Koh, Ini Salah

Koh, Ini Salah

Episode 1

Bab 1

Malam Badai

Hujan mengetuk kaca villa seperti ribuan kuku kecil yang kehilangan kesabaran.

Tan Erlyn duduk sendirian di ruang tengah, memeluk lutut di atas sofa abu-abu yang terlalu besar untuk tubuhnya. Lampu gantung di atas kepala berkedip sekali, lalu menyala lagi dengan cahaya kuning yang lemah. Di luar sana, lereng Batu tenggelam dalam kabut, pohon-pohon pinus membungkuk diterpa angin, dan jalan masuk menuju villa berubah menjadi aliran air hitam.

Pukul sebelas lewat dua belas menit.

Empat tahun lalu, pada malam hujan yang hampir sama, hidup Erlyn patah di satu tempat yang tidak pernah benar-benar sembuh. Sejak malam itu, ia tidak pernah lagi memanggil seorang laki-laki dengan sebutan yang dulu keluar begitu mudah dari mulutnya.

Koh.

Yu Chisen adalah kakak tirinya. Bukan saudara kandung. Tidak ada hubungan darah di antara mereka. Hanya dua orang anak dari dua keluarga yang disatukan oleh pernikahan orang tua, lalu dipaksa tumbuh di bawah atap yang sama, berbagi meja makan yang sama, bau bunga melati yang sama, dan rahasia yang sama sekali tidak pantas lahir di sebuah rumah keluarga.

Rahasia itu punya suara hujan.

Punya bau lantai kayu basah.

Punya nama yang tidak berani Erlyn sebut sejak ia terbang ke London.

Ponselnya bergetar di meja. Sekali. Lalu mati.

Erlyn tidak langsung mengambilnya. Seharian ini ia sudah terlalu banyak menerima pesan, dari Papa yang baru bebas dan menyuruhnya pulang, dari Vivian yang masih cerewet dari London, dari Juwanto yang menulis dengan gaya seolah ia tidak pernah bisa diam. Tetapi ada satu nama yang sejak empat tahun lalu tidak pernah muncul di layar ponselnya.

Ko Chisen.

Nama itu muncul sore tadi, hanya mengirim satu alamat.

Tidak ada salam.

Tidak ada penjelasan.

Tidak ada kata rindu.

Hanya alamat villa di Batu, seolah empat tahun diam bisa ditebus dengan sebuah titik lokasi.

Erlyn tertawa pendek ketika pertama kali membacanya. Tawa yang bahkan terdengar asing di telinganya sendiri. Ia hampir menghapus pesan itu. Hampir memblokir nomor itu. Hampir menelepon Papa dan berkata bahwa ia akan langsung pulang ke Jalan Kenanga, bukan ke tempat yang dipilih laki-laki itu.

Tetapi pada akhirnya ia tetap datang.

Mungkin karena ia bodoh.

Mungkin karena ada bagian dari dirinya yang tidak pernah benar-benar meninggalkan rumah itu, rumah kolonial di Jalan Kenanga, loteng yang selalu terkunci, meja makan panjang, dan seorang laki-laki dingin yang dulu selalu berdiri di tempat paling jauh tetapi memperhatikan semuanya.

Angin menghantam pintu kaca balkon sampai tirainya bergerak. Erlyn menoleh. Pantulan dirinya di kaca tampak pucat. Rambutnya yang sebahu masih sedikit lembap karena hujan ketika ia turun dari taksi dua jam lalu. Kemeja putihnya sudah kering di bagian lengan, tetapi ujung celana panjangnya masih menyimpan noda lumpur dari halaman depan.

Ia terlihat seperti orang yang kembali ke medan perang tanpa membawa senjata.

"Bagus, Erlyn," gumamnya pada diri sendiri. "Empat tahun belajar fisika di London, pulang-pulang tetap bisa dibodohi satu alamat."

Suara itu tenggelam oleh guntur.

Ia berdiri, berjalan ke dapur kecil, lalu membuka lemari satu per satu. Tidak ada makanan berat. Hanya beberapa bungkus mi instan, kopi sachet, dan sekotak teh yang masih tersegel. Di atas meja ada dua botol air mineral. Semuanya terlalu rapi. Terlalu baru.

Villa ini bukan tempat tinggal. Ini tempat menunggu.

Dan Erlyn benci karena ia tahu siapa yang sedang ia tunggu.

Ia mengambil satu botol air, membuka tutupnya, lalu minum dua teguk. Tangannya tidak gemetar. Ia cukup bangga pada hal kecil itu. Dulu, setiap kali Chisen berdiri terlalu dekat, tubuhnya lebih dulu mengkhianati isi kepalanya. Napasnya berubah pendek. Jantungnya tidak tahu aturan. Telapak tangannya dingin, padahal wajahnya panas.

Sekarang tidak.

Sekarang ia sudah dua puluh tiga. Ia sudah melewati musim dingin London sendirian, ujian yang membuat kepala hampir pecah, hari-hari ketika nyeri perut membuatnya meringkuk di lantai kamar mandi, dan malam-malam ketika ia menelan ibuprofen sambil menatap langit-langit kamar sewa.

Ia tidak akan hancur hanya karena satu nama.

Lampu berkedip lagi.

Kali ini lebih lama.

Erlyn mendongak. "Jangan mati sekarang."

Seolah menantangnya, seluruh ruangan langsung gelap.

Ia memejamkan mata, menarik napas pelan. Di luar, hujan semakin keras, menabrak genting, kaca, tanah, semua yang bisa dihantam. Bau lembap naik dari sela pintu. Dalam gelap, villa itu tiba-tiba terasa jauh lebih besar, seolah dindingnya mundur beberapa langkah dan meninggalkan Erlyn di tengah ruangan yang kosong.

Ia meraba meja, mengambil ponsel, menyalakan senter. Cahaya putih kecil jatuh ke lantai, memantul pada koper hitamnya yang masih tertutup di dekat pintu.

Satu koper.

Empat tahun hidupnya diringkas menjadi satu koper, satu tas laptop, dan satu nama yang masih bisa membuatnya pulang.

Erlyn menggigit bagian dalam pipinya sampai terasa perih.

Tidak.

Ia bukan pulang karena Chisen.

Papa sudah bebas. Itu alasannya. Ia pulang karena Papa, karena rumah yang dulu pernah menjadi tempat paling hangat dan paling menyakitkan dalam hidupnya. Ia pulang karena Mama pernah dimakamkan dengan bunga melati di sana. Ia pulang karena ada urusan yang harus diselesaikan.

Bukan karena laki-laki yang mengusirnya dari kamar pada malam badai itu.

Bukan karena punggung lebar yang pernah ia sentuh, lalu menepis tangannya seolah sentuhan itu dosa.

Ponselnya kembali bergetar.

Erlyn mengangkat layar.

Vivian: Udah sampai? Jangan bilang kamu sendirian di villa serem begitu.

Erlyn mengetik dengan satu tangan.

Sudah. Aman.

Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan:

Kalau besok aku nggak balas, cari mayatku di Batu.

Balasan Vivian datang hampir seketika.

Jangan bercanda. Aku serius.

Erlyn tersenyum tipis. Sebelum sempat membalas, suara lain terdengar dari luar.

Bukan guntur.

Bukan angin.

Suara mobil.

Tubuh Erlyn menegang.

Lampu depan menyapu jendela ruang tengah, putih dan tajam, lalu hilang ketika mobil berhenti di halaman. Mesin mati. Hujan langsung memenuhi kembali seluruh ruang, seolah suara mobil itu tidak pernah ada.

Erlyn berdiri di tempatnya.

Ia tidak bergerak selama beberapa detik. Ponsel di tangannya masih menyala, senter mengarah ke lantai. Dadanya terasa sempit, tetapi anehnya napasnya justru terlalu tenang. Seperti tubuhnya sudah tahu bahwa detik ini akan datang bahkan sebelum pikirannya siap.

Langkah kaki terdengar di teras.

Berat.

Terburu-buru.

Basah.

Lalu ketukan di pintu.

Satu kali.

Tidak keras. Tidak panik. Hanya satu ketukan pendek yang terlalu dikenalnya.

Erlyn menatap pintu kayu itu. Empat tahun tidak cukup untuk membuat seseorang lupa cara laki-laki itu mengetuk. Dulu di Jalan Kenanga, Chisen selalu mengetuk seperti itu sebelum masuk ke kamarnya, satu ketukan saja, lalu suara rendahnya menyusul dari luar.

Erlyn, sudah tidur?

Atau:

Er, buka pintunya.

Atau, pada malam yang seharusnya tidak pernah terjadi:

Keluar.

Jari-jari Erlyn mengencang di sekitar ponsel. Ia ingin membiarkan pintu itu tertutup. Ia ingin laki-laki di luar sana merasakan dingin, hujan, dan penolakan yang dulu ia berikan begitu mudah.

Tetapi tangan Erlyn sudah bergerak sebelum kebenciannya selesai bicara.

Ia berjalan ke pintu.

Setiap langkah membuat lantai kayu berderit pelan. Di ambang pintu, ia berhenti. Senter ponselnya memantul pada gagang pintu kuningan. Di luar, seseorang berdiri sangat dekat, hanya dipisahkan oleh selembar kayu dan empat tahun yang tidak pernah mereka bicarakan.

Erlyn membuka kunci.

Pintu bergerak ke dalam.

Angin basah langsung menyambar wajahnya. Hujan miring masuk melewati teras, membawa dingin yang membuat kulit lengannya meremang.

Di bawah cahaya senter yang gemetar, Yu Chisen berdiri di sana.

Kemeja hitamnya menempel pada tubuh. Rambutnya basah, jatuh di dahi. Wajahnya lebih tirus daripada ingatan Erlyn, garis rahangnya lebih tajam, tetapi matanya tetap sama. Gelap, tenang, dan terlalu pandai menyembunyikan apa pun yang terjadi di dalamnya.

Untuk sesaat, tidak ada yang bicara.

Hujan mengisi semua kalimat yang mereka telan.

Chisen menatapnya dari kepala sampai kaki, cepat, hampir tidak terlihat, seperti memastikan ia utuh. Kebiasaan lama. Kebiasaan yang dulu membuat Erlyn merasa aman dan sekarang membuatnya ingin tertawa.

"Erlyn," katanya akhirnya.

Suara itu rendah. Lebih berat. Tetapi masih suara yang sama.

Nama Erlyn patah di udara di antara mereka.

Ia mengira akan marah. Mengira akan langsung menamparnya. Mengira akan berkata sesuatu yang tajam, sesuatu yang sudah ia susun selama bertahun-tahun di kamar sempitnya di London.

Tetapi yang keluar hanya napas.

Chisen melangkah setengah inci, lalu berhenti, seolah baru sadar ia tidak punya hak untuk masuk begitu saja.

Bagus. Setidaknya ia masih ingat.

Erlyn menurunkan ponselnya sedikit. Cahaya senter jatuh ke sepatu kulit Chisen yang penuh lumpur, lalu ke tetesan air yang jatuh dari ujung lengan bajunya ke lantai teras.

Empat tahun.

Dia berdiri di sana, basah kuyup, dan Erlyn tidak tahu harus marah atau menangis.

Terpopuler

Comments

May Maya

May Maya

baru mampir Thor semoga cerita nya bgus n GK berhenti d tngh jln

2026-07-16

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
121 Episode 121
122 Episode 122
123 Episode 123
124 Episode 124
125 Episode 125
126 Episode 126
127 Episode 127
128 Episode 128
129 Episode 129
130 Episode 130
131 Episode 131
132 Episode 132
133 Episode 133
134 Episode 134
135 Episode 135
136 Episode 136
137 Episode 137
138 Episode 138
139 Episode 139
140 Episode 140
141 Episode 141
142 Episode 142
143 Episode 143
144 Episode 144
145 Episode 145
146 Episode 146
147 Episode 147
148 Episode 148
149 Episode 149
150 Episode 150
151 Episode 151
152 Episode 152
153 Episode 153
154 Episode 154
155 Episode 155
156 Episode 156
157 Episode 157
158 Episode 158
159 Episode 159
160 Episode 160
161 Episode 161
162 Episode 162
163 Episode 163
164 Episode 164
165 Episode 165
166 Episode 166
167 Episode 167
168 Episode 168
169 Episode 169
170 Episode 170
171 Episode 171
172 Episode 172
173 Episode 173
174 Episode 174
175 Episode 175
176 Episode 176
177 Episode 177
178 Episode 178
179 Episode 179
180 Episode 180
181 Episode 181
182 Episode 182
183 Episode 183
184 Episode 184
185 Episode 185
186 Episode 186
187 Episode 187
188 Episode 188
189 Episode 189
190 Episode 190
Episodes

Updated 190 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120
121
Episode 121
122
Episode 122
123
Episode 123
124
Episode 124
125
Episode 125
126
Episode 126
127
Episode 127
128
Episode 128
129
Episode 129
130
Episode 130
131
Episode 131
132
Episode 132
133
Episode 133
134
Episode 134
135
Episode 135
136
Episode 136
137
Episode 137
138
Episode 138
139
Episode 139
140
Episode 140
141
Episode 141
142
Episode 142
143
Episode 143
144
Episode 144
145
Episode 145
146
Episode 146
147
Episode 147
148
Episode 148
149
Episode 149
150
Episode 150
151
Episode 151
152
Episode 152
153
Episode 153
154
Episode 154
155
Episode 155
156
Episode 156
157
Episode 157
158
Episode 158
159
Episode 159
160
Episode 160
161
Episode 161
162
Episode 162
163
Episode 163
164
Episode 164
165
Episode 165
166
Episode 166
167
Episode 167
168
Episode 168
169
Episode 169
170
Episode 170
171
Episode 171
172
Episode 172
173
Episode 173
174
Episode 174
175
Episode 175
176
Episode 176
177
Episode 177
178
Episode 178
179
Episode 179
180
Episode 180
181
Episode 181
182
Episode 182
183
Episode 183
184
Episode 184
185
Episode 185
186
Episode 186
187
Episode 187
188
Episode 188
189
Episode 189
190
Episode 190

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!