Bab 5 : Natasya Surya

Kevin bukanlah orang yang tega melihat seseorang mati begitu saja.

Namun, sikap Dokter Bram benar-benar membuatnya kesal.

Kalau tidak diberi pelajaran, dokter itu mungkin akan terus bersikap arogan dan meremehkan orang lain di masa depan.

Dokter Bram yang tadinya sudah putus asa mendadak kembali bersemangat setelah mendengar ucapan Kevin.

Tanpa ragu, ia langsung membungkuk berkali-kali.

"Terima kasih, Dokter Ajaib Kevin!"

Kevin hanya meliriknya sekilas.

"Aku menyelamatkannya bukan untukmu."

"Jadi, tidak perlu berterima kasih padaku."

"Selain itu, aku hanya bisa memastikan dia tidak mati untuk sementara waktu."

"Kalau ingin benar-benar sembuh, kalian harus mencari dokter yang memang mampu mengobatinya."

Dokter Bram mengangguk seperti ayam mematuk beras.

"Asalkan Nona Wijaya tidak meninggal, semuanya masih bisa diatasi!"

"Terima kasih, Dokter Ajaib Kevin"

"Saya akan segera menghubungi direktur rumah sakit!"

"Beliau pasti akan datang sendiri!"

Selesai berbicara, Dokter Bram langsung berlari keluar sambil menelepon dengan panik.

Kevin tidak membuang waktu.

Ia kembali memusatkan perhatian pada kondisi Misela.

Tatapannya terfokus pada area jantung wanita itu.

Kemudian ia mengubah posisi tangannya dan menekan titik akupunktur yang sama menggunakan dua jari.

Kilatan aneh muncul di matanya.

Benar saja.

Begitu dua jarinya menempel pada titik tersebut, energi hitam yang sebelumnya mengamuk di tubuh Misela langsung melambat.

Penyebarannya terhenti.

Napas Misela yang sempat melemah mulai stabil.

Detak jantungnya juga perlahan kembali normal.

Nenek yang berdiri di samping sampai tercengang.

"Astaga..."

"Hanya dengan menekan satu titik seperti itu, gadis ini langsung membaik?"

"Anak muda, kemampuanmu benar-benar luar biasa!"

Kevin hanya tersenyum tipis.

Ia sendiri sebenarnya masih belum sepenuhnya memahami apa yang terjadi.

Yang ia lakukan hanyalah mengikuti metode yang tiba-tiba muncul di benaknya setelah memperoleh kemampuan aneh itu.

Sekitar sepuluh menit kemudian.

Dua orang bergegas masuk ke ruang gawat darurat.

Salah satunya tentu saja Dokter Bram.

Sedangkan orang satunya lagi membuat Kevin sedikit terkejut.

Karena yang datang ternyata seorang gadis muda yang cantik.

Kevin sempat berpikir dalam hati,

"Jangan bilang direktur rumah sakit sekarang masih seusia mahasiswa?"

Gadis itu tampak berusia sekitar dua puluh tahunan.

Tingginya sekitar seratus tujuh puluh sentimeter.

Wajahnya manis.

Rambutnya hitam panjang.

Sepasang celana jins biru muda membungkus kaki jenjangnya dengan sempurna.

Namun yang paling mencolok adalah ekspresinya.

Sudut bibirnya sedikit terangkat.

Tatapannya menyiratkan rasa percaya diri yang berlebihan.

Kalau diucapkan secara halus, itu namanya percaya diri.

Kalau diucapkan secara jujur...

Itu namanya sombong.

Melihat ekspresi bingung Kevin, Dokter Bram buru-buru menjelaskan.

"Dokter Ajaib Kevin, ini adalah cucu Direktur Surya."

"Namanya Natasya Surya."

"Direktur Surya sedang sibuk menangani pasien lain, jadi beliau meminta cucunya datang terlebih dahulu."

"Meski masih muda, kemampuan medisnya sangat hebat."

"Dia juga adalah murid langsung Direktur Surya."

Dokter Bram kemudian memperkenalkan Kevin.

"Natasya, ini Kevin."

"Dokter Ajaib Kevin."

"Dialah yang menstabilkan kondisi Nona Wijaya."

"Kalau bukan karena dia, situasinya tadi benar-benar berbahaya."

Sambil berbicara, Dokter Bram melirik monitor jantung.

Melihat angka-angka yang sudah kembali normal, ia menghela napas panjang lega.

Dalam hati, rasa hormatnya kepada Kevin semakin besar.

Meski penampilan Kevin sangat sederhana.

Kaos tanpa lengan yang dikenakannya sudah lusuh.

Tubuhnya masih basah karena baru keluar dari danau.

Dilihat dari luar, ia bahkan tampak seperti pengemis yang tersesat ke rumah sakit.

Namun siapa sangka...

Kemampuannya begitu luar biasa?

Dokter Bram diam-diam bertekad.

Mulai hari ini, ia harus lebih berhati-hati.

Kalau tidak, suatu hari nanti ia bisa saja menyinggung orang hebat tanpa menyadarinya.

Di sisi lain.

Natasya mengamati Kevin dari atas sampai bawah.

Lalu berkata dengan nada meragukan,

"Aku dengar kau bisa menstabilkan kondisi Misela hanya dengan satu jari?"

"Jangan bilang kalian semua sedang bercanda denganku?"

Tatapannya kemudian turun ke tangan Kevin yang masih menempel pada dada Misela.

Alisnya langsung terangkat.

"Dan posisi tanganmu itu..."

"Kau yakin sedang mengobati pasien?"

"Bukan sedang mengambil kesempatan?"

Kevin menatapnya dengan ekspresi aneh.

Kemudian berkata santai,

"Kalau begitu, bagaimana kalau aku lepaskan sekarang?"

"Kita lihat sendiri hasilnya."

Natasya Surya langsung terdiam.

Ia memang datang dengan prasangka buruk terhadap Kevin.

Menurut instingnya, pemuda berpakaian lusuh seperti ini mustahil memiliki kemampuan medis yang hebat.

Dokter Bram yang melihat suasana mulai tidak baik buru-buru menyela.

"Natasya!"

"Jangan!"

"Dokter Ajaib Kevin benar-benar tidak boleh melepaskan tangannya!"

"Nona Wijaya hampir meninggal tadi!"

"Aku melihatnya sendiri!"

Sebagai korban yang baru saja ditampar kenyataan, Dokter Bram tentu tidak ingin tragedi itu terulang.

Namun Natasya hanya mendengus.

"Baik, baik."

"Aku mengerti."

"Lagipula menjelaskannya juga akan panjang."

Kemudian ia melirik semua orang di ruangan.

"Semua keluar."

"Aku akan memeriksa Misela Wijaya."

Nada bicaranya jelas menunjukkan ketidaksenangan.

Saat memeriksa denyut nadi Misela, sebenarnya Natasya sudah menyadari sesuatu.

Teknik yang digunakan Kevin memang aneh.

Sangat aneh.

Ia tidak mengerti prinsipnya.

Namun satu hal yang pasti.

Teknik itu memang berhasil menstabilkan kondisi Misela.

Kalau tidak, kondisi sahabatnya tidak mungkin bisa setenang ini.

Meski begitu...

Ia tetap tidak percaya bahwa Kevin benar-benar memiliki kemampuan medis sehebat itu.

Menurutnya, kemungkinan besar semua ini hanya kebetulan.

Setelah semua orang keluar dan pintu ditutup.

Natasya langsung berdiri dengan kedua tangan di pinggang.

Seperti polisi yang sedang menginterogasi tersangka.

"Jujur saja."

"Siapa sebenarnya dirimu?"

"Bagaimana mungkin kau bisa menstabilkan kondisi Misela hanya dengan menekan dadanya?"

Kevin menghela napas.

"Kau dokter atau polisi?"

"Waktu pasienmu terbatas."

"Kalau ingin bertanya, nanti saja."

"Cepat selamatkan orang dulu."

Mendengar itu, Natasya langsung melotot.

"Kau...!"

Sejak kecil, hampir semua orang menghormatinya karena status kakeknya.

Belum pernah ada pria yang berbicara kepadanya dengan nada seperti itu.

Namun melihat Misela yang masih terbaring lemah, ia akhirnya menahan emosinya.

"Hmph!"

"Tunggu saja!"

"Setelah Misela sembuh, aku pasti akan memberimu pelajaran!"

Sambil menggerutu dalam hati, ia mulai memeriksa kondisi sahabatnya dengan serius.

Melihat Natasya akhirnya fokus pada pasien, Kevin diam-diam menghela napas lega.

Meski begitu, ia masih sedikit khawatir.

Gadis ini terlihat lebih marah daripada dokter.

Jangan-jangan nanti pasiennya malah menjadi korban amarahnya...

Untungnya ia tidak mengucapkan pikiran itu keras-keras.

Kalau tidak, Natasya mungkin langsung menusukkan jarum ke dahinya.

Tak lama kemudian.

Natasya membuka lemari peralatan di samping ranjang.

Dari dalamnya, ia mengeluarkan sebuah kotak panjang.

Setelah dibuka...

Puluhan jarum perak tersusun rapi di dalamnya.

Mata Kevin langsung membelalak.

"Jarum akupunktur?"

Bukankah itu alat pengobatan tradisional?

Saat ini pengobatan tradisional sudah jarang digunakan.

Ia tidak menyangka rumah sakit besar seperti ini masih menyimpan perlengkapan tersebut.

Sementara itu, Natasya sudah memasuki kondisi fokus penuh.

Setelah mensterilkan jarum-jarum itu, ia mulai menusukkannya ke beberapa titik akupunktur di tubuh Natasya.

Kevin memperhatikan dengan saksama.

Meski selama kuliah ia juga belajar teori pengobatan tradisional, pengalamannya dalam praktik masih sangat minim.

Melihat teknik akupunktur Kevin secara langsung membuat wawasannya bertambah.

Harus diakui.

Meski gadis itu sombong dan mulutnya cukup menyebalkan...

Kemampuan akupunkturnya memang tidak buruk sama sekali.

Terpopuler

Comments

VirgoRaurus 31Smile

VirgoRaurus 31Smile

sahabat... Natasya dan Misela bersahabat...?

2026-08-14

0

YaN Nie

YaN Nie

Hadeeeuuuhhhhh 🤪

2026-08-23

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Sebuah meteorit menghantam danau.
2 Bab 2 : Wanita itu sadarkan diri.
3 Bab 3 : Kemampuan Istimewa
4 Bab 4 : Dokter Bodoh
5 Bab 5 : Natasya Surya
6 Bab 6 : Natasya Mengisap Jari Kevin
7 Bab 7 : Andreas Surya Dengan Rendah Hati Meminta Petunjuk
8 Bab 8 : Perselisihan Terjadi
9 Bab 9 : Bocah Ini Pasti Sedang Berpura-pura
10 Bab 10 : Suamiku, Cepat Tolong Aku
11 Bab 11 : Gadis Yang Aneh.
12 Bab 12 : Mohon maaf saya terlambat
13 Bab 13 : Cara PDKT yang Payah
14 Bab 14 : Sepuluh Juta Semalam
15 Bab 15 : Kau Lupa Membawa Pintu Mobilmu
16 Bab 16 : Karena Aku Suamimu
17 Bab 17 : Orang Kaya Memang Bisa Bertindak Sesuka Hati
18 Bab 18 : Pembawa Rezeki
19 Bab 19 : Maria Anggraini
20 Bab 20 : Tiga Puluh Delapan Sentimeter
21 Bab 21 : Itu Milikmu
22 Bab 22 : Serangan Jonatan
23 Bab 23 : Keahlian Memeras Kevin
24 Bab 24 : Albert Wijaya Datang Secara Pribadi
25 Bab 25 : Punggung yang Keren
26 Bab 26 : Jarum Medis yang sangat berharga.
27 Bab 27 : Kitab Medis Surgawi
28 Bab 28 : Menemani Nagita Makan Malam
29 Bab 29 : Seseorang yang Pandai Berakting
30 Bab 30 : Pacarku!
31 Bab 31 : Pria Tak Tahu Malu
32 Bab 32 : Aku Bahkan Belum Mengukurnya
33 Bab 33 : Maksudku, Gulung Tubuh Kalian Menjadi Bola dan Keluar dari Sini!
34 Bab 34 : Misi Menyelamatkan Amanda Ada di Tanganmu
35 Bab 35 : Perkara Celana Dalam.
36 Bab 36 : Ketua Grup Membantu Membersihkan Meja?
37 Bab 37 : Misela Wijaya Telah Tiba
38 Bab 38 : Kemampuan Medisnya Memang Biasa Saja?
39 Bab 39 : Menjadi Seorang Guru?
40 Bab 40 : Penyakit Sang Dokter Ajaib
41 Bab 41 : Mempelajari Akupunktur
42 Bab 42 : Jarum Ilahi Yin Yang
43 Bab 43 : Insting
44 Bab 44 : Omong Kosong
45 Bab 45 : Penyatuan Meteorit
46 Bab 46 : Organisasi Demonic
47 Bab 47 : Tingkatan Kultivasi
48 Bab 48 : Beri Aku Beberapa Celana Dalam Sekalian
49 Bab 49 : Amanda dan Misela, menghilang...!
50 Bab 50 : Rahasia tersembunyi
51 Bab 51 : Hasrat yang sulit di jelaskan
52 Bab 52 : Lepaskan Dia, Biarkan Aku Menjadi Sandera
53 Bab 53 : Dia Tidak Bisa Menahannya Lagi
54 Bab 54 : Sudah Selesai Bermain-main?
55 Bab 55 : Apakah Kau Benar-Benar Mengira, Aku Tidak Berani Membunuhmu?
56 Bab 56 : Kau Membelikan Ini Untukku?
57 Bab 57 : Mengolah Kitab Medis Surgawi!
58 Bab 58 : Mereka berangkat menuju Universitas Jaya
59 Bab 59 : Seorang Impoten.
60 Bab 60 : Karena Aku Baik Hati
61 Bab 61 : Tunangan Nagita
62 Bab 62 : Permintaan Maria untuk Ayahnya
63 Bab 63 : Apakah Kau Menyukaiku?
64 Bab 64 : Amanda di fitna.
65 Bab 65 : Buktikan kamu tidak mencurinya.
66 Bab 66 : Aku bukan orang yang mudah di tindas.
67 Bab 67 : Badai Mulai Mengamuk
68 Bab 68 : Aku Sama Sekali Tidak Menakut-nakuti Mereka
69 Bab 69 : Pria Hebat Seperti Kevin Sanjaya
70 Bab 70 : Pengobatan tahap pertama!
71 Bab 71 : Apakah Kamu Hewan?
72 Bab 72 : Biar Aku Bantu Melepasnya
73 Bab 73 : Ular Gu
74 Bab 74 : Sebaiknya Kau Bersikap Jujur
75 Bab 75 : Jangan Menghalangi.... !
76 Bab 76 : Halo, Ayah Mertua
77 Bab 77 : Tidak akan menyerah
78 Bab 78 : Pukulan itu, anggaplah hadiah karena menghargai Anda!
79 Bab 79 : Efek Serangan!
80 Bab 80 : Bantal Terbaik di Dunia
81 Bab 81 : Makanan terenak!
82 Bab 82 : Aku Sedang Berbuat Baik!
83 Bab 83 : Cacing Gu, Pria Tua Samuel.
84 Bab 84 : Adu kekuatan!
85 Bab 85 : Kau Tahu Terlalu Banyak
86 Bab 86 : Pemanggilan Arwah
87 Bab 87 : Organisasi Negara (Biro Super Nasional)
88 Bab 88 : Menghadiri Pesta Pernikahan
89 Bab 89 : Mengungkit Massa Lalu
90 Bab 90 : Halusinogen Pelangi
91 Bab 91 : Bertaruh dengan Segalanya
92 Bab 92 : Mengungkap Identitas Sebenarnya
93 Bab 93 : Perasaan yang Aneh
94 Bab 94 : Menerobos Kolam Naga +18
95 Bab 95 : Ingin Mati? Mustahil!
96 Bab 96 : Sebuah masalah baru.
97 Bab 97 : Melawan Sebuah Ekskavator!
98 Bab 98 : Jangan Harap.
99 Bab 99 : Minta Maaf? Tentu Akan Kuberi!
100 Bab 100 : Pengobatan Tahap Ke 2
101 Bab 101 : Sebuah Kesalahpahaman!
102 Bab 102 : Semua orang berterima kasih.
103 Bab 103 : Uang Lamaran
104 Bab 104 : Namaku Inggrit Dermawan!
105 Bab 105 : Sepatuku Kotor....
106 Bab 106 : Sejak Kapan Kamu Suka "Kartun Beruang?"
107 Bab 107 : Pukul Dia Sampai Mati!
108 Bab 108 : Nagita Akhirnya Menyadarinya
109 Bab 109 : Dua Puluh Tiga Tahun yang Lalu
110 Bab 110 : Sebuah Rahasia Besar
111 Bab 111 : Kenapa Kamu Tidak Tahu Mengambil Inisiatif?
112 Bab 112 : Jari Vajra Berkekuatan Dahsyat
113 Bab 113 : Pemuda Berambisi yang Menghormati yang Tua dan Menyayangi yang Muda
114 Bab 114 : Sayangnya, Aku Terlalu Melebih-lebihkanmu
115 Bab 115 : Biro Super Nasional Datang
116 Bab 116 : Pencerahan pada Jari Kevin!
117 Bab 117 : Di Salon Kecantikan
118 Bab 118 : Amel dan Jesika!
119 Bab 119 : Sekte Buddha yang Mengerikan
120 Bab 120 : Ridel Sanjaya!
121 Bab 121 : Aku Tidak bisa melarangnya Menyukaiku
122 Bab 122 : Simpan Saja, Aku juga punya!!!
123 Bab 123 : Kehidupan Pribadimu Berantakan
124 Bab 124 : Tidak Ada yang Bisa Kulakukan
125 Bab 125 : Tidak Perlu, Aku Punya
126 Bab 126 : Operasi Pengobatan Tradisional
127 Bab 127 : Lima Harta Karun Pengobatan
128 Bab 128 : Terpaksa Menjadi Ketua
129 Bab 129 : Sulit Menentukan Kebenarannya
130 Bab 130 : Hari Pertama Dengan Biro Super Nasional.
131 Bab 131 : Apa Kamu Tidak Kedinginan?
132 Bab 132 : Es dan Api
133 Bab 133 : Mesin Pengukur Batas Kekuatan
134 Bab 134 : Menantang Batas!
135 Bab 135 : Cacing Emas Gu dengan kegunaannya
136 Bab 136 : Untung Saja Aku Cerdas
137 Bab 137 : Gaji Tahunan Sepuluh Miliar.
138 Bab 138 : Aku Ingin Berteman dengan Orang Kaya
139 Bab 139 : Kevin Dilarang Menggunakannya
140 Bab 140 : Diracuni
141 Bab 141 : Aku Benar-Benar Berutang Budi Padamu
142 Bab 142: Dia Hanya Seorang Ahli
143 Bab 143 : Bahkan Mengaguminya Saja Sudah Merupakan Sebuah Kehormatan!
144 Bab 144 : Jangan Salahkanku Kalau Aku Tidak Memberimu Muka
145 Bab 145 : Semua pujian di arahkan kepada Kevin!
146 Bab 146 : Dadanya Terlalu Besar
147 Bab 147 : Aku Membutuhkan Bantuan Jesika.
148 Bab 148 : Kau Benar-Benar Terlalu Percaya Diri!
149 Bab 149 : Wortel Super!
150 Bab 150 : Kamu Belum Pernah Menggunakan Wortel Ini untuk Hal Lain, Kan?!
151 Bab 151 : Satu Rahasia pun Terungkap
152 Bab 152 : Ini Benar-Benar Menarik!
153 Bab 153 : Aku Tersentuh oleh Ketulusanmu
154 Bab 154 : Aku Hanya Akan Mengatakannya Sekali!
155 Bab 155 : Selama Aku Ingin Kau Mati, Kau Pasti Mati!
156 Bab 156 : Aku Sudah Menyuruhmu Menembak!
157 Bab 157 : Buka Mata Anjingmu Lebar-Lebar!
158 Bab 158 : Jenderal? Keren Sekali!
Episodes

Updated 158 Episodes

1
Bab 1: Sebuah meteorit menghantam danau.
2
Bab 2 : Wanita itu sadarkan diri.
3
Bab 3 : Kemampuan Istimewa
4
Bab 4 : Dokter Bodoh
5
Bab 5 : Natasya Surya
6
Bab 6 : Natasya Mengisap Jari Kevin
7
Bab 7 : Andreas Surya Dengan Rendah Hati Meminta Petunjuk
8
Bab 8 : Perselisihan Terjadi
9
Bab 9 : Bocah Ini Pasti Sedang Berpura-pura
10
Bab 10 : Suamiku, Cepat Tolong Aku
11
Bab 11 : Gadis Yang Aneh.
12
Bab 12 : Mohon maaf saya terlambat
13
Bab 13 : Cara PDKT yang Payah
14
Bab 14 : Sepuluh Juta Semalam
15
Bab 15 : Kau Lupa Membawa Pintu Mobilmu
16
Bab 16 : Karena Aku Suamimu
17
Bab 17 : Orang Kaya Memang Bisa Bertindak Sesuka Hati
18
Bab 18 : Pembawa Rezeki
19
Bab 19 : Maria Anggraini
20
Bab 20 : Tiga Puluh Delapan Sentimeter
21
Bab 21 : Itu Milikmu
22
Bab 22 : Serangan Jonatan
23
Bab 23 : Keahlian Memeras Kevin
24
Bab 24 : Albert Wijaya Datang Secara Pribadi
25
Bab 25 : Punggung yang Keren
26
Bab 26 : Jarum Medis yang sangat berharga.
27
Bab 27 : Kitab Medis Surgawi
28
Bab 28 : Menemani Nagita Makan Malam
29
Bab 29 : Seseorang yang Pandai Berakting
30
Bab 30 : Pacarku!
31
Bab 31 : Pria Tak Tahu Malu
32
Bab 32 : Aku Bahkan Belum Mengukurnya
33
Bab 33 : Maksudku, Gulung Tubuh Kalian Menjadi Bola dan Keluar dari Sini!
34
Bab 34 : Misi Menyelamatkan Amanda Ada di Tanganmu
35
Bab 35 : Perkara Celana Dalam.
36
Bab 36 : Ketua Grup Membantu Membersihkan Meja?
37
Bab 37 : Misela Wijaya Telah Tiba
38
Bab 38 : Kemampuan Medisnya Memang Biasa Saja?
39
Bab 39 : Menjadi Seorang Guru?
40
Bab 40 : Penyakit Sang Dokter Ajaib
41
Bab 41 : Mempelajari Akupunktur
42
Bab 42 : Jarum Ilahi Yin Yang
43
Bab 43 : Insting
44
Bab 44 : Omong Kosong
45
Bab 45 : Penyatuan Meteorit
46
Bab 46 : Organisasi Demonic
47
Bab 47 : Tingkatan Kultivasi
48
Bab 48 : Beri Aku Beberapa Celana Dalam Sekalian
49
Bab 49 : Amanda dan Misela, menghilang...!
50
Bab 50 : Rahasia tersembunyi
51
Bab 51 : Hasrat yang sulit di jelaskan
52
Bab 52 : Lepaskan Dia, Biarkan Aku Menjadi Sandera
53
Bab 53 : Dia Tidak Bisa Menahannya Lagi
54
Bab 54 : Sudah Selesai Bermain-main?
55
Bab 55 : Apakah Kau Benar-Benar Mengira, Aku Tidak Berani Membunuhmu?
56
Bab 56 : Kau Membelikan Ini Untukku?
57
Bab 57 : Mengolah Kitab Medis Surgawi!
58
Bab 58 : Mereka berangkat menuju Universitas Jaya
59
Bab 59 : Seorang Impoten.
60
Bab 60 : Karena Aku Baik Hati
61
Bab 61 : Tunangan Nagita
62
Bab 62 : Permintaan Maria untuk Ayahnya
63
Bab 63 : Apakah Kau Menyukaiku?
64
Bab 64 : Amanda di fitna.
65
Bab 65 : Buktikan kamu tidak mencurinya.
66
Bab 66 : Aku bukan orang yang mudah di tindas.
67
Bab 67 : Badai Mulai Mengamuk
68
Bab 68 : Aku Sama Sekali Tidak Menakut-nakuti Mereka
69
Bab 69 : Pria Hebat Seperti Kevin Sanjaya
70
Bab 70 : Pengobatan tahap pertama!
71
Bab 71 : Apakah Kamu Hewan?
72
Bab 72 : Biar Aku Bantu Melepasnya
73
Bab 73 : Ular Gu
74
Bab 74 : Sebaiknya Kau Bersikap Jujur
75
Bab 75 : Jangan Menghalangi.... !
76
Bab 76 : Halo, Ayah Mertua
77
Bab 77 : Tidak akan menyerah
78
Bab 78 : Pukulan itu, anggaplah hadiah karena menghargai Anda!
79
Bab 79 : Efek Serangan!
80
Bab 80 : Bantal Terbaik di Dunia
81
Bab 81 : Makanan terenak!
82
Bab 82 : Aku Sedang Berbuat Baik!
83
Bab 83 : Cacing Gu, Pria Tua Samuel.
84
Bab 84 : Adu kekuatan!
85
Bab 85 : Kau Tahu Terlalu Banyak
86
Bab 86 : Pemanggilan Arwah
87
Bab 87 : Organisasi Negara (Biro Super Nasional)
88
Bab 88 : Menghadiri Pesta Pernikahan
89
Bab 89 : Mengungkit Massa Lalu
90
Bab 90 : Halusinogen Pelangi
91
Bab 91 : Bertaruh dengan Segalanya
92
Bab 92 : Mengungkap Identitas Sebenarnya
93
Bab 93 : Perasaan yang Aneh
94
Bab 94 : Menerobos Kolam Naga +18
95
Bab 95 : Ingin Mati? Mustahil!
96
Bab 96 : Sebuah masalah baru.
97
Bab 97 : Melawan Sebuah Ekskavator!
98
Bab 98 : Jangan Harap.
99
Bab 99 : Minta Maaf? Tentu Akan Kuberi!
100
Bab 100 : Pengobatan Tahap Ke 2
101
Bab 101 : Sebuah Kesalahpahaman!
102
Bab 102 : Semua orang berterima kasih.
103
Bab 103 : Uang Lamaran
104
Bab 104 : Namaku Inggrit Dermawan!
105
Bab 105 : Sepatuku Kotor....
106
Bab 106 : Sejak Kapan Kamu Suka "Kartun Beruang?"
107
Bab 107 : Pukul Dia Sampai Mati!
108
Bab 108 : Nagita Akhirnya Menyadarinya
109
Bab 109 : Dua Puluh Tiga Tahun yang Lalu
110
Bab 110 : Sebuah Rahasia Besar
111
Bab 111 : Kenapa Kamu Tidak Tahu Mengambil Inisiatif?
112
Bab 112 : Jari Vajra Berkekuatan Dahsyat
113
Bab 113 : Pemuda Berambisi yang Menghormati yang Tua dan Menyayangi yang Muda
114
Bab 114 : Sayangnya, Aku Terlalu Melebih-lebihkanmu
115
Bab 115 : Biro Super Nasional Datang
116
Bab 116 : Pencerahan pada Jari Kevin!
117
Bab 117 : Di Salon Kecantikan
118
Bab 118 : Amel dan Jesika!
119
Bab 119 : Sekte Buddha yang Mengerikan
120
Bab 120 : Ridel Sanjaya!
121
Bab 121 : Aku Tidak bisa melarangnya Menyukaiku
122
Bab 122 : Simpan Saja, Aku juga punya!!!
123
Bab 123 : Kehidupan Pribadimu Berantakan
124
Bab 124 : Tidak Ada yang Bisa Kulakukan
125
Bab 125 : Tidak Perlu, Aku Punya
126
Bab 126 : Operasi Pengobatan Tradisional
127
Bab 127 : Lima Harta Karun Pengobatan
128
Bab 128 : Terpaksa Menjadi Ketua
129
Bab 129 : Sulit Menentukan Kebenarannya
130
Bab 130 : Hari Pertama Dengan Biro Super Nasional.
131
Bab 131 : Apa Kamu Tidak Kedinginan?
132
Bab 132 : Es dan Api
133
Bab 133 : Mesin Pengukur Batas Kekuatan
134
Bab 134 : Menantang Batas!
135
Bab 135 : Cacing Emas Gu dengan kegunaannya
136
Bab 136 : Untung Saja Aku Cerdas
137
Bab 137 : Gaji Tahunan Sepuluh Miliar.
138
Bab 138 : Aku Ingin Berteman dengan Orang Kaya
139
Bab 139 : Kevin Dilarang Menggunakannya
140
Bab 140 : Diracuni
141
Bab 141 : Aku Benar-Benar Berutang Budi Padamu
142
Bab 142: Dia Hanya Seorang Ahli
143
Bab 143 : Bahkan Mengaguminya Saja Sudah Merupakan Sebuah Kehormatan!
144
Bab 144 : Jangan Salahkanku Kalau Aku Tidak Memberimu Muka
145
Bab 145 : Semua pujian di arahkan kepada Kevin!
146
Bab 146 : Dadanya Terlalu Besar
147
Bab 147 : Aku Membutuhkan Bantuan Jesika.
148
Bab 148 : Kau Benar-Benar Terlalu Percaya Diri!
149
Bab 149 : Wortel Super!
150
Bab 150 : Kamu Belum Pernah Menggunakan Wortel Ini untuk Hal Lain, Kan?!
151
Bab 151 : Satu Rahasia pun Terungkap
152
Bab 152 : Ini Benar-Benar Menarik!
153
Bab 153 : Aku Tersentuh oleh Ketulusanmu
154
Bab 154 : Aku Hanya Akan Mengatakannya Sekali!
155
Bab 155 : Selama Aku Ingin Kau Mati, Kau Pasti Mati!
156
Bab 156 : Aku Sudah Menyuruhmu Menembak!
157
Bab 157 : Buka Mata Anjingmu Lebar-Lebar!
158
Bab 158 : Jenderal? Keren Sekali!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!