5. Sekutu Berdarah

Sedan hitam pekat itu mengerem mendadak dengan posisi membuang arah. Moncong mobilnya penyok parah setelah menghantam beton pembatas jalan layang. Asap putih berbau karet terbakar mengepul tebal dari bawah ban, meracuni udara dingin Jakarta yang menampar wajah Savira.

Tubuh pria berbalut pakaian compang-camping itu terlempar ke udara. Pria malang tersebut berguling kasar di atas aspal bergerigi, lalu terdiam kaku bersimbah darah.

Jemari Savira menekan tombol rekam pada kamera digitalnya tanpa getar sedikit pun. Lensa panjang beresolusi tinggi itu mengunci setiap inci pergerakan di lokasi kejadian.

Dari balik rimbun semak belukar di sisi bahu jalan, dua algojo bayaran Wijaya keluar dari persembunyian. Mereka sama sekali tidak menolong korban yang terkapar. Salah satu dari mereka justru mengacungkan ponsel tinggi-tinggi. Kilatan cahaya flash menyambar-nyambar beringas dalam kegelapan, merekam pelat nomor sedan mewah tersebut dari berbagai sudut.

Pintu pengemudi sedan terbuka paksa dengan bunyi decit engsel berkarat. Baskara Jayanegara melangkah keluar dengan tubuh limbung. Setelan kemeja abu-abunya basah oleh keringat dingin. Wajah pria arogan itu pucat pasi, kehilangan seluruh raut dominasinya.

Baskara melangkah terhuyung mendekati tubuh korban di tengah marka jalan. Tangannya terulur bimbang, mencoba mencari sisa denyut nadi di leher pria tua itu.

Savira menahan aliran napasnya di kerongkongan. Matanya melirik tajam ke arah selatan jalan layang.

Gema raungan mesin diesel kelas berat mengoyak malam, membuat getaran aspal menjalar hingga ke telapak sepatu Savira. Sebuah truk kargo melaju kencang tanpa menyalakan lampu utama. Raksasa besi hitam itu meluncur buas membelah kabut, menargetkan posisi Baskara yang berjongkok tanpa pertahanan sama sekali.

Ini adalah detik persis kematian Baskara di garis waktu sebelumnya. Detik berdarah yang akan menghancurkan jiwa Aaron Jayanegara selamanya.

Savira tidak bisa membiarkannya terjadi lagi. Ia merogoh saku ranselnya dengan gerakan kilat, menarik keluar sebuah senter taktis berdaya lumen maksimal. Benda padat ini telah ia siapkan khusus untuk menantang malam ini.

Ia mengeluarkan setengah badan dari balik pilar beton penyangga. Ibu jarinya menekan tombol senter ke mode strobo paling tinggi. Cahaya putih yang membutakan menembak lurus, menembus kaca depan truk kargo yang melaju beringas.

Sopir truk itu terkejut. Refleks kelopak matanya tertutup rapat menahan rasa perih. Tangan kasarnya membanting setir ke arah kiri secara tak terkendali.

Ban truk berdecit panjang, kehilangan seluruh cengkeramannya pada aspal basah. Bodi raksasa besi itu oleng hebat, menghantam keras pembatas jalan dengan bunyi ledakan logam yang memekakkan telinga. Truk itu bergesekan panjang dengan beton, memercikkan hujan bunga api yang menyala terang di udara malam, lalu berhenti total sejauh sepuluh meter dari posisi Baskara.

Baskara terlempar ke belakang, jatuh terduduk di aspal kasar. Matanya melebar penuh teror melihat moncong truk yang nyaris melumat tubuhnya menjadi serpihan daging busuk.

"Sialan!" Umpatan kasar terdengar jelas dari arah semak-semak. Preman bertopi bisbol merah itu menendang tanah dengan marah melihat truk gagal meremukkan target. Rencana pembunuhan berlapis Wijaya Dharma berantakan dalam hitungan detik.

Sayup-sayup dari kejauhan, lolongan sirene polisi memecah kesunyian malam. Suara peringatan itu mendekat dengan kecepatan tidak wajar untuk sebuah laporan kecelakaan biasa.

Savira mendecih pelan. Aparat penegak hukum itu datang terlalu cepat. Wijaya jelas telah menyuap mereka untuk langsung menangkap Baskara dan menyegel status pria itu sebagai pembunuh malam ini juga.

Baskara masih mematung di aspal. Napasnya tersengal menatap pendaran lampu rotator merah biru yang mulai memantul di ujung jalan layang. Pria itu masih terjebak dalam kebingungan absolut.

Savira menarik tudung jaket hitamnya hingga menutupi separuh wajah. Ia mengamankan kameranya ke dalam ransel pelindung, lalu berlari cepat keluar dari bayangan pilar. Langkahnya tanpa suara, seringan embusan angin yang menusuk tulang.

Ia mencengkeram kerah kemeja Baskara dari belakang dan menarik pria itu berdiri dengan tenaga penuh.

Baskara terkesiap hebat, tubuhnya memberontak. "Tunggu! Orang itu terluka! Aku harus bertanggung jawab padanya!"

"Ini jebakan, bodoh!" Savira mencengkeram lengan Baskara lebih kuat, ujung kukunya menembus serat kemeja mahal pria itu. Suaranya ditekan serendah mungkin, mendesis bagai bisa ular.

Mata Baskara beralih menatap tajam wajah Savira yang tertutup bayangan tudung gelap.

"Kecuali kau ingin mati membusuk di sel tikus milik Wijaya Dharma karena tuduhan pembunuhan berencana, ikut aku sekarang." Savira menajamkan sorot matanya, membiarkan nama musuh besarnya beresonansi di udara malam.

Nama Wijaya bekerja bagai mantra penangkal racun. Wajah Baskara berubah menegang keras. Kepanikan di matanya perlahan luntur, digantikan oleh kesadaran yang beku. Insting bisnis keluarga Jayanegara akhirnya mengambil alih logika liarnya.

Tanpa menunggu persetujuan, Savira menyeret lengan Baskara menuju tepian gelap jalan layang. Terdapat sebuah tangga besi pemeliharaan yang tersembunyi di balik semak dan dinding beton.

Mereka menuruni anak tangga berkarat itu tepat saat tiga mobil patroli polisi mengerem mendadak di lokasi kejadian. Pintu mobil terbanting terbuka keras. Suara teriakan bariton aparat langsung memenuhi udara malam di atas kepala mereka.

Savira tidak sudi menoleh ke belakang. Ia memimpin jalan menembus lorong-lorong sempit di bawah jalan tol. Hidungnya dijejali aroma lumut basah, air selokan yang menggenang pekat, dan tumpukan sampah plastik yang membusuk. Udara lembap ini membuat paru-parunya bekerja dua kali lipat lebih keras, tetapi kedua kakinya menolak untuk berhenti bergerak.

Baskara mengikuti rapat di belakangnya dengan napas terengah-engah parah. Suara sepatu kulitnya berdebum kasar di atas tanah basah, menciptakan kontras tajam dengan langkah kaki Savira yang nyaris tak menghasilkan gema.

Mereka memutar jauh melewati kompleks pertokoan tua yang gelap gulita, menyusuri dinding bata merah yang penuh coretan, hingga akhirnya cahaya terang lampu jalan raya utama menyambut tubuh mereka.

Kawasan ini padat oleh deretan pedagang kaki lima dan lalu lalang pejalan kaki malam. Mereka aman dari jangkauan penangkapan sepihak aparat bayaran Wijaya.

Savira melepaskan cengkeramannya pada lengan Baskara. Ia memundurkan tubuhnya selangkah ke dalam bayangan kanopi toko, menjaga jarak absolut agar wajahnya tetap tersembunyi di balik tudung jaket.

Baskara menopang bahunya di tembok bata basah, mengambil napas dalam-dalam. Dadanya naik turun dengan tempo berantakan. Sepasang mata tajamnya menatap siluet Savira dari ujung kepala hingga ujung kaki.

"Kau siapa?" Baskara menuntut jawaban dengan suara seraknya.

Savira mengunci bibirnya rapat-rapat. Matanya yang sedingin lautan es hanya mengamati postur tubuh Baskara yang masih utuh bernapas. Pria ini hidup. Garis waktu telah berhasil ia bengkokkan dengan paksa malam ini.

"Kenapa kau menyelamatkanku? Dari mana kau tahu ini murni perbuatan licik Wijaya?" Pria itu memaksakan kakinya melangkah maju satu tindak, mencoba memperpendek jarak di antara mereka.

Angin malam berembus kencang melintasi lorong sempit itu. Tudung jaket Savira tersingkap sedikit, memperlihatkan lengkungan rahangnya yang tegas di bawah cahaya temaram. Aroma melati tipis terlepas bebas ke udara, menyapu indra penciuman Baskara selama sekian detik.

Savira membalikkan badannya begitu saja. Ia membaur cepat ke dalam kerumunan pejalan kaki yang riuh, membiarkan Baskara mematung di ujung lorong dengan kepalanya yang dipenuhi sejuta pertanyaan tak terjawab.

Dua jam kemudian, Savira duduk tenang di depan meja lipat usang di sebuah kamar indekos sewaan yang berbau apak. Kipas angin kecil berputar pelan di sudut ruangan, mengeluarkan bunyi berderik yang monoton mengiris sunyi.

Cahaya biru terang dari layar laptop menerangi wajah pucatnya.

Ia memasukkan kartu memori dari kamera digitalnya ke dalam slot samping laptop. Video yang baru saja ia rekam berputar lancar di layar. Rencananya berjalan dengan tingkat akurasi yang sempurna.

Resolusi tinggi lensa itu menangkap kontur wajah preman bertopi merah dengan sangat jelas. Suara percakapan kotor mereka tentang jumlah bayaran Wijaya Dharma terekam bersih berkat pengaturan mikrofon terarah yang ia pasang. Adegan pendorongan pria tua tak berdaya itu ke aspal, kedatangan mobil sedan Baskara, hingga moncong truk kargo yang gagal menabrak target terekam tanpa celah.

Jari-jari Savira menari gesit di atas tombol keyboard. Ia memindahkan fail video orisinal itu ke dalam sebuah flashdisk hitam berukuran kecil.

Dada Savira bergemuruh teratur. Aliran adrenalin yang sejak tadi memompa denyut darahnya kini perlahan surut tak bersisa. Sensasi panas di sekujur tubuhnya digantikan oleh kepuasan absolut yang membekukan kewarasannya.

Satu pilar penyangga skenario kejam ayahnya telah ia hancurkan berkeping-keping malam ini.

Aaron Jayanegara tidak akan kehilangan kakaknya. Pria posesif yang selalu mengorbankan tubuhnya untuk melindungi Savira di kehidupan lalu itu tidak akan hancur menjadi cangkang kosong yang gila. Keluarga Jayanegara akan tetap berdiri kokoh menyala sebagai lawan paling sepadan bagi kerajaan bisnis Dharma Group.

Mereka akan menjadi sekutu berdarahnya. Bidak terkuat di atas papan catur pembalasannya.

Savira mencabut flashdisk hitam itu dari port laptop. Logam penyimpannya terasa dingin dan solid di ujung jarinya.

Ia mengambil sebuah amplop cokelat bersih dari dalam laci mejanya. Benda kertas ini adalah kunci pembuka kotak Pandora yang akan memicu peperangan tanpa ampun di ibu kota. Amplop ini akan segera menemukan tempat peristirahatan sempurnanya di atas meja kerja kayu jati eksklusif milik Aaron Jayanegara.

Savira memasukkan flashdisk tersebut ke dalam amplop. Ia merekatkan penutupnya kuat-kuat. Permukaan amplop itu dibiarkan telanjang, tanpa prangko pengiriman, tanpa nama pengirim, tanpa sepucuk surat penjelasan pun. Durasi video di dalamnya sudah lebih dari cukup untuk membuat Aaron dan Baskara bergerak buas mengincar leher urat nadi Wijaya Dharma.

Terpopuler

Comments

gina altira

gina altira

semangat ka, seruuu

2026-06-21

0

lihat semua
Episodes
1 1. Akhirnya Patah
2 2. Tujuh Belas Tahun
3 3. Titik Nol
4 4. Merancang Skenario
5 5. Sekutu Berdarah
6 6. Skandal Pembunuhan Berdarah
7 7. Merusak Takdir
8 8. Aset yang Efisien
9 9. Bukti Nyata
10 10. Menutupi Kegugupannya
11 11. Utang Nyawa
12 12. Terlalu Identik
13 13. Tanpa disadari
14 14. Perebutan Teritorial
15 15. Memakan Sisa Kewarasan
16 16. Cabang Probabilitas
17 17. Senjata Pembunuh Sungguhan
18 18. Menahan Godaan
19 19. Kekacauan yang Sedang Terjadi
20 20. Kita Coba Lagi
21 21. Skenario Pencucian Dosa
22 22. Terapi Psikologis
23 23. Bayangan Masa Lalu
24 24. Keberanian Gila
25 25. Bidan Kartika
26 26. Panggung Akademik
27 27. Lelucon Takdir
28 28. Manipulasi Finansial
29 29. Kepanikan Buta
30 30. Bermain Sangat Rapi
31 31. Tidak Memiliki Nilai Tukar
32 32. Pola Serangannya Berubah
33 33. Alarm Bahaya
34 34. Resikonya Terlalu Besar
35 35. Akan Musnah
36 36. Bidak Catur
37 37. Sejak Awal
38 38. Taktik Sunyi
39 39. Sisa-sisa Masa Lalu
40 40. Menonton Kehancuran
41 41. Dalam Bentuk Kelembutan
42 42. Runtuh Seketika
43 43. Dalih Basi yang Sama
44 44. Kebanggaan Sejati
45 45. Tidak Butuh
46 Baru — Rebirth, Kali Ini Aku Menikahi Adikmu
47 46. Merasa Sangat Pintar
48 47. Membutakan Logika
49 48. Regu Pembersih
50 49. Bara Permusuhan
51 50. Terlalu Yakin
52 51. Pengakuan Paling Telak
53 52. Waktu Akan Membuktikan
54 53. Menuntut Kedaulatan
55 54. Dengan Tanganku Sendiri
56 55. Bahan Bakar Utama
57 56. Cukup Membuat Pusing
58 57. Mencari Jalan Keluar Darurat
59 58. Menyerang Aliansi
60 59. Mencari Anomali Data
61 60. Hanya Mengelupas Perbannya
62 61. Fokus Menyiapkan Mental
63 62. Hancur Terbakar
64 63. Berbanding Terbalik
65 64. Memegang Kendali Penuh
66 65. Lapis Demi Lapis
67 66. Sangat Meyakinkan
68 67. Mengubah Status
69 68. Pukulan Paling Mematikan
70 69. Merebut Kembali
71 70. Penghakiman Massal
72 71. Berhenti Berputar
73 72. Dia Bukan Ibuku
74 73. Celah Ketakutan
75 74. Seperti Keluarga
76 75. Di Bawah Kendaliku
77 76. Ditutup Total
78 77. Membunuh Sang Monster
79 78. Terpenuhi Secara Terhormat
80 79. Pengakuan Hukum
81 80. Pidana Penjara
82 81. Sudah Terpenuhi
83 82. Berhasil Memutus Rantai
84 83. Nadia tidak Jahat
85 84. Satu Alasan Sederhana
86 85. Seorang Pemenang - TAMAT
Episodes

Updated 86 Episodes

1
1. Akhirnya Patah
2
2. Tujuh Belas Tahun
3
3. Titik Nol
4
4. Merancang Skenario
5
5. Sekutu Berdarah
6
6. Skandal Pembunuhan Berdarah
7
7. Merusak Takdir
8
8. Aset yang Efisien
9
9. Bukti Nyata
10
10. Menutupi Kegugupannya
11
11. Utang Nyawa
12
12. Terlalu Identik
13
13. Tanpa disadari
14
14. Perebutan Teritorial
15
15. Memakan Sisa Kewarasan
16
16. Cabang Probabilitas
17
17. Senjata Pembunuh Sungguhan
18
18. Menahan Godaan
19
19. Kekacauan yang Sedang Terjadi
20
20. Kita Coba Lagi
21
21. Skenario Pencucian Dosa
22
22. Terapi Psikologis
23
23. Bayangan Masa Lalu
24
24. Keberanian Gila
25
25. Bidan Kartika
26
26. Panggung Akademik
27
27. Lelucon Takdir
28
28. Manipulasi Finansial
29
29. Kepanikan Buta
30
30. Bermain Sangat Rapi
31
31. Tidak Memiliki Nilai Tukar
32
32. Pola Serangannya Berubah
33
33. Alarm Bahaya
34
34. Resikonya Terlalu Besar
35
35. Akan Musnah
36
36. Bidak Catur
37
37. Sejak Awal
38
38. Taktik Sunyi
39
39. Sisa-sisa Masa Lalu
40
40. Menonton Kehancuran
41
41. Dalam Bentuk Kelembutan
42
42. Runtuh Seketika
43
43. Dalih Basi yang Sama
44
44. Kebanggaan Sejati
45
45. Tidak Butuh
46
Baru — Rebirth, Kali Ini Aku Menikahi Adikmu
47
46. Merasa Sangat Pintar
48
47. Membutakan Logika
49
48. Regu Pembersih
50
49. Bara Permusuhan
51
50. Terlalu Yakin
52
51. Pengakuan Paling Telak
53
52. Waktu Akan Membuktikan
54
53. Menuntut Kedaulatan
55
54. Dengan Tanganku Sendiri
56
55. Bahan Bakar Utama
57
56. Cukup Membuat Pusing
58
57. Mencari Jalan Keluar Darurat
59
58. Menyerang Aliansi
60
59. Mencari Anomali Data
61
60. Hanya Mengelupas Perbannya
62
61. Fokus Menyiapkan Mental
63
62. Hancur Terbakar
64
63. Berbanding Terbalik
65
64. Memegang Kendali Penuh
66
65. Lapis Demi Lapis
67
66. Sangat Meyakinkan
68
67. Mengubah Status
69
68. Pukulan Paling Mematikan
70
69. Merebut Kembali
71
70. Penghakiman Massal
72
71. Berhenti Berputar
73
72. Dia Bukan Ibuku
74
73. Celah Ketakutan
75
74. Seperti Keluarga
76
75. Di Bawah Kendaliku
77
76. Ditutup Total
78
77. Membunuh Sang Monster
79
78. Terpenuhi Secara Terhormat
80
79. Pengakuan Hukum
81
80. Pidana Penjara
82
81. Sudah Terpenuhi
83
82. Berhasil Memutus Rantai
84
83. Nadia tidak Jahat
85
84. Satu Alasan Sederhana
86
85. Seorang Pemenang - TAMAT

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!