Bab 14: Bubur dari Lantai Atas
Pukul tujuh pagi, bel apartemen Keira berbunyi.
Keira membuka pintu dengan rambut masih dijepit asal, kacamata rumah, dan wajah yang jelas belum siap menghadapi masa lalu dalam bentuk pria tinggi membawa dua bungkus bubur.
Arya berdiri di depan pintu dengan tangan kanan masih memakai penyangga. Di tangan kirinya ada kantong plastik dari warung bubur langganan dekat apartemen.
"Pembayaran telur tambahan," katanya.
Keira menatap kantong itu. "Aku tidak bilang boleh naik."
"Aku sudah naik. Lift tidak menanyakan izinmu."
"Mas Arya."
"Aku beli bubur tanpa bawang goreng untukmu."
Kalimat itu curang. Keira memang tidak suka bawang goreng terlalu banyak. Lebih curang lagi, Arya mengingatnya.
Lima menit kemudian, mereka duduk di meja makan kecil. Arya membuka bungkus bubur dengan tangan kiri, hasilnya kuah hampir tumpah ke meja. Keira mengambil alih sambil mengomel.
"Kalau tanganmu belum bisa dipakai, jangan beli makanan berkuah."
"Kalau aku beli roti, kamu mungkin tidak membukakan pintu."
"Jadi ini strategi?"
"Aku PNS. Strategi itu bagian dari pekerjaan."
Keira hampir tersedak. "Jangan pakai jabatan untuk menggoda."
Arya tertawa. Tawa itu pelan, hangat, dan membuat apartemen Keira terasa terlalu penuh untuk ukuran dua puluh delapan meter persegi.
Hari-hari berikutnya bergerak dengan ritme yang berbahaya. Pagi, Arya kadang turun membawa sarapan. Malam, ia mengetuk pintu dengan alasan tidak bisa membuka tutup obat, tidak bisa memasang plastik pelindung penyangga, atau butuh meminjam gunting. Alasan-alasan itu terlalu mudah dibaca, tetapi tidak cukup jahat untuk ditolak.
Keira selalu berkata, "Lima menit saja."
Lima menit berubah menjadi teh hangat. Teh hangat berubah menjadi obrolan tentang Pak Bambang yang kini lebih sering sakit pinggang. Obrolan berubah menjadi Arya duduk di lantai membantu Keira melipat kardus belanja online dengan satu tangan.
Suatu malam, listrik apartemen sempat padam. Keira baru keluar dari kamar mandi ketika lampu mati total. Ia berdiri kaku di pintu kamar, hanya memakai kaus longgar dan celana rumah.
"Keira?" suara Arya datang dari ruang tengah.
"Jangan bergerak!"
"Aku tidak melihat apa-apa."
"Justru itu masalahnya."
Arya tertawa, lalu menyalakan senter ponsel dan mengarahkannya ke lantai, bukan ke…
Sekretaris yang Tak Tersentuh
Episode 14
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 85 Episodes
Comments