Selamat Tinggal, Letkol Arsen

Selamat Tinggal, Letkol Arsen

Episode 1

Kita cerai saja, Mas.

Kalimat itu keluar dari bibir Kanaya Aulia Putri dengan suara pelan, hampir tertelan bau antiseptik yang menggantung di ruang rawat putih RSPI Sulianti Saroso. Telapak tangannya masih menempel di perut yang belum tampak membesar. Di sana, tiga nyawa kecil baru berusia sebulan, begitu rapuh sampai napasnya sendiri terasa terlalu keras.

Letkol Arsen Pradipta Wijaya berdiri di sisi ranjang.

Seragam hijaunya rapi. Bahunya tegak. Wajahnya yang biasanya tenang kini kosong, seolah ia baru mendengar bahasa yang tidak ia mengerti. Di antara mereka ada selimut rumah sakit yang dingin, meja kecil dengan gelas air putih, dan buku nikah merah yang sejak tadi digenggam Kanaya sampai sudutnya melengkung.

Kening Kanaya masih diperban tipis. Luka itu ia dapatkan kemarin setelah pertengkaran di koridor rumah sakit. Semua bermula dari Yara, perempuan dari lingkungan Bina Suara yang selalu muncul terlalu dekat dengan Arsen, terlalu pandai memakai suara lembut untuk membuat orang lain terlihat kasar.

Kemarin, Kanaya masih sempat marah. Masih sempat bertanya kenapa Arsen lebih percaya penjelasan Yara daripada istrinya sendiri.

Lalu kepalanya terbentur lantai.

Saat pingsan, ia melihat mimpi yang terlalu nyata untuk disebut mimpi.

Ia melihat dirinya sendiri terbaring di ruang bersalin, darah merembes di bawah tubuh, suara bayi menangis di kejauhan, sementara tidak ada satu pun tangan Arsen yang menggenggamnya. Ia melihat tiga anaknya tumbuh tanpa pelukan ibu. Adrian yang terlalu diam tertabrak mobil di jalan basah. Aiden yang matanya dulu secerah api justru diseret ke kantor polisi karena jebakan yang tidak pernah ia pahami. Alana kecil, putrinya yang manja, berdiri di depan klinik dengan wajah pucat, tubuh gemetar setelah kehilangan sesuatu yang seharusnya ia jaga.

Dan di tengah semua kehancuran itu, Yara tersenyum.

Perempuan itu berdiri di rumah yang seharusnya menjadi rumah Kanaya. Memakai perhiasan yang bukan haknya, memanggil anak-anak Kanaya dengan suara manis yang membuat kulit merinding. Arsen, lelaki yang pernah menjadi suaminya, terlambat mengetahui semuanya. Terlambat menyesal. Terlambat meminta maaf kepada makam yang sudah dingin.

Kanaya membuka mata pagi ini dengan tubuh basah oleh keringat.

Hal pertama yang ia lakukan bukan menangis. Ia hanya menaruh tangan di perutnya dan menghitung napas. Satu. Dua. Tiga. Seolah dengan begitu ia bisa memastikan ketiga anaknya masih ada, masih selamat, masih menjadi miliknya.

Sekarang Arsen menatapnya lama.

"Kau masih pusing?" tanyanya akhirnya.

Kanaya hampir tertawa. Bukan karena lucu, melainkan karena dadanya terasa kosong. Setelah semua yang terjadi, pertanyaan pertama lelaki itu tetap tentang kondisi tubuhnya, bukan tentang luka yang ia buat di hati istrinya.

"Aku sadar penuh," jawabnya. "Kita cerai."

Rahang Arsen mengeras. "Kana."

Nama itu dulu membuatnya tenang. Hari ini, hanya terdengar seperti pintu yang sudah terlambat diketuk.

"Aku tidak sedang mengancam," lanjut Kanaya. "Aku juga tidak meminta Mas memilih antara aku dan siapa pun. Aku hanya memilih jalan untuk diriku sendiri."

Di luar kamar, roda troli perawat berdecit melewati koridor. Suaranya pendek, lalu hilang. Arsen menoleh sekilas ke pintu, mungkin memastikan tidak ada yang mendengar. Kebiasaan seorang perwira. Semua hal harus rapi. Semua luka harus ditutup sebelum orang luar melihat.

"Karena Yara?" Suaranya rendah.

Kanaya menatap buku nikah di tangannya. Sampul merahnya tampak mencolok di atas seprai putih. Ia ingat hari akad mereka, Mama Siti menangis bahagia, Pak Bambang menepuk pundak Arsen, Eyang Marwan menatap cucu menantunya dengan mata seorang prajurit tua yang sedang menilai lelaki muda.

Waktu itu Kanaya percaya, pernikahan yang dimulai tanpa cinta bisa tumbuh menjadi rumah.

Ternyata ada rumah yang sejak awal tidak menyediakan tempat untuknya.

"Bukan hanya karena dia," kata Kanaya. "Karena aku lelah menjadi orang yang harus menjelaskan luka sendiri."

Mata Arsen bergerak ke perban di keningnya. Ada sesuatu yang retak di wajahnya, sangat tipis, cepat sekali hilang.

"Aku tidak pernah berniat menyakitimu."

"Niat tidak selalu menyelamatkan orang, Mas."

Arsen diam.

Perawat masuk membawa berkas pemeriksaan. Perempuan muda itu langsung merasakan udara berat di dalam ruangan, lalu menunduk sopan. "Bu Kanaya, hasil observasi sudah baik. Dokter bilang Ibu boleh pulang siang ini, asal tidak banyak aktivitas dulu."

"Terima kasih, Sus."

Perawat itu melirik Arsen, lalu buku nikah di tangan Kanaya, tetapi ia cukup bijak untuk tidak bertanya. Setelah pintu tertutup lagi, Kanaya menarik napas.

"Aku akan ajukan cerai gugat hari ini."

"Hari ini?" Arsen menatapnya tajam. "Kau baru keluar dari rumah sakit."

"Aku bisa berjalan."

"Kau hamil."

Untuk pertama kali sejak ia bangun, Kanaya mengangkat wajah sepenuhnya. "Justru karena aku hamil."

Kata-kata itu membuat Arsen membeku.

Ia belum tahu. Tentu saja belum. Dalam mimpi mengerikan itu pun, ia selalu terlambat tahu. Terlambat pulang, terlambat percaya, terlambat melindungi.

Kanaya melihat warna wajah Arsen berubah. "Kau..."

"Satu bulan," katanya. "Dokter baru memastikan kemarin."

Tangan Arsen yang tergantung di sisi tubuh mengepal. "Kenapa baru bilang sekarang?"

"Karena kemarin Mas sibuk meminta aku memahami Yara."

Kalimat itu tidak keras. Justru karena terlalu pelan, ia jatuh lebih tajam.

Arsen memejamkan mata sesaat. Ketika membukanya, ada penyesalan yang belum sempat punya nama. "Kana, kalau soal anak, kita bisa bicara."

"Kita sedang bicara." Kanaya merapikan buku nikah itu di pangkuannya. "Anak-anak akan lahir dari tubuhku. Aku yang akan menjaga mereka. Mas boleh menjalankan kewajiban sebagai ayah jika nanti waktunya tiba, tapi aku tidak mau menjadi istri yang berdiri di samping Mas sambil menunggu dihancurkan perlahan."

"Anak-anak?" Arsen menangkap satu kata itu.

Kanaya berhenti. Ia belum siap mengatakan tiga. Bukan sekarang. Bukan ketika semua yang ia miliki harus ia lindungi dari dunia yang sama sekali belum ia pahami.

"Anakku," koreksinya singkat.

Arsen tahu ia menutup sesuatu. Namun mungkin rasa bersalah membuatnya tidak memaksa. Ia hanya menatapnya, lama sekali, sampai suara azan Zuhur dari masjid kecil di area rumah sakit terdengar jauh dan halus.

Siang itu, Kanaya keluar dari rumah sakit dengan jilbab warna krem menutupi perban di keningnya. Arsen berjalan di sampingnya, tidak menyentuh, tetapi selalu cukup dekat seolah takut ia jatuh. Kanaya membiarkannya. Bukan karena luluh. Karena tubuhnya memang masih lemah, dan ia tidak akan membahayakan anak-anak hanya demi terlihat kuat.

Di Pengadilan Agama, proses yang seharusnya panjang dipadatkan oleh keadaan, koneksi tugas Arsen, dan kesediaan kedua pihak menandatangani berkas awal tanpa sengketa. Seorang petugas tua menatap Kanaya lebih dari sekali.

"Ibu yakin?" tanyanya hati-hati. "Dalam keadaan hamil, biasanya keluarga akan minta dipikirkan lagi."

Kanaya menaruh KTP, buku nikah, dan berkas permohonan di meja. "Saya yakin, Pak."

Arsen yang duduk di sebelahnya tidak membantah.

Tanda tangan Kanaya jatuh di kertas dengan garis yang stabil. Tanda tangan Arsen menyusul beberapa detik kemudian, lebih berat, seperti ujung pena itu membawa seluruh tubuhnya.

Ketika mereka keluar, langit Jakarta mulai mendung. Halaman Pengadilan Agama ramai oleh pasangan lain, keluarga yang berbisik, pengacara yang membawa map cokelat, anak kecil yang tertidur di pangkuan ibunya. Di antara semua suara itu, Kanaya merasa anehnya tenang.

Arsen memanggilnya sebelum ia menuruni anak tangga.

"Kana."

Kanaya berhenti.

Arsen mengulurkan sebuah buku tabungan. Sampulnya biru tua, bersih, diselipkan di dalam amplop putih. "Ini tabunganku selama bertugas. Semuanya untukmu, sebagai tanggung jawab."

Kanaya tidak langsung mengambilnya.

"Berapa?"

"Lima ratus juta."

Angka itu membuat beberapa hal berputar cepat di kepala Kanaya. Biaya melahirkan. Tempat tinggal. Modal usaha. Susu. Popok. Masa depan yang tadi pagi masih terlihat seperti jurang, mendadak memiliki satu pijakan sempit.

"Ini bukan untuk membeli keputusanmu," kata Arsen, seolah bisa membaca pikirannya. "Aku tahu keputusanmu sudah selesai."

Kanaya akhirnya menerima amplop itu. Jari mereka bersentuhan sebentar. Kulit Arsen hangat, sama seperti dulu. Yang berbeda hanya Kanaya tidak lagi membiarkan kehangatan itu menjadi alasan untuk tinggal.

"Terima kasih," ucapnya.

Arsen menatap buku nikah merah yang kini tidak lagi ia pegang. Di map cokelat petugas, hubungan mereka sudah berubah menjadi perkara bernomor. Suami istri yang dulu duduk bersanding di depan penghulu, kini berdiri berjarak satu lengan di halaman pengadilan.

"Aku akan tetap bertanggung jawab," kata Arsen.

"Tanggung jawab tidak selalu berarti tinggal bersama."

Angin mengangkat ujung jilbab Kanaya. Ia menahannya dengan satu tangan, tangan lain memeluk amplop dan berkas akta cerai sementara ke dadanya. Perutnya belum terlihat, tetapi ia tahu tiga kehidupan kecil di sana sedang ikut mendengar keputusan pertama ibu mereka.

Ia menuruni tangga.

Satu langkah. Lalu satu lagi.

Arsen tidak mengejar. Mungkin karena harga dirinya, mungkin karena ia benar-benar belum mengerti apa yang baru saja ia lepaskan.

Di gerbang, Kanaya menoleh untuk terakhir kali.

Letkol Arsen Pradipta Wijaya masih berdiri di depan gedung Pengadilan Agama, seragamnya terlalu rapi untuk seorang lelaki yang baru kehilangan rumah. Matanya mengikuti punggung Kanaya seolah baru sadar jalan di antara mereka tidak lagi sama.

Kanaya menatapnya tanpa air mata.

"Bila kau menyesal nanti," katanya pelan, cukup untuk didengar angin dan lelaki itu, "jangan kembali."

Terpopuler

Comments

Soraya

Soraya

mampir thor

2026-06-23

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
Episodes

Updated 120 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!