Telepon dari Eyang Marto malam itu tidak langsung membuka semua rahasia.
Mama Siti terlalu panik untuk menjawab. Pak Bambang mengambil alih ponsel, menenangkan suara lelaki tua di seberang sana, lalu hanya berkata Kanaya sedang lelah dan keluarga akan bicara baik-baik setelah keadaan putrinya stabil. Tidak ada kata cerai. Tidak ada kata hamil triplet. Tidak ada nama Arsen yang diseret panjang-panjang.
Setelah itu, hidup Kanaya bergerak lebih cepat daripada kabar yang sempat dikejar keluarga Wijaya.
Manis Hati Bakery buka kecil-kecilan. Awalnya hanya bolu pandan, roti susu, brownies kukus, dan kue ulang tahun sederhana. Aroma mentega setiap pagi membuat ruko sempit itu terasa hidup. Perut Kanaya membesar, langkahnya melambat, tetapi matanya semakin terang setiap kali pelanggan pertama hari itu mendorong pintu kaca dan berkata, "Wangi sekali, Bu."
Lalu November datang dengan hujan sore yang hampir turun setiap hari.
Pada usia kandungan yang oleh dokter disebut sudah sangat berisiko untuk triplet, Kanaya tidak menunggu tanda-tanda persalinan. Ingatan tentang mimpi buruk itu masih terlalu tajam. Darah di lantai ruang bersalin. Suara bayi tanpa ibu. Arsen yang terlambat. Yara yang tersenyum.
Ia memilih masuk RSIA satu minggu lebih awal.
"Naya, Mama bisa tidur di kursi," kata Mama Siti malam pertama di ruang rawat, sambil merapikan selimut di kaki Kanaya. "Kamu jangan pikir toko dulu. Mbak Linda bisa bantu jaga etalase."
"Mbak Linda baru kerja dua minggu, Ma. Jangan disuruh buka tutup kas sendirian."
"Ya Allah, anak ini." Mama Siti menepuk pelan pahanya. "Mau operasi besar masih mikir kas."
Kanaya tersenyum lemah. Perutnya terasa seperti membawa tiga bulan sekaligus di dalam satu tubuh. Punggungnya pegal, kakinya bengkak, dan napasnya sering pendek. Namun setiap kali rasa takut merayap naik, ia mengingat tiga ranjang putih di lantai atas Manis Hati. Tiga selimut kecil. Tiga nama yang sudah ia tulis diam-diam di buku catatan.
Adrian.
Aiden.
Alana.
Reno dan Reina datang sore itu membawa tas berisi baju bayi tambahan. Mereka masih terlalu muda untuk terlihat tenang. Reno, yang biasanya banyak bicara, berdiri kaku di dekat pintu. Reina justru langsung menangis begitu melihat infus di tangan Kanaya.
"Mbak Naya sakit banget?" tanya Reina.
"Tidak." Kanaya mengulurkan tangan. "Mbak cuma sedang menunggu tiga keponakan kalian keluar."
Reno menggosok hidung, pura-pura batuk. "Kalau keluar semua, aku dipanggil Om Reno atau Mas Reno?"
"Kamu masih cocok dipanggil Dek Reno," sahut Reina sambil menghapus air mata.
"Enak saja."
Pertengkaran kecil mereka membuat Kanaya tertawa. Tawa itu pendek, tetapi cukup untuk membuat ruang rawat tidak terasa seperti tempat eksekusi.
Dokter kandungan datang malam itu, seorang perempuan berusia empat puluhan dengan suara tenang. Ia memeriksa tekanan darah Kanaya, hasil CTG, dan posisi bayi.
"Besok pagi kita operasi caesar," katanya. "Untuk triplet, saya tidak mau menunggu kontraksi spontan. Bayi pertama posisinya cukup baik, tapi bayi kedua dan ketiga sudah mulai menekan. Ibu harus istirahat malam ini."
Mama Siti langsung menggenggam tangan Kanaya.
"Dok, anak-anak saya..."
"Kami sudah siapkan tim neonatal," jawab dokter. "RSIA ini menangani kasus kembar cukup sering. Triplet memang lebih rumit, tapi sejauh ini kondisi mereka stabil."
Stabil.
Kanaya memegang kata itu seperti memegang tepi meja di tengah gempa.
Malam itu ia hampir tidak tidur. Mama Siti tertidur di kursi dengan kepala miring, mukena masih terlipat di pangkuan setelah sholat Isya. Reno dan Reina pulang dipaksa Pak Bambang. Di luar jendela, hujan menempel di kaca seperti garis-garis tipis.
Kanaya menyentuh liontin kristal di balik baju rumah sakit. Ia tidak bisa masuk ke ruang warisan di rumah sakit, terlalu banyak orang keluar masuk, tetapi ia membawa dua buah persik yang sudah dipotong kecil dalam kotak makan. Sepanjang minggu itu ia memakannya sedikit demi sedikit, bukan untuk keajaiban besar, hanya agar tubuhnya lebih kuat.
"Anak-anak," bisiknya pada perutnya, "besok kita bertemu. Jangan takut. Mama di sini."
Pagi datang terlalu cepat.
Ruang operasi dingin, terang, dan berbau tajam. Kanaya hanya melihat lampu besar di atas kepala, masker dokter, kain hijau yang membatasi pandangannya dari perut sendiri. Mama Siti tidak boleh masuk, tetapi sebelum pintu tertutup, ibu itu mencium kening Kanaya berkali-kali.
"Baca doa terus, Nak. Mama di luar. Mama tidak ke mana-mana."
Kanaya mengangguk. Tenggorokannya terlalu penuh untuk menjawab.
Anestesi membuat separuh tubuhnya kebas. Suara dokter terdengar seperti datang dari balik air, jelas tapi jauh.
"Tekanan darah?"
"Stabil."
"Bayi pertama siap."
Kanaya menatap lampu operasi sampai matanya perih.
Tangisan pertama pecah.
Tidak keras, tetapi jelas. Suara kecil yang menembus seluruh ketakutan dalam dada Kanaya. Air matanya langsung jatuh ke pelipis.
"Laki-laki," kata dokter. "Bayi pertama lahir pukul delapan lewat dua belas. Selamat, Bu."
Seorang perawat mengangkat bayi yang dibungkus cepat, hanya sebentar melewati pandangan Kanaya. Wajahnya merah, tubuhnya kecil, tetapi matanya tampak membuka sedikit sebelum dibawa ke meja pemeriksaan.
"Adrian," bisik Kanaya.
Ia belum sempat menangis lebih lama ketika suara kedua menyusul.
Yang ini lebih keras. Lebih marah. Seolah tidak terima dikeluarkan dari tempat hangatnya.
Perawat sampai tertawa kecil. "Wah, yang kedua semangat sekali."
Kanaya tersedu. "Aiden."
Bayi kedua menjerit lagi, membuat salah satu dokter berkata, "Paru-parunya bagus."
Untuk pertama kali sejak masuk ruang operasi, Kanaya tersenyum.
Bayi ketiga lebih lama.
Suara di sekitar meja operasi menjadi lebih pendek. Ada instruksi pelan, gerakan cepat, bunyi alat diletakkan. Kanaya tidak bisa merasakan sakit, tetapi ia merasakan ketegangan itu di udara.
"Dok?" suaranya gemetar.
"Tenang, Bu Kanaya. Bayi ketiga kecil, tapi kami tangani."
Beberapa detik terasa seperti satu tahun.
Lalu tangis halus terdengar, lemah tetapi ada.
Kanaya menutup mata. Bibirnya bergerak tanpa suara, mengucap syukur berkali-kali.
"Perempuan," kata dokter. "Bayi ketiga lahir pukul delapan lewat dua puluh. Kecil, tapi responsnya baik."
"Alana," bisik Kanaya. "Namanya Alana."
Setelah itu tubuhnya tenggelam dalam lelah. Ia mendengar angka berat badan, instruksi perawat, dokter yang mengatakan perdarahan terkendali. Semuanya datang sebagai potongan-potongan suara. Yang paling jelas hanya satu: ketiga anaknya hidup.
Ketika Kanaya dipindah kembali ke ruang rawat beberapa jam kemudian, wajah Mama Siti bengkak karena menangis. Namun kali ini tangisnya adalah tangis yang membuat orang lain ikut tersenyum.
"Naya," Mama Siti mendekat, mencium tangan putrinya. "Tiga-tiganya selamat. Ya Allah, cantik dan ganteng semua. Mama sudah lihat sebentar dari kaca."
"Aku mau lihat," kata Kanaya, suaranya serak.
"Nanti perawat bawa bergantian. Kamu baru selesai operasi."
Reno dan Reina datang seperti angin ribut begitu jam besuk dibuka. Reno membawa balon murahan dari toko dekat rumah sakit, bentuknya bintang perak. Reina membawa tiga topi bayi, warna biru muda, hijau lembut, dan merah muda.
"Aku sudah bilang sama Reno, jangan beli balon, norak," kata Reina, matanya masih basah.
"Bayi suka balon," bantah Reno.
"Bayi baru lahir belum bisa lihat jelas."
"Yang penting semangat."
Mama Siti memelototi mereka. "Jangan ribut di rumah sakit."
Namun ia sendiri tertawa sambil menangis.
Pak Bambang datang tidak lama setelah itu. Ia tidak membawa bunga, tidak membawa balon, hanya satu termos air hangat dan sekantung bubur ayam tanpa banyak minyak karena ia tahu putrinya belum boleh makan sembarangan. Lelaki itu berdiri di samping ranjang Kanaya cukup lama tanpa bicara.
"Pak?" Kanaya memanggil pelan.
Pak Bambang mengangguk, tetapi matanya merah. "Bapak sudah lihat dari kaca. Kecil-kecil sekali."
"Takut?"
"Takut." Ia menjawab jujur, lalu merapikan ujung selimut Kanaya yang sebenarnya tidak berantakan. "Tapi tadi waktu perawat bilang tiga-tiganya menangis, Bapak merasa lutut Bapak hilang."
Kanaya tertawa lirih, lalu meringis karena luka operasi tertarik.
Pak Bambang langsung panik. "Jangan tertawa dulu. Dokter bilang jahitanmu harus dijaga."
Di wajah ayahnya yang biasanya tegas, Kanaya melihat cinta yang tidak pandai berbicara. Cinta itu datang dalam bentuk termos, bubur, larangan bergerak, dan cara ia diam-diam menyeka sudut mata ketika mengira tidak ada yang melihat.
Sore itu, dua perempuan yang direkomendasikan tetangga datang memperkenalkan diri. Bu Sumi berwajah sabar, berbadan agak gemuk, pengalaman merawat bayi kembar. Bu Ratih lebih muda, gesit, dan langsung bertanya jadwal ASI, botol cadangan, serta ruang tidur bayi.
"Tiga bayi tidak bisa hanya mengandalkan satu orang," kata Bu Sumi lembut kepada Mama Siti. "Bu Kanaya harus pulih. Kalau ibunya tumbang, semua ikut kacau."
Kanaya mendengar dari ranjang dan untuk pertama kalinya tidak menolak bantuan. Ia sudah cukup belajar bahwa kuat bukan berarti mengangkat semua sendirian.
Menjelang malam, perawat akhirnya membawa bayi pertama.
Adrian dibaringkan di lekuk lengan Kanaya. Beratnya ringan sekali, seperti sepotong hangat yang bisa pecah jika ia bernapas terlalu keras. Wajahnya lebih tenang dibanding dua adiknya. Tidak banyak bergerak. Bibir kecilnya sesekali membuka, lalu menutup lagi.
"Ini Mas Adrian," bisik Mama Siti sambil menahan tangis. "Anak pertama."
Kanaya menunduk. Luka operasi berdenyut, tubuhnya lelah, tetapi ketika pipi bayi itu menyentuh lengannya, semua rasa sakit mundur satu langkah.
"Halo, Sayang," bisiknya. "Mama di sini."
Adrian membuka mata.
Kanaya membeku.
Bayi baru lahir memang bisa membuka mata. Dokter sudah pernah bilang. Tetapi tatapan itu bukan tatapan kosong bayi yang mencari cahaya. Mata hitam kecil itu menatap langsung ke wajah Kanaya, terlalu dalam, terlalu diam, seperti seseorang yang sudah mengenalnya jauh sebelum hari ini.
Ruangan yang tadi penuh suara mendadak terasa pelan.
Kanaya merasakan bulu kuduknya berdiri.
Adrian tidak menangis. Ia hanya menatap ibunya, seolah memastikan bahwa kali ini perempuan itu benar-benar masih hidup.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments