Bibi pensiun : 04

“Bi, Bibi! Kok malah bengong?” Helya memanggil sampai dua kali. Merasa heran melihat bi Mirma melamun seperti orang tengah berpikir keras.

“Eh, gapapa, Nyonya. Iya ini saya mau membereskan barang-barang!” Ia berbalik, keberaniannya langsung ciut.

“Gak usah bawa banyak barang, Bi. Sisanya nanti biar Siska bantu kirim ke desa lewat ekspedisi terpercaya. Biar Bibi tidak kerepotan,” ia memberikan usul yang langsung disetujui.

Bi Mirma keluar dari ruang kerja, menutup lagi pintu sampai rapat.

Helyara tengah menimbang baik buruknya memberikan pesangon langsung atau lewat transfer.

“Kira-kira berapa nominal yang pantas?” tanyanya pada diri sendiri.

Selama ini Helya tidak tahu menahu soal gaji dua asisten rumah tangga, dan juga pengeluaran biaya konsumsi sehari-hari, pembayaran air, listrik, serta lainnya. Semua itu di handle suaminya sejak berakhir masa pandemi.

Ketika wabah virus usai, toko Emas Utomo kembali melayani pembelian secara offline di dua gerai yang pertama berada dalam mal besar, satunya lagi di pusat pasar induk.

Pada saat itu Helya memutuskan untuk program hamil. Dokter menyarankan dia tidak boleh banyak pikiran berakhir stres yang menyebabkan sulit mengandung terlebih hanya memiliki satu saluran indung telur.

Alandi mendukung sepenuhnya, dan dia mengambil alih mengelola toko emas yang dulu dirinya hanya bekerja sebagai penaksir emas / appraiser.

Tugasnya Alan memeriksa keaslian emas, menimbang berat, dan menentukan nilai harga beli atau buyback berdasarkan standar toko milik keluarga Helyara.

Alan bukan sosok baru dalam kehidupan Helyara, dia sudah bekerja empat tahun lamanya sebelum menikahi anak dari sang majikan yang baru saja ditinggal pergi kedua orang tua dan adik tersayangnya.

“Aku kok ikutan Bibi melamun terus sih?” Ia tepuk-tepuk pipi terasa membal, empuk sekali.

Dia mengetik pesan lalu dikirim ke suaminya. Tak lama kemudian sudah mendapatkan balasan. Alan menjawab pertanyaan tentang nominal uang pesangon yang dikasih ke bi Mirma.

“Sebaiknya lewat transfer saja, lebih aman.” Helya berdiri. Sebelum mengantar bibi terlebih dahulu mengambil cardigan dan juga dompetnya di kamar.

Sepuluh menit kemudian, wanita gemuk, bisa dikategorikan pendek itu sudah keluar rumah.

“Pak Alan belum pulang juga, Sis?” tanya Helya.

Siska yang menggendong Alam tengah tertidur dalam balutan kain jarik sambil badannya diayunkan-ayunkan, berbisik pelan. “Belum, Nyonya. Mungkin kena macet kali ya?”

“Beli pampersnya dimana sih, sampai jam lima belum juga pulang?” Helya mengeluarkan ponsel dalam tas selempang, lalu menghubungi suaminya.

Sampai dering terakhir tak kunjung diangkat, setelah diulangi sebanyak tiga kali pun gak dijawab.

“Saya sudah siap, Nyonya,” gumam bibi. Disampingnya hanya ada tas sandang tidak terlalu besar.

Helya mendekati bibi, berniat mau mengangkat tas tetapi dicegah.

“Biar saya saja, Nyonya.” Bi Mirma menggeleng, cepat-cepat menaikan tali tas ke pundak kanan.

“Sebentar ya, Bi. Aku keluarkan mobil dulu.” Helya menuruni tangga. Telinganya mendengar Siska memberikan wejangan.

“Barangnya dijaga, Bi. Jangan lengah. Apalagi di tempat keramaian!”

“Iya, Sis.”

Mobil Xenia warna putih sudah keluar dari garasi. Helya menunggu bibi yang memutuskan pensiun dini di umur 46 tahun.

Bibi menaruh tasnya di bagian tengah, dan dia duduk di sebelah jok kemudi.

Helya menekan tombol remote control pagar otomatis, lalu melajukan mobil. Dia mahir menyetir.

Laju kendaraan tersebut terbilang pelan, setelah melewati komplek perumahan terbilang mewah, barulah Helya menambah kecepatan agar segera sampai di stasiun kereta api.

Selama perjalanan, tak ada yang memulai obrolan.

Bibi terus bungkam dengan hati bergejolak, suara detak jantung berisik.

Sedangkan Helyara memang pribadi pendiam, sering kesulitan memulai obrolan. Jarang berbicara kalau tidak dipancing duluan.

“Em … Nyonya, saya mau bilang makasih. Anda baik sekali selama Bibi kerja sering ngasih bonus, bahkan pernah bayarin biaya rumah sakit bapaknya anak-anak,” katanya tulus dengan mimik wajah tertekan.

Helya tersenyum tipis, menoleh sesaat lalu kembali fokus pada jalanan. “Sudah seharusnya saling tolong menolong kan, Bi? Bibi juga baik banget. Bersedia merawat rumah, memasak makanan lezat.”

“Nyonya, kalau bisa jadi orang jangan terlalu baik. Gak enakan. Eh—” dia keceplosan, buru-buru menutup mulut.

Suara tawa kecil keluar dari bibir Helyara. “Orang tua saya menanamkan sikap tenggang rasa kepada anak-anaknya. Dulu, saya dan Tomi Utomo setiap akhir pekan menginap di panti asuhan milik saudara. Ayah dan Ibu menginginkan putra putrinya tumbuh dengan jiwa welas asih, menjunjung rasa hormat, menghargai terhadap sesama.”

Bibi memalingkan wajah, menatap jalanan terlalu cepat dilalui. Ia menyembunyikan air matanya.

Sisa perjalanan tidak lagi terdengar obrolan, mereka kembali diam. Diam yang menenangkan bagi Helyara, tapi menyiksa batin bi Mirma.

Sampai hampir empat puluh menit kemudian, mobil telah memasuki area parkir stasiun kereta api.

“Bi, saya temani beli tiket.” Helya melepaskan sabuk pengaman. Ikut turun.

“Terima kasih, Nya.” Ia menunduk lebih dalam.

Majikan dan asisten rumah tangga itu berjalan berdampingan menuju loket pembelian tiket kereta.

Helyara membelikan tiket eksekutif agar bibi nyaman sampai tujuan. Dia juga menemani pembantunya duduk diruang tunggu keberangkatan yang masih satu jam lagi.

“Nyonya, pulang saja. Biar gak kemalaman sampai rumah!” Bibi menatap area parkiran yang mulai menggelap, langit dihiasi semburat warna jingga. “Saya gapapa nunggu sendirian disini.”

“Bibi punya nomor rekening bank gak? Milik pribadi bukan dipakai bersama anak maupun suami?” ia tidak mengindahkan kalimat pengusiran secara lembut.

“Untuk apa, Nya?”

“Saya ada sedikit rezeki, khusus buat pegangan Bibi. Kalau bisa jangan sampai suami maupun anak tau,” katanya memberi pembelajaran tentang wanita harus memiliki tabungan pribadi.

“Gak usah, Nyonya. Tuan Alan udah ngasih pesangon kok,” tolaknya tidak enak hati.

“Ya lain, Bi. Itu kan dari mas Alan. Punya gak?” suaranya sedikit menuntut.

“Ada, tapi saya sungkan dan merasa berdosa menerimanya,” wajah bibi langsung memerah dengan pelupuk mata berair.

“La kenapa?” Helya bertanya serius, kebingungan mendapati bibi tiba-tiba menangis.

“Gak pantes aja rasanya,” masih juga bertahan enggan mengungkapkan.

“Tolong diterima, Bi. Niat baik jangan ditolak. Sini nomor rekeningnya!” todongnya meminta.

Terpaksa bibi menyebutkan deretan angka tidak terlalu panjang yang diingat luar kepala.

Helyara membuka m-banking, lalu mengirim sejumlah uang ke rekening bi Mirma.

Bunyi notifikasi membuat wanita berambut potongan pendek, berbaju kaos longgar sedikit bimbang mau membukanya.

“Periksa saja.” Helya menepuk lengan kurus bahkan tenggelam dalam telapak tangan besarnya.

“Astaga!” suara bibi memekik, lalu buru-buru menutup mulut dengan mata melototi barisan angka di ponsel. “Tiga puluh juta rupiah, gak salah Nyonya? Tuan Alan semalam udah ngasih 5 juta.”

Giliran Helya yang terkejut sampai sulit percaya. “Kok dikit banget? Mas Alan bilang ngasih pesangon lima belas juta. Bibi gak bohong, kan?”

.

.

Bersambung.

Terpopuler

Comments

ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ

ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ

Kayaknya belum sekrang deh bi mirna mau mengungkapkan rahasia kebucukan keluarga Alan. kalau sekarang di ungkap, ketahuan yaa nanti cepat tamat dong 🤭 malah mungkin, sebelum bi mirna mengungkapkan semua. helya keburu tahu sendiri apa yang selama ini Alan dan keluarganya sembunyikan 🤔

2026-07-03

4

ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ

ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ

sepertinya memang smeuanya sudah di atur sama suami kamu dan keluarganya deh helya 🤔 kamu di curangi dan di buat bodohhh 😫 hasil diangnosa yang menyatakan kamu cuma memiliki satu saluran indung telur, seperti nya hanya rekayasa. supaya kamu memasrahkan semua usaha keluarga mu sama suami kamu. kamu di hujani cintaa sama suami kamu, padahal itulah cara suami kamu untuk menipu kamu 🤔 yakinn dehh! smeuanya keromantisan dan perhatian yang Alan berikan pada helya, smeuanya Palsuuu. Alan enggak sepenuhnya mencintai helya, tapi Alan hanya mengincar harta helya 🤔🤭 aku muakkkk!!! pingin Hajarrr SiAlannnnnn 😫🤣

2026-07-03

3

Eli Rahma

Eli Rahma

curiga aku..jgn² Helya juga dibikin gemuk oleh siAlan..naroh obat bikin gemuk didalam makanan atau minumannya....🤔🤔🤔🤔🙄🙄🙄

2026-07-03

2

lihat semua
Episodes
1 Vonis Mandul : 01
2 Kedatangan mertua : 02
3 Sepasang mata yang mirip : 03
4 Bibi pensiun : 04
5 misophonia kambuh : 05
6 Pertolongan orang asing : 06
7 Perasaan tak nyaman : 07
8 Dalih anak rindu dekapan : 08
9 Perlahan diperlihatkan : 09
10 Bisikan bi Mirma : 10
11 Dicurangi : 11
12 Tangis kesakitan : 12
13 Mencari bantuan : 13
14 Kedatangan pengacara : 14
15 Interogasi : 15
16 Menakar untung ruginya : 16
17 Perlahan-lahan : 17
18 Seperti batang pohon : 18
19 Sebuah tekad : 19
20 Gelombang kejut pertama : 20
21 Termasuk harta bersama : 21
22 Tugas pembantu : 22
23 Mengajari adab : 23
24 Laporan bi Mirma : 24
25 Pamer cincin berlian : 25
26 Menjemput hasil tes : 26
27 Shock : 27
28 Es krim : 28
29 Sulit percaya, tapi fakta : 29
30 Kedatangan pembantu baru : 30
31 Menguras harta : 31
32 Sesi konseling perdana : 32
33 Misi pertama: 33
34 Pura-pura tidak kenal : 34
35 Melangkah lebih berani : 35
36 Rencana vs strategi : 36
37 Harta lainnya : 37
38 Selesai 1 urusan : 38
39 Kembali mengenang : 39
40 Kenangan tertimbun : 40
41 Hadiah dari Tomi : 41
42 Alasan berkelanjutan : 42
43 Pertengkaran sengit : 43
44 Mulai jalan santai : 44
45 Terpesona : 45
46 Tidak ada sopan-sopan nya : 46
47 Bersedekah ke pencopet : 47
48 Babak mendebarkan : 48
49 Kejanggalan : 49
50 Senyum miring : 50
51 Amarah Helyara : 51
52 Cedera hidung : 52
53 Hunian Utomo : 53
54 Babak belur : 54
55 Hari menarik keuntungan : 55
56 Detik-detik gajian : 56
57 Sidak toko emas : 57
58 Merasa dicurangi : 58
59 Hutang wajib dibayar : 59
60 Cukup senang : 60
61 Flashback singkat : 61
62 Pertama kali naik kereta : 62
63 Hampir diteriaki Maling : 63
64 Pernah gagal : 64
65 Hunian di desa : 65
66 Bukan minta izin : 66
67 Tentang harga diri : 67
68 Gosip panas : 68
69 Kemalangan beruntun : 69
70 Kabar buruk : 70
71 Logo pengadilan : 71
72 Sidang perdana : 72
73 Sanksi sosial : 73
74 Persiapan sidang lanjutan : 74
75 Bagai langit dan bumi : 75
76 Putusan: 76
77 Faktanya aku tidak mandul : 77
78 Merayakan : 78
79 Kehilangan fokus : 79
80 Laporan lanjutan : 80
81 Terbuat dari apa hatimu : 81
82 Mengemis kesempatan ke2: 82
83 Nasib para penjahat : 83
84 Kuatlah Nak! : 84
85 Diskriminasi kah? 85
86 Terdengar ambigu : 86
87 Nonton bioskop : 87
88 Pura-pura gila : 88
89 Mulut beracun : 89
90 Terpaksa minta temani : 90
91 Seperti Dejavu : 91
92 Baby Ganta : 92
93 Melepas anak gadis : 93
94 Bukan yang pertama : 94
95 Terkagum-kagum : 95
96 Satu tahun berlalu : 96
97 Selangkah lagi : 97
98 Ibu : 98
99 Pesta kebun : 99
100 Telat keluar kamar : 100
101 Penyesalan : 101
102 Saat-saat mendebarkan : 102
103 Anugerah terindah : 103
104 Menantikan : 104
105 Baby twins : 105
Episodes

Updated 105 Episodes

1
Vonis Mandul : 01
2
Kedatangan mertua : 02
3
Sepasang mata yang mirip : 03
4
Bibi pensiun : 04
5
misophonia kambuh : 05
6
Pertolongan orang asing : 06
7
Perasaan tak nyaman : 07
8
Dalih anak rindu dekapan : 08
9
Perlahan diperlihatkan : 09
10
Bisikan bi Mirma : 10
11
Dicurangi : 11
12
Tangis kesakitan : 12
13
Mencari bantuan : 13
14
Kedatangan pengacara : 14
15
Interogasi : 15
16
Menakar untung ruginya : 16
17
Perlahan-lahan : 17
18
Seperti batang pohon : 18
19
Sebuah tekad : 19
20
Gelombang kejut pertama : 20
21
Termasuk harta bersama : 21
22
Tugas pembantu : 22
23
Mengajari adab : 23
24
Laporan bi Mirma : 24
25
Pamer cincin berlian : 25
26
Menjemput hasil tes : 26
27
Shock : 27
28
Es krim : 28
29
Sulit percaya, tapi fakta : 29
30
Kedatangan pembantu baru : 30
31
Menguras harta : 31
32
Sesi konseling perdana : 32
33
Misi pertama: 33
34
Pura-pura tidak kenal : 34
35
Melangkah lebih berani : 35
36
Rencana vs strategi : 36
37
Harta lainnya : 37
38
Selesai 1 urusan : 38
39
Kembali mengenang : 39
40
Kenangan tertimbun : 40
41
Hadiah dari Tomi : 41
42
Alasan berkelanjutan : 42
43
Pertengkaran sengit : 43
44
Mulai jalan santai : 44
45
Terpesona : 45
46
Tidak ada sopan-sopan nya : 46
47
Bersedekah ke pencopet : 47
48
Babak mendebarkan : 48
49
Kejanggalan : 49
50
Senyum miring : 50
51
Amarah Helyara : 51
52
Cedera hidung : 52
53
Hunian Utomo : 53
54
Babak belur : 54
55
Hari menarik keuntungan : 55
56
Detik-detik gajian : 56
57
Sidak toko emas : 57
58
Merasa dicurangi : 58
59
Hutang wajib dibayar : 59
60
Cukup senang : 60
61
Flashback singkat : 61
62
Pertama kali naik kereta : 62
63
Hampir diteriaki Maling : 63
64
Pernah gagal : 64
65
Hunian di desa : 65
66
Bukan minta izin : 66
67
Tentang harga diri : 67
68
Gosip panas : 68
69
Kemalangan beruntun : 69
70
Kabar buruk : 70
71
Logo pengadilan : 71
72
Sidang perdana : 72
73
Sanksi sosial : 73
74
Persiapan sidang lanjutan : 74
75
Bagai langit dan bumi : 75
76
Putusan: 76
77
Faktanya aku tidak mandul : 77
78
Merayakan : 78
79
Kehilangan fokus : 79
80
Laporan lanjutan : 80
81
Terbuat dari apa hatimu : 81
82
Mengemis kesempatan ke2: 82
83
Nasib para penjahat : 83
84
Kuatlah Nak! : 84
85
Diskriminasi kah? 85
86
Terdengar ambigu : 86
87
Nonton bioskop : 87
88
Pura-pura gila : 88
89
Mulut beracun : 89
90
Terpaksa minta temani : 90
91
Seperti Dejavu : 91
92
Baby Ganta : 92
93
Melepas anak gadis : 93
94
Bukan yang pertama : 94
95
Terkagum-kagum : 95
96
Satu tahun berlalu : 96
97
Selangkah lagi : 97
98
Ibu : 98
99
Pesta kebun : 99
100
Telat keluar kamar : 100
101
Penyesalan : 101
102
Saat-saat mendebarkan : 102
103
Anugerah terindah : 103
104
Menantikan : 104
105
Baby twins : 105

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!