya nentuin menu katering.
Tapi malam ini\, dia malah duduk sendirian\, nangis\, sambil mikir: _Apa aku salah nerima keputusan dipercepat itu?_
“Bi, undangan udah jadi belum? Mama mau lihat desainnya.”
Bianca usap air matanya cepat-cepat. “Udah, Ma. Besok aku kirim ke grup keluarga ya.”
“Oke. Kamu udah makan belum?”
“Udah, Ma.”
Padahal belum.
Setelah itu Bianca masuk ke kamae dan Bianca buka chat keluarga. Foto desain undangan udah dia siapin. Tulisan di tengahnya jelas:
_Bianca & Arya_
_Ijab Qobul: 6 Mei 2015_
_Resepsi: 10 Juni 2015_
Tanggal itu harusnya jadi tanggal paling bahagia. Tapi malam ini, rasanya kayak deadline buat ngetes: sanggup nggak mereka nikah dalam keadaan saling nggak percaya.
Di kos sebelah, anak-anak lagi ketawa nonton film. Di luar, Malang dingin. Di dalam hati Bianca, lebih dingin lagi.
Dia buka chat yang udah diblokir tadi. Nama Zakky masih kelihatan, tapi pesannya nggak bisa dibuka.
Dia nggak nyesel blokir Zakky, Dia nyesel karena keadaan jadi begini.
Kenapa ya, pas udah mau nikah, malah banyak banget ujian?
Jam 11 malam, Arya belum chat lagi. Bianca nggak berani duluan. Takut salah ngomong. Takut malah makin berantem.
Dia tutup laptop. List vendor besok aja. Malam ini, dia butuh tidur. Walaupun tau, tidurnya pasti nggak nyenyak.
Karena tanggal 6 Mei makin dekat. Dan hati mereka, masih jauh.
---
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 22 Episodes
Comments