Kekecewaan

"Ayo, Sayang. Bunda antar ke kamarmu," ujar Mahira hangat sembari menuntun Ellea menaiki anak tangga. "Untuk sementara, kamarmu bersebelahan dulu dengan kamar Albiru, ya? Nanti kalau kalian berdua sudah lulus sekolah, baru deh boleh pindah ke kamar yang sama," goda Mahira dengan kerlingan jenaka.

"Bunda!" cicit Ellea. Sepasang matanya yang bulat tampak bergerak gelisah, menyiratkan rona merah yang kini pasti sudah memenuhi pipinya di balik cadar.

Mahira terkekeh geli melihat respons malu-malu menantunya. Meski sebelumnya ia hanya pernah melihat wajah Ellea sekilas melalui layar ponsel saat video call ijab kabul setahun lalu, Mahira tahu persis bahwa gadis di hadapannya ini memiliki kecantikan alami yang memikat, memancar lurus dari sepasang matanya yang teduh.

Ellea hanya mengangguk pelan sebagai jawaban. Namun, baru saja kaki mereka memijak undakan tangga teratas, seorang gadis remaja tiba-tiba berlari setengah melompat dari arah koridor hingga hampir menabrak Mahira.

"Aaaaaa ... Bunda, tunggu!" seru gadis itu bersemangat. Ia berhenti tepat di hadapan mereka, mencoba mengatur napasnya yang memburu sejenak sebelum beralih menatap Ellea dengan mata berbinar-binar. "Hai, Kakak Ipar!" sapanya riang.

Ellea agak tersentak, lalu menoleh ke arah Mahira dengan tatapan bertanya, seolah meminta konfirmasi mengenai sosok remaja perempuan yang begitu enerjik di depannya ini.

"Dia Alisa, adik kandung suamimu. Masih kelas satu SMA," jelas Mahira lembut, memperkenalkan putrinya.

"Hai, Alisa," sapa Ellea santun, menganggukkan kepalanya sedikit.

"Wah, hai juga, Kakak Ipar! Ih, Bunda kok keterlaluan banget sih, gak kasih tahu Alisa kalau Kak Ellea sudah datang?" protes Alisa sembari mengerucutkan bibirnya ke arah sang ibu.

"Habisnya dari pagi kamu mengurung diri di studio, sibuk melukis terus. Bunda kan jadi gak enak mau mengganggu," balas Mahira menyindir halus kelakuan putrinya yang kalau sudah memegang kuas sering lupa waktu.

Alisa menyengir tanpa dosa. Ia segera melangkah maju, lalu dengan supel menggandeng lengan Ellea, mengambil alih tas jinjing kecil yang dipegang wanita itu. "Bunda, mulai detik ini, biar Kakak Ipar jadi urusan Alisa. Bunda mending ke bawah saja, istirahat atau ngapain gitu," ucap Alisa seraya mengedipkan sebelah matanya secara rahasia.

Mahira yang menangkap gelagat jahil putrinya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. "Ya sudah, Bunda ke dapur dulu kalau begitu, mau menyiapkan makan malam untuk kita. Tolong bantu Kak Ellea beres-beres ya, Alisa."

"Siap, Kanjeng Ratu!" sahut Alisa penuh semangat.

Setelah sosok Mahira menghilang di balik kelokan tangga menuju lantai bawah, Alisa langsung mengubah arah langkah mereka. Bukannya menuju kamar tamu yang berada di sebelah kanan, ia justru menarik pergelangan tangan Ellea dengan mantap menuju sebuah pintu kayu jati berwarna gelap di ujung kiri koridor.

Ellea yang menyadari arah langkah mereka berbeda dari instruksi mertuanya tadi mulai merasa sangsi. "Eh, Alisa ... kok kita ke kamar yang ini? Bukannya kata Bunda tadi kamarku yang di sebelah sana?"

"Sssttt!" Alisa menempelkan jari telunjuknya di depan bibir, memberi isyarat agar Ellea memelankan suaranya. "Mulai hari ini, Kakak harus tidur di kamar Kak Al!"

Ellea menahan langkahnya, membuat Alisa yang sedang menariknya terpaksa ikut berhenti. "Tapi, Alisa ... Kak Albiru kan sedang tidak ada di rumah. Lagipula, Bunda tadi bilang—"

"Aduh, Kak Ellea sayang, dengerin Alisa dulu," potong remaja itu gemas. Ia memutar tubuh menghadap Ellea, lalu memegang kedua pundak kakak iparnya dengan tatapan serius yang dibuat-buat. "Kak Al itu sengaja kabur ke apartemen Kak Dylan karena gak mau jemput Kakak. Dia itu sok jual mahal! Kalau Kakak malah nurut tidur di kamar sebelah, makin di atas angin lah anak singa itu."

Ellea tertegun. Penjelasan jujur yang keluar dari mulut polos Alisa bagai hantaman telak yang menegaskan spekulasinya sejak di terminal tadi. Jadi benar, suaminya sengaja menghindar? Ada rasa nyeri yang merayap perlahan di sudut hatinya, namun Ellea buru-buru menepis perasaan itu. Ia sadar diri siapa ia di rumah megah ini.

"Alisa, kalau Kak Al memang tidak berkenan, sebaiknya aku tidak usah lancang memasuki ruang pribadinya. Aku tidak ingin membuatnya semakin tidak nyaman," tutur Ellea dengan nada suara yang teramat lembut, tipikal gadis bentukan pesantren yang selalu menjaga adab.

Alisa menghela napas panjang, menatap Ellea dengan pandangan kagum sekaligus gemas. "Kak, justru karena Kak Al egois, kita harus kasih dia kejutan. Biar kamar ini Alisa yang tanggung jawab kalau Kak Al ngamuk nanti. Kamar ini luas banget, punya kamar mandi dalam, dan kasurnya jauh lebih empuk. Anggap saja ini hak Kakak sebagai istri sahnya!" tanpa menunggu persetujuan lagi, Alisa menekan kenop pintu dan mendorongnya terbuka.

Kamarnya sangat maskulin. Didominasi warna abu-abu gelap, putih, dan hitam. Aroma maskulin khas parfum mahal bercampur mint langsung menyergap indra penciuman Ellea begitu melangkah masuk. Kamar itu sangat rapi untuk ukuran seorang remaja laki-laki, dengan sebuah tempat tidur king-size di tengah ruangan, meja belajar dengan komputer berspesifikasi tinggi, serta beberapa poster otomotif yang tertempel rapi di dinding, dan foto-foto saat Al dan sahabat bermain basket.

"Nah, mulai sekarang Kak Ellea istirahat di sini. Kamar mandinya ada di sebelah sana, semua keperluannya sudah lengkap. Alisa taruh tasnya di sini, ya," ujar Alisa riang, meletakkan ransel Ellea di atas sofa kecil di sudut kamar. "Alisa ke bawah dulu membantu Bunda. Kakak santai-santai dulu dengan udara kamar ini, biar bau Kak Al menempel di baju Kakak," godanya meniru ucapan drama yang sering ditontonnya, lalu berlari keluar sebelum Ellea sempat memprotes.

Pintu tertutup rapat, meninggalkan Ellea dalam kesunyian kamar asing tersebut. Gadis itu perlahan melangkah mendekati tempat tidur berseprai abu-abu gelap. Ia duduk di tepian kasur, merasakan keempukannya yang begitu kontras dengan dipan kayu tipis miliknya di kampung dulu.

Tangan Ellea bergerak perlahan membuka simpul khimar dan melepas cadar hitamnya. Begitu kain itu terlepas, tampaklah seraut wajah dengan guratan kecantikan yang sangat alami. Kulitnya putih bersih dengan rona kemerahan alami di pipi, hidungnya bangir kecil, dan bibirnya berwarna merah muda ranum layaknya kelopak mawar yang baru mekar. Keindahan yang selama ini tersembunyi rapat di balik selembar kain.

Ellea merebahkan tubuhnya yang letih setelah menempuh perjalanan belasan jam menggunakan bus antarkota. Sembari menatap langit-langit kamar, bayangan setahun lalu kembali berputar di benaknya. Suara Albiru yang terdengar kaku dan penuh paksaan saat mengucapkan ijab kabul via telepon masih terekam jelas.

“Jadi, kamu selama ini tidak pernah mengabari atau membalas pesanku karena kamu benci pada pernikahan ini, Albiru,” bisik Ellea dalam hati sembari memejamkan mata, membiarkan rasa lelah membawanya masuk ke alam mimpi.

Episodes
1 Kedatangan sang Istri
2 Kekecewaan
3 Satu Sekolah
4 Gadis Aneh
5 Memasuki Babak Baru
6 Saling tatap
7 Tatapan permusuhan
8 Kilat di Balik Cadar
9 Bidadari
10 Diambil orang
11 Air Mata di Balik Cadar
12 Siapa anak Bunda sebenarnya?
13 Mataku ternodai
14 Kita Cerai
15 Ide gila
16 Gagal total
17 Biar aku yang pergi
18 Calon Istri
19 Durhaka pada suami
20 Baper sama suami sendiri
21 Perang dingin Dua Kapten Basket
22 Kegatelan
23 Jangan dilepas! Kita sudah Sah
24 Pernikahan pura-pura
25 Cinta Tidak bisa dipaksakan
26 Kuliah di Kairo
27 Aku Cemburu
28 Jadi Bahan Taruhan
29 Maaf
30 Syafa
31 Senam Jantung
32 Sepuluh Bulan
33 Rencana Alisa
34 Pesan dari Albiru untuk Syafa
35 Pagi yang Menyesakkan
36 Terjebak dalam permainan
37 Ungkapkan Cinta Albiru
38 Jodoh Pilihan sang Kakek
39 Rencana Gila Sandra
40 Sikap posesif Albiru
41 Kecurigaan Sandra
42 Ancaman Andra
43 Celana Kakak, Kenapa?
44 Istriku yang polos
45 Pelan-pelan
46 Buka, atau Gue cium!
47 Janji Ellea
48 Ternyata Ilusi
49 Perjalanan Camping
50 Was-was
51 Kelulusan
52 Kemarahan Albiru
53 Gelisah
54 Tolong!
55 Maaf
56 Apa aku sudah ternoda?
57 Seorang pengecut
58 Keputusan berat
59 Ketakutan Ellea
60 Menunggu
61 Talak
62 Luka kesekian kalinya
63 Waktu memeluk Luka
64 Rindu namun gengsi
65 Khitbah dari Pria lain
66 Maaf membuatmu menunggu
67 Penantian Bodoh
68 Menu spesial untuk sang Kapten
69 Ketakutan dan Rindu
70 Penyesalan
71 Memenangkan hatimu
72 Rahasia besar Albiru
73 Jangan mendekat!
74 Serangan Jantung
75 Tatap Mataku
76 Kelainan Jantung
77 Lima tahun tanpa diriku
78 Maaf untukmu
79 Kedatangan tamu di pagi Hari
80 Membawa pulang bidadariku
81 Sekarang, Nanti, dan Selamanya
82 Panggil, Mas, atau Suami.
83 Restu dan penolakan
84 Cemburu seratus persen
85 Ya, Zawji
86 Berjanjilah
87 Istriku yang Polos
88 Permintaan Albiru seutuhnya
89 Noda dan masa lalu
90 Istriku yang meresahkan
91 Cepatlah kembali
92 Bimbang
93 Cemas dan Rindu
94 Sayang, apa kabar?
95 Di blokir
96 Kenapa Mual lagi?
97 Hamil
Episodes

Updated 97 Episodes

1
Kedatangan sang Istri
2
Kekecewaan
3
Satu Sekolah
4
Gadis Aneh
5
Memasuki Babak Baru
6
Saling tatap
7
Tatapan permusuhan
8
Kilat di Balik Cadar
9
Bidadari
10
Diambil orang
11
Air Mata di Balik Cadar
12
Siapa anak Bunda sebenarnya?
13
Mataku ternodai
14
Kita Cerai
15
Ide gila
16
Gagal total
17
Biar aku yang pergi
18
Calon Istri
19
Durhaka pada suami
20
Baper sama suami sendiri
21
Perang dingin Dua Kapten Basket
22
Kegatelan
23
Jangan dilepas! Kita sudah Sah
24
Pernikahan pura-pura
25
Cinta Tidak bisa dipaksakan
26
Kuliah di Kairo
27
Aku Cemburu
28
Jadi Bahan Taruhan
29
Maaf
30
Syafa
31
Senam Jantung
32
Sepuluh Bulan
33
Rencana Alisa
34
Pesan dari Albiru untuk Syafa
35
Pagi yang Menyesakkan
36
Terjebak dalam permainan
37
Ungkapkan Cinta Albiru
38
Jodoh Pilihan sang Kakek
39
Rencana Gila Sandra
40
Sikap posesif Albiru
41
Kecurigaan Sandra
42
Ancaman Andra
43
Celana Kakak, Kenapa?
44
Istriku yang polos
45
Pelan-pelan
46
Buka, atau Gue cium!
47
Janji Ellea
48
Ternyata Ilusi
49
Perjalanan Camping
50
Was-was
51
Kelulusan
52
Kemarahan Albiru
53
Gelisah
54
Tolong!
55
Maaf
56
Apa aku sudah ternoda?
57
Seorang pengecut
58
Keputusan berat
59
Ketakutan Ellea
60
Menunggu
61
Talak
62
Luka kesekian kalinya
63
Waktu memeluk Luka
64
Rindu namun gengsi
65
Khitbah dari Pria lain
66
Maaf membuatmu menunggu
67
Penantian Bodoh
68
Menu spesial untuk sang Kapten
69
Ketakutan dan Rindu
70
Penyesalan
71
Memenangkan hatimu
72
Rahasia besar Albiru
73
Jangan mendekat!
74
Serangan Jantung
75
Tatap Mataku
76
Kelainan Jantung
77
Lima tahun tanpa diriku
78
Maaf untukmu
79
Kedatangan tamu di pagi Hari
80
Membawa pulang bidadariku
81
Sekarang, Nanti, dan Selamanya
82
Panggil, Mas, atau Suami.
83
Restu dan penolakan
84
Cemburu seratus persen
85
Ya, Zawji
86
Berjanjilah
87
Istriku yang Polos
88
Permintaan Albiru seutuhnya
89
Noda dan masa lalu
90
Istriku yang meresahkan
91
Cepatlah kembali
92
Bimbang
93
Cemas dan Rindu
94
Sayang, apa kabar?
95
Di blokir
96
Kenapa Mual lagi?
97
Hamil

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!