Nama yang Menentang Langit

​Sebelum melangkah keluar dari batas kabut yang telah mengurungnya selama delapan belas tahun, Wu Tian membawa ketiga kultivator muda itu ke sebuah tempat terbuka di dekat reruntuhan Altar Darah. Di sana terdapat sebuah goa batu sederhana yang selama ini ia gunakan untuk berteduh dari hujan hitam. Tiga kultivator Klan Wu itu duduk dengan canggung di atas batu-batu ceper, sementara Wu Tian berdiri bersandar pada dinding goa, mengamati mereka dengan tatapan ingin tahu yang datar.

​Aura membunuh yang tadi mencekam kini telah sepenuhnya padam. Tanpa tekanan luar biasa itu, Wu Lin dan kedua rekannya mulai bisa bernapas lega. Mereka menyadari satu hal yang cukup aneh: pemuda di depan mereka ini memiliki kekuatan yang sanggup meratakan sebuah sekte kecil, namun tatapan matanya saat memperhatikan pakaian atau pedang mereka justru terlihat seperti anak kecil yang baru pertama kali melihat mainan baru.

​"Di luar sana..." Wu Tian membuka suara, memecah keheningan. Lidahnya kini terasa lebih luwes untuk berucap. "Apakah banyak orang yang memiliki pakaian seragam seperti kalian?"

​Wu Lin mengerjapkan mata, sedikit terkejut dengan kepolosan pertanyaan itu. "T-Tenu saja. Di Sembilan Daratan, setiap klan dan sekte memiliki jubah identitas mereka sendiri. Klan Wu adalah salah satu yang terbesar di wilayah selatan Daratan Kesembilan. Murid kami berjumlah ribuan."

​"Ribuan manusia..." Wu Tian bergumam pelan. Di kepalanya yang dipenuhi ingatan purba, konsep tentang peradaban manusia terpampang jelas, namun mengosolidasikannya dengan kenyataan bahwa ia akan segera menemui ribuan makhluk sejenisnya memicu rasa asing di hatinya. "Apakah mereka semua... selemah kalian?"

​Pertanyaan jujur yang terlampau enteng itu sukses membuat dua kultivator laki-laki di belakang Wu Lin tersedak ludah sendiri. Wajah mereka memerah menahan malu, namun mereka tidak bisa membantah. Di depan monster yang bisa menghancurkan Serigala Bayangan dengan kibasan tangan, mereka memang tidak lebih dari semut.

​Wu Lin berdeham pelan untuk mencairkan suasana. Ia memberanikan diri untuk berdiri dan membungkuk hormat, memperkenalkan diri secara resmi. "Nama saya Wu Lin. Saya adalah murid senior dari generasi muda klan utama." Ia kemudian menunjuk rekannya yang berwajah agak pucat. "Ini Wu Chen, adik seperguruan saya." Lalu menunjuk yang satunya lagi, "Dan ini Wu Ao."

​Wu Tian hanya mengangguk sekali, menerima perkenalan itu tanpa membalasnya.

​"Lalu... bagaimana dengan namamu?" tanya Wu Lin hati-hati. "Jika kamu adalah bagian dari Klan Wu yang tertinggal di sini, kamu pasti punya nama penanda."

​"Aku tidak punya nama," jawab Wu Tian datar. "Di tempat ini, tidak ada yang perlu memanggilku."

​Wu Lin terdiam sesaat, rasa iba mendadak menyelimuti hatinya dibalik rasa takut yang masih tersisa. Ia memandangi jimat hangus yang sempat diperlihatkan Wu Tian tadi. Di bagian tepi kertas jimat yang terbakar hitam, selain lambang lidah api, samar-samar ada satu karakter aksara kuno yang masih tersisa, berbunyi ‘Tian’.

​"Di jimatmu... ada aksara yang berarti Langit," ucap Wu Lin dengan senyum tipis yang tulus. "Bagaimana kalau kami memanggilmu Wu Tian? Itu terdengar seperti nama yang agung di klan kami."

​Pemuda berbaju kulit serigala itu terdiam beberapa detik, mengecap nama itu di dalam benaknya. Wu Tian. Menentang Langit. Nama itu terasa selaras dengan energi hitam keemasan yang bergolak di dalam dantiannya. "Terserah kalian. Mulai sekarang, aku Wu Tian."

​Perjalanan menuju perbatasan luar Shenzhou memakan waktu beberapa jam. Sesuai janjinya, tidak ada satu pun binatang buas yang berani mendekat dalam radius seratus meter dari rombongan mereka. Insting monster-monster Shenzhou tahu betul bahwa Penguasa Lembah sedang berjalan melintas.

​Hingga akhirnya, mereka tiba di batas terluar Daratan Kesepuluh. Di depan mereka, kabut hitam pembatas berputar-putar seperti dinding raksasa yang memisahkan Shenzhou dengan dunia luar. Di balik kabut itu, lamat-lamat terlihat pancaran cahaya matahari yang cerah dari Daratan Kesembilan.

​"Ayo, Wu Tian. Setelah melewati kabut ini, kita akan tiba di wilayah perbatasan luar," ajak Wu Lin yang berjalan di depan bersama Wu Chen dan Wu Ao. Mereka bertiga melangkah masuk ke dalam kabut terlebih dahulu, membiarkan tubuh mereka ditelan oleh pusaran hawa dingin pembatas dunia.

​Wu Tian tidak langsung mengikuti. Ia berdiri di tepi kabut, membalikkan badannya untuk menatap hamparan hutan belantara Shenzhou untuk terakhir kalinya. Tempat ini penuh dengan darah dan kekejaman, tetapi ini adalah rumahnya. Dan Wu Tian tidak suka jika ada orang asing yang datang dan mengotori rumahnya saat ia sedang pergi.

​‘Ingatan purba... Formasi Pengunci Jiwa Sembilan Langit,’ batin Wu Tian, memanggil salah satu pengetahuan terlarang yang tersimpan di kepalanya.

​Wu Tian mengangkat kaki kanannya, lalu menghentakkannya dengan lembut ke permukaan tanah.

​TAP.

​Hentakan itu tidak menimbulkan suara ledakan yang keras, melainkan sebuah getaran frekuensi rendah yang merambat cepat di bawah tanah ke seluruh penjuru Daratan Kesepuluh. Energi hitam keemasan miliknya mengalir keluar bagai sulur-sulur akar raksasa, menyalakan kembali garis-garis formasi kuno Shenzhou yang telah tertidur selama delapan belas tahun.

​Secara rahasia, tanpa diketahui oleh Wu Lin dan yang lainnya yang sudah berada di dalam kabut, Wu Tian telah mengubah struktur energi daratan tersebut. Mulai detik ini, Shenzhou bukan lagi sekadar daratan terlarang yang terkunci oleh rumor, melainkan sebuah wilayah yang telah disegel total oleh gembok energi raksasa miliknya sendiri. Tidak ada satu pun Master Ranah Dewa dari sembilan daratan yang akan bisa menembus tempat ini, kecuali Wu Tian sendiri yang membukanya.

​"Rumahku... akan tetap menjadi milikku," gumam Wu Tian enteng.

​Dengan langkah santai, Wu Tian membalikkan badan dan berjalan menembus dinding kabut hitam. Begitu tubuhnya keluar dari sisi lain kabut, sepasang matanya langsung menyipit.

​Cahaya matahari yang terik menghantam wajahnya. Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia melihat langit berwarna biru bersih, bukan kelabu pekat. Angin yang berembus tidak lagi membawa bau anyir darah, melainkan aroma tanah basah dan vegetasi hijau yang segar.

​Mereka kini berdiri di sebuah lembah hijau yang luas di perbatasan Daratan Kesembilan. Di kejauhan, terlihat jalan setapak tanah yang mulai ramai dilalui oleh karavan-karavan pedagang berkuda dan beberapa kelompok kultivator berpatroli yang mengenakan berbagai macam seragam klan.

​"Selamat datang di Daratan Yunzhou , Wu Tian," ucap Wu Lin, mencoba menyambutnya dengan ramah.

​Namun, kehadiran Wu Tian langsung memicu reaksi instan dari lingkungan sekitar. Penampilannya yang kontras—mengenakan pakaian kulit binatang kasar di tengah peradaban yang rapi, ditambah dengan sisa-sisa energi hitam keemasan yang samar-samar masih melingkupi tubuhnya—membuat beberapa kelompok kultivator patroli di kejauhan langsung menghentikan langkah mereka.

​Beberapa mata mata-mata dari faksi lain yang sedang bersantai di kedai teh pinggir jalan perbatasan segera menajamkan pandangan. Mereka memandang Wu Tian dengan tatapan penuh selidik dan kecurigaan yang mendalam. Seorang pemuda asing yang keluar dari arah kabut terlarang Shenzhou bersama dengan murid-murid inti Klan Wu jelas bukan sebuah kebetulan biasa.

​Wu Tian menyadari semua tatapan itu. Alih-alih merasa risih atau takut, ia justru menatap balik mereka semua dengan wajah datar tanpa ekspresi. Monster dari Shenzhou itu telah resmi menginjakkan kakinya di kolam politik yang penuh intrik, dan ia tidak berencana untuk bermain dengan aturan mereka.

Terpopuler

Comments

Ilham Yono

Ilham Yono

/Grin//Grin//Grin//Grin//Grin//Cleaver//Cleaver//Cleaver//Cleaver/

2026-08-25

0

Mamat Stone

Mamat Stone

senggol tabok 👊

2026-07-20

0

Mamat Stone

Mamat Stone

senggol bacok /Cleaver/

2026-07-20

0

lihat semua
Episodes
1 Tumbal di Tanah Terlarang
2 Penguasa Muda Shenzhou
3 Monster yang Melangkah Keluar
4 Nama yang Menentang Langit
5 Tuan Muda dari Shenzhou
6 Tuan Muda Narsis Klan Wu
7 Hawa Panas Api Kompor
8 Cahaya Kelabu Batu Penguji
9 Dompet Berjalan Sang Monster
10 Visi Gaib Batu Inti Yunzhou
11 Aku Akan Mengambil Tempat Pertama
12 Bidadari Es dan Lalat Berisik
13 Potongan Daging Pembungkam Mulut
14 Gejolak di Kota Pusat Yunzhou
15 Biar Aku yang Mengurus Sisanya
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 BAB 32
33 BAB 33
34 BAB 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 PEMBANTAIAN DI KOTA KABUT DARAH
40 MATA MATA DI BALIK KABUT MERAH
41 MENEROBOS LAUTAN TENDA
42 JEJAK PENGUASA DAN PERANG RERUNTUHAN
43 BENTROK TIGA PENGUASA
44 AMUKAN LELUHUR DAN BERDARAH
45 SENYUMAN DARI KEDALAMAN NERAKA
46 PENGHANCURAN BATAS DAN KEBANGKITAN IBLIS
47 IBLIS TANPA UANG
48 "DOMPET BARU" DAN SARANG GAGAK HITAM
49 PERTANYAAN DI ATAS JALUR PERBATASAN
50 ANGIN NAGA HITAM DAN PENUMPANG GELAP
51 MISTERI KLAN WU DAN BATAS DUA BENUA
52 KOTA BATAS DAN JEJAK KLAN MISTERIUS
53 PENYUSUPAN MALAM
54 PEMBONGKARAN KOLAM PENYUCIAN
55 MENGACAK-ACAK PAVILIUN BURUNG MERAK
56 PEMBANTAIAN PASUKAN INTI
57 KEBANGKITAN INTI EMAS
58 PERTEMPURAN PUNCAK
59 ANGIN PERBATASAN
60 DOMINASI ABSOLUT SHENZHOU
61 AWAN HITAM XIZHOU
62 DESA BAWAH GUNUNG
63 PEMBANTAIAN MALAM DAN JEJAK TANPA NAMA
64 KOTA TENGKORAK MERAH DAN GERBANG PEMBANTAIAN
65 PERBURUAN SERANGGA
66 SISI IBLIS YANG BANGKIT
67 BENTROKAN ES DENGAN API KEAMASAN
68 Dua Gila Dan Serangga Cantik
69 PERTARUNGAN EMPAT IBLIS
70 HARI KELIMA
71 TERATAI DARAH HITAM
72 ABU NGARAI DAN KELERENG DARAH ES
73 PELEBURAN ESENSI
Episodes

Updated 73 Episodes

1
Tumbal di Tanah Terlarang
2
Penguasa Muda Shenzhou
3
Monster yang Melangkah Keluar
4
Nama yang Menentang Langit
5
Tuan Muda dari Shenzhou
6
Tuan Muda Narsis Klan Wu
7
Hawa Panas Api Kompor
8
Cahaya Kelabu Batu Penguji
9
Dompet Berjalan Sang Monster
10
Visi Gaib Batu Inti Yunzhou
11
Aku Akan Mengambil Tempat Pertama
12
Bidadari Es dan Lalat Berisik
13
Potongan Daging Pembungkam Mulut
14
Gejolak di Kota Pusat Yunzhou
15
Biar Aku yang Mengurus Sisanya
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
BAB 32
33
BAB 33
34
BAB 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
PEMBANTAIAN DI KOTA KABUT DARAH
40
MATA MATA DI BALIK KABUT MERAH
41
MENEROBOS LAUTAN TENDA
42
JEJAK PENGUASA DAN PERANG RERUNTUHAN
43
BENTROK TIGA PENGUASA
44
AMUKAN LELUHUR DAN BERDARAH
45
SENYUMAN DARI KEDALAMAN NERAKA
46
PENGHANCURAN BATAS DAN KEBANGKITAN IBLIS
47
IBLIS TANPA UANG
48
"DOMPET BARU" DAN SARANG GAGAK HITAM
49
PERTANYAAN DI ATAS JALUR PERBATASAN
50
ANGIN NAGA HITAM DAN PENUMPANG GELAP
51
MISTERI KLAN WU DAN BATAS DUA BENUA
52
KOTA BATAS DAN JEJAK KLAN MISTERIUS
53
PENYUSUPAN MALAM
54
PEMBONGKARAN KOLAM PENYUCIAN
55
MENGACAK-ACAK PAVILIUN BURUNG MERAK
56
PEMBANTAIAN PASUKAN INTI
57
KEBANGKITAN INTI EMAS
58
PERTEMPURAN PUNCAK
59
ANGIN PERBATASAN
60
DOMINASI ABSOLUT SHENZHOU
61
AWAN HITAM XIZHOU
62
DESA BAWAH GUNUNG
63
PEMBANTAIAN MALAM DAN JEJAK TANPA NAMA
64
KOTA TENGKORAK MERAH DAN GERBANG PEMBANTAIAN
65
PERBURUAN SERANGGA
66
SISI IBLIS YANG BANGKIT
67
BENTROKAN ES DENGAN API KEAMASAN
68
Dua Gila Dan Serangga Cantik
69
PERTARUNGAN EMPAT IBLIS
70
HARI KELIMA
71
TERATAI DARAH HITAM
72
ABU NGARAI DAN KELERENG DARAH ES
73
PELEBURAN ESENSI

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!