LEGENDA KULTIVATOR GILA

LEGENDA KULTIVATOR GILA

Tumbal di Tanah Terlarang

​Sembilan Daratan Dunia Bawah adalah panggung berdarah bagi para pemuja kejayaan. Di bawah langit yang kelabu, para kultivator bertarung demi pil keabadian, saling menjatuhkan demi kitab suci, dan menumpahkan darah hanya demi sejengkal tanah. Namun, jauh di ujung cakrawala, di mana hukum moral tidak lagi berlaku, terdapat daratan kesepuluh. Shenzhou. Wilayah yang diselimuti kabut hitam abadi—tempat yang dikutuk sekaligus dipuja dalam bisikan ketakutan para master tingkat tinggi.

​Bagi manusia biasa, Shenzhou adalah neraka paling jahanam. Bagi para kultivator frustrasi yang batas kultivasinya telah mentok, Shenzhou adalah tanah harapan.

​Desas-desus itu telah menyebar seperti wabah di antara klan-klan besar selama ratusan tahun: Di jantung Shenzhou, bersemayam entitas kuno yang tertidur—para Dewa Jahat. Mereka tidak butuh batu spiritual. Mereka tidak butuh ramuan langka. Mereka hanya menginginkan satu hal: esensi kehidupan yang paling murni, paling suci, dan belum ternoda oleh kotoran dunia. Jiwa dan darah bayi yang baru lahir.

​Malam itu, badai petir hitam menggulung langit di perbatasan daratan kesembilan dan Shenzhou. Angin melolong seperti rintihan jiwa-jiwa penasaran. Di bawah kegelapan yang pekat, sebuah rombongan kereta berkuda bergerak dalam keheningan yang mencekam. Kereta-kereta itu tidak membawa barang dagangan atau batu permata, melainkan keranjang-keranjang bambu.

​Dari dalam keranjang tersebut, terdengar suara sayup-sayup yang memilukan. Suara tangis bayi.

​Rombongan itu diisi oleh para tetua dari berbagai sekte terkemuka dan klan terpandang. Di barisan tengah, berjalan para tetua dari Klan Wu, salah satu klan kultivator terkuat yang menguasai wilayah selatan. Pemimpin rombongan Klan Wu adalah Tetua Agung Wu Cang, seorang pria tua berjanggut perak dengan mata yang dingin seperti es. Di tangannya, ia memegang sebuah keranjang sutra merah. Di dalamnya, seorang bayi laki-laki berusia tiga hari—yang lahir dari garis keturunan cabang Klan Wu—tengah tertidur lelap, tidak sadar bahwa ajalnya sedang dipertaruhkan.

​"Tetua Agung," bisik seorang kultivator muda di samping Wu Cang, suaranya bergetar menahan hawa dingin yang mulai menusuk tulang. "Apakah... apakah kita benar-benar harus melakukan ini? Bayi itu memiliki bakat akar spiritual yang murni. Jika kita mendidiknya—"

​"Diam!" bentak Wu Cang tanpa menoleh. Suaranya rendah namun penuh tekanan energi spiritual yang menekan dada. "Mendidiknya butuh waktu seratus tahun untuk melihat hasilnya! Klan Wu membutuhkan Master Ranah Dewa sekarang juga! Jika kita tidak mengambil langkah ini, Klan Li dan Sekte Pedang Langit akan menginjak-injak kita dalam perang wilayah bulan depan. Pengorbanan satu bayi untuk kejayaan klan selama seribu tahun adalah harga yang sangat murah."

​Kultivator muda itu menunduk, tidak berani membantah. Di dunia bawah, kasih sayang adalah kelemahan, dan ambisi adalah tuhan.

​Rombongan terus menembus kabut beracun Shenzhou. Semakin dalam mereka melangkah, vegetasi di sekitar mereka semakin mati. Pohon-pohon kering berbentuk seperti cakar manusia yang meronta kesakitan. Tanah yang mereka pijak berwarna merah kehitaman, basah oleh darah purba yang tidak pernah mengering.

​Hingga akhirnya, mereka tiba di sebuah lembah menganga yang dikenal sebagai Lembah Tengkorak Dewa.

​Di tengah lembah itu, berdiri sebuah altar batu raksasa berbentuk lingkaran sempurna. Di sekeliling altar, sepuluh patung dewa jahat berukuran raksasa menjulang tinggi ke langit. Patung-patung itu dipahat dari batu hitam legam, dengan mata yang terbuat dari batu permata merah darah yang menyala di tengah kegelapan. Atmosfer di tempat itu begitu berat; tekanan spiritual yang magis membuat para kultivator tingkat tinggi sekalipun harus berlutut demi menahan dada mereka agar tidak meledak.

​"Waktunya telah tiba," seru seorang tetua dari aliansi klan lain. Wajahnya dipenuhi ketamakan yang mengerikan.

​Satu per satu, para tetua maju ke atas altar. Tanpa belas kasihan, mereka meletakkan bayi-bayi itu di atas meja batu yang telah dipenuhi ukiran mantra kuno. Ada sekitar tiga puluh bayi malam itu. Tangisan mereka pecah, bersahut-sahutan di bawah guyuran hujan hitam, menciptakan simfoni kematian yang membuat bulu kuduk berdiri.

​Wu Cang maju paling akhir. Ia meletakkan bayi Klan Wu di titik tengah altar, tepat di mana seluruh garis mantra kuno itu berpusat. Ia menempelkan selembar kertas jimat kuning di dada bayi itu, bertuliskan nama garis keturunannya sebagai penanda agar energi dewa jahat tahu ke mana kekuatan harus disalurkan.

​"Wahai Penguasa Shenzhou, Penguasa Kegelapan Abadi!" Wu Cang dan puluhan kultivator lainnya berlutut di tepi altar. Mereka mulai merapalkan mantra terlarang secara serempak. Suara mereka bergaung, memicu getaran hebat di seluruh lembah.

​BZZZZT!

​Langit Shenzhou terbelah. Petir hitam menyambar sepuluh patung dewa jahat. Seketika, mata merah patung-patung itu menyala terang benderang. Dari celah-cellah batu altar, kabut hitam yang sangat pekat dan berbau anyir darah mulai keluar. Kabut itu bergerak seperti tentakel hidup, merayap menuju keranjang-keranjang bayi.

​"Dewa telah menerima persembahan kita! Bersiaplah menyerap energinya!" teriak salah satu tetua dengan tawa histeris.

​Sentuhan pertama kabut hitam itu mengenai bayi-bayi di pinggir altar. Detik itu juga, tangisan mereka terhenti. Kulit mereka melepuh, daging mereka menyusut, dan dalam hitungan detik, tubuh bayi-bayi malang itu berubah menjadi abu abu-abu. Jiwa dan esensi kehidupan mereka dihisap habis tanpa sisa.

​Sebagai gantinya, secercah energi spiritual berwarna merah darah keluar dari altar, melesat masuk ke dalam tubuh para kultivator yang sedang berlutut.

​"Hahaha! Aku merasakannya! Ranah kultivasiku naik!" Tetua yang tertawa tadi merasakan energinya melonjak. Wajahnya memerah kegirangan.

​Namun, kegembiraan itu hanya bertahan sesaat.

​Ketika kabut hitam pekat itu merayap ke tengah altar dan menyelimuti tubuh bayi dari Klan Wu, sesuatu yang tidak masuk akal terjadi. Alih-alih membakar bayi itu menjadi abu seperti yang lainnya, kabut hitam itu justru berhenti bergerak.

​DEG.

​Sebuah detak jantung yang sangat keras terdengar dari dada bayi Klan Wu. Suaranya begitu kuat hingga mengguncang gendang telinga semua kultivator di sana.

​Tiba-tiba, tanda mantra di dada bayi itu terbakar. Altar batu raksasa di bawahnya mulai retak. Pusaran angin topan hitam mendadak tercipta, berpusat tepat di atas tubuh si bayi.

​"Apa yang terjadi?!" Wu Cang terbelalak, matanya hampir keluar dari rongganya. "Energi Dewa Jahat... kenapa tidak mengalir ke tubuhku?!"

​Bukan hanya tidak mengalir, energi yang baru saja masuk ke tubuh para tetua lain mendadak tersedot kembali secara paksa. Kabut hitam yang berada di seluruh penjuru Shenzhou, energi kematian yang terkumpul selama ribuan tahun, dan seluruh sisa-sisa jiwa di lembah itu berputar menggila, membentuk corong raksasa di langit.

​Dan semua energi maha dahsyat itu... tersedot masuk ke dalam pori-pori kulit sang bayi.

​CRACK! CRACK!

​Patung-patung dewa jahat di sekeliling altar mulai retak dan hancur satu per satu. Energi terlarang di tempat itu menolak untuk memberi kekuatan kepada para kultivator serakah. Sebaliknya, seluruh Shenzhou seolah-olah sedang dipaksa tunduk dan menyerahkan seluruh isinya kepada satu-satunya makhluk hidup yang berada di pusat altar.

​Bayi Klan Wu itu tidak mati. Kulitnya memancarkan urat-urat hitam keemasan yang menyala. Sepasang matanya yang kecil perlahan terbuka di tengah badai energi. Namun, itu bukan mata bayi biasa. Sepasang bola mata itu berwarna hitam legam tanpa putih mata, memancarkan aura kuno yang dingin, kejam, dan penuh dengan pengetahuan terlarang yang melampaui zaman.

​"Monster... Dia bukan tumbal! Dia menghisap seluruh Shenzhou!" teriak seorang tetua dengan suara histeris, mencoba melarikan diri. Namun, sebelum ia sempat melangkah keluar dari lembah, tekanan gravitasi energi dari sang bayi menghantamnya hingga tubuhnya hancur berkeping-keping menjadi kabut darah.

​Ledakan energi masif terjadi. BOOM!

​Seluruh Lembah Tengkorak Dewa runtuh. Rombongan kultivator hebat yang datang dengan ketamakan, lari tunggang langgang bagai tikus ketakutan. Banyak yang mati mengenaskan akibat shockwave energi, sementara Wu Cang berhasil lolos dengan tubuh yang terluka parah dan kultivasi yang merosot tajam. Mereka pergi dengan ketakutan yang mendalam, meninggalkan altar yang hancur berantakan.

​Malam itu, badai mereda. Shenzhou menjadi hening, jauh lebih hening dari sebelumnya, karena hampir seluruh energi kutukannya telah lenyap.

​Di tengah reruntuhan altar batu yang telah hancur, bayi kecil itu terbaring sendirian di bawah langit malam yang pekat. Tubuhnya tidak lagi ringkih. Di dalam benaknya yang kecil, jutaan informasi, jurus-jurus terlarang yang telah punah, dan ingatan-ingatan aneh dari zaman purba mulai berputar dan mengakar.

​Dia ditinggalkan sendirian di daratan paling berbahaya di dunia bawah. Tanpa klan, tanpa orang tua, dan tanpa nama. Namun, di dalam tubuh mungilnya, mengalir kekuatan yang kelak akan membuat seluruh Sembilan Daratan gemetar ketakutan.

Terpopuler

Comments

belutputih

belutputih

daripada bilang bilang jaman purba enakan jaman kuno thor🙏

2026-08-15

0

Mamat Stone

Mamat Stone

/Casual/

2026-07-20

1

Mamat Stone

Mamat Stone

/CoolGuy/

2026-07-20

1

lihat semua
Episodes
1 Tumbal di Tanah Terlarang
2 Penguasa Muda Shenzhou
3 Monster yang Melangkah Keluar
4 Nama yang Menentang Langit
5 Tuan Muda dari Shenzhou
6 Tuan Muda Narsis Klan Wu
7 Hawa Panas Api Kompor
8 Cahaya Kelabu Batu Penguji
9 Dompet Berjalan Sang Monster
10 Visi Gaib Batu Inti Yunzhou
11 Aku Akan Mengambil Tempat Pertama
12 Bidadari Es dan Lalat Berisik
13 Potongan Daging Pembungkam Mulut
14 Gejolak di Kota Pusat Yunzhou
15 Biar Aku yang Mengurus Sisanya
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 BAB 32
33 BAB 33
34 BAB 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 PEMBANTAIAN DI KOTA KABUT DARAH
40 MATA MATA DI BALIK KABUT MERAH
41 MENEROBOS LAUTAN TENDA
42 JEJAK PENGUASA DAN PERANG RERUNTUHAN
43 BENTROK TIGA PENGUASA
44 AMUKAN LELUHUR DAN BERDARAH
45 SENYUMAN DARI KEDALAMAN NERAKA
46 PENGHANCURAN BATAS DAN KEBANGKITAN IBLIS
47 IBLIS TANPA UANG
48 "DOMPET BARU" DAN SARANG GAGAK HITAM
49 PERTANYAAN DI ATAS JALUR PERBATASAN
50 ANGIN NAGA HITAM DAN PENUMPANG GELAP
51 MISTERI KLAN WU DAN BATAS DUA BENUA
52 KOTA BATAS DAN JEJAK KLAN MISTERIUS
53 PENYUSUPAN MALAM
54 PEMBONGKARAN KOLAM PENYUCIAN
55 MENGACAK-ACAK PAVILIUN BURUNG MERAK
56 PEMBANTAIAN PASUKAN INTI
57 KEBANGKITAN INTI EMAS
58 PERTEMPURAN PUNCAK
59 ANGIN PERBATASAN
60 DOMINASI ABSOLUT SHENZHOU
61 AWAN HITAM XIZHOU
62 DESA BAWAH GUNUNG
63 PEMBANTAIAN MALAM DAN JEJAK TANPA NAMA
64 KOTA TENGKORAK MERAH DAN GERBANG PEMBANTAIAN
65 PERBURUAN SERANGGA
66 SISI IBLIS YANG BANGKIT
67 BENTROKAN ES DENGAN API KEAMASAN
68 Dua Gila Dan Serangga Cantik
69 PERTARUNGAN EMPAT IBLIS
70 HARI KELIMA
71 TERATAI DARAH HITAM
72 ABU NGARAI DAN KELERENG DARAH ES
73 PELEBURAN ESENSI
Episodes

Updated 73 Episodes

1
Tumbal di Tanah Terlarang
2
Penguasa Muda Shenzhou
3
Monster yang Melangkah Keluar
4
Nama yang Menentang Langit
5
Tuan Muda dari Shenzhou
6
Tuan Muda Narsis Klan Wu
7
Hawa Panas Api Kompor
8
Cahaya Kelabu Batu Penguji
9
Dompet Berjalan Sang Monster
10
Visi Gaib Batu Inti Yunzhou
11
Aku Akan Mengambil Tempat Pertama
12
Bidadari Es dan Lalat Berisik
13
Potongan Daging Pembungkam Mulut
14
Gejolak di Kota Pusat Yunzhou
15
Biar Aku yang Mengurus Sisanya
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
BAB 32
33
BAB 33
34
BAB 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
PEMBANTAIAN DI KOTA KABUT DARAH
40
MATA MATA DI BALIK KABUT MERAH
41
MENEROBOS LAUTAN TENDA
42
JEJAK PENGUASA DAN PERANG RERUNTUHAN
43
BENTROK TIGA PENGUASA
44
AMUKAN LELUHUR DAN BERDARAH
45
SENYUMAN DARI KEDALAMAN NERAKA
46
PENGHANCURAN BATAS DAN KEBANGKITAN IBLIS
47
IBLIS TANPA UANG
48
"DOMPET BARU" DAN SARANG GAGAK HITAM
49
PERTANYAAN DI ATAS JALUR PERBATASAN
50
ANGIN NAGA HITAM DAN PENUMPANG GELAP
51
MISTERI KLAN WU DAN BATAS DUA BENUA
52
KOTA BATAS DAN JEJAK KLAN MISTERIUS
53
PENYUSUPAN MALAM
54
PEMBONGKARAN KOLAM PENYUCIAN
55
MENGACAK-ACAK PAVILIUN BURUNG MERAK
56
PEMBANTAIAN PASUKAN INTI
57
KEBANGKITAN INTI EMAS
58
PERTEMPURAN PUNCAK
59
ANGIN PERBATASAN
60
DOMINASI ABSOLUT SHENZHOU
61
AWAN HITAM XIZHOU
62
DESA BAWAH GUNUNG
63
PEMBANTAIAN MALAM DAN JEJAK TANPA NAMA
64
KOTA TENGKORAK MERAH DAN GERBANG PEMBANTAIAN
65
PERBURUAN SERANGGA
66
SISI IBLIS YANG BANGKIT
67
BENTROKAN ES DENGAN API KEAMASAN
68
Dua Gila Dan Serangga Cantik
69
PERTARUNGAN EMPAT IBLIS
70
HARI KELIMA
71
TERATAI DARAH HITAM
72
ABU NGARAI DAN KELERENG DARAH ES
73
PELEBURAN ESENSI

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!