Kedatangan mertua : 02

Helyara berdiri bergeming di bawah naungan ranting berdaun lebat pohon Mangga. Perasaan asing merasuki hati, mengusik pikiran.

Sepasang tangan mungil menggapai angin, netra hitam bulat berbinar cerah dengan mulut kecil memainkan air ludah. Wajah bayi entah umur berapa itu bertumpu di pundak wanita yang berdiri membelakangi Helyara.

Brak!

Tubuh kaku Helya tersentak. Jiwanya seperti ditarik kembali ke dunia nyata.

“Kamu itu ada tamu bukannya disapa malah dipelototi, dimana adab sopan santunmu, Helya!” teguran dengan nada tegas, tatapan mencemooh tertuju teruntuk sang menantu yang ia labeli mandul.

“Maaf, Ma.” Ia menunduk dalam, jemari saling menggenggam dilenturkan. Sedikit terburu-buru mendekat sampai pinggul sebelah kanan menabrak bagian depan mobil.

Hssttt.

Ringisan sakit sama sekali tidak menggugah hati nurani sosok paruh baya memakai blouse merah hati.

Lagi-lagi hinaan terlontar. Sebagai ibu mertua, Ganira menyuarakan ketidakpuasan memiliki menantu berbadan mirip Kerbau, tidak pintar berbaur dengan keluarganya.

“Makanya kurusin tu badan! Harusnya perut diisi bayi bukannya timbunan lemak! Percuma kamu ikut program hamil dari yang alami sampai mengikuti saran dokter kandungan kalau ujung-ujungnya tetap gabuk alias mandul!” hinanya tanpa peduli wajah memerah menahan tangis.

“Mama!” Alan menegur, suaranya sarat ketidaksukaan.

Ganira jelas tidak terima. Merasa terhina ditegur didepan suami dan menantunya.

“Apa yang Mama bilang kan memang fakta, bukan mengada-ada!” kelakarnya dengan suara menggelegar, sorot mata menelanjangi Helyara.

‘Kamu pasti kuat Helya. Kan sudah biasa dikatai mirip seekor Babi, Kerbau, dan dicap mandul. Rahim gabuk,’ batinnya menguatkan, pikiran mensugesti agar segera bertindak sebelum terjadi pertengkaran antara anak dan ibu.

“Maaf, Ma, Pa … dan ….” Ia menyamping memandang sopan wanita berambut keriting sama seperti bayi yang digendongnya.

Alan memutar bagian kap mobil, berdiri di sebelah istrinya, merangkul pundak Helya.

“Dia Rianti, istri sepupu Mas. Suaminya sedang berlayar, dan dirinya dititipkan di rumah Mama,” jelas Alan dengan suara biasa saja.

Rianti menyapa, suaranya terdengar kikuk dan menatap sungkan. “Mbak ….”

“Jangan panggil Mbak, dia lebih muda beberapa tahun dari kamu. Memang sih secara fisik kalau dipandang seperti berumur 40-an padahal masih 27 tahun,” sahut Ganira kembali menyemburkan racun lewat ucapan pedas.

Senyum Helya seperti seseorang menahan lara, ia berusaha tegar kendati hatinya berdarah.

“Panggil nama saja, Mbak. Helya,” katanya dengan suara sedikit bergelombang.

“Baik, Helya.” Ia mengangguk lalu sibuk membuka kepalan tangan bayi yang menarik rambut panjang sebahu.

Alan melepaskan rangkulan, membuat Helya merasa kehilangan.

Jarak diantara mereka hanya tiga langkah kaki tetapi terasa seperti terpisah jurang membentang.

“Alamsyah, gak boleh jambak, Nak. Kasihan ibumu kesakitan.”

‘Sejak kapan mas Alan bisa berbicara selembut itu sama bayi yang katanya cuma anak sepupunya? Terus namanya Alamsyah, kok mirip sama nama mas Alandi?’ perasaan tak nyaman mulai muncul seiring interaksi manis sang suami meraih tubuh gembul lalu menggendongnya.

Helya merasakan seakan dunia di sekelilingnya berhenti berputar, para orang mematung. Hanya ia dan Alan serta bayi tertawa renyah yang bergerak.

‘Mengapa hatiku sakit? Perasaan ini lain dari biasanya ketika menyaksikan mas Alan bercanda dengan Kartika?’ batinnya berisik, sementara mata nyaris tak berkedip.

“Kamu itu pernah diajarin sopan santun gak sama orang tuamu, Helya?” teguran lebih dingin datang dari pria berambut hampir seluruhnya memutih, berperawakan tinggi kurus.

“Maaf, Pa. Maaf.” Ia tersadar kalau belum menyalami kedua tangan mertuanya. Efek terkejut membuatnya gugup sekaligus linglung.

Helya menyalami punggung tangan yang urat-uratnya menyembul dibawah kulit mulai keriput, lalu berbalik badan berjalan empat langkah mendekati ibu mertuanya.

Plak!

Tangan berjari pendek, gemuk, ditepis kuat sampai lengannya tersentak dan tubuh empunya terhenyak.

“Telat! Umurmu sudah tua, tapi adab minus. Harusnya sedari tadi salim, lalu membimbing kami masuk rumah. Bukankah malah kayak orang bodoh yang baru pertama kali melihat bayi digendong pria dewasa!” sarkas Ganira, ia melengos sambil menghentakkan kaki, berjalan menaiki teras luas.

Heuuheuuuu ….

Pipinya mengembung lalu membuang napas terasa sesak terlalu lama tertahan dalam dada. Helyara berjalan paling belakang sambil menyaksikan suaminya yang seolah lupa memiliki istri baru saja direndahkan.

Alan terlalu asik mengajak bercanda bayi yang dipanggil Alam.

Para tamu memasuki ruang santai yang mana kudapan, teh hangat telah disuguhkan oleh bi Mirma. Pembantu rumah tangga sudah bekerja lima tahun lamanya.

Si pemilik rumah berdiri bersebelahan dengan bibi, sementara tamu menikmati secangkir teh, mengunyah kue pukis.

“Nyonya kenapa gak ikutan duduk?” bisik bi Mirma, merasa kasihan kepada sang majikan yang sangat penurut, tertutup, tidak enakan.

“Kursinya sudah penuh, Bi. Lagian capek duduk terus,” alibinya jelas saja dusta.

Masih ada bagian kosong, tetapi di sebelah ibu mertua, Helya tidak seberani itu duduk di sana.

Ganira sengaja duduk di sofa panjang seorang diri, agar sang menantu berdiri bagaikan pembantu.

“Si Siska kemana?” tanya Ganira setelah mengelap mulut lengket minyak menggunakan tisu. Dia baru saja makan satu potong kue bika ambon.

“Sudah tiga hari pulang kampung, Ma. Katanya nanti sore balik kesini,” Helya menjelaskan tentang asisten rumah tangga satu lagi. Seumuran dengannya.

“Kamu itu jadi majikan jangan terlalu baik. Babu kok dimanjakan banget. Bentar-bentar cuti, kayak gak niat kerja,” ada saja yang dikritik.

“Iya, Ma,” sahutnya cepat, percuma mau membela diri yang ada tambah dicaci.

Tiba-tiba Alam merengek dalam gendongan Alan. Bayi sehat, aktif itu mengusap-usap muka.

“Kemarikan, Mas. Alam udah ngantuk, biar saya tidurkan.” Rianti mengulurkan tangan meminta putranya.

‘Mas? Apa wajar panggilan terdengar akrab itu?’ sudut matanya melirik sang suami yang memberikan Alam ke ibunya.

“Helya, tunjukkan mana kamar tidur untuk Rianti. Biar dia bisa menyusui bayinya!” seru Ganira.

“Maaf, Ma. Tadi aku cuma beresin satu kamar saja, gak tahu kalau ada —”

“Astaga!” suara Ganira melengking, dia sampai berdiri dan sangat lancang menuding wajah sang menantu. “Kamu itu selain gila makan, apa gak ada hal berguna lainnya yang bisa dibanggakan, hah?!”

“Masak gak pinter, bersih-bersih gak bisa, memperlakukan tamu pun bodoh! Apa salahnya kamu berlari ke kamar lain, langsung membersihkan agar layak ditiduri, malah mencari alasan biar gak disalahkan!” Dadanya membusung menyimpan udara terasa panas bercampur rasa kesal luar biasa.

“Cukup, Ma! Mungkin aku memang mandul, tapi gak seharusnya Mama hina terus-terusan! Ini rumahku, kenapa selalu aku yang kalian perlakuan layaknya pembantu ketika datang berkunjung! Mengapa?!” ia menjerit, meluapkan sesak dalam dada tak lagi bisa menahan rasa sakit hati.

“Helyara! Jangan membentak Mama! Dia itu pengganti ibumu, kalau gak ada ibuku kamu sudah seperti anak sebatang kara karena sudah tak memiliki orang tua!” suara Alan tidak kalah tinggi.

Seketika tangis bayi memenuhi udara, membuat suasana kian gaduh.

Helyara berlari dengan langkah pendek sambil menangis. Dia pergi ke kamarnya sendiri.

“Ini ni yang Mama gak sukai, kamu terlalu manjain istri jadinya dia kurang ajar!”

.

.

Bersambung.

Terpopuler

Comments

ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ

ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ

hehhh anda tuh mertua kurang ajarrr 🙈🙊 kenapa anda ikut campurr dalam rumah tangga anak anda. smapai anda mendatangkan wanita lain dan pasti anda biang keroknya 😏 anda dalam pantauan saya Nyonyahh! kalau benar anda biang keroknya. alamatt akan saya jadi kan tumballl gunung kawi 🤭🤣🤣🤣

2026-07-03

6

Raisha

Raisha

suaminya berlayar sampai tengah laut,istrinya malah berlayar dalam rmhtangga sodaranya, (mungkin) sampai hamil😏😏😪😪

2026-07-03

2

ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ

ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ

nahhh semakin curigasenn saja aku sama mertua lukcnutt ini 😏 emang sepertinya drama rumah tangga ini, mereka lah biang keroknya 🤔 dari pedes nya omongan yang terlontarr jelas mereka memang tidak menyukai helya. Dan masalah mandull! aku enggak percaya kalau helya mandull. pasti ada kecurangan yang sengaja di lakukan oleh keluarga Alan. entah! Alan ikut terlibatt dalam permainan sandiwara ini atau enggak? tapi curigaa saja, kalau tuh baby mungkin anaknya Alan 🤔 dan masalah vonis mandull itu cuma rekayasa yang sengaja di buat oleh mertua 🤭 yang memang tidak menyukai keberadaan helya 🤔🤭 pokoknya aku curigaaa sama keluarga Alan wkwkwk

2026-07-03

5

lihat semua
Episodes
1 Vonis Mandul : 01
2 Kedatangan mertua : 02
3 Sepasang mata yang mirip : 03
4 Bibi pensiun : 04
5 misophonia kambuh : 05
6 Pertolongan orang asing : 06
7 Perasaan tak nyaman : 07
8 Dalih anak rindu dekapan : 08
9 Perlahan diperlihatkan : 09
10 Bisikan bi Mirma : 10
11 Dicurangi : 11
12 Tangis kesakitan : 12
13 Mencari bantuan : 13
14 Kedatangan pengacara : 14
15 Interogasi : 15
16 Menakar untung ruginya : 16
17 Perlahan-lahan : 17
18 Seperti batang pohon : 18
19 Sebuah tekad : 19
20 Gelombang kejut pertama : 20
21 Termasuk harta bersama : 21
22 Tugas pembantu : 22
23 Mengajari adab : 23
24 Laporan bi Mirma : 24
25 Pamer cincin berlian : 25
26 Menjemput hasil tes : 26
27 Shock : 27
28 Es krim : 28
29 Sulit percaya, tapi fakta : 29
30 Kedatangan pembantu baru : 30
31 Menguras harta : 31
32 Sesi konseling perdana : 32
33 Misi pertama: 33
34 Pura-pura tidak kenal : 34
35 Melangkah lebih berani : 35
36 Rencana vs strategi : 36
37 Harta lainnya : 37
38 Selesai 1 urusan : 38
39 Kembali mengenang : 39
40 Kenangan tertimbun : 40
41 Hadiah dari Tomi : 41
42 Alasan berkelanjutan : 42
43 Pertengkaran sengit : 43
44 Mulai jalan santai : 44
45 Terpesona : 45
46 Tidak ada sopan-sopan nya : 46
47 Bersedekah ke pencopet : 47
48 Babak mendebarkan : 48
49 Kejanggalan : 49
50 Senyum miring : 50
51 Amarah Helyara : 51
52 Cedera hidung : 52
53 Hunian Utomo : 53
54 Babak belur : 54
55 Hari menarik keuntungan : 55
56 Detik-detik gajian : 56
57 Sidak toko emas : 57
58 Merasa dicurangi : 58
59 Hutang wajib dibayar : 59
60 Cukup senang : 60
61 Flashback singkat : 61
62 Pertama kali naik kereta : 62
63 Hampir diteriaki Maling : 63
64 Pernah gagal : 64
65 Hunian di desa : 65
66 Bukan minta izin : 66
67 Tentang harga diri : 67
68 Gosip panas : 68
69 Kemalangan beruntun : 69
70 Kabar buruk : 70
71 Logo pengadilan : 71
72 Sidang perdana : 72
73 Sanksi sosial : 73
74 Persiapan sidang lanjutan : 74
75 Bagai langit dan bumi : 75
76 Putusan: 76
77 Faktanya aku tidak mandul : 77
78 Merayakan : 78
79 Kehilangan fokus : 79
80 Laporan lanjutan : 80
81 Terbuat dari apa hatimu : 81
82 Mengemis kesempatan ke2: 82
83 Nasib para penjahat : 83
84 Kuatlah Nak! : 84
85 Diskriminasi kah? 85
86 Terdengar ambigu : 86
87 Nonton bioskop : 87
88 Pura-pura gila : 88
89 Mulut beracun : 89
90 Terpaksa minta temani : 90
91 Seperti Dejavu : 91
92 Baby Ganta : 92
93 Melepas anak gadis : 93
94 Bukan yang pertama : 94
95 Terkagum-kagum : 95
96 Satu tahun berlalu : 96
97 Selangkah lagi : 97
98 Ibu : 98
99 Pesta kebun : 99
100 Telat keluar kamar : 100
101 Penyesalan : 101
102 Saat-saat mendebarkan : 102
103 Anugerah terindah : 103
104 Menantikan : 104
105 Baby twins : 105
Episodes

Updated 105 Episodes

1
Vonis Mandul : 01
2
Kedatangan mertua : 02
3
Sepasang mata yang mirip : 03
4
Bibi pensiun : 04
5
misophonia kambuh : 05
6
Pertolongan orang asing : 06
7
Perasaan tak nyaman : 07
8
Dalih anak rindu dekapan : 08
9
Perlahan diperlihatkan : 09
10
Bisikan bi Mirma : 10
11
Dicurangi : 11
12
Tangis kesakitan : 12
13
Mencari bantuan : 13
14
Kedatangan pengacara : 14
15
Interogasi : 15
16
Menakar untung ruginya : 16
17
Perlahan-lahan : 17
18
Seperti batang pohon : 18
19
Sebuah tekad : 19
20
Gelombang kejut pertama : 20
21
Termasuk harta bersama : 21
22
Tugas pembantu : 22
23
Mengajari adab : 23
24
Laporan bi Mirma : 24
25
Pamer cincin berlian : 25
26
Menjemput hasil tes : 26
27
Shock : 27
28
Es krim : 28
29
Sulit percaya, tapi fakta : 29
30
Kedatangan pembantu baru : 30
31
Menguras harta : 31
32
Sesi konseling perdana : 32
33
Misi pertama: 33
34
Pura-pura tidak kenal : 34
35
Melangkah lebih berani : 35
36
Rencana vs strategi : 36
37
Harta lainnya : 37
38
Selesai 1 urusan : 38
39
Kembali mengenang : 39
40
Kenangan tertimbun : 40
41
Hadiah dari Tomi : 41
42
Alasan berkelanjutan : 42
43
Pertengkaran sengit : 43
44
Mulai jalan santai : 44
45
Terpesona : 45
46
Tidak ada sopan-sopan nya : 46
47
Bersedekah ke pencopet : 47
48
Babak mendebarkan : 48
49
Kejanggalan : 49
50
Senyum miring : 50
51
Amarah Helyara : 51
52
Cedera hidung : 52
53
Hunian Utomo : 53
54
Babak belur : 54
55
Hari menarik keuntungan : 55
56
Detik-detik gajian : 56
57
Sidak toko emas : 57
58
Merasa dicurangi : 58
59
Hutang wajib dibayar : 59
60
Cukup senang : 60
61
Flashback singkat : 61
62
Pertama kali naik kereta : 62
63
Hampir diteriaki Maling : 63
64
Pernah gagal : 64
65
Hunian di desa : 65
66
Bukan minta izin : 66
67
Tentang harga diri : 67
68
Gosip panas : 68
69
Kemalangan beruntun : 69
70
Kabar buruk : 70
71
Logo pengadilan : 71
72
Sidang perdana : 72
73
Sanksi sosial : 73
74
Persiapan sidang lanjutan : 74
75
Bagai langit dan bumi : 75
76
Putusan: 76
77
Faktanya aku tidak mandul : 77
78
Merayakan : 78
79
Kehilangan fokus : 79
80
Laporan lanjutan : 80
81
Terbuat dari apa hatimu : 81
82
Mengemis kesempatan ke2: 82
83
Nasib para penjahat : 83
84
Kuatlah Nak! : 84
85
Diskriminasi kah? 85
86
Terdengar ambigu : 86
87
Nonton bioskop : 87
88
Pura-pura gila : 88
89
Mulut beracun : 89
90
Terpaksa minta temani : 90
91
Seperti Dejavu : 91
92
Baby Ganta : 92
93
Melepas anak gadis : 93
94
Bukan yang pertama : 94
95
Terkagum-kagum : 95
96
Satu tahun berlalu : 96
97
Selangkah lagi : 97
98
Ibu : 98
99
Pesta kebun : 99
100
Telat keluar kamar : 100
101
Penyesalan : 101
102
Saat-saat mendebarkan : 102
103
Anugerah terindah : 103
104
Menantikan : 104
105
Baby twins : 105

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!