Kapten Basket Itu Suamiku

Kapten Basket Itu Suamiku

Kedatangan sang Istri

"Al, minggu depan istrimu mulai tinggal di sini. Kamu nanti jemput istrimu di terminal, ya?" tanya Mahira sembari meletakkan secangkir teh hangat di atas meja ruang tengah. Matanya menatap penuh harap pada putranya.

"Apa?" pekik Albiru, hampir tersedak camilan yang sedang dikunyahnya. Ia menatap ibunya dengan tatapan tak percaya. "Bunda, kenapa dia harus ke sini sih? Kenapa Bunda gak diskusikan dulu sama Al? Pokoknya, Al gak setuju!"

"Albiru!" Nada suara Mahira meninggi, sarat akan teguran.

"Bunda, please!" Albiru mengacak rambut hitamnya frustrasi. Ia bangkit dari sofa, berjalan mondar-mandir di depan ibunya. "Sudah cukup masa depan Al dikorbankan lewat pernikahan konyol setahun lalu itu. Al ini masih SMA, Bun! Masih sekolah! Dan sekarang wanita itu mau datang ke sini? Mau menghancurkan hidup Al di sekolah kalau sampai teman-teman tahu?"

"Astaghfirullah, Albiru! Jaga bicaramu!" Mahira mengusap dadanya yang mendadak sesak. Tatapannya berubah kecewa dan terluka melihat penolakan keras dari putranya. "Ellea itu istrimu. Sah secara agama, sah juga di mata hukum. Neneknya baru saja meninggal seminggu yang lalu, Al. Dia sebatang kara di kampung. Mau di mana lagi dia tinggal kalau bukan di rumah suaminya sendiri?"

Albiru mendengus kasar. Pernikahan via video call satu tahun lalu adalah noda hitam dalam hidupnya yang selalu ingin ia hapus dari ingatan. Saat itu, ia terpaksa mengiyakan demi memenuhi wasiat terakhir sang kakek, ditambah kondisi nenek Ellea yang kala itu sakit keras. Sejak hari itu, Albiru memilih amnesia. Ia tidak pernah menghubungi gadis itu, tidak tahu-menahu kabarnya, dan menolak mencari tahu.

Bagi Albiru, status pernikahan itu hanyalah coretan tak berarti di atas selembar kertas.

"Al gak peduli. Dan Al gak akan pernah sudi menjemputnya," ucap Albiru dingin.

Tepat saat Albiru hendak melangkah pergi, terdengar suara deru motor ninja hitamnya memasuki halaman rumah. Detik berikutnya, pintu depan terbuka, menampilkan sosok pria paruh baya yang tak lain adalah paman Albiru, mengembalikan motor yang kemarin dipinjamnya. Namun, fokus Mahira teralihkan saat menyadari Albiru langsung menyambar kunci motor tersebut dari meja.

Mata Mahira berbinar seketika. Senyum tipis terbit di bibirnya. Ia mengira amarah putranya mereda dan nurani remaja itu akhirnya terketuk.

"Al?" panggil Mahira dengan nada lembut, melangkah mendekat. "Kamu ... mau berubah pikiran, Nak? Kamu mau pergi menjemput Ellea ke terminalkan saat nanti?”

Albiru menghentikan langkahnya di ambang pintu. Tanpa menoleh ke belakang, ia menjawab dengan suara datar yang teramat dingin. "Al mau pergi main ke apartemen Dylan. Al bakal menginap di sana beberapa hari. Jadi, jangan harap Al ada di rumah ini saat wanita itu datang."

Brak!

Pintu depan tertutup dengan dentuman cukup keras, disusul suara raungan mesin motor ninja yang menjauh membelah jalanan. Mahira terpaku di tempatnya berdiri. Harapan kecil yang sempat melambung kini jatuh berkeping-keping.

"Astaghfirullah ... bagaimana bisa anak itu sekeras batu?" gumam Mahira frustrasi. Air matanya mulai menggenang.

Alisa adik perempuan Albiru yang sejak tadi menyimak dari arah dapur hanya bisa mendekat dan mengusap bahu ibunya pelan.

“Bunda, biar saja Kak Biru menolak Kak Ellea, kan masih ada Alisa,” ujarnya polos.

Mahira hanya tersenyum, puterinya yang masih duduk di kelas 1 SMA itu tak mengerti dengan apa yang terjadi.

***

Seminggu berlalu jauh lebih cepat dari yang Albiru harapkan, dan jauh lebih mendebarkan dari yang Ellea bayangkan.

Di sebuah sudut terminal kota yang bising, debu dan asap kendaraan berjelaga di udara. Di tengah hiruk-pikuk manusia yang berlarian mengejar waktu, seorang gadis dengan gamis longgar berwarna hitam dan khimar panjang senada tampak berdiri anggun. Penampilannya begitu kontras dengan lingkungan sekitar. Wajahnya tertutup selembar kain cadar berwarna hitam, hanya menyisakan sepasang mata bulat nan bening dengan bulu mata lentik, memancarkan perpaduan antara ketegaran dan kecemasan yang mendalam.

Ellea meremas kuat tali tas ranselnya yang terasa berat bergelayut di pundak. Ini adalah kali pertama dalam hidupnya menginjakkan kaki di kota metropolitan yang begitu luas dan asing ini. Di jemari manisnya, sebuah cincin perak sederhana melingkar dengan pas. Cincin yang sama dengan yang ia lihat secara sekilas lewat layar ponsel setahun lalu saat prosesi ijab kabul yang sunyi.

"Nenek ... Ellea sudah sampai di kota tempat suami Ellea tinggal," bisiknya lirih dalam hati, menahan sesak yang tiba-tiba menyerang dadanya akibat rindu pada almarhumah neneknya.

Sesuai petunjuk dan alamat yang dikirimkan oleh ibu mertuanya, Ellea menaiki taksi menuju sebuah kawasan perumahan elite di pusat kota. Sepanjang perjalanan, pandangannya terpaku pada gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi. Jantungnya berdebar bertalu-talu. Bagaimanakah rupa suaminya sekarang? Apakah pria itu bersedia menerimanya? Ataukah kedatangannya justru akan menjadi benalu yang tidak diinginkan?

Ketika taksi akhirnya berhenti di depan sebuah gerbang rumah megah berarsitektur modern minimalis, Ellea menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan gemuruh di dadanya. Begitu ia turun, pintu utama rumah langsung terbuka.

Mahira berlari kecil keluar rumah, menyambutnya dengan sangat hangat.

"Ellea ... Sayang," panggil Mahira dengan suara bergetar.

Wanita paruh baya itu tanpa ragu langsung mendekap tubuh Ellea dengan erat. Air mata Mahira menetes seketika, menyalurkan rasa duka yang mendalam atas kehilangan nenek Ellea, sekaligus rasa bersalah yang teramat sangat atas perlakuan putranya. Ellea membalas pelukan itu, merasa sedikit hangat di tengah keasingan kota ini.

Namun, setelah pelukan terurai, pandangan Ellea secara alami menyapu sekeliling halaman dan rumah yang sunyi. Sepi. Tidak ada tanda-tanda keberadaan seorang pria muda yang seharusnya menyambutnya sebagai seorang suami.

Menyadari arah pandang menantunya, senyum di wajah Mahira mendadak kaku. Ada rasa perih di dadanya karena harus berbohong demi menutupi kelakuan egois putranya yang saat ini sedang asyik melarikan diri di apartemen sepupunya.

"Albiru ... dia sedang ada urusan sekolah yang sangat padat, Nak. Tugas-tugasnya menumpuk karena sudah mau ujian, jadi hari ini belum bisa menyambutmu di rumah," ucap Mahira dengan senyum yang dipaksakan, berusaha meyakinkan.

Ellea terdiam sejenak. Namun, matanya yang bening tidak bisa berbohong bahwa ada setitik kekecewaan dan rasa maklum yang getir di sana. Ia tahu, pernikahan mereka bukanlah pernikahan normal yang didasari cinta. Dari balik cadarnya, Ellea memaksakan sebuah senyuman yang tulus.

"Tidak apa-apa, Tante. Ellea sangat mengerti. Tugas sekolah memang harus diutamakan," jawab Ellea dengan suara lembut dan santun.

Mendengar panggilan itu, Mahira langsung mengerucutkan bibirnya, berpura-pura kesal untuk mencairkan suasana. "Kok panggilnya Tante sih? Kan sudah jadi anak bunda."

Wajah Ellea seketika bersemu merah di balik cadarnya. Ia merasa tersipu sekaligus haru. "B-bunda," ucapnya malu-malu.

"Nah, begitu dong. Panggil Bunda," ujar Mahira, kembali membawa Ellea ke dalam pelukannya dan mengusap punggung gadis itu dengan penuh kasih sayang. "Mulai sekarang, kamu bukan hanya sekadar menantu di keluarga ini, Ellea. Tapi kamu sudah jadi anak kandung bunda sendiri. Rumah ini adalah rumahmu juga."

"Terima kasih, Bunda. Terima kasih banyak sudah mau menerima Ellea yang sebatang kara ini," ucap Ellea terharu, matanya mulai berkaca-kaca.

Sembari menuntun Ellea masuk ke dalam rumah untuk mengantarnya ke kamar, Mahira melirik ke arah luar dengan helaan napas berat. Di dalam hatinya, kejengkelan pada Albiru kembali membubung tinggi.

“Albiru ini ... mau cari wanita seperti apa lagi coba? Ellea ini gadis yang sholehah, santun, cantik matanya, hatinya juga tulus. Kurang apa lagi coba? Awas kamu ya, Al, kalau pulang nanti!” gerutu Mahira dalam hati, bertekad untuk memberi pelajaran pada putranya yang masih kekanak-kanakan itu.

Terpopuler

Comments

💗vanilla💗🎶

💗vanilla💗🎶

ijin mampir ya thor 😊

2026-07-24

0

Nia nurhayati

Nia nurhayati

mampir thorr

2026-08-06

0

lihat semua
Episodes
1 Kedatangan sang Istri
2 Kekecewaan
3 Satu Sekolah
4 Gadis Aneh
5 Memasuki Babak Baru
6 Saling tatap
7 Tatapan permusuhan
8 Kilat di Balik Cadar
9 Bidadari
10 Diambil orang
11 Air Mata di Balik Cadar
12 Siapa anak Bunda sebenarnya?
13 Mataku ternodai
14 Kita Cerai
15 Ide gila
16 Gagal total
17 Biar aku yang pergi
18 Calon Istri
19 Durhaka pada suami
20 Baper sama suami sendiri
21 Perang dingin Dua Kapten Basket
22 Kegatelan
23 Jangan dilepas! Kita sudah Sah
24 Pernikahan pura-pura
25 Cinta Tidak bisa dipaksakan
26 Kuliah di Kairo
27 Aku Cemburu
28 Jadi Bahan Taruhan
29 Maaf
30 Syafa
31 Senam Jantung
32 Sepuluh Bulan
33 Rencana Alisa
34 Pesan dari Albiru untuk Syafa
35 Pagi yang Menyesakkan
36 Terjebak dalam permainan
37 Ungkapkan Cinta Albiru
38 Jodoh Pilihan sang Kakek
39 Rencana Gila Sandra
40 Sikap posesif Albiru
41 Kecurigaan Sandra
42 Ancaman Andra
43 Celana Kakak, Kenapa?
44 Istriku yang polos
45 Pelan-pelan
46 Buka, atau Gue cium!
47 Janji Ellea
48 Ternyata Ilusi
49 Perjalanan Camping
50 Was-was
51 Kelulusan
52 Kemarahan Albiru
53 Gelisah
54 Tolong!
55 Maaf
56 Apa aku sudah ternoda?
57 Seorang pengecut
58 Keputusan berat
59 Ketakutan Ellea
60 Menunggu
61 Talak
62 Luka kesekian kalinya
63 Waktu memeluk Luka
64 Rindu namun gengsi
65 Khitbah dari Pria lain
66 Maaf membuatmu menunggu
67 Penantian Bodoh
68 Menu spesial untuk sang Kapten
69 Ketakutan dan Rindu
70 Penyesalan
71 Memenangkan hatimu
72 Rahasia besar Albiru
73 Jangan mendekat!
74 Serangan Jantung
75 Tatap Mataku
76 Kelainan Jantung
77 Lima tahun tanpa diriku
78 Maaf untukmu
79 Kedatangan tamu di pagi Hari
80 Membawa pulang bidadariku
81 Sekarang, Nanti, dan Selamanya
82 Panggil, Mas, atau Suami.
83 Restu dan penolakan
84 Cemburu seratus persen
85 Ya, Zawji
86 Berjanjilah
87 Istriku yang Polos
88 Permintaan Albiru seutuhnya
89 Noda dan masa lalu
90 Istriku yang meresahkan
91 Cepatlah kembali
92 Bimbang
93 Cemas dan Rindu
94 Sayang, apa kabar?
95 Di blokir
96 Kenapa Mual lagi?
97 Hamil
Episodes

Updated 97 Episodes

1
Kedatangan sang Istri
2
Kekecewaan
3
Satu Sekolah
4
Gadis Aneh
5
Memasuki Babak Baru
6
Saling tatap
7
Tatapan permusuhan
8
Kilat di Balik Cadar
9
Bidadari
10
Diambil orang
11
Air Mata di Balik Cadar
12
Siapa anak Bunda sebenarnya?
13
Mataku ternodai
14
Kita Cerai
15
Ide gila
16
Gagal total
17
Biar aku yang pergi
18
Calon Istri
19
Durhaka pada suami
20
Baper sama suami sendiri
21
Perang dingin Dua Kapten Basket
22
Kegatelan
23
Jangan dilepas! Kita sudah Sah
24
Pernikahan pura-pura
25
Cinta Tidak bisa dipaksakan
26
Kuliah di Kairo
27
Aku Cemburu
28
Jadi Bahan Taruhan
29
Maaf
30
Syafa
31
Senam Jantung
32
Sepuluh Bulan
33
Rencana Alisa
34
Pesan dari Albiru untuk Syafa
35
Pagi yang Menyesakkan
36
Terjebak dalam permainan
37
Ungkapkan Cinta Albiru
38
Jodoh Pilihan sang Kakek
39
Rencana Gila Sandra
40
Sikap posesif Albiru
41
Kecurigaan Sandra
42
Ancaman Andra
43
Celana Kakak, Kenapa?
44
Istriku yang polos
45
Pelan-pelan
46
Buka, atau Gue cium!
47
Janji Ellea
48
Ternyata Ilusi
49
Perjalanan Camping
50
Was-was
51
Kelulusan
52
Kemarahan Albiru
53
Gelisah
54
Tolong!
55
Maaf
56
Apa aku sudah ternoda?
57
Seorang pengecut
58
Keputusan berat
59
Ketakutan Ellea
60
Menunggu
61
Talak
62
Luka kesekian kalinya
63
Waktu memeluk Luka
64
Rindu namun gengsi
65
Khitbah dari Pria lain
66
Maaf membuatmu menunggu
67
Penantian Bodoh
68
Menu spesial untuk sang Kapten
69
Ketakutan dan Rindu
70
Penyesalan
71
Memenangkan hatimu
72
Rahasia besar Albiru
73
Jangan mendekat!
74
Serangan Jantung
75
Tatap Mataku
76
Kelainan Jantung
77
Lima tahun tanpa diriku
78
Maaf untukmu
79
Kedatangan tamu di pagi Hari
80
Membawa pulang bidadariku
81
Sekarang, Nanti, dan Selamanya
82
Panggil, Mas, atau Suami.
83
Restu dan penolakan
84
Cemburu seratus persen
85
Ya, Zawji
86
Berjanjilah
87
Istriku yang Polos
88
Permintaan Albiru seutuhnya
89
Noda dan masa lalu
90
Istriku yang meresahkan
91
Cepatlah kembali
92
Bimbang
93
Cemas dan Rindu
94
Sayang, apa kabar?
95
Di blokir
96
Kenapa Mual lagi?
97
Hamil

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!