4. Merancang Skenario

Angin Jakarta malam ini tidak membawa kesejukan. Angin itu berembus kencang, menampar sisi wajah Savira dan membawa aroma aspal basah bercampur sisa polusi timbal. Ia merapatkan kerah jaket hitamnya, menempelkan punggung pada pilar beton penyangga jalan tol yang permukaannya sekasar ampelas.

Dua jam yang lalu, ia duduk di ruangan kedap suara sebuah bank swasta internasional. Ia menarik seluruh sisa tabungan ibunya, memasukkannya ke rekening anonim yang tidak akan pernah bisa disentuh oleh pelacakan sistem audit Wijaya.

Kini, sebagian kecil dari uang itu telah berubah wujud menjadi sebuah kamera digital laras panjang bermerek mahal yang berada dalam genggamannya. Logam kamera itu terasa sedingin balok es, menyerap panas dari telapak tangannya yang basah oleh keringat.

Savira memejamkan mata sesaat. Keringat dingin merembes dari pori-pori pelipisnya, mengalir turun melewati lekuk lehernya. Ia membiarkan hawa dingin jalan layang ini menusuk tulang-tulangnya, memastikan instingnya tetap sadar dan awas.

Ia merogoh saku kardigan yang tertutup jaket tebalnya. Ujung jarinya menyentuh permukaan plastik jepit rambut melati yang patah. Bau melati samar menguar menembus kain, menekan rasa mual yang sedari tadi mengocok lambungnya.

Setiap kali ia merasa ingin menyerah, aroma melati itu selalu menariknya kembali dari jurang. Ibunya tidak mewariskan harta triliunan rupiah seperti citra yang Wijaya obral kepada media. Ibunya hanya mewariskan kemandirian dan luka.

Suara decit ban yang bergesekan kasar dengan aspal memecah kesunyian malam.

Savira menahan napasnya secara refleks. Ia memundurkan tubuhnya lebih dalam ke balik bayangan pilar beton, tempat cahaya lampu jalan berwarna kuning temaram gagal menjangkaunya.

Sebuah mobil van hitam tanpa pelat nomor belakang berhenti paksa sejauh dua puluh meter dari posisinya. Asap knalpotnya mengepul tebal.

Dua pria bertubuh gempal keluar dari pintu samping van. Mereka bergerak cepat, menyeret sebuah karung goni berukuran tubuh manusia yang tampak berat. Suara gesekan serat goni dengan aspal terdengar ngilu di telinga Savira.

"Cepat seret ke tengah jalan." Pria berjaket kulit hitam berdesis dengan suara serak yang tergesa-gesa.

Pria bertopi bisbol merah menarik ujung karung, napasnya terengah-engah hingga bahunya naik turun. "Lu yakin ini aman? Kalau targetnya ngerem mendadak gimana?"

Sepatu boot pria berjaket kulit menendang sisi karung. "Bos Wijaya berani bayar mahal buat skenario ini. Jangan banyak tanya, kerjain aja dong."

Nama itu menghantam gendang telinga Savira layaknya palu godam. Otot lehernya menegang kaku seketika. Darahnya mendidih, memompa gelombang panas ke ubun-ubun.

Ia sudah menduga hal ini sejak awal. Namun mendengarnya secara langsung dari mulut algojo bayaran tetap membuat perutnya bergejolak hebat. Wijaya Dharma adalah monster sosiopat yang menyamar dalam setelan jas mahal.

Savira mengangkat kameranya perlahan, menyandarkan laras panjang lensa pada sisi pilar beton untuk mengurangi getaran tangannya. Layar kecil kamera itu memancarkan indikator siaga. Ia segera menutupinya dengan telapak tangan kiri agar cahayanya tidak membocorkan posisinya.

Ia memutar cincin fokus lensa perlahan. Wajah kedua pria itu, siluet van hitam, dan karung goni di aspal tertangkap tajam di balik kaca lensa.

Pria bertopi bisbol menendang pelan bungkusan itu. "Orang di dalam karung ini masih hidup kan?"

Terdengar erangan tertahan dari dalam karung. Suara lirih yang menyayat hati, tenggelam oleh deru angin malam.

Pria berjaket kulit meludah ke aspal. "Masih napas. Cukup buat bikin si Baskara masuk penjara gara-gara tabrak lari. Begitu mobil sedan target nabrak, kita foto pelat nomornya, lalu cabut."

Pria bertopi bisbol mendengus kasar sambil mengusap keringat di lehernya. "Sinting skenario si bos. Habis nabrak, truk kargo dari belakang bakal ngehajar mobil target juga kan?"

"Biar kelihatan natural. Target panik nabrak orang tua ini, dia keluar mobil buat ngecek, lalu truk kargo yang disetir si Jali langsung menghabisi nyawanya dari belakang. Kecelakaan beruntun berdarah." Pria pertama terkekeh pelan. "Baskara mati, dan namanya hancur sebagai penabrak lari. Beres deh kerjaan kita."

Savira menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga mengecap rasa besi berkarat di lidahnya. Sosiopat gila. Wijaya menyusun rencana pembunuhan dua lapis secara rapi. Ayahnya tidak hanya ingin mematikan saingan bisnisnya, tetapi juga merancang skenario untuk menghancurkan reputasi keluarga Jayanegara di mata publik.

Di kehidupan sebelumnya, kematian Baskara menjadi racun mematikan yang menghancurkan kewarasan Aaron Jayanegara. Savira masih mengingat dengan jelas ekspresi Aaron di hari pemakaman kakaknya.

Langit menangis menumpahkan hujan deras hari itu. Aaron berdiri mematung di depan nisan tanah basah. Matanya menatap kekosongan, postur tegapnya merosot layaknya pohon tumbang. Pria arogan yang selalu menjaga batasan dengannya itu berubah menjadi cangkang hampa tak bernyawa. Luka batin itu merobek habis jiwa pelindung Aaron.

Lebih parahnya lagi, Savira dipaksa melihat Wijaya Dharma datang melayat. Ayahnya mengenakan setelan jas hitam elegan, membawa karangan bunga lili putih termahal. Wijaya memeluk Aaron dengan tatapan simpatik palsu, membisikkan kata-kata penghiburan beracun di depan bidikan puluhan kamera jurnalis.

Rasa mual kembali menyerang perut Savira. Tangan kirinya mencengkeram kain jaketnya tepat di atas dada. Denyut jantungnya berpacu liar memompa amarah. Cengkeraman tangan kanannya pada kamera mengerat hingga buku-buku jarinya memutih pasi.

Kehancuran finansial dan mental membuat Aaron tidak bisa berada di sana saat Savira didorong dari atas gedung. Jika saja Aaron tidak dihancurkan malam ini, pria itu pasti akan menemukan celah untuk menyelamatkannya. Aaron tidak pernah menyelesaikan masalah Savira secara langsung, tetapi pria itu selalu memastikan tubuh Savira tetap utuh.

Malam ini, Savira akan membalas utang budi itu. Ia tidak akan membiarkan bidak pelindungnya hancur. Ia akan merekam semuanya. Bukti digital ini adalah mata pisau yang akan ia gunakan untuk menggorok leher dominasi Wijaya.

Ponsel pria berjaket kulit bergetar terang memecah fokus Savira. Pria itu melihat layarnya sejenak, lalu mengangkat tangan memberikan isyarat agresif.

"Target sudah masuk jalan layang. Sedan hitam. Siapkan posisinya sekarang!"

Kedua preman itu menarik ujung karung goni. Mereka menumpahkan isinya ke tengah aspal jalur cepat tanpa keraguan.

Seorang pria tua berpakaian compang-camping tergelincir keluar. Tangan dan kakinya terikat tambang kasar. Mulutnya disumpal kain kotor. Pria malang itu meronta lemah, matanya melotot ketakutan menatap aspal yang dingin.

Pria berjaket kulit menarik pisau lipat dari sakunya. Bunyi klik logam pelindung pisau itu terdengar nyaring. Ia memotong ikatan tambang di kaki dan tangan pria tua itu dengan paksa.

"Bangun lu," desisnya seraya menarik kerah baju si gelandangan. "Jalan ke tengah pas lampu mobilnya deket."

"Lepas penutup matanya sekalian. Biar dia kaget lihat lampu dan lari sembarangan," perintah pria bertopi bisbol.

Mereka melepaskan penutup mata pria tua itu. Tanpa belas kasihan, kedua algojo bayaran tersebut mendorong tubuh renta itu hingga tersungkur di tengah garis marka jalan.

Savira memutar lensa kameranya lebih tajam. Ia mengunci fokus pada pelat nomor van hitam yang mulai bergerak mundur, lalu beralih membidik wajah penuh teror sang pria tua. Jemarinya stabil. Ia telah menekan nuraninya ke sudut paling gelap demi mendapatkan bukti yang absolut.

Kedua preman itu berlari cepat, melompati pagar pembatas jalan, menyembunyikan tubuh mereka di balik semak dan bayangan beton. Mereka meninggalkan korban malang itu sendirian menanti ajalnya di tengah jalan raya raya.

Cahaya terang dari sepasang lampu depan mobil menembus kabut malam dari arah selatan. Cahaya itu membelah pekatnya jalan layang layaknya pedang bercahaya.

Mesin V8 sedan mewah itu terdengar menderu halus namun penuh tenaga. Jaraknya kurang dari dua ratus meter dan melaju dalam kecepatan tinggi. Sedan itu meluncur mulus membawa nyawa Baskara Jayanegara di dalamnya.

Jantung Savira berpacu semakin liar, menabrak-nabrak dinding rusuknya. Udara dingin seakan membeku dan mencekik kerongkongannya. Waktu di sekitarnya terasa melambat.

Di tengah aspal, gelandangan tua itu merangkak dengan tubuh bergetar hebat. Matanya tersilaukan oleh sorot lampu sedan yang mendekat cepat. Ia berusaha berdiri, namun kakinya terlalu lemah, membuatnya terhuyung menutupi lajur mobil Baskara.

Savira menstabilkan ritme napasnya, menumpukan seluruh berat tubuhnya pada pilar beton. Layar kameranya menyorot tajam setiap detik krusial ini tanpa berkedip. Matanya menatap lurus, menolak membiarkan satu pun detail terlewatkan.

Sorot lampu mobil Baskara mulai mendekati titik jebakan, dan jari jemari Savira bersiap menekan tombol rekam pada kameranya.

Terpopuler

Comments

Ari Peny

Ari Peny

gila gk nolong sama aja

2026-08-04

0

lihat semua
Episodes
1 1. Akhirnya Patah
2 2. Tujuh Belas Tahun
3 3. Titik Nol
4 4. Merancang Skenario
5 5. Sekutu Berdarah
6 6. Skandal Pembunuhan Berdarah
7 7. Merusak Takdir
8 8. Aset yang Efisien
9 9. Bukti Nyata
10 10. Menutupi Kegugupannya
11 11. Utang Nyawa
12 12. Terlalu Identik
13 13. Tanpa disadari
14 14. Perebutan Teritorial
15 15. Memakan Sisa Kewarasan
16 16. Cabang Probabilitas
17 17. Senjata Pembunuh Sungguhan
18 18. Menahan Godaan
19 19. Kekacauan yang Sedang Terjadi
20 20. Kita Coba Lagi
21 21. Skenario Pencucian Dosa
22 22. Terapi Psikologis
23 23. Bayangan Masa Lalu
24 24. Keberanian Gila
25 25. Bidan Kartika
26 26. Panggung Akademik
27 27. Lelucon Takdir
28 28. Manipulasi Finansial
29 29. Kepanikan Buta
30 30. Bermain Sangat Rapi
31 31. Tidak Memiliki Nilai Tukar
32 32. Pola Serangannya Berubah
33 33. Alarm Bahaya
34 34. Resikonya Terlalu Besar
35 35. Akan Musnah
36 36. Bidak Catur
37 37. Sejak Awal
38 38. Taktik Sunyi
39 39. Sisa-sisa Masa Lalu
40 40. Menonton Kehancuran
41 41. Dalam Bentuk Kelembutan
42 42. Runtuh Seketika
43 43. Dalih Basi yang Sama
44 44. Kebanggaan Sejati
45 45. Tidak Butuh
46 Baru — Rebirth, Kali Ini Aku Menikahi Adikmu
47 46. Merasa Sangat Pintar
48 47. Membutakan Logika
49 48. Regu Pembersih
50 49. Bara Permusuhan
51 50. Terlalu Yakin
52 51. Pengakuan Paling Telak
53 52. Waktu Akan Membuktikan
54 53. Menuntut Kedaulatan
55 54. Dengan Tanganku Sendiri
56 55. Bahan Bakar Utama
57 56. Cukup Membuat Pusing
58 57. Mencari Jalan Keluar Darurat
59 58. Menyerang Aliansi
60 59. Mencari Anomali Data
61 60. Hanya Mengelupas Perbannya
62 61. Fokus Menyiapkan Mental
63 62. Hancur Terbakar
64 63. Berbanding Terbalik
65 64. Memegang Kendali Penuh
66 65. Lapis Demi Lapis
67 66. Sangat Meyakinkan
68 67. Mengubah Status
69 68. Pukulan Paling Mematikan
70 69. Merebut Kembali
71 70. Penghakiman Massal
72 71. Berhenti Berputar
73 72. Dia Bukan Ibuku
74 73. Celah Ketakutan
75 74. Seperti Keluarga
76 75. Di Bawah Kendaliku
77 76. Ditutup Total
78 77. Membunuh Sang Monster
79 78. Terpenuhi Secara Terhormat
80 79. Pengakuan Hukum
81 80. Pidana Penjara
82 81. Sudah Terpenuhi
83 82. Berhasil Memutus Rantai
84 83. Nadia tidak Jahat
85 84. Satu Alasan Sederhana
86 85. Seorang Pemenang - TAMAT
Episodes

Updated 86 Episodes

1
1. Akhirnya Patah
2
2. Tujuh Belas Tahun
3
3. Titik Nol
4
4. Merancang Skenario
5
5. Sekutu Berdarah
6
6. Skandal Pembunuhan Berdarah
7
7. Merusak Takdir
8
8. Aset yang Efisien
9
9. Bukti Nyata
10
10. Menutupi Kegugupannya
11
11. Utang Nyawa
12
12. Terlalu Identik
13
13. Tanpa disadari
14
14. Perebutan Teritorial
15
15. Memakan Sisa Kewarasan
16
16. Cabang Probabilitas
17
17. Senjata Pembunuh Sungguhan
18
18. Menahan Godaan
19
19. Kekacauan yang Sedang Terjadi
20
20. Kita Coba Lagi
21
21. Skenario Pencucian Dosa
22
22. Terapi Psikologis
23
23. Bayangan Masa Lalu
24
24. Keberanian Gila
25
25. Bidan Kartika
26
26. Panggung Akademik
27
27. Lelucon Takdir
28
28. Manipulasi Finansial
29
29. Kepanikan Buta
30
30. Bermain Sangat Rapi
31
31. Tidak Memiliki Nilai Tukar
32
32. Pola Serangannya Berubah
33
33. Alarm Bahaya
34
34. Resikonya Terlalu Besar
35
35. Akan Musnah
36
36. Bidak Catur
37
37. Sejak Awal
38
38. Taktik Sunyi
39
39. Sisa-sisa Masa Lalu
40
40. Menonton Kehancuran
41
41. Dalam Bentuk Kelembutan
42
42. Runtuh Seketika
43
43. Dalih Basi yang Sama
44
44. Kebanggaan Sejati
45
45. Tidak Butuh
46
Baru — Rebirth, Kali Ini Aku Menikahi Adikmu
47
46. Merasa Sangat Pintar
48
47. Membutakan Logika
49
48. Regu Pembersih
50
49. Bara Permusuhan
51
50. Terlalu Yakin
52
51. Pengakuan Paling Telak
53
52. Waktu Akan Membuktikan
54
53. Menuntut Kedaulatan
55
54. Dengan Tanganku Sendiri
56
55. Bahan Bakar Utama
57
56. Cukup Membuat Pusing
58
57. Mencari Jalan Keluar Darurat
59
58. Menyerang Aliansi
60
59. Mencari Anomali Data
61
60. Hanya Mengelupas Perbannya
62
61. Fokus Menyiapkan Mental
63
62. Hancur Terbakar
64
63. Berbanding Terbalik
65
64. Memegang Kendali Penuh
66
65. Lapis Demi Lapis
67
66. Sangat Meyakinkan
68
67. Mengubah Status
69
68. Pukulan Paling Mematikan
70
69. Merebut Kembali
71
70. Penghakiman Massal
72
71. Berhenti Berputar
73
72. Dia Bukan Ibuku
74
73. Celah Ketakutan
75
74. Seperti Keluarga
76
75. Di Bawah Kendaliku
77
76. Ditutup Total
78
77. Membunuh Sang Monster
79
78. Terpenuhi Secara Terhormat
80
79. Pengakuan Hukum
81
80. Pidana Penjara
82
81. Sudah Terpenuhi
83
82. Berhasil Memutus Rantai
84
83. Nadia tidak Jahat
85
84. Satu Alasan Sederhana
86
85. Seorang Pemenang - TAMAT

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!