Episode 2

Bab 2

Pulau yang Ditinggalkan

Sebelum ada empat tahun yang membuat Erlyn berhenti memanggil seseorang dengan sebutan Koh, ada satu sore di tahun 2017 ketika ia berdiri di pelabuhan Pulau Belitung dan merasa seluruh hidupnya sedang dimasukkan paksa ke dalam dua koper.

Usianya lima belas tahun.

Langit Belitung hari itu terlalu cerah untuk sebuah perpisahan. Laut di belakangnya berkilau biru, perahu nelayan bergerak pelan di kejauhan, dan angin asin yang biasa membuat rambutnya kusut tiba-tiba terasa seperti tangan yang menariknya agar tidak pergi.

"Er, jangan berdiri terlalu dekat air," kata Mama dari belakang.

Tan Erlyn menoleh.

Liang Jing berdiri di samping koper, memakai blus krem sederhana dan rok panjang yang rapi. Rambutnya disanggul rendah. Di wajah Mama ada senyum kecil yang sejak beberapa bulan terakhir sering Erlyn lihat, senyum yang terlalu hati-hati, seolah takut kebahagiaannya melukai anaknya sendiri.

Hari ini mereka meninggalkan Belitung.

Bukan untuk liburan.

Bukan untuk sekolah singkat.

Mereka pindah ke Surabaya, ke rumah laki-laki yang sekarang menjadi suami Mama.

Yu Changli.

Erlyn baru bertemu dengannya tiga kali sebelum pernikahan. Laki-laki itu selalu berpakaian rapi, berbicara pelan, dan tidak pernah memaksa Erlyn memanggilnya apa pun selain Om. Saat makan bersama, ia bertanya sekolah Erlyn, makanan kesukaannya, dan apakah ia mudah mabuk perjalanan. Semua pertanyaan itu sopan, bahkan baik.

Justru karena terlalu baik, Erlyn tidak tahu harus menaruh curiga di mana.

"Mama masih bisa berubah pikiran," ucap Erlyn pelan.

Jing menatapnya beberapa detik. Senyum di wajahnya tidak hilang, tetapi mata itu melembut sampai Erlyn merasa bersalah duluan.

"Kamu tidak suka Om Changli?"

"Bukan begitu."

"Tidak suka Surabaya?"

Erlyn menunduk, menendang kerikil kecil di dekat sepatu kanvasnya. "Aku belum tahu Surabaya seperti apa."

Mama mendekat, merapikan anak rambut di dekat pelipisnya. "Kalau tidak suka, kita pelan-pelan belajar suka. Kalau tetap tidak suka, Mama akan dengarkan kamu."

Kalimat itu seharusnya membuat Erlyn lega. Tetapi ia tahu orang dewasa sering mengatakan sesuatu agar anak-anak berani melangkah, bukan karena semua jalan benar-benar bisa diputar kembali.

Setelah Papa kandungnya meninggal bertahun-tahun lalu, dunia Erlyn tinggal berdua dengan Mama. Rumah kecil mereka di Belitung tidak mewah, tetapi setiap sudutnya mengenal suara mereka. Dapur sempit yang selalu bau bawang putih, halaman dengan jemuran yang bergoyang, meja kayu tempat Erlyn mengerjakan PR, semua itu sederhana dan pasti.

Surabaya terdengar besar.

Om Changli terdengar jauh.

Keluarga baru terdengar seperti sepatu yang belum tentu pas, tetapi harus dipakai karena semua orang sudah membelinya.

Perjalanan dari Belitung ke Surabaya terasa panjang meski sebenarnya tidak sepanjang itu. Di pesawat, Mama menggenggam tangan Erlyn saat lepas landas. Erlyn pura-pura tidak melihat kuku Mama yang sedikit menekan kulitnya. Mama juga gugup.

Fakta itu membuat Erlyn berhenti marah selama beberapa menit.

Ketika pesawat mendarat dan pintu terbuka, udara Surabaya menyambut mereka dengan panas yang berbeda. Bukan panas asin seperti Belitung. Panas di sini bercampur debu jalan, knalpot, dan suara kendaraan yang tidak pernah benar-benar diam.

Om Changli menjemput mereka di bandara.

"Erlyn," sapanya sambil mengambil koper dari tangan Mama. "Perjalanannya melelahkan?"

"Sedikit, Om."

"Nanti di rumah istirahat dulu. Sekolah dan urusan lain kita bicarakan pelan-pelan."

Erlyn mengangguk.

Ia duduk di kursi belakang mobil, di samping Mama. Om Changli menyetir sendiri. Dari jendela, Surabaya bergerak cepat di luar sana. Gedung tinggi, ruko tua, jalan lebar, pohon flamboyan di tepi jalan, motor yang menyelip tanpa takut mati, semua tampak ramai dan asing.

Mama beberapa kali menunjuk keluar.

"Itu daerah Kembang Jepun. Banyak toko lama keluarga Tionghoa di sana."

Erlyn hanya mengangguk.

Ia sedang menghitung jarak. Dari bandara ke rumah. Dari rumah lama ke rumah baru. Dari dirinya yang dulu ke dirinya yang sebentar lagi harus menjadi anak seseorang yang tidak melahirkannya.

Mobil akhirnya masuk ke sebuah jalan yang lebih tenang. Jalan Kenanga.

Nama itu lembut, tetapi rumah yang muncul di ujung jalan tidak lembut sama sekali.

Rumah kolonial itu berdiri di balik pagar besi hitam, besar dan putih, dengan pilar tinggi, jendela lengkung, dan halaman yang terlalu luas untuk dua orang perempuan dari Belitung. Di sisi kiri halaman, pohon flamboyan tua merentangkan cabang seperti payung. Di dekat teras, bunga melati tumbuh lebat, putih kecil-kecil, mengeluarkan wangi yang langsung menempel di udara.

Erlyn berhenti bernapas beberapa detik.

Ini bukan rumah.

Ini seperti bangunan yang biasa ia lihat di drama, tempat orang-orang kaya makan malam dengan sendok garpu yang jumlahnya lebih banyak daripada anggota keluarga.

Om Changli turun lebih dulu, membuka bagasi. Seorang perempuan paruh baya keluar dari pintu utama bersama seorang laki-laki yang lebih tua. Mereka membungkuk sopan.

"Selamat datang, Tuan. Nyonya," kata perempuan itu.

Nyonya.

Erlyn merasakan tangan Mama di sampingnya sedikit kaku.

"Jangan terlalu formal," kata Jing cepat, tersenyum canggung. "Panggil saya Jing saja."

Perempuan itu tersenyum, tetapi tetap menunduk. "Baik, Nyonya Jing."

Erlyn menahan napas. Di Belitung, tetangga memanggil Mama dengan nama. Kadang Jing, kadang Ci Jing, kadang hanya berteriak dari pagar, "Makan rujak, nggak?" Tidak ada yang membungkuk. Tidak ada yang memanggilnya nyonya dengan jarak setebal pintu kaca.

Om Changli menoleh pada Erlyn.

"Masuk, Erlyn. Anggap rumah sendiri."

Rumah sendiri.

Dua kata itu terdengar mudah di mulut orang dewasa.

Erlyn melangkah melewati pintu utama. Lantai marmer terasa dingin di bawah sol sepatunya. Ruang tamu luas, langit-langit tinggi, lampu gantung besar, kursi-kursi kayu gelap dengan bantalan bersih. Di dinding ada beberapa lukisan, sebagian pemandangan laut, sebagian wajah yang tidak Erlyn kenal.

Ia hampir takut menyentuh apa pun.

Koper mereka dibawa masuk. Mama berdiri di tengah ruangan, tersenyum pada Om Changli, tetapi ujung jarinya mencari tangan Erlyn. Erlyn membiarkannya menggenggam.

"Kamarmu sudah disiapkan," kata Om Changli. "Di lantai dua, sebelah kiri. Kalau ada yang kurang, bilang saja."

"Terima kasih, Om."

Om Changli tampak ingin mengatakan sesuatu tentang panggilan itu, tetapi akhirnya hanya mengangguk.

Mereka naik tangga lebar yang berkilau. Di setiap anak tangga, Erlyn merasa sepatunya membawa debu Belitung yang tidak pantas menempel di rumah ini. Ia menunduk, memperhatikan tali sepatunya yang mulai kusam.

Di lantai dua, koridor panjang terbentang. Ada beberapa pintu tertutup. Di ujung koridor, tangga kecil mengarah ke atas lagi, lebih sempit, setengah tersembunyi di balik bayangan.

"Itu ke loteng?" tanya Erlyn tanpa sadar.

Perempuan paruh baya yang tadi menyambut mereka menoleh. "Iya, Non."

Non.

Erlyn nyaris tertawa karena canggung. Ia bukan Non. Ia anak yang kemarin masih membeli es di warung dekat sekolah dengan sandal jepit.

"Lotengnya dipakai untuk apa?" tanyanya.

Perempuan itu sempat melihat ke arah Om Changli, seolah meminta izin.

Om Changli menjawab dengan suara tenang, "Ruang kerja Chisen."

Nama itu membuat udara di koridor berubah sedikit.

Chisen.

Putra Om Changli.

Kakak tiri yang belum pernah Erlyn temui.

Ia tahu laki-laki itu dua tahun lebih tua darinya. Tahu ia sekolah di SPI. Tahu ia suka melukis. Tahu Mama pernah berkata, "Anaknya pendiam, tapi baik." Hanya itu.

Pendiam, tapi baik adalah kalimat yang terlalu sering dipakai orang dewasa ketika mereka ingin seorang anak percaya pada orang asing.

Perempuan paruh baya itu menambahkan dengan suara lebih pelan, "Tuan muda ada di lantai atas."

Erlyn mengangkat kepala.

Di ujung tangga kecil menuju loteng, ada jendela sempit. Tirainya bergerak sedikit, seolah baru saja disentuh dari dalam. Sesaat, Erlyn melihat bayangan seseorang di balik kaca. Tinggi. Diam. Berdiri terlalu tenang untuk disebut kebetulan.

Ia belum sempat melihat jelas.

Tirai itu langsung ditarik rapat.

Koridor kembali sunyi.

Erlyn berdiri di anak tangga terakhir dengan tangan masih digenggam Mama, menatap jendela loteng yang sekarang tertutup, dan untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Belitung, ia merasa rumah baru ini punya mata.

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
121 Episode 121
122 Episode 122
123 Episode 123
124 Episode 124
125 Episode 125
126 Episode 126
127 Episode 127
128 Episode 128
129 Episode 129
130 Episode 130
131 Episode 131
132 Episode 132
133 Episode 133
134 Episode 134
135 Episode 135
136 Episode 136
137 Episode 137
138 Episode 138
139 Episode 139
140 Episode 140
141 Episode 141
142 Episode 142
143 Episode 143
144 Episode 144
145 Episode 145
146 Episode 146
147 Episode 147
148 Episode 148
149 Episode 149
150 Episode 150
151 Episode 151
152 Episode 152
153 Episode 153
154 Episode 154
155 Episode 155
156 Episode 156
157 Episode 157
158 Episode 158
159 Episode 159
160 Episode 160
161 Episode 161
162 Episode 162
163 Episode 163
164 Episode 164
165 Episode 165
166 Episode 166
167 Episode 167
168 Episode 168
169 Episode 169
170 Episode 170
171 Episode 171
172 Episode 172
173 Episode 173
174 Episode 174
175 Episode 175
176 Episode 176
177 Episode 177
178 Episode 178
179 Episode 179
180 Episode 180
181 Episode 181
182 Episode 182
183 Episode 183
184 Episode 184
185 Episode 185
186 Episode 186
187 Episode 187
188 Episode 188
189 Episode 189
190 Episode 190
Episodes

Updated 190 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120
121
Episode 121
122
Episode 122
123
Episode 123
124
Episode 124
125
Episode 125
126
Episode 126
127
Episode 127
128
Episode 128
129
Episode 129
130
Episode 130
131
Episode 131
132
Episode 132
133
Episode 133
134
Episode 134
135
Episode 135
136
Episode 136
137
Episode 137
138
Episode 138
139
Episode 139
140
Episode 140
141
Episode 141
142
Episode 142
143
Episode 143
144
Episode 144
145
Episode 145
146
Episode 146
147
Episode 147
148
Episode 148
149
Episode 149
150
Episode 150
151
Episode 151
152
Episode 152
153
Episode 153
154
Episode 154
155
Episode 155
156
Episode 156
157
Episode 157
158
Episode 158
159
Episode 159
160
Episode 160
161
Episode 161
162
Episode 162
163
Episode 163
164
Episode 164
165
Episode 165
166
Episode 166
167
Episode 167
168
Episode 168
169
Episode 169
170
Episode 170
171
Episode 171
172
Episode 172
173
Episode 173
174
Episode 174
175
Episode 175
176
Episode 176
177
Episode 177
178
Episode 178
179
Episode 179
180
Episode 180
181
Episode 181
182
Episode 182
183
Episode 183
184
Episode 184
185
Episode 185
186
Episode 186
187
Episode 187
188
Episode 188
189
Episode 189
190
Episode 190

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!