Sekretaris yang Tak Tersentuh
Bab 1: Sekretaris Gemuk yang Tak Pernah Mengeluh
"CEO romantis di drama itu bohong semua, Rin. Di dunia nyata, mereka cuma mesin kerja yang pakai jas mahal."
Rina hampir tersedak es teh leci. Di hadapannya, Keira Khiu menusuk potongan pisang goreng dengan garpu plastik, wajahnya serius seperti sedang membahas laporan keuangan tahunan Gemilang Group.
"Lho, bukannya bosmu ganteng?" goda Rina.
"Ganteng tidak bisa dipakai bayar lembur." Keira mengunyah pisang gorengnya pelan. "Pak Direktur itu kalau melihat manusia, yang dia pikirkan bukan hati, tapi kalender. Hari Minggu malam pun bisa berubah jadi hari kerja kalau beliau tiba-tiba mendarat di Soekarno-Hatta."
Seolah semesta ingin ikut bercanda, ponsel Keira bergetar di meja.
Nama di layar membuat senyum Keira membeku.
Pak Direktur Rayhan.
Rina langsung menutup mulutnya dengan tisu. Matanya melebar, penuh rasa kasihan yang sama sekali tidak membantu.
Keira menarik napas, menelan semua kalimat kasar yang sudah berbaris rapi di kepalanya. Dasar merak emas, batinnya. Minggu malam begini masih juga mencari korban. Semoga koper Anda tertukar dengan karung bawang.
Jari Keira menyentuh tombol hijau. Suaranya keluar manis dan profesional.
"Selamat malam, Pak Direktur."
"Keira, saya baru mendarat. Mobil kantor ada kendala. Jemput saya di terminal internasional. Sekarang."
"Baik, Pak Direktur."
"Bawa mobilmu saja. Sopir sudah saya suruh pulang."
"Baik, Pak Direktur."
Telepon terputus.
Rina menatapnya dengan wajah ngeri. "Kamu beneran mau pergi?"
Keira memasukkan sisa pisang goreng ke mulutnya, lalu meraih tas. "Kalau aku tidak pergi, besok aku bukan sekretaris lagi, tapi pengangguran yang masih harus bayar cicilan skincare."
"Tapi ini sudah jam sebelas malam."
"Makanya di drama, sekretaris selalu cantik dan kurus. Mereka mungkin tidak pernah disuruh jemput bos sambil perut masih penuh gorengan."
Rina tertawa, tetapi tawanya pelan. Dia tahu Keira tidak benar-benar mengeluh. Sejak bekerja sebagai sekretaris Direktur Utama Gemilang Group, Keira memang selalu begitu. Di mulut bisa mengomel panjang, di tangan tetap menyelesaikan pekerjaan paling rapi.
Di parkiran kafe, Toyota Avanza putih milik keluarga Khiu menunggu dengan sabar. Mobil itu tidak baru, tetapi bersih. Di kursi penumpang depan ada termos makanan stainless kecil yang tadi dibawakan Mama Lina sebelum Keira pergi bertemu Rina.
Keira membuka tutupnya sebentar. Uap hangat bubur ayam langsung menyentuh wajahnya. Di atas bubur, suwiran ayam dan sedikit daun bawang terpisah rapi dalam wadah kecil.
Ada kertas lipat menempel di sisi termos.
Daun bawangnya Mama taruh di atas ayam. Nanti campur waktu makan, lebih wangi. Jangan lupa minum air putih.
Dada Keira mendadak lunak.
Di luar sana, bosnya bisa memanggil kapan saja seperti dunia ini cuma berisi jadwal rapat dan laporan investasi. Tapi di rumah, Mama Lina selalu mengingat daun bawang.
Keira menutup termos, menyalakan mesin, lalu melaju ke arah bandara.
Malam Jakarta masih hidup. Lampu tol memanjang seperti garis kuning tanpa ujung. Di kaca spion, wajah Keira tampak bulat dan sedikit lelah. Pipi yang tidak pernah berhasil tirus, lengan yang membuatnya selalu memilih baju ukuran besar, dan mata yang mulai mengantuk.
Orang kantor sering mengira dia tidak mendengar bisik-bisik mereka.
Sekretaris Pak Rayhan kok gemuk begitu?
Pasti susah cari pacar.
Untung pintar kerja, kalau tidak, siapa yang mau?
Keira mendengar. Dia hanya memilih tidak memberi mereka panggung.
Di terminal internasional, Rayhan Kie berdiri di tepi jalur penjemputan dengan koper hitam, kemeja putih, dan jas yang dilipat di lengan. Tingginya membuat orang otomatis menoleh. Wajahnya tenang, rambutnya rapi, seolah penerbangan panjang tidak berani meninggalkan kusut di tubuhnya.
Di belakangnya, beberapa mobil mewah berhenti dan pergi. Alphard hitam, Mercedes perak, BMW gelap. Avanza Keira menyelip di antara mereka seperti anak kos masuk ruang rapat direksi.
Rayhan membuka pintu belakang tanpa komentar.
"Selamat malam, Pak Direktur," kata Keira.
"Malam." Rayhan masuk, lalu meletakkan koper di sampingnya. "Kamu dari mana?"
"Dari kafe, Pak. Bertemu teman."
"Makan?"
"Sedikit."
Perut Keira yang masih penuh gorengan mendadak mengkhianati pemiliknya dengan bunyi kecil.
Rayhan mengangkat alis.
Keira memegang setir lebih erat. "Maaf, Pak. Itu suara mesin mobil."
"Mesin mobilmu lapar?"
Keira ingin sekali pura-pura tidak mendengar, tetapi sudut bibir Rayhan terlihat naik sedikit. Untuk seorang pria yang biasanya lebih dingin dari AC ruang rapat, itu hampir bisa disebut tawa.
Lalu aroma bubur ayam keluar dari termos yang belum tertutup sempurna.
Rayhan menoleh. "Itu apa?"
"Bubur ayam buatan Mama saya, Pak. Untuk saya makan nanti."
"Saya belum makan."
Keira diam dua detik. Dalam dua detik itu, dia sempat membayangkan Mama Lina memukul lengannya kalau tahu dia membiarkan orang lapar duduk di mobilnya. Sekalipun orang lapar itu adalah bos yang merusak Minggu malamnya.
"Kalau Bapak tidak keberatan makanan rumahan," kata Keira akhirnya, "silakan. Sendoknya bersih."
Rayhan menerima termos itu. Di kursi belakang Avanza, Direktur Utama Gemilang Group membuka bubur ayam seperti pria biasa yang baru turun dari pesawat dan kelaparan. Keira menyerahkan wadah daun bawang lewat belakang.
"Mama saya bilang, daun bawangnya dicampur pas mau makan. Lebih wangi."
Rayhan mengikuti instruksi itu tanpa membantah. Setelah suapan pertama, dia berhenti sebentar.
"Enak."
Keira menatap jalan, tetapi senyumnya muncul diam-diam. "Nanti saya sampaikan ke Mama."
"Ibumu jualan?"
"Tidak, Pak. Mama masak untuk keluarga saja. Kalau jualan, Papa saya yang pertama bangkrut karena semua dimakan sendiri."
Rayhan mengeluarkan suara rendah yang mirip tawa.
Perjalanan ke SCBD tidak panjang, tetapi cukup untuk membuat udara di dalam mobil berubah. Rayhan tidak banyak bicara. Keira juga tidak. Sesekali dia memberi tahu jalan yang macet, sesekali Rayhan menjawab dengan gumaman pendek sambil menghabiskan bubur sampai dasar termos bersih.
Penthouse Rayhan berada di gedung tinggi dengan lobi wangi dan lantai marmer yang membuat sandal Keira terasa bersalah. Petugas keamanan segera membukakan pintu ketika melihat Rayhan.
"Terima kasih," kata Rayhan sebelum turun.
Keira hampir mengira telinganya salah. "Sama-sama, Pak."
Rayhan menahan pintu mobil sebentar. "Buburnya benar-benar enak."
"Nanti kalau Mama buat lagi, saya bawakan."
Kalimat itu keluar terlalu alami. Keira baru sadar setelah Rayhan menatapnya lebih lama dari biasanya.
"Baik," katanya.
Pintu tertutup.
Keira mengembuskan napas. Ia memutar mobil keluar dari area gedung, melewati Mercedes yang mengilap di parkiran khusus penghuni. Avanza putihnya bergerak pelan, membawa termos kosong dan sisa aroma bubur ayam.
Saat sampai di rumah Khiu di Tangerang Selatan, jam hampir satu dini hari. Lampu teras masih menyala. Papa Hendra tertidur di kursi panjang ruang tamu dengan sarung menutupi perut, televisi menyala tanpa suara. Mama Lina keluar dari dapur begitu mendengar pagar dibuka.
"Sudah pulang?" bisik Mama Lina.
"Sudah, Ma. Buburnya dimakan bos."
Mama Lina tidak marah. Ia justru tersenyum bangga. "Dia bilang apa?"
"Enak."
"Nah, kan. Lain kali Mama buat lebih banyak."
Papa Hendra terbangun, mengucek mata. "Keira sudah makan?"
Keira mengangkat bahu. "Buburnya habis."
Lima belas menit kemudian, tiga orang keluarga Khiu berjalan pelan ke warung nasi goreng dekat kompleks. Papa Hendra dengan kaus longgar, Mama Lina dengan jaket rumah, Keira di tengah mereka, sama-sama bulat, sama-sama mengantuk, sama-sama lapar.
Angin malam menyentuh wajah Keira. Di kantor, orang boleh menganggapnya sekretaris gemuk yang terlalu biasa untuk berdiri di samping Rayhan Kie. Di rumah, dia adalah anak yang ditunggu pulang, bahkan kalau pulangnya membawa termos kosong.
Di lantai tinggi SCBD, Rayhan berdiri di depan jendela penthouse-nya. Dari kejauhan, Avanza putih itu sudah lama menghilang, tetapi aroma bubur ayam masih tertinggal samar di lidahnya.
Sekretarisnya gemuk, suka mengomel dalam hati, dan terlalu cepat menjawab "baik" untuk hal-hal yang seharusnya membuat orang marah.
Rayhan menyentuh sudut bibirnya.
Gadis itu ternyata menarik.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments