"Berdasarkan perintah pengadilan tinggi, kami telah melakukan uji DNA komparatif," ucap pria berjas putih itu. Suaranya bergema melalui pengeras suara, berat dan final.
Di balik kaca satu arah ruang observasi VIP, Savira berdiri mematung. Matanya terpaku pada layar monitor yang menyiarkan konferensi pers tersebut secara langsung. Ujung jari Savira sedingin es, mencengkeram erat tepi meja baja tahan karat di hadapannya.
"Napasmu tidak teratur," tegur Aaron pelan.
Pria itu berdiri dua langkah tepat di belakang Savira. Posturnya tegap, menghalangi cahaya lampu ruangan yang menyengat dari arah pintu masuk. Hawa panas dari tubuh Aaron menjalar melalui jarak di antara mereka, menantang suhu beku di dalam ruangan.
"Ini bukan ketakutan," balas Savira. Suaranya terdengar serak. "Ini antisipasi."
Aaron melangkah maju satu tindak. Ujung sepatu kulitnya bergesekan dengan lantai marmer putih. "Kebenaran tidak pernah membutuhkan persetujuan dari musuhmu."
"Tapi aku membutuhkan pengakuan hukum dari negara," sahut Savira cepat.
Gadis itu menatap lurus ke depan tanpa berkedip. Di kehidupan pertamanya, ia mati sebagai anak buangan yang identitasnya dirampas paksa. Wijaya membuangnya seperti sampah tak bernilai, menggantikannya dengan tiruan yang memikat simpati publik.
Ketua Tim Forensik membalik halaman pertama dari dokumen tersebut. Cahaya blitz kamera dari bangku wartawan semakin membabi buta.
"Sampel pertama, pengujian probabilitas paternal antara Tuan Wijaya Dharma dan Nona Nadia Dharma." Pria di podium itu menjeda kalimatnya.
Suasana aula seketika sunyi senyap. Ratusan jurnalis menahan napas secara serentak.
"Hasil analisis menunjukkan nol kecocokan pada lokus genetik utama." Pria itu menatap lurus ke arah lensa kamera televisi pusat. "Probabilitas hubungan darah adalah nol persen."
Ledakan suara langsung memenuhi penjuru aula. Pertanyaan dilontarkan secara bersamaan, tumpang tindih menciptakan kebisingan yang memekakkan telinga.
Savira memejamkan matanya rapat-rapat. Jantungny…
Putri Asli Yang Tak Pernah Dipilih
79. Pengakuan Hukum
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 86 Episodes
Comments