Bab 4: Rahasia di Balik Senyuman
Senin pagi, rasa kuah bakso yang mendadak hambar masih tertinggal di ingatan Keira.
Nama Arya tidak muncul lagi di rumah sepanjang akhir pekan. Mama Lina pura-pura sibuk dengan sayur lodeh, Papa Hendra pura-pura menonton berita, dan Keira pura-pura tidak menunggu cerita lanjutan. Di keluarga Khiu, orang saling menyayangi bahkan lewat keputusan untuk tidak membahas luka sebelum pemiliknya siap.
Tapi kantor tidak peduli pada luka lama.
Pukul sembilan, Keira sudah duduk di mobil Rayhan menuju Optima Design. Di pangkuannya ada map tebal berisi dokumen akuisisi, catatan uji tuntas, dan daftar pertanyaan untuk tim desain. Rayhan duduk di sebelahnya, membaca tablet tanpa suara.
"Kamu sudah pernah ke Optima?" tanyanya.
"Belum, Pak. Tapi saya sudah pelajari struktur tim mereka."
"Kepala desain?"
"Reno Hadisurya."
Nama itu membuat Keira menahan napas setengah detik.
Rayhan melirik. "Kenal?"
"Pernah bertemu sebentar."
"Masalah?"
"Tidak, Pak. Hanya kencan buta gagal."
Supir di depan mendadak batuk. Rayhan menurunkan tablet perlahan.
"Kamu membahas kencan buta sebelum rapat akuisisi?"
"Bapak yang bertanya, saya menjawab jujur."
"Dia menolakmu?"
Keira menoleh ke jendela. "Kami tidak cocok."
Rayhan tidak bertanya lagi. Namun sudut matanya mengeras, kecil sekali, cukup kecil untuk dilewatkan siapa pun kecuali sekretaris yang sudah dua tahun membaca perubahan wajahnya sebelum rapat meledak.
Optima Design menempati gedung kaca di Kuningan. Ruangannya lebih kreatif daripada Gemilang: dinding penuh moodboard, meja kerja berantakan, gelas kopi di mana-mana, dan beberapa desainer berjalan dengan sepatu putih yang tampak terlalu bersih untuk Jakarta.
Reno berdiri di ruang rapat saat mereka masuk. Untuk sesaat, matanya bertemu mata Keira.
Ada kaget, malu, lalu hormat yang terlambat tumbuh.
"Pak Rayhan," Reno menyambut. "Selamat datang di Optima."
Rayhan menjabat tangannya singkat. "Mulai saja."
Rapat berlangsung dua jam. Reno mempresentasikan proyek, konsep desain, dan rencana integrasi setelah akuisisi. Ia berbicara bagus, percaya diri, tetapi beberapa angka biaya subkontraktor tidak sinkron dengan dokumen keuangan.
"Halaman dua belas," kata Rayhan datar.
Keira sudah membuka file pembanding. "Ada selisih dua koma delapan persen antara proyeksi Reno dan laporan finance Optima. Kemungkinan dari biaya revisi vendor interior yang belum masuk."
Reno menatapnya.
Keira tidak menatap balik. Ia menggeser layar, menampilkan tabel. "Saya tandai tiga vendor yang perlu dikonfirmasi. Kalau Optima masih ingin mempertahankan margin, kontrak pascaakuisisi harus memasukkan batas revisi."
Ruang rapat hening sebentar.
Rayhan mengetuk meja satu kali. "Catat itu."
Tim Optima langsung menulis.
Reno baru benar-benar melihat Keira saat itu. Bukan perempuan gemuk yang ia nilai di kafe. Bukan calon pasangan yang membuatnya kecewa karena tidak sesuai foto. Di ruang rapat, Keira bergerak seperti poros kecil yang membuat mesin besar tetap berputar. Ia tahu angka, tahu jadwal, tahu kelemahan dokumen, dan tahu kapan harus diam.
Setelah rapat, Reno mengejar Keira di koridor.
"Keira."
Keira berhenti. Rayhan berjalan beberapa meter di depan, menerima telepon dari Ci Lien.
"Soal Sabtu," kata Reno pelan, "maaf."
"Untuk apa?"
"Untuk caraku melihatmu."
Keira menatapnya. Permintaan maaf yang baik tidak selalu menghapus rasa tidak enak, tapi setidaknya tidak menambah luka.
"Diterima," katanya.
"Kamu luar biasa di rapat."
"Aku dibayar untuk itu."
Reno tersenyum pahit. "Aku kemarin bodoh."
"Kemarin kamu manusia biasa. Hari ini jangan ulangi."
Keira menyusul Rayhan sebelum Reno bisa menjawab. Dari ujung koridor, Rayhan menutup telepon dan memandang Reno sebentar. Tatapan itu dingin, cepat, lalu hilang.
Sore harinya, Keira mengantar dokumen tambahan ke penthouse Rayhan. Ini bukan tugas favoritnya. Rumah pribadi Rayhan terlalu bersih, terlalu mahal, terlalu sunyi. Lantai kayu gelap, jendela setinggi dinding, dan sofa kulit yang seolah tidak pernah diduduki orang yang makan keripik.
Pintu dibuka oleh seorang perempuan muda berwajah cantik dengan apron abu-abu.
"Keira, ya?" tanyanya.
"Iya. Saya mengantar dokumen untuk Pak Rayhan."
"Masuk saja. Dia sedang mandi."
Keira ragu, tetapi perempuan itu sudah berbalik ke dapur. "Aku Citra."
Nama itu pernah Keira dengar dari bisik-bisik lama di kantor. Anak perempuan pengurus rumah keluarga Kie. Tinggal di lingkungan Rayhan bertahun-tahun. Tidak pernah muncul di acara resmi, tetapi selalu ada di ruang paling pribadi.
Citra menaruh gelas air di meja. Gerakannya terlatih, terlalu terlatih untuk seseorang yang seharusnya hanya tamu.
"Kamu sekretaris baru yang bertahan paling lama," katanya.
"Sudah dua tahun."
"Hebat. Perempuan biasanya tidak lama di dekat Rayhan."
Keira tidak tahu harus menjawab apa.
Citra tersenyum. Cantik, tetapi senyum itu seperti kain tipis di atas luka. "Aku masuk rumah ini waktu masih tujuh belas. Orang bilang aku beruntung karena Rayhan memperhatikan aku. Mereka tidak tahu perhatian orang kaya bisa jadi kandang."
Keira menggenggam map lebih erat.
"Citra..."
"Aku pernah hamil." Suara Citra tetap datar, seolah sedang menyebut daftar belanja. "Dia bilang belum waktunya. Dokter datang. Setelah itu aku tetap di sini, masak, membersihkan, menunggu dia bosan."
Udara penthouse yang dingin menusuk kulit Keira.
Ia tidak tahu semua detailnya, dan mungkin tidak berhak bertanya. Tetapi cukup jelas bahwa hubungan itu tidak pernah setara. Citra tidak punya nama di depan keluarga Kie, tidak punya kursi di meja makan, tidak punya masa depan yang bisa ia tunjukkan ke siapa pun.
Pintu kamar utama terbuka.
Rayhan keluar dengan kemeja gelap, rambut masih sedikit basah. Tatapannya berhenti pada Citra, lalu Keira.
"Dokumennya?"
Keira menyerahkan map. "Di sini, Pak."
Citra menunduk dan mulai membereskan gelas, seolah kalimat yang baru ia ucapkan tidak pernah ada.
Rayhan membuka map tanpa melihat perempuan itu. "Keira, besok pagi jadwalkan rapat follow-up dengan Optima."
"Baik, Pak."
"Citra, setelah ini kamu tidak perlu menunggu. Saya ada pekerjaan."
Tangan Citra berhenti sesaat, lalu bergerak lagi. "Baik."
Keira keluar dari penthouse dengan langkah berat. Di lift, bayangan dirinya di dinding stainless tampak lebih pucat. Rayhan yang tadi di ruang rapat terlihat seperti pemimpin sempurna. Rayhan di penthouse barusan terasa seperti pria yang bisa memindahkan hidup orang lain tanpa mengubah nada suara.
Malam itu, sebelum Keira sempat mematikan laptop, telepon Rayhan masuk.
"Keira, catat jadwal Imlek. Papa ingin makan malam keluarga diperluas."
"Dengan keluarga Yong, Pak?"
Di seberang sana, Rayhan diam sebentar.
"Ya. Putri mereka juga datang."
Keira menatap layar gelap laptopnya. Dalam satu hari, ia melihat Reno belajar meminta maaf, Citra belajar menelan luka, dan Rayhan berdiri di antara keduanya seperti orang yang tidak pernah benar-benar perlu membayar apa pun.
"Baik, Pak Direktur."
Rayhan menambahkan dengan suara datar, "Papa bilang, aku harus lebih rajin pada Sanya Yong."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments