Bab 3: Rahasia di Balik Senyum Dingin

Malam semakin larut, namun Laras tetap berdiri diam di depan pintunya, menatap ke arah lorong gelap tempat Dika menghilang. Ucapan laki-laki itu terus berputar di benaknya bagaikan teka-teki yang mengancam. Ia menutup pintu perlahan dan menguncinya dengan kayu penyangga, lalu kembali duduk di tepi tempat tidur sambil menggenggam erat bilah pisau kecil itu. Pertanyaan demi pertanyaan bermunculan: siapa sebenarnya Dika? Apakah ia tahu siapa dirinya dulu? Atau apakah ia justru utusan dari orang-orang yang dulu ingin memburunya?

Keesokan paginya, kabut tipis masih menyelimuti bukit-bukit di sekitar desa saat Laras keluar menuju dapur. Ia terkejut melihat Dika sudah duduk di sana, menunggunya dengan secangkir teh hangat yang disiapkan sendiri. Wajahnya tampak tenang seolah tidak ada pembicaraan berat yang terjadi di antara mereka tengah malam tadi.

"Selamat pagi," sapa Dika pelan saat melihat Laras masuk. "Udara pagi di sini sangat sejuk, bukan?"

Laras tidak menjawab seketika. Ia berjalan mendekat dengan langkah hati-hati, matanya tak lepas dari menatap laki-laki itu. "Kau bangun sangat pagi," ucapnya akhirnya, nada bicaranya masih terdengar dingin dan menjaga jarak. "Biasanya orang yang baru datang dari perjalanan jauh akan lebih suka beristirahat lama."

"Aku sudah terbiasa bangun sebelum matahari terbit," jawab Dika santai sambil menyesap tehnya perlahan. "Di tempatku dulu, siapa yang bangun terlambat, seringkali sudah tidak memiliki kesempatan untuk melihat matahari itu bersinar."

Kalimat itu sederhana namun memiliki makna mendalam yang membuat dada Laras kembali sesak. Ia duduk di ujung meja, menjaga jarak sejauh mungkin. "Kau selalu berbicara dengan makna ganda seperti ini?" tanyanya menantang.

Dika meletakkan cangkirnya perlahan di atas meja hingga terdengar bunyi ketukan halus. Ia menatap lurus ke arah Laras, senyum tipisnya kembali muncul namun kali ini terasa lebih tulus sedikit. "Hanya kepada orang yang aku rasa bisa mengerti makna tersembunyinya. Laras, kita sama-sama orang yang pernah hidup di dunia di mana kepercayaan adalah hal paling berbahaya."

Belum sempat Laras membalas, suara ketukan pintu terdengar dari teras depan. Keduanya saling berpandangan seketika, kewaspadaan kembali menguasai diri mereka serentak. Di desa yang sepi ini, jarang ada orang yang datang berkunjung, apalagi sepagi ini.

Laras bangkit berjalan menuju pintu, sementara Dika diam-diam ikut berdiri dan mengikuti dari belakang, tetap berada di bayang-bayang ruangan agar tidak terlihat sekaligus siap bertindak jika ada bahaya. Saat Laras membuka pintu, ia melihat dua orang pria berpakaian gelap berdiri tegak di sana. Wajah mereka asing, namun tatapan mata mereka tajam dan dingin—ciri khas orang yang terlatih untuk membunuh.

"Maaf mengganggu pagi hari, Nyonya," ujar salah satu dari mereka dengan suara berat. "Kami hanya bertanya, apakah ada pendatang baru yang menginap di rumah ini? Kami sedang mencari seseorang yang hilang dari tempat kami."

Darah Laras seakan berhenti mengalir sejenak. Ia tahu betul tatapan mata itu—tatapan yang dulu sering ia miliki saat memimpin pasukannya sendiri. Sebelum ia sempat menjawab, sebuah suara berat terdengar dari belakangnya.

"Tidak ada orang lain di sini selain aku dan nyonya rumah ini," ucap Dika sambil melangkah maju berdiri tepat di samping Laras, menatap berani ke arah kedua orang asing itu. "Kalian salah tempat."

Terjadi keheningan sejenak yang menegangkan saat kedua pria itu mengamati Dika dari ujung kepala hingga kaki. Laras bisa merasakan ketegangan yang menguat di udara, siap untuk melompat dan bertindak secepat kilat jika diperlukan. Akhirnya, pria itu mengangguk singkat.

"Kalau begitu maafkan gangguan kami," ucapnya sebelum berbalik pergi bersama temannya.

Setelah bayangan mereka menghilang di balik kabut pagi, Laras menoleh tajam ke arah Dika. "Siapa mereka? Dan kenapa kau berani menjawab seolah ini rumahmu sendiri?" tanyanya berbisik.

Dika menatapnya serius, senyumnya lenyap sepenuhnya berganti ekspresi tegas. "Mereka bukan orang biasa, Laras. Dan aku rasa... mereka bukan datang untuk mencariku."

 

bersambung...

Episodes
1 Bab 1: Bayang Masa Lalu di Desa Sunyi
2 Bab 2: Tatapan yang Tak Pernah Lupa
3 Bab 3: Rahasia di Balik Senyum Dingin
4 Bab 4: Ancaman yang Kembali Menghampiri
5 Bab 5: Keberanian yang Terlambat Datang
6 Bab 6: Di Antara Takut dan Percaya
7 Bab 7: Satu Nama yang Mengubah Segalanya
8 Bab 8: Kehangatan yang Tak Pernah Kurasa
9 Bab 9: Bisikan Hati yang Tak Berani Diucap
10 Bab 10: Sentuhan yang Mengguncang Dunia
11 Bab 11: Malam di Bawah Bulan Penuh
12 Bab 12: Jangan Biarkan Aku Pergi
13 Bab 13: Terbuka Segala Luka Tersembunyi
14 Bab 14: Sumpah di Ujung Pedang
15 Bab 15: Kebenaran yang Menggetarkan Tanah
16 Bab 16: Cinta yang Tak Mengenal Masa Lalu
17 Bab 17: Menghadapi Dunia Bersamamu
18 Bab 18: Ratu yang Memilih Rumah
19 Bab 19: Jejak Lama yang Tak Bisa Hilang
20 Bab 20: Cinta: Senjata Terkuatku
21 Bab 21: Damai Masa Lalu, Cahaya Kelahiran
22 Bab 22: Perisai Tanpa Pedang
23 Bab 23 : Warisan Hati yang Lembut
24 Bab 24 : Jejak yang Tak Terhapus
25 Bab 25 : Pelindung Tanpa Pedang
26 Bab 26 : Di Bawah Langit yang Sama
27 Bab 27 : Cahaya di Ujung Telapak Tangan
28 Bab 28 : Akar yang Tak Patah
29 Bab 29 : Benih yang Tumbuh Kuat
30 Bab 30 : Bayangan yang Menjadi Cahaya
31 Bab 31 : Jalan yang Diteruskan
32 Bab 32 : Pohon yang Memberi Buah
33 Bab 33 : Akar yang Tak Pernah Tumbang
34 Bab 34 : Akar yang Tak Dapat Dilihat
35 Bab 35: Badai Datang dari Laut
36 Bab 36 : Jejak yang Tak Hilang
37 Bab 37 : Ujian dari Tanah
38 Bab 38 : Jejak Pengkhianatan
39 Bab 39 : Cahaya di Bawah Bulan Purnama
40 Bab 40 : Warisan yang Tak Pernah Pudar
41 Bab 41: Benih yang Mulai Tumbuh
42 Bab 42: Ujian yang Tak Terduga
43 Bab 43: Jalan yang Berbeda Pilihan yang Sama
44 Bab 44: Bukan Kekuatan yang Dilihat Mata
45 Bab 45: Waktu yang Menjawab Segalanya
46 Bab 46: Cahaya yang Tak Dapat Disembunyikan
47 Bab 47: Ujian di Balik Kebaikan
48 Bab 48: Ketika Kebaikan Disalahpahami
49 Bab 49: Pulang Membawa Lebih dari Sekadar Kenangan
50 Bab 50: Akar yang Semakin Dalam
51 Bab 51: Kabar yang Membawa Bayang-bayang
52 Bab 52: Langkah yang Harus Diambil
53 Bab 53: Kembali ke Tanah yang Pernah Ditinggalkan
54 Bab 54: Di Antara Kecurigaan dan Harapan
55 Bab 55: Kesabaran yang Menumbuhkan Percaya
56 Bab 56: Benih Kebaikan Mulai Tumbuh
57 Bab 57: Menyiapkan Hati untuk Berpisah
58 Bab 58: Perpisahan yang Membawa Harapan
59 Bab 59: Kembali ke Pelukan Rumah
60 Bab 60: Hati yang Menjadi Warisan
61 Bab 61: Langkah yang Semakin Jauh, Hati yang Tetap Sama
62 Bab 62: Kabar yang Menyeberang Membawa Pesan
63 Bab 63: Musim yang Berganti, Hati yang Tetap Teguh
64 Bab 64: Panggilan yang Semakin Jelas
65 Bab 65: Melangkah Pergi Membawa Cahaya
66 Bab 66: Di Tanah Asing, Cahaya Tetap Bersinar
67 Bab 67 — Kekuatan Kebaikan yang Mengguncang Takhta
68 Bab 68: Cahaya yang Tak Dapat Dipenjara
69 Bab 69: Perubahan yang Tumbuh dari Dalam
70 Bab 70: Benih yang Tumbuh Menjadi Pohon Besar
71 Bab 71: Perpisahan yang Membawa Harapan Baru
72 Bab 72: Di Negeri yang Terbelah Oleh Dendam
73 Bab 73: Tangan yang Diulurkan Melintasi Sungai Dendam
74 Bab 74: Pelangi yang Menjadi Jembatan Persaudaraan
75 Bab 75: Cahaya yang Mengalir Bagai Air Sungai
76 Bab 76: Bayangan Ketakutan yang Menyingkir Menjelang Cahaya
77 Bab 77: Cahaya yang Tinggal di Hati Tak Akan Pernah Padam
78 Bab 78: Negeri yang Terlupakan oleh Waktu
79 Bab 79: Lagu yang Kembali Berkumandang di Langit yang Cerah
80 Bab 80: Jejak Cahaya yang Tak Pernah Hilang
81 Bab 81: Di Negeri yang Menganggap Kebaikan Sebagai Kelemahan
82 Bab 82: Hati yang Lembut Lebih Kuat Dari Batu yang Paling Keras
83 Bab 83: Hati yang Kaya Akan Kasih Sayang Adalah Kekayaan Sejati
84 Bab 84: Benih Kebaikan yang Tumbuh Lebih Tinggi Dari Puncak Gunung
85 Bab 85: Cahaya yang Mengalir Melampaui Batas Samudra yang Tak Bertepi
86 Bab 86: Negeri yang Terlupakan oleh Cahaya
87 Bab 87: Cahaya yang Tak Akan Pernah Padam Meski Terpisah Jarak Ribuan Mil
88 Bab 88:Di Negeri yang Percaya Bahwa Kebaikan Itu Adalah Kelemahan yang Mematikan
89 Bab 89: Kasih Sayang Tak Akan Pernah Runtuh
90 Bab 90: Benih Kasih Sayang yang Tumbuh Menembus Awan
91 Bab 91: Kasih Sayang Tak Akan Pernah Menua
92 Bab 92: Kasih Sayang Tak Akan Pernah Hilang Meski Terpisah Oleh Kematian
93 Bab 93: Kasih Sayang Menembus Segala Batas Waktu dan Tempat
94 Bab 94: Satu Cahaya Yang Sama Bersinar Di Mana-Mana
Episodes

Updated 94 Episodes

1
Bab 1: Bayang Masa Lalu di Desa Sunyi
2
Bab 2: Tatapan yang Tak Pernah Lupa
3
Bab 3: Rahasia di Balik Senyum Dingin
4
Bab 4: Ancaman yang Kembali Menghampiri
5
Bab 5: Keberanian yang Terlambat Datang
6
Bab 6: Di Antara Takut dan Percaya
7
Bab 7: Satu Nama yang Mengubah Segalanya
8
Bab 8: Kehangatan yang Tak Pernah Kurasa
9
Bab 9: Bisikan Hati yang Tak Berani Diucap
10
Bab 10: Sentuhan yang Mengguncang Dunia
11
Bab 11: Malam di Bawah Bulan Penuh
12
Bab 12: Jangan Biarkan Aku Pergi
13
Bab 13: Terbuka Segala Luka Tersembunyi
14
Bab 14: Sumpah di Ujung Pedang
15
Bab 15: Kebenaran yang Menggetarkan Tanah
16
Bab 16: Cinta yang Tak Mengenal Masa Lalu
17
Bab 17: Menghadapi Dunia Bersamamu
18
Bab 18: Ratu yang Memilih Rumah
19
Bab 19: Jejak Lama yang Tak Bisa Hilang
20
Bab 20: Cinta: Senjata Terkuatku
21
Bab 21: Damai Masa Lalu, Cahaya Kelahiran
22
Bab 22: Perisai Tanpa Pedang
23
Bab 23 : Warisan Hati yang Lembut
24
Bab 24 : Jejak yang Tak Terhapus
25
Bab 25 : Pelindung Tanpa Pedang
26
Bab 26 : Di Bawah Langit yang Sama
27
Bab 27 : Cahaya di Ujung Telapak Tangan
28
Bab 28 : Akar yang Tak Patah
29
Bab 29 : Benih yang Tumbuh Kuat
30
Bab 30 : Bayangan yang Menjadi Cahaya
31
Bab 31 : Jalan yang Diteruskan
32
Bab 32 : Pohon yang Memberi Buah
33
Bab 33 : Akar yang Tak Pernah Tumbang
34
Bab 34 : Akar yang Tak Dapat Dilihat
35
Bab 35: Badai Datang dari Laut
36
Bab 36 : Jejak yang Tak Hilang
37
Bab 37 : Ujian dari Tanah
38
Bab 38 : Jejak Pengkhianatan
39
Bab 39 : Cahaya di Bawah Bulan Purnama
40
Bab 40 : Warisan yang Tak Pernah Pudar
41
Bab 41: Benih yang Mulai Tumbuh
42
Bab 42: Ujian yang Tak Terduga
43
Bab 43: Jalan yang Berbeda Pilihan yang Sama
44
Bab 44: Bukan Kekuatan yang Dilihat Mata
45
Bab 45: Waktu yang Menjawab Segalanya
46
Bab 46: Cahaya yang Tak Dapat Disembunyikan
47
Bab 47: Ujian di Balik Kebaikan
48
Bab 48: Ketika Kebaikan Disalahpahami
49
Bab 49: Pulang Membawa Lebih dari Sekadar Kenangan
50
Bab 50: Akar yang Semakin Dalam
51
Bab 51: Kabar yang Membawa Bayang-bayang
52
Bab 52: Langkah yang Harus Diambil
53
Bab 53: Kembali ke Tanah yang Pernah Ditinggalkan
54
Bab 54: Di Antara Kecurigaan dan Harapan
55
Bab 55: Kesabaran yang Menumbuhkan Percaya
56
Bab 56: Benih Kebaikan Mulai Tumbuh
57
Bab 57: Menyiapkan Hati untuk Berpisah
58
Bab 58: Perpisahan yang Membawa Harapan
59
Bab 59: Kembali ke Pelukan Rumah
60
Bab 60: Hati yang Menjadi Warisan
61
Bab 61: Langkah yang Semakin Jauh, Hati yang Tetap Sama
62
Bab 62: Kabar yang Menyeberang Membawa Pesan
63
Bab 63: Musim yang Berganti, Hati yang Tetap Teguh
64
Bab 64: Panggilan yang Semakin Jelas
65
Bab 65: Melangkah Pergi Membawa Cahaya
66
Bab 66: Di Tanah Asing, Cahaya Tetap Bersinar
67
Bab 67 — Kekuatan Kebaikan yang Mengguncang Takhta
68
Bab 68: Cahaya yang Tak Dapat Dipenjara
69
Bab 69: Perubahan yang Tumbuh dari Dalam
70
Bab 70: Benih yang Tumbuh Menjadi Pohon Besar
71
Bab 71: Perpisahan yang Membawa Harapan Baru
72
Bab 72: Di Negeri yang Terbelah Oleh Dendam
73
Bab 73: Tangan yang Diulurkan Melintasi Sungai Dendam
74
Bab 74: Pelangi yang Menjadi Jembatan Persaudaraan
75
Bab 75: Cahaya yang Mengalir Bagai Air Sungai
76
Bab 76: Bayangan Ketakutan yang Menyingkir Menjelang Cahaya
77
Bab 77: Cahaya yang Tinggal di Hati Tak Akan Pernah Padam
78
Bab 78: Negeri yang Terlupakan oleh Waktu
79
Bab 79: Lagu yang Kembali Berkumandang di Langit yang Cerah
80
Bab 80: Jejak Cahaya yang Tak Pernah Hilang
81
Bab 81: Di Negeri yang Menganggap Kebaikan Sebagai Kelemahan
82
Bab 82: Hati yang Lembut Lebih Kuat Dari Batu yang Paling Keras
83
Bab 83: Hati yang Kaya Akan Kasih Sayang Adalah Kekayaan Sejati
84
Bab 84: Benih Kebaikan yang Tumbuh Lebih Tinggi Dari Puncak Gunung
85
Bab 85: Cahaya yang Mengalir Melampaui Batas Samudra yang Tak Bertepi
86
Bab 86: Negeri yang Terlupakan oleh Cahaya
87
Bab 87: Cahaya yang Tak Akan Pernah Padam Meski Terpisah Jarak Ribuan Mil
88
Bab 88:Di Negeri yang Percaya Bahwa Kebaikan Itu Adalah Kelemahan yang Mematikan
89
Bab 89: Kasih Sayang Tak Akan Pernah Runtuh
90
Bab 90: Benih Kasih Sayang yang Tumbuh Menembus Awan
91
Bab 91: Kasih Sayang Tak Akan Pernah Menua
92
Bab 92: Kasih Sayang Tak Akan Pernah Hilang Meski Terpisah Oleh Kematian
93
Bab 93: Kasih Sayang Menembus Segala Batas Waktu dan Tempat
94
Bab 94: Satu Cahaya Yang Sama Bersinar Di Mana-Mana

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!