Selamat Tinggal, Letkol Arsen
Kita cerai saja, Mas.
Kalimat itu keluar dari bibir Kanaya Aulia Putri dengan suara pelan, hampir tertelan bau antiseptik yang menggantung di ruang rawat putih RSPI Sulianti Saroso. Telapak tangannya masih menempel di perut yang belum tampak membesar. Di sana, tiga nyawa kecil baru berusia sebulan, begitu rapuh sampai napasnya sendiri terasa terlalu keras.
Letkol Arsen Pradipta Wijaya berdiri di sisi ranjang.
Seragam hijaunya rapi. Bahunya tegak. Wajahnya yang biasanya tenang kini kosong, seolah ia baru mendengar bahasa yang tidak ia mengerti. Di antara mereka ada selimut rumah sakit yang dingin, meja kecil dengan gelas air putih, dan buku nikah merah yang sejak tadi digenggam Kanaya sampai sudutnya melengkung.
Kening Kanaya masih diperban tipis. Luka itu ia dapatkan kemarin setelah pertengkaran di koridor rumah sakit. Semua bermula dari Yara, perempuan dari lingkungan Bina Suara yang selalu muncul terlalu dekat dengan Arsen, terlalu pandai memakai suara lembut untuk membuat orang lain terlihat kasar.
Kemarin, Kanaya masih sempat marah. Masih sempat bertanya kenapa Arsen lebih percaya penjelasan Yara daripada istrinya sendiri.
Lalu kepalanya terbentur lantai.
Saat pingsan, ia melihat mimpi yang terlalu nyata untuk disebut mimpi.
Ia melihat dirinya sendiri terbaring di ruang bersalin, darah merembes di bawah tubuh, suara bayi menangis di kejauhan, sementara tidak ada satu pun tangan Arsen yang menggenggamnya. Ia melihat tiga anaknya tumbuh tanpa pelukan ibu. Adrian yang terlalu diam tertabrak mobil di jalan basah. Aiden yang matanya dulu secerah api justru diseret ke kantor polisi karena jebakan yang tidak pernah ia pahami. Alana kecil, putrinya yang manja, berdiri di depan klinik dengan wajah pucat, tubuh gemetar setelah kehilangan sesuatu yang seharusnya ia jaga.
Dan di tengah semua kehancuran itu, Yara tersenyum.
Perempuan itu berdiri di rumah yang seharusnya menjadi rumah Kanaya. Memakai perhiasan yang bukan haknya, memanggil anak-anak Kanaya dengan suara manis yang membuat kulit merinding. Arsen, lelaki yang pernah menjadi suaminya, terlambat mengetahui semuanya. Terlambat menyesal. Terlambat meminta maaf kepada makam yang sudah dingin.
Kanaya membuka mata pagi ini dengan tubuh basah oleh keringat.
Hal pertama yang ia lakukan bukan menangis. Ia hanya menaruh tangan di perutnya dan menghitung napas. Satu. Dua. Tiga. Seolah dengan begitu ia bisa memastikan ketiga anaknya masih ada, masih selamat, masih menjadi miliknya.
Sekarang Arsen menatapnya lama.
"Kau masih pusing?" tanyanya akhirnya.
Kanaya hampir tertawa. Bukan karena lucu, melainkan karena dadanya terasa kosong. Setelah semua yang terjadi, pertanyaan pertama lelaki itu tetap tentang kondisi tubuhnya, bukan tentang luka yang ia buat di hati istrinya.
"Aku sadar penuh," jawabnya. "Kita cerai."
Rahang Arsen mengeras. "Kana."
Nama itu dulu membuatnya tenang. Hari ini, hanya terdengar seperti pintu yang sudah terlambat diketuk.
"Aku tidak sedang mengancam," lanjut Kanaya. "Aku juga tidak meminta Mas memilih antara aku dan siapa pun. Aku hanya memilih jalan untuk diriku sendiri."
Di luar kamar, roda troli perawat berdecit melewati koridor. Suaranya pendek, lalu hilang. Arsen menoleh sekilas ke pintu, mungkin memastikan tidak ada yang mendengar. Kebiasaan seorang perwira. Semua hal harus rapi. Semua luka harus ditutup sebelum orang luar melihat.
"Karena Yara?" Suaranya rendah.
Kanaya menatap buku nikah di tangannya. Sampul merahnya tampak mencolok di atas seprai putih. Ia ingat hari akad mereka, Mama Siti menangis bahagia, Pak Bambang menepuk pundak Arsen, Eyang Marwan menatap cucu menantunya dengan mata seorang prajurit tua yang sedang menilai lelaki muda.
Waktu itu Kanaya percaya, pernikahan yang dimulai tanpa cinta bisa tumbuh menjadi rumah.
Ternyata ada rumah yang sejak awal tidak menyediakan tempat untuknya.
"Bukan hanya karena dia," kata Kanaya. "Karena aku lelah menjadi orang yang harus menjelaskan luka sendiri."
Mata Arsen bergerak ke perban di keningnya. Ada sesuatu yang retak di wajahnya, sangat tipis, cepat sekali hilang.
"Aku tidak pernah berniat menyakitimu."
"Niat tidak selalu menyelamatkan orang, Mas."
Arsen diam.
Perawat masuk membawa berkas pemeriksaan. Perempuan muda itu langsung merasakan udara berat di dalam ruangan, lalu menunduk sopan. "Bu Kanaya, hasil observasi sudah baik. Dokter bilang Ibu boleh pulang siang ini, asal tidak banyak aktivitas dulu."
"Terima kasih, Sus."
Perawat itu melirik Arsen, lalu buku nikah di tangan Kanaya, tetapi ia cukup bijak untuk tidak bertanya. Setelah pintu tertutup lagi, Kanaya menarik napas.
"Aku akan ajukan cerai gugat hari ini."
"Hari ini?" Arsen menatapnya tajam. "Kau baru keluar dari rumah sakit."
"Aku bisa berjalan."
"Kau hamil."
Untuk pertama kali sejak ia bangun, Kanaya mengangkat wajah sepenuhnya. "Justru karena aku hamil."
Kata-kata itu membuat Arsen membeku.
Ia belum tahu. Tentu saja belum. Dalam mimpi mengerikan itu pun, ia selalu terlambat tahu. Terlambat pulang, terlambat percaya, terlambat melindungi.
Kanaya melihat warna wajah Arsen berubah. "Kau..."
"Satu bulan," katanya. "Dokter baru memastikan kemarin."
Tangan Arsen yang tergantung di sisi tubuh mengepal. "Kenapa baru bilang sekarang?"
"Karena kemarin Mas sibuk meminta aku memahami Yara."
Kalimat itu tidak keras. Justru karena terlalu pelan, ia jatuh lebih tajam.
Arsen memejamkan mata sesaat. Ketika membukanya, ada penyesalan yang belum sempat punya nama. "Kana, kalau soal anak, kita bisa bicara."
"Kita sedang bicara." Kanaya merapikan buku nikah itu di pangkuannya. "Anak-anak akan lahir dari tubuhku. Aku yang akan menjaga mereka. Mas boleh menjalankan kewajiban sebagai ayah jika nanti waktunya tiba, tapi aku tidak mau menjadi istri yang berdiri di samping Mas sambil menunggu dihancurkan perlahan."
"Anak-anak?" Arsen menangkap satu kata itu.
Kanaya berhenti. Ia belum siap mengatakan tiga. Bukan sekarang. Bukan ketika semua yang ia miliki harus ia lindungi dari dunia yang sama sekali belum ia pahami.
"Anakku," koreksinya singkat.
Arsen tahu ia menutup sesuatu. Namun mungkin rasa bersalah membuatnya tidak memaksa. Ia hanya menatapnya, lama sekali, sampai suara azan Zuhur dari masjid kecil di area rumah sakit terdengar jauh dan halus.
Siang itu, Kanaya keluar dari rumah sakit dengan jilbab warna krem menutupi perban di keningnya. Arsen berjalan di sampingnya, tidak menyentuh, tetapi selalu cukup dekat seolah takut ia jatuh. Kanaya membiarkannya. Bukan karena luluh. Karena tubuhnya memang masih lemah, dan ia tidak akan membahayakan anak-anak hanya demi terlihat kuat.
Di Pengadilan Agama, proses yang seharusnya panjang dipadatkan oleh keadaan, koneksi tugas Arsen, dan kesediaan kedua pihak menandatangani berkas awal tanpa sengketa. Seorang petugas tua menatap Kanaya lebih dari sekali.
"Ibu yakin?" tanyanya hati-hati. "Dalam keadaan hamil, biasanya keluarga akan minta dipikirkan lagi."
Kanaya menaruh KTP, buku nikah, dan berkas permohonan di meja. "Saya yakin, Pak."
Arsen yang duduk di sebelahnya tidak membantah.
Tanda tangan Kanaya jatuh di kertas dengan garis yang stabil. Tanda tangan Arsen menyusul beberapa detik kemudian, lebih berat, seperti ujung pena itu membawa seluruh tubuhnya.
Ketika mereka keluar, langit Jakarta mulai mendung. Halaman Pengadilan Agama ramai oleh pasangan lain, keluarga yang berbisik, pengacara yang membawa map cokelat, anak kecil yang tertidur di pangkuan ibunya. Di antara semua suara itu, Kanaya merasa anehnya tenang.
Arsen memanggilnya sebelum ia menuruni anak tangga.
"Kana."
Kanaya berhenti.
Arsen mengulurkan sebuah buku tabungan. Sampulnya biru tua, bersih, diselipkan di dalam amplop putih. "Ini tabunganku selama bertugas. Semuanya untukmu, sebagai tanggung jawab."
Kanaya tidak langsung mengambilnya.
"Berapa?"
"Lima ratus juta."
Angka itu membuat beberapa hal berputar cepat di kepala Kanaya. Biaya melahirkan. Tempat tinggal. Modal usaha. Susu. Popok. Masa depan yang tadi pagi masih terlihat seperti jurang, mendadak memiliki satu pijakan sempit.
"Ini bukan untuk membeli keputusanmu," kata Arsen, seolah bisa membaca pikirannya. "Aku tahu keputusanmu sudah selesai."
Kanaya akhirnya menerima amplop itu. Jari mereka bersentuhan sebentar. Kulit Arsen hangat, sama seperti dulu. Yang berbeda hanya Kanaya tidak lagi membiarkan kehangatan itu menjadi alasan untuk tinggal.
"Terima kasih," ucapnya.
Arsen menatap buku nikah merah yang kini tidak lagi ia pegang. Di map cokelat petugas, hubungan mereka sudah berubah menjadi perkara bernomor. Suami istri yang dulu duduk bersanding di depan penghulu, kini berdiri berjarak satu lengan di halaman pengadilan.
"Aku akan tetap bertanggung jawab," kata Arsen.
"Tanggung jawab tidak selalu berarti tinggal bersama."
Angin mengangkat ujung jilbab Kanaya. Ia menahannya dengan satu tangan, tangan lain memeluk amplop dan berkas akta cerai sementara ke dadanya. Perutnya belum terlihat, tetapi ia tahu tiga kehidupan kecil di sana sedang ikut mendengar keputusan pertama ibu mereka.
Ia menuruni tangga.
Satu langkah. Lalu satu lagi.
Arsen tidak mengejar. Mungkin karena harga dirinya, mungkin karena ia benar-benar belum mengerti apa yang baru saja ia lepaskan.
Di gerbang, Kanaya menoleh untuk terakhir kali.
Letkol Arsen Pradipta Wijaya masih berdiri di depan gedung Pengadilan Agama, seragamnya terlalu rapi untuk seorang lelaki yang baru kehilangan rumah. Matanya mengikuti punggung Kanaya seolah baru sadar jalan di antara mereka tidak lagi sama.
Kanaya menatapnya tanpa air mata.
"Bila kau menyesal nanti," katanya pelan, cukup untuk didengar angin dan lelaki itu, "jangan kembali."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments
Soraya
mampir thor
2026-06-23
0