Bab 4: Ancaman yang Kembali Menghampiri

Pintu kayu ditutup perlahan dengan bunyi decit halus, namun keheningan yang tersisa terasa jauh lebih menyesakkan daripada sebelumnya. Laras masih berdiri mematung di ambang pintu, matanya tak lepas menatap Dika. Kata-kata laki-laki tadi berputar kencang di kepalanya: bukan datang untuk mencariku. Artinya, mereka datang untuk mencari dia.

"Maksudmu..." suaranya serak, hampir tak terdengar. "Mereka tahu aku ada di sini?"

Dika berjalan mundur sedikit, memandang ke arah jalan setapak tempat kedua pria itu menghilang, lalu menoleh kembali ke arah Laras dengan wajah tegang. "Belum tentu tahu dengan pasti, tapi mereka sedang melacak jejak seseorang yang berharga bagi mereka. Dan caramu bersembunyi selama dua tahun ini... sepertinya mulai tidak cukup lagi."

Laras berbalik badan dengan kasar, tangannya mencengkeram pinggiran meja hingga kayu itu berderit pelan. Selama ini ia yakin telah menghapus setiap jejak, mengubah penampilan, nama, dan kebiasaan hidupnya sedemikian rupa hingga tak ada satu pun yang menghubungkannya dengan Ratu Bayangan. Namun ternyata, bayang-bayang masa lalunya masih mampu merayap hingga ke desa terpencil ini.

"Siapa sebenarnya mereka?" tanyanya lagi, kali ini dengan nada yang lebih bergetar. "Prajurit kerajaan? Sisa-sisa kelompokku yang dulu mengkhianatiku?"

Dika menggeleng pelan. "Bukan keduanya. Mereka adalah pemburu jejak bayaran yang sangat terlatih. Cara mereka berdiri, cara memindai sekeliling, dan tatapan mata yang tak berkedip... aku mengenali gaya ini. Mereka bekerja untuk seseorang yang memiliki kekayaan dan kekuasaan luar biasa, seseorang yang tidak ingin berurusan secara langsung."

Ia berhenti sejenak, lalu melangkah mendekat sedikit, namun berhenti saat Laras menegakkan badannya waspada.

"Kau berhak tidak percaya padaku," ucapnya lembut namun tegas. "Tapi aku melihat luka bekas senjata di pergelangan tanganmu saat kau membuka pintu tadi. Dan aku tahu cara memegang pisau kecil yang kau sembunyikan di saku depan rokmu itu—cara yang hanya diajarkan kepada pemimpin tertinggi di dunia bayangan."

Darah Laras terasa mendidih dingin. Ia segera menyembunyikan tangannya di balik punggung, sementara pisau yang tadi ia pegang kini tergenggam erat di balik kain. "Kau mengawasiku," tuduhnya tajam.

"Aku sekadar mengamati bahaya, sama sepertimu," balas Dika tenang. "Dengar, Laras. Jika mereka benar-benar datang untukmu, kau tidak bisa lagi menghadapinya sendirian. Rumah ini tidak aman, desa ini pun perlahan tidak akan aman lagi."

Laras tertawa kecil getir, matanya berkaca-kaca namun dengan tatapan yang setajam elang. "Selama bertahun-tahun aku hidup sendirian untuk bertahan hidup. Aku meninggalkan segalanya agar tidak perlu bergantung pada siapa pun. Dan sekarang kau datang... menyusup, mengintip rahasia, lalu bilang aku butuh bantuanmu?"

"Kau tidak sedang berhadapan dengan satu atau dua orang pembunuh biasa," potong Dika cepat, nadanya kini mengeras. "Mereka adalah langkah awal. Jika mereka tidak kembali membawa kabar atau membawa targetnya, pasukan yang jauh lebih besar dan berbahaya akan datang menyusul. Apakah kau siap membiarkan penduduk desa yang tidak bersalah ini menjadi korban karena kau menolak bantuan?"

Kalimat itu menampar kesadaran Laras seketika. Ia terpaku, memikirkan warga desa yang ramah, anak-anak yang bermain di pinggir sungai, dan kedamaian yang selama ini ia nikmati dengan diam-diam. Ia bisa melawan mereka, ia bisa membunuh mereka sebelum sempat berteriak, tapi ia tak sanggup membiarkan darah tertumpah di tanah desa yang damai ini.

Angin berhembus kencang mengguncang daun-daun di luar, seolah membawa peringatan bahwa badai besar tak lama lagi akan tiba. Laras perlahan merilekskan cengkeramannya pada pisau itu, meski kewaspadaannya tak pernah hilang. Ia menatap lurus ke mata Dika, mencari kepastian di sana—meski hatinya masih penuh keraguan.

"Baiklah," ucapnya akhirnya dengan suara berat. "Tapi ingat satu hal. Jika kau berkhianat, jika kau mengantarku pada mereka... aku pastikan kau adalah orang pertama yang mati di tanganku."

Dika tersenyum tipis, kali ini tanpa menyembunyikan kekaguman yang samar. "Aku tidak berharap lain darimu, Ratu."

Bersambung...

Episodes
1 Bab 1: Bayang Masa Lalu di Desa Sunyi
2 Bab 2: Tatapan yang Tak Pernah Lupa
3 Bab 3: Rahasia di Balik Senyum Dingin
4 Bab 4: Ancaman yang Kembali Menghampiri
5 Bab 5: Keberanian yang Terlambat Datang
6 Bab 6: Di Antara Takut dan Percaya
7 Bab 7: Satu Nama yang Mengubah Segalanya
8 Bab 8: Kehangatan yang Tak Pernah Kurasa
9 Bab 9: Bisikan Hati yang Tak Berani Diucap
10 Bab 10: Sentuhan yang Mengguncang Dunia
11 Bab 11: Malam di Bawah Bulan Penuh
12 Bab 12: Jangan Biarkan Aku Pergi
13 Bab 13: Terbuka Segala Luka Tersembunyi
14 Bab 14: Sumpah di Ujung Pedang
15 Bab 15: Kebenaran yang Menggetarkan Tanah
16 Bab 16: Cinta yang Tak Mengenal Masa Lalu
17 Bab 17: Menghadapi Dunia Bersamamu
18 Bab 18: Ratu yang Memilih Rumah
19 Bab 19: Jejak Lama yang Tak Bisa Hilang
20 Bab 20: Cinta: Senjata Terkuatku
21 Bab 21: Damai Masa Lalu, Cahaya Kelahiran
22 Bab 22: Perisai Tanpa Pedang
23 Bab 23 : Warisan Hati yang Lembut
24 Bab 24 : Jejak yang Tak Terhapus
25 Bab 25 : Pelindung Tanpa Pedang
26 Bab 26 : Di Bawah Langit yang Sama
27 Bab 27 : Cahaya di Ujung Telapak Tangan
28 Bab 28 : Akar yang Tak Patah
29 Bab 29 : Benih yang Tumbuh Kuat
30 Bab 30 : Bayangan yang Menjadi Cahaya
31 Bab 31 : Jalan yang Diteruskan
32 Bab 32 : Pohon yang Memberi Buah
33 Bab 33 : Akar yang Tak Pernah Tumbang
34 Bab 34 : Akar yang Tak Dapat Dilihat
35 Bab 35: Badai Datang dari Laut
36 Bab 36 : Jejak yang Tak Hilang
37 Bab 37 : Ujian dari Tanah
38 Bab 38 : Jejak Pengkhianatan
39 Bab 39 : Cahaya di Bawah Bulan Purnama
40 Bab 40 : Warisan yang Tak Pernah Pudar
41 Bab 41: Benih yang Mulai Tumbuh
42 Bab 42: Ujian yang Tak Terduga
43 Bab 43: Jalan yang Berbeda Pilihan yang Sama
44 Bab 44: Bukan Kekuatan yang Dilihat Mata
45 Bab 45: Waktu yang Menjawab Segalanya
46 Bab 46: Cahaya yang Tak Dapat Disembunyikan
47 Bab 47: Ujian di Balik Kebaikan
48 Bab 48: Ketika Kebaikan Disalahpahami
49 Bab 49: Pulang Membawa Lebih dari Sekadar Kenangan
50 Bab 50: Akar yang Semakin Dalam
51 Bab 51: Kabar yang Membawa Bayang-bayang
52 Bab 52: Langkah yang Harus Diambil
53 Bab 53: Kembali ke Tanah yang Pernah Ditinggalkan
54 Bab 54: Di Antara Kecurigaan dan Harapan
55 Bab 55: Kesabaran yang Menumbuhkan Percaya
56 Bab 56: Benih Kebaikan Mulai Tumbuh
57 Bab 57: Menyiapkan Hati untuk Berpisah
58 Bab 58: Perpisahan yang Membawa Harapan
59 Bab 59: Kembali ke Pelukan Rumah
60 Bab 60: Hati yang Menjadi Warisan
61 Bab 61: Langkah yang Semakin Jauh, Hati yang Tetap Sama
62 Bab 62: Kabar yang Menyeberang Membawa Pesan
63 Bab 63: Musim yang Berganti, Hati yang Tetap Teguh
64 Bab 64: Panggilan yang Semakin Jelas
65 Bab 65: Melangkah Pergi Membawa Cahaya
66 Bab 66: Di Tanah Asing, Cahaya Tetap Bersinar
67 Bab 67 — Kekuatan Kebaikan yang Mengguncang Takhta
68 Bab 68: Cahaya yang Tak Dapat Dipenjara
69 Bab 69: Perubahan yang Tumbuh dari Dalam
70 Bab 70: Benih yang Tumbuh Menjadi Pohon Besar
71 Bab 71: Perpisahan yang Membawa Harapan Baru
72 Bab 72: Di Negeri yang Terbelah Oleh Dendam
73 Bab 73: Tangan yang Diulurkan Melintasi Sungai Dendam
74 Bab 74: Pelangi yang Menjadi Jembatan Persaudaraan
75 Bab 75: Cahaya yang Mengalir Bagai Air Sungai
76 Bab 76: Bayangan Ketakutan yang Menyingkir Menjelang Cahaya
77 Bab 77: Cahaya yang Tinggal di Hati Tak Akan Pernah Padam
78 Bab 78: Negeri yang Terlupakan oleh Waktu
79 Bab 79: Lagu yang Kembali Berkumandang di Langit yang Cerah
80 Bab 80: Jejak Cahaya yang Tak Pernah Hilang
81 Bab 81: Di Negeri yang Menganggap Kebaikan Sebagai Kelemahan
82 Bab 82: Hati yang Lembut Lebih Kuat Dari Batu yang Paling Keras
83 Bab 83: Hati yang Kaya Akan Kasih Sayang Adalah Kekayaan Sejati
84 Bab 84: Benih Kebaikan yang Tumbuh Lebih Tinggi Dari Puncak Gunung
85 Bab 85: Cahaya yang Mengalir Melampaui Batas Samudra yang Tak Bertepi
86 Bab 86: Negeri yang Terlupakan oleh Cahaya
87 Bab 87: Cahaya yang Tak Akan Pernah Padam Meski Terpisah Jarak Ribuan Mil
88 Bab 88:Di Negeri yang Percaya Bahwa Kebaikan Itu Adalah Kelemahan yang Mematikan
89 Bab 89: Kasih Sayang Tak Akan Pernah Runtuh
90 Bab 90: Benih Kasih Sayang yang Tumbuh Menembus Awan
91 Bab 91: Kasih Sayang Tak Akan Pernah Menua
92 Bab 92: Kasih Sayang Tak Akan Pernah Hilang Meski Terpisah Oleh Kematian
93 Bab 93: Kasih Sayang Menembus Segala Batas Waktu dan Tempat
94 Bab 94: Satu Cahaya Yang Sama Bersinar Di Mana-Mana
Episodes

Updated 94 Episodes

1
Bab 1: Bayang Masa Lalu di Desa Sunyi
2
Bab 2: Tatapan yang Tak Pernah Lupa
3
Bab 3: Rahasia di Balik Senyum Dingin
4
Bab 4: Ancaman yang Kembali Menghampiri
5
Bab 5: Keberanian yang Terlambat Datang
6
Bab 6: Di Antara Takut dan Percaya
7
Bab 7: Satu Nama yang Mengubah Segalanya
8
Bab 8: Kehangatan yang Tak Pernah Kurasa
9
Bab 9: Bisikan Hati yang Tak Berani Diucap
10
Bab 10: Sentuhan yang Mengguncang Dunia
11
Bab 11: Malam di Bawah Bulan Penuh
12
Bab 12: Jangan Biarkan Aku Pergi
13
Bab 13: Terbuka Segala Luka Tersembunyi
14
Bab 14: Sumpah di Ujung Pedang
15
Bab 15: Kebenaran yang Menggetarkan Tanah
16
Bab 16: Cinta yang Tak Mengenal Masa Lalu
17
Bab 17: Menghadapi Dunia Bersamamu
18
Bab 18: Ratu yang Memilih Rumah
19
Bab 19: Jejak Lama yang Tak Bisa Hilang
20
Bab 20: Cinta: Senjata Terkuatku
21
Bab 21: Damai Masa Lalu, Cahaya Kelahiran
22
Bab 22: Perisai Tanpa Pedang
23
Bab 23 : Warisan Hati yang Lembut
24
Bab 24 : Jejak yang Tak Terhapus
25
Bab 25 : Pelindung Tanpa Pedang
26
Bab 26 : Di Bawah Langit yang Sama
27
Bab 27 : Cahaya di Ujung Telapak Tangan
28
Bab 28 : Akar yang Tak Patah
29
Bab 29 : Benih yang Tumbuh Kuat
30
Bab 30 : Bayangan yang Menjadi Cahaya
31
Bab 31 : Jalan yang Diteruskan
32
Bab 32 : Pohon yang Memberi Buah
33
Bab 33 : Akar yang Tak Pernah Tumbang
34
Bab 34 : Akar yang Tak Dapat Dilihat
35
Bab 35: Badai Datang dari Laut
36
Bab 36 : Jejak yang Tak Hilang
37
Bab 37 : Ujian dari Tanah
38
Bab 38 : Jejak Pengkhianatan
39
Bab 39 : Cahaya di Bawah Bulan Purnama
40
Bab 40 : Warisan yang Tak Pernah Pudar
41
Bab 41: Benih yang Mulai Tumbuh
42
Bab 42: Ujian yang Tak Terduga
43
Bab 43: Jalan yang Berbeda Pilihan yang Sama
44
Bab 44: Bukan Kekuatan yang Dilihat Mata
45
Bab 45: Waktu yang Menjawab Segalanya
46
Bab 46: Cahaya yang Tak Dapat Disembunyikan
47
Bab 47: Ujian di Balik Kebaikan
48
Bab 48: Ketika Kebaikan Disalahpahami
49
Bab 49: Pulang Membawa Lebih dari Sekadar Kenangan
50
Bab 50: Akar yang Semakin Dalam
51
Bab 51: Kabar yang Membawa Bayang-bayang
52
Bab 52: Langkah yang Harus Diambil
53
Bab 53: Kembali ke Tanah yang Pernah Ditinggalkan
54
Bab 54: Di Antara Kecurigaan dan Harapan
55
Bab 55: Kesabaran yang Menumbuhkan Percaya
56
Bab 56: Benih Kebaikan Mulai Tumbuh
57
Bab 57: Menyiapkan Hati untuk Berpisah
58
Bab 58: Perpisahan yang Membawa Harapan
59
Bab 59: Kembali ke Pelukan Rumah
60
Bab 60: Hati yang Menjadi Warisan
61
Bab 61: Langkah yang Semakin Jauh, Hati yang Tetap Sama
62
Bab 62: Kabar yang Menyeberang Membawa Pesan
63
Bab 63: Musim yang Berganti, Hati yang Tetap Teguh
64
Bab 64: Panggilan yang Semakin Jelas
65
Bab 65: Melangkah Pergi Membawa Cahaya
66
Bab 66: Di Tanah Asing, Cahaya Tetap Bersinar
67
Bab 67 — Kekuatan Kebaikan yang Mengguncang Takhta
68
Bab 68: Cahaya yang Tak Dapat Dipenjara
69
Bab 69: Perubahan yang Tumbuh dari Dalam
70
Bab 70: Benih yang Tumbuh Menjadi Pohon Besar
71
Bab 71: Perpisahan yang Membawa Harapan Baru
72
Bab 72: Di Negeri yang Terbelah Oleh Dendam
73
Bab 73: Tangan yang Diulurkan Melintasi Sungai Dendam
74
Bab 74: Pelangi yang Menjadi Jembatan Persaudaraan
75
Bab 75: Cahaya yang Mengalir Bagai Air Sungai
76
Bab 76: Bayangan Ketakutan yang Menyingkir Menjelang Cahaya
77
Bab 77: Cahaya yang Tinggal di Hati Tak Akan Pernah Padam
78
Bab 78: Negeri yang Terlupakan oleh Waktu
79
Bab 79: Lagu yang Kembali Berkumandang di Langit yang Cerah
80
Bab 80: Jejak Cahaya yang Tak Pernah Hilang
81
Bab 81: Di Negeri yang Menganggap Kebaikan Sebagai Kelemahan
82
Bab 82: Hati yang Lembut Lebih Kuat Dari Batu yang Paling Keras
83
Bab 83: Hati yang Kaya Akan Kasih Sayang Adalah Kekayaan Sejati
84
Bab 84: Benih Kebaikan yang Tumbuh Lebih Tinggi Dari Puncak Gunung
85
Bab 85: Cahaya yang Mengalir Melampaui Batas Samudra yang Tak Bertepi
86
Bab 86: Negeri yang Terlupakan oleh Cahaya
87
Bab 87: Cahaya yang Tak Akan Pernah Padam Meski Terpisah Jarak Ribuan Mil
88
Bab 88:Di Negeri yang Percaya Bahwa Kebaikan Itu Adalah Kelemahan yang Mematikan
89
Bab 89: Kasih Sayang Tak Akan Pernah Runtuh
90
Bab 90: Benih Kasih Sayang yang Tumbuh Menembus Awan
91
Bab 91: Kasih Sayang Tak Akan Pernah Menua
92
Bab 92: Kasih Sayang Tak Akan Pernah Hilang Meski Terpisah Oleh Kematian
93
Bab 93: Kasih Sayang Menembus Segala Batas Waktu dan Tempat
94
Bab 94: Satu Cahaya Yang Sama Bersinar Di Mana-Mana

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!