BAB 4: Saling Todong Identitas

​Atmosfer di dalam ruang kerja itu semakin mencekam. James—atau lebih tepatnya Sylvester—masih menatap tajam ke arah gadis di hadapannya. Ketukan jarinya terhenti total, digantikan oleh cengkeraman kuat pada pinggiran meja mahagoni.

​"Ritme Minerva?" desis James, suaranya merendah hingga ke titik paling intimidatif. "Dari mana gadis manja sepertimu tahu istilah itu? Siapa yang mengirimmu ke sini untuk memata-matai keluarga Guinevere?"

​Bellamy justru terkekeh rendah. Alih-alih gemetar ketakutan seperti karakter Bellamy asli yang rapuh, ia malah menyandarkan punggungnya ke kursi dengan sangat santai.

​"Memata-matai? Skenario yang sangat buruk, Tuan James yang terhormat," sahut Bellamy, matanya berkilat jenaka namun dingin. "Aku hanya memperhatikan seorang pria paruh baya yang mendadak berubah dari singa ompong menjadi macan tutul yang siap menerkam. Gaya memegang cerutumu itu... hanya ada satu orang di dunia nyata yang melakukannya setelah menembak mati kepala pengkhianat di dermaga barat."

​James tersentak. Alisnya bertaut rapat. Kejadian di dermaga barat adalah rahasia tingkat tinggi organisasi yang bahkan tidak diketahui oleh kepolisian, apalagi oleh seorang anak perempuan konglomerat di dunia novel ini.

​"Kau..." James berdiri dari kursinya, menopang tubuhnya dengan kedua tangan di atas meja, menunduk menatap Bellamy. "Bagaimana kau bisa tahu soal dermaga barat?"

​"Kenapa aku tidak boleh tahu?" Bellamy ikut bangkit, memperkecil jarak di antara mereka berdua. "Bukankah aku yang membersihkan sisa darah dari sepatumu setelah malam itu, Papa?"

​Kata 'Papa' yang diucapkan dengan nada sarkastik namun familier itu menghantam kesadaran James seperti gada besi. Ia memandangi wajah Bellamy dengan saksama—mencari riak ekspresi yang sangat ia kenali dari kehidupan masa lalunya.

​"Livana...?" bisik James, suaranya mendadak serak. "Kau... Livana?"

​Bellamy mengembuskan napas panjang, lalu memutar bola matanya. "Akhirnya otak mafiamu itu berfungsi, Pak Tua. Ya, ini aku. Putri tunggalmu yang hampir gila karena menolak memakamkan tubuh kaku jasadmu di aula utama kemarin!"

​"Bagaimana bisa—" James tertegun, lalu menggelengkan kepalanya yang mendadak pening. "Tunggu. Kau mati? Bagaimana kau bisa sampai ke sini?"

​"Aku tersambar petir di kamarmu saat memegang novel sialan bersampul emas berinisial 'D' itu!" bentak Bellamy frustrasi, meskipun ia tetap mengecilkan suaranya agar tidak terdengar sampai ke luar pintu. "Begitu bangun, aku sudah berada di dalam kolam dingin milik keluarga Enrique karena tubuh bodoh ini mencoba bunuh diri demi pemuda tolol bernama Javier!"

​Mendengar penjelasan itu, James langsung terduduk kembali di kursinya. Tangan kanannya refleks memijat pelipisnya sendiri.

​Tepat saat itu, layar hologram biru milik Sistem kembali muncul di depan mata James, berkedip-kedip dengan warna merah menyala yang mengganggu.

​[ Peringatan! Karakter James Guinevere terdeteksi melakukan interaksi di luar skenario utama dengan karakter Bellamy Guinevere. ]

[ Skala kerusakan alur: Sedang. Proses kalkulasi penalti umur... ]

​"Ugh!" James menggeram, memegangi kepalanya saat rasa nyeri yang menusuk tiba-tiba menghantam saraf otaknya.

​"Papa? Ada apa?" Bellamy yang melihat perubahan drastis pada wajah ayahnya langsung memutari meja. Ia menangkap bahu James dengan sigap. "Kau sakit? Efek serangan jantungmu di dunia nyata terbawa ke sini?"

​"Bukan..." James mengertakkan gigi, mencoba mengatur napasnya yang memburu. Di dalam pantulan kaca lemari buku di samping meja, sehelai rambut di pelipis kanan James perlahan berubah warna menjadi putih keperakan. "Ada... ada mesin sialan di kepalaku."

​"Mesin?" Bellamy mengernyitkan dahi, mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan yang kosong. "Apa maksudmu?"

​"Sistem. Sesuatu yang menyebut dirinya Sistem Novel," James mengembuskan napas berat setelah rasa nyerinya sedikit mereda. "Layar biru sialan ini terus muncul di depanku. Dia bilang, aku harus mengikuti alur cerita asli James Guinevere yang asli. Jika aku sengaja membangkang atau mengubah cerita secara langsung, bajingan ini akan memotong umurku. Satu helai rambut putih berarti satu bulan umurku hilang."

​Bellamy terdiam, mencerna informasi gila itu dengan otak taktisnya. "Sistem Novel? Hukum Sehelai Rambut Putih? Berarti... perubahan sikapmu pada Mama Diane dan pembatalan adopsi Luciana tadi siang..."

​"Ya. Aku terpaksa menelan rasa sakit dan kehilangan beberapa bulan umurku demi menendang dua parasit itu dari ruang kerjaku," jawab James dengan dengus kesal. "Aku tidak sudi melihat wajah pelayan licik itu, apalagi membiarkan aset keluarga ini jatuh ke tangan anak angkat palsu."

​Bellamy tertegun sejenak, lalu ia melirik ke arah space kosong di depan wajah ayahnya—tempat di mana James terus menatap dengan pandangan jengkel.

​"Lalu... bagaimana denganku, Pa?" tanya Bellamy heran. "Kenapa tidak ada suara aneh atau layar konyol seperti itu di kepalaku sejak aku terbangun?"

​James mengalihkan pandangannya dari layar biru, lalu membaca baris teks kecil yang mendadak muncul di sudut bawah sistemnya.

​[ Status Karakter: Bellamy Guinevere (Anomali/Glitch Jiwa). Sistem tidak memiliki otoritas eksekusi atau penalti pada subjek akibat kesalahan sinkronisasi data internal. ]

​Sebuah seringai dingin, tipikal seorang bos mafia besar yang berhasil menemukan titik lemah dari rencana musuh, perlahan terukir di wajah James yang berwibawa.

​"Mereka tidak bisa menyentuhmu, Livana," bisik James, menatap putrinya dengan binar mata yang kembali tajam. "Kehadiran jiwamu di tubuh Bellamy adalah sebuah glitch. Sistem ini tidak punya hak atau otoritas untuk menghukum tindakanmu."

​Bellamy mematung sedetik, sebelum akhirnya sebuah senyuman barbar yang sangat familier bagi James muncul di wajah cantik gadis itu. Seringai yang biasa ia tunjukkan saat mereka bersiap meratakan markas musuh di dunia nyata.

​"Oh? Jadi maksud Papa, si brengsek di kepala Papa itu tidak bisa menghukummu kalau aku yang mengacak-acak tempat ini?" tanya Bellamy, matanya berkilat berbahaya.

​"Tepat sekali," sahut James, menyandarkan punggungnya dengan sisa wibawa mafianya yang kini kembali penuh. "Jika jalannya cerita ini harus diubah demi menyelamatkan istriku dari tubuh ini—dan menghancurkan musuh, kita harus menggunakan tanganmu sebagai cheat code."

​"Dengan senang hati, Pa," Bellamy meretakkan buku-buku jarinya, membuat gaun manis yang dipakainya terasa sangat kontras dan ironis. "Aku sudah muak mengingat memori Bellamy asli yang terus-menerus ditindas oleh anak pembantu bernama Luciana itu. Belum lagi tiga bajingan kaya yang menganggapnya sampah."

​"Jangan gegabah, Livana. Ingat, kita di sini bukan hanya untuk bertahan hidup di dalam novel konyol ini," James mengetuk meja dengan tegas. "Kematianku di dunia nyata... lalu sambaran petir yang menimpamu... semuanya terlalu kebetulan. Kita harus cari tahu siapa dalang di balik semua ini."

​"Aku tahu, Pa. Buku emas berinisial 'D' itu pasti kuncinya," Bellamy mengangguk setuju. "Dan aku punya firasat, Dallas Enrique—kakak tiri Javier—punya hubungan dengan inisial itu. Aku baru saja mengundangnya untuk menjadi pasanganku di pesta gala minggu depan."

​James mengernyitkan alis, menatap putrinya dengan pandangan protektif khas seorang ayah. "Dallas? Pria dingin yang kau katakan menangisi mayat Bellamy di akhir cerita?"

​"Benar. Kita butuh dia untuk menghancurkan Javier, sekaligus mencari tahu rahasia di dunia ini." Bellamy berjalan kembali ke kursinya dan duduk dengan tenang. "Jadi, Papa... apa rencana pertama kita untuk membersihkan mansion ini tanpa membuat rambutmu memutih semua?"

​James tersenyum licik, melirik layar sistemnya yang kini tampak berkedip pasrah tanpa bisa mengeluarkan penalti baru. "Mari kita mulai dengan membuat si white lotus Luciana itu tahu tempatnya yang asli."

Terpopuler

Comments

Puch🍒❄

Puch🍒❄

aduh kok seru wakkkk lanjuttt mangggggggg😆😆😆😆

2026-06-27

0

lihat semua
Episodes
1 BAB 1: Badai, Buku Emas, dan Kolam Dingin
2 BAB 2: Jas Hitam dan Undangan Gala
3 BAB 3: Ketukan Jari yang Familier
4 BAB 4: Saling Todong Identitas
5 BAB 5: Plester Luka dan Undangan yang Salah
6 BAB 6: Air Mata Palsu di Lounge Mewah
7 BAB 7: Celah di Balik Secangkir Kopi
8 BAB 8: Siasat Ranjang yang Tertukar
9 BAB 9: Perangkap Pagi Hari dan Sisa Kopi Beracun
10 BAB 10: Skenario Baru dan Siasat Gaun Hitam
11 BAB 11: Makan Malam dan Proposal yang Agresif
12 BAB 12: Di Bawah Langit Malam Restoran Atap
13 BAB 13: Cemburu yang Salah Alamat dan Pengkhianatan di Balik Layar
14 BAB 14: Tebusan Sang Mafia dan Memori yang Hilang
15 BAB 15: Lamaran di Depan Gerbang
16 BAB 16: Bisikan di Lorong Gelap
17 BAB 17: Pecutan dan Harga Diri yang Tercabik
18 BAB 18: Intelijen Mafia dan Rahasia di Balik Selimut
19 BAB 19: Catur Tiga Penjuru
20 BAB 20: Sekutu dari Masa Lalu dan Benang Takdir yang Terbuka
21 BAB 21: Ambisi, Ancaman, dan Dua Kotak Cincin
22 BAB 22: Dua Sisi Panggung yang Mulai Memanas
23 BAB 23: Lamaran Ganda di Tengah Badai
24 BAB 24: Puing-Puing Kehancuran Enrique
25 BAB 25: Rahasia Darah dan Benang yang Terikat
26 BAB 26: Kepingan Masa Lalu yang Tercecer
27 BAB 27: Domino Kehancuran dan Racun Dendam
28 BAB 28: Pertukaran Nyawa dan Pengepungan Es
29 BAB 29: Sang Singa Keluar dari Bayangan
30 BAB 30: Detak Jantung yang Tersisa
31 BAB 31: Jalinan Benang yang Kusut
32 BAB 32: Topeng yang Retak dan Tatapan Sang Penguasa
33 BAB 33: Ketakutan di Balik Kabut Rahasia
34 BAB 34: Jerat Terikat dan Malam yang Berubah
35 BAB 35: Sekutu di Balik Bayangan
36 BAB 36: Kilas Balik Takdir dan Dekapan Hangat
37 BAB 37: Rencana di Balik Air Mata Palsu
38 BAB 38: Retaknya Topeng Pelayan
39 BAB 39: Bidak yang Bergerak dan Siasat Baru
40 BAB 40: Kode yang Tertinggal dan Rahasia Deborah
41 BAB 41: Jerat Pernikahan dan Sekutu dari Dunia Nyata
42 BAB 42: Lubang di Jaring Laba-Laba
43 BAB 43: Sumpah di Atas Kertas Sipil
44 BAB 44: Pembantaian di Ruang Resepsi
45 BAB 45: Akhir Sang Pembuat Distorsi
46 BAB 46: Era Baru di Distrik Barat
47 BAB 47: Dilema Jiwa dan Dekapan Posesif
48 BAB 48: Sangkar Emas Panglima Costa
49 BAB 49: Portal yang Terbuka dan Sinyal Lintas Dimensi
50 BAB 50: Cemburu Lintas Dimensi dan Deklarasi Mutlak
51 BAB 51: Taktik di Balik Kaca Es dan Dendam yang Terusik
52 BAB 52: Panggung Serigala dan Ratu yang Berjalan Sendiri
53 BAB 53: Darah di Atas Kertas Sumpah
54 BAB 54: Syarat Mutlak Sistem dan Percikan Cemburu Dua Dunia
55 BAB 55: Retakan pada Kaca Es dan Sumpah Panglima
56 BAB 56: Rencana di Balik Jeruji dan Ancaman yang Tersisa
57 BAB 57: Pesta Dansa dan Penyusup di Wilayah Netral
58 BAB 58: Naluri Monster yang Terbangun dan Tebusan Darah
59 BAB 59: Eksekusi Tanpa Batas dan Umpan Beracun
60 BAB 60: Pertemuan di Balik Badai dan Rahasia Darah Campuran
61 BAB 61: Jebakan Cangkir Teh dan Pecahnya Dua Dimensi
62 BAB 62: Amarah Sang Panglima dan Ujung Belati Ratu
63 BAB 63: Tiga Hari dalam Sangkar Posesif
64 BAB 64: Sinar Matahari Pertama dan Tuntutan di Balik Selimut
65 BAB 65: Penulis Takdir dan Kebangkitan Rosalie
66 BAB 66: Jejak Masa Lalu dan Dilema Dua Wanita
67 BAB 67: Pelukan yang Hangat dan Pengorbanan Terakhir
68 BAB 68: Kebenaran Pencipta Cerita dan Cahaya Terakhir
69 BAB 69: Penyesalan sang Pencipta dan Cahaya Suasana Baru
70 BAB 70: Awal Baru dan Jejak Takdir yang Bertunas
71 BAB 71 (Bab Ekstra): Pesta Megah dan Panglima yang Terlalu Protektif
Episodes

Updated 71 Episodes

1
BAB 1: Badai, Buku Emas, dan Kolam Dingin
2
BAB 2: Jas Hitam dan Undangan Gala
3
BAB 3: Ketukan Jari yang Familier
4
BAB 4: Saling Todong Identitas
5
BAB 5: Plester Luka dan Undangan yang Salah
6
BAB 6: Air Mata Palsu di Lounge Mewah
7
BAB 7: Celah di Balik Secangkir Kopi
8
BAB 8: Siasat Ranjang yang Tertukar
9
BAB 9: Perangkap Pagi Hari dan Sisa Kopi Beracun
10
BAB 10: Skenario Baru dan Siasat Gaun Hitam
11
BAB 11: Makan Malam dan Proposal yang Agresif
12
BAB 12: Di Bawah Langit Malam Restoran Atap
13
BAB 13: Cemburu yang Salah Alamat dan Pengkhianatan di Balik Layar
14
BAB 14: Tebusan Sang Mafia dan Memori yang Hilang
15
BAB 15: Lamaran di Depan Gerbang
16
BAB 16: Bisikan di Lorong Gelap
17
BAB 17: Pecutan dan Harga Diri yang Tercabik
18
BAB 18: Intelijen Mafia dan Rahasia di Balik Selimut
19
BAB 19: Catur Tiga Penjuru
20
BAB 20: Sekutu dari Masa Lalu dan Benang Takdir yang Terbuka
21
BAB 21: Ambisi, Ancaman, dan Dua Kotak Cincin
22
BAB 22: Dua Sisi Panggung yang Mulai Memanas
23
BAB 23: Lamaran Ganda di Tengah Badai
24
BAB 24: Puing-Puing Kehancuran Enrique
25
BAB 25: Rahasia Darah dan Benang yang Terikat
26
BAB 26: Kepingan Masa Lalu yang Tercecer
27
BAB 27: Domino Kehancuran dan Racun Dendam
28
BAB 28: Pertukaran Nyawa dan Pengepungan Es
29
BAB 29: Sang Singa Keluar dari Bayangan
30
BAB 30: Detak Jantung yang Tersisa
31
BAB 31: Jalinan Benang yang Kusut
32
BAB 32: Topeng yang Retak dan Tatapan Sang Penguasa
33
BAB 33: Ketakutan di Balik Kabut Rahasia
34
BAB 34: Jerat Terikat dan Malam yang Berubah
35
BAB 35: Sekutu di Balik Bayangan
36
BAB 36: Kilas Balik Takdir dan Dekapan Hangat
37
BAB 37: Rencana di Balik Air Mata Palsu
38
BAB 38: Retaknya Topeng Pelayan
39
BAB 39: Bidak yang Bergerak dan Siasat Baru
40
BAB 40: Kode yang Tertinggal dan Rahasia Deborah
41
BAB 41: Jerat Pernikahan dan Sekutu dari Dunia Nyata
42
BAB 42: Lubang di Jaring Laba-Laba
43
BAB 43: Sumpah di Atas Kertas Sipil
44
BAB 44: Pembantaian di Ruang Resepsi
45
BAB 45: Akhir Sang Pembuat Distorsi
46
BAB 46: Era Baru di Distrik Barat
47
BAB 47: Dilema Jiwa dan Dekapan Posesif
48
BAB 48: Sangkar Emas Panglima Costa
49
BAB 49: Portal yang Terbuka dan Sinyal Lintas Dimensi
50
BAB 50: Cemburu Lintas Dimensi dan Deklarasi Mutlak
51
BAB 51: Taktik di Balik Kaca Es dan Dendam yang Terusik
52
BAB 52: Panggung Serigala dan Ratu yang Berjalan Sendiri
53
BAB 53: Darah di Atas Kertas Sumpah
54
BAB 54: Syarat Mutlak Sistem dan Percikan Cemburu Dua Dunia
55
BAB 55: Retakan pada Kaca Es dan Sumpah Panglima
56
BAB 56: Rencana di Balik Jeruji dan Ancaman yang Tersisa
57
BAB 57: Pesta Dansa dan Penyusup di Wilayah Netral
58
BAB 58: Naluri Monster yang Terbangun dan Tebusan Darah
59
BAB 59: Eksekusi Tanpa Batas dan Umpan Beracun
60
BAB 60: Pertemuan di Balik Badai dan Rahasia Darah Campuran
61
BAB 61: Jebakan Cangkir Teh dan Pecahnya Dua Dimensi
62
BAB 62: Amarah Sang Panglima dan Ujung Belati Ratu
63
BAB 63: Tiga Hari dalam Sangkar Posesif
64
BAB 64: Sinar Matahari Pertama dan Tuntutan di Balik Selimut
65
BAB 65: Penulis Takdir dan Kebangkitan Rosalie
66
BAB 66: Jejak Masa Lalu dan Dilema Dua Wanita
67
BAB 67: Pelukan yang Hangat dan Pengorbanan Terakhir
68
BAB 68: Kebenaran Pencipta Cerita dan Cahaya Terakhir
69
BAB 69: Penyesalan sang Pencipta dan Cahaya Suasana Baru
70
BAB 70: Awal Baru dan Jejak Takdir yang Bertunas
71
BAB 71 (Bab Ekstra): Pesta Megah dan Panglima yang Terlalu Protektif

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!