Kalau batal,gimana dengan aku?

Handphone Bianca bergetar lagi. Nama “Arya” muncul di layar. Dia tatap layar itu lama. Jari mau ngeswipe buat angkat, tapi urung. Tiga hari ini, setiap telepon dari Arya isinya sama: penundaan.

“Bi, kita tunda dulu ya ngomongin tanggalnya. Aku belum siap.”

“Bi, banyak yang harus aku beresin dulu. Kasih aku waktu.”

“Bi, jangan buru-buru. Nikah itu bukan main-main.”

Kata-kata itu muter di kepala Bianca sampai bikin pusing. Empat tahun nunggu kepastian. Empat tahun jadi rahasia. Sekarang, pas udah terang-terangan, Arya malah mundur selangkah.

Malam itu, telepon terakhir dari Arya dia matiin tanpa jawab. Tangannya gemetar. Bukan marah. Lebih ke takut. Takut kalau “belum siap” itu kode buat “aku nggak jadi nikah sama kamu.

Jam sudah menunjukkan oukul 19.30, Bianca tetap berangkat.

Katanya hari ini keluarga Arya kumpul di rumah Pakde-nya yang tidak jauh dari rumah Bianca. Katanya mau bahas tanggal nikah. Tapi , lewat pesan singkat, Arya bilang: “Bi, kayaknya aku mau minta batalin dulu deh rencana ketemu keluarga hari ini. Aku belum siap ngomong ke mereka.”

Bianca baca pesan itu sambil duduk di pinggir ranjang. Napasnya sesak. Dia nggak balas. Dia cuma ambil tas, pakai jilbab, keluar rumah.

Dia harus datang. Harus. Kalau nggak, nanti Arya beneran ngebatalin semuanya tanpa dia bisa jelasin apa-apa.

Perjalanan nggak jauh. Tapi sepanjang jalan sambil nyetir motor\, jantung Bianca berdegup kencang. Tangannya dingin. Di kepalanya cuma ada satu kalimat: _Kalau dia batal\, terus aku gimana?_

Hanya 5 menit saja Bianca sudah sampai di depan rumah pakdenya Arya.

Napasnya pendek-pendek. Tapi karena panik.

Belum sampai pagar, pandangan Bianca mulai buram.

Dunia kayak miring. Suara-suara jadi jauh. Kaki rasanya nggak napak tanah. Dia coba pegangan ke pagar, tapi telat.

Tubuhnya ambruk di pinggir jalan, pas depan gerbang rumah Pakde Arya.

“Astaghfirullah, Mbak! Mbak, bangun!”

Suara itu ngebentak kesadarannya. Bianca samar-samar lihat ada orang lari nyebrang jalan. Tukang sate. Gerobaknya masih ngebul di seberang.

“Ya Allah, pingsan ini. Pak, Pak, bantu!”

Tangan-tangan mulai nyentuh tubuh Bianca. Ada yang angkat, ada yang tepuk-tepuk pipinya pelan. Orang-orang mulai ngumpul.

“Ini rumah siapa, Pak? Ada keluarganya nggak?” tanya si tukang sate sambil ngetok pagar kayu.

Pintu kebuka. Arya keluar. Wajahnya langsung pucat pasi pas lihat Bianca digotong masuk oleh tukang sate dan dua orang tetangga.

“Bianca!”

Suara Arya pecah. Dia lari, bantu angkat tubuh Bianca ke ruang tamu. Tangannya gemetar. Napasnya ngos-ngosan.

“Panggil Mama! Panggil Pakde!” teriak Arya ke dalam.

Di ruang tamu Pakde, Bianca terbaring di sofa panjang. Mama Arya datang dengan air putih dan minyak kayu putih. Papa Arya ikutan masuk dari kamar belakang. Wajahnya serius.

“Kenapa bisa pingsan begini?” tanya Mama Arya sambil ngipasin Bianca pakai kertas.

Arya nggak jawab. Dia cuma pegang tangan Bianca. Dingin. Terlalu dingin.

Beberapa menit berlalu. Pelan-pelan, kelopak mata Bianca kebuka.

Penglihatan masih kabur. Tapi yang pertama kali dia lihat: Arya. Wajahnya panik. Ada takut di matanya.

Hal pertama yang keluar dari mulut Bianca bukan “kepala aku pusing”. Bukan “aku kenapa”. Tapi satu kalimat yang udah dia tahan selama seminggu:

“Kalau pernikahan ini batal… gimana dengan aku?”

Suaranya pelan. Hampir kayak bisikan. Tapi di ruangan yang hening itu, kalimat itu kedengeran jelas banget.

Arya langsung menunduk. Bibirnya kebuka, tapi nggak ada suara yang keluar. Tangannya yang megang tangan Bianca jadi makin kencang, kayak takut dilepas.

Mama Arya nutup mulutnya pakai tangan. Matanya berkaca-kaca. Papa Arya narik napas panjang, lalu duduk di kursi depan Bianca.

Pakde Arya yang dari tadi diem, akhirnya buka suara. Nadanya berat.

“Bianca, kamu dengerin Pakde ya. Kamu anak baik.Kamu sabar, kamu nggak neko-neko.”

Bianca cuma angguk pelan. Air mata udah ngumpul di pelipis.

“Pakde nggak tau masalah kalian sedetail apa. Tapi kalau sampai kamu pingsan begini karena mikirin rencana nikah yang mau dibatalin, berarti ini udah nggak sehat, Nak.”

Arya masih diam. Pandangannya ke lantai.

“Pakde tanya kamu, Ya,” lanjut Pakde, nengok ke Arya. “Kamu cinta Bianca nggak?”

Arya angkat kepala. Lama. Terus dia angguk. Sekali.

“Kalau cinta, kenapa ragu? Kalau ragu, kenapa digantung empat tahun?”

Pertanyaan itu nancep. Arya nggak bisa jawab.

Di saat yang sama, di rumah Bianca, Bude-nya baru datang ngejenguk Mama Bianca yang lagi sakit. Bude denger cerita dari tetangga sebelah: “Tadi Bianca pingsan di rumah keluarga Arya, Bu. Digotong tukang sate.”

Bude langsung panik, pegang HP, mau nelpon Bianca.

Balik lagi ke ruang tamu Pakde.

Keheningan pecah lagi pas Pakde Arya ngomong:

“Gini aja. Daripada rencana nikah dibatalin dan bikin luka lebih dalam buat Bianca, gimana kalau kita percepat aja?”

Mama Arya langsung nengok. “Dipercepat, Mas?”

“Iya. Daripada Arya mundur terus, mending kita tentuin tanggal dalam waktu dekat. Biar Bianca juga nggak nunggu nggak jelas.”

Papa Arya angguk pelan. “Aku setuju. Kasihan Bianca.”

Semua mata sekarang ke Arya.

Arya masih menunduk. Tangannya masih megang tangan Bianca. Dia bisa ngerasain Bianca gemetar.

“Ya…” bisik Arya akhirnya. Suaranya serak. “Aku… aku ikut apa kata keluarga.”

Bianca merem. Air mata yang dia tahan sejak seminggu lalu akhirnya jatuh juga. Pelan, lewat pelipis, masuk ke rambutnya.

Cincin di jari manisnya, yang Arya kasih waktu mereka jadian dulu, berasa makin sesak.

Dia nggak tau harus senang atau takut. Nikahnya dipercepat. Tapi hati Arya, beneran siap nggak?

Di luar, tukang sate yang tadi nolongin udah balik ke gerobaknya. Dia lihat ke dalam rumah lewat jendela. Geleng-geleng pelan.

“Ya Allah, anak muda jaman sekarang. Udah sayang, kok masih ragu.”

Di dalam, Bianca masih terbaring. Di sampingnya, Arya masih duduk. Di depan mereka, keluarga besar lagi ngomongin tanggal.

Tapi di kepala Bianca, cuma ada satu pertanyaan yang belum kejawab:

Kalau pernikahan ini beneran jalan, apakah cincin ini akhirnya bakal lega… atau malah makin nyekik?

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!