RUNTUHNYA PERTAHANAN SANG DOSEN KILLER

Langkah kaki Queen terasa sedikit seringan kapas. Kesadarannya sudah agak kabur akibat pengaruh alkohol dari beberapa gelas koktail yang ia teguk sebelumnya, namun hal itu justru melipatgandakan keberaniannya. Di bawah siraman cahaya lampu club yang berputar liar, Queen melangkah mantap dengan pinggul yang bergoyang seksi menuju ke sudut remang-remang tempat meja Arga berada. Gaun satin hijau zamrud yang melekat ketat di tubuhnya mengekspos setiap lekuk tubuh indahnya dengan sempurna mulai dari pinggangnya yang ramping hingga siluet tubuhnya yang padat berisi, benar-benar gambaran nyata dari bentuk tubuh gitar spanyol yang mematikan.

Setiap mata pria yang dilewatinya menatap lapar, namun pandangan Queen terkunci mutlak pada satu sosok pria yang sedang menyandarkan kepalanya di sofa V.I.P dengan kemeja setengah terbuka.

"Ehh... ada Pak Dosen ganteng," ucap Queen dengan nada centil yang sengaja dibuat manja saat ia akhirnya sampai di depan meja Arga.

Arga yang sedang memejamkan mata perlahan mendongak. Begitu menyadari siapa yang berdiri di hadapannya, alis tebalnya bertaut rapat. Matanya yang hitam legam dan tajam menatap Queen dengan sorot dingin yang membekukan, sorot mata yang biasa ia gunakan untuk mengusir mahasiswa malas dari kelasnya.

"Ngapain kamu ke sini? Pergi sana," usir Arga tanpa ekspresi sedikit pun. Suara baritonnya terdengar berat, datar, dan sarat akan penolakan mutlak.

Bukannya takut atau mundur seperti mahasiswi pada umumnya, Queen justru terkekeh renyah. Jiwa cegil-nya tertantang berlipat ganda melihat sikap ketus sang dosen.

"Jangan galak-galak, Pak... nanti gantengnya hilang," goda Queen dengan kerlingan mata yang nakal.

Tanpa permisi dan tanpa memberikan celah bagi Arga untuk menghindar, Queen dengan gerakan berani langsung mendudukkan bokong indahnya dengan pas di atas pangkuan kokoh Arga. Tak tanggung-tanggung, kedua lengan lentiknya segera melingkar dengan erat di sekeliling leher kekar sang dosen, mengunci posisi mereka agar tidak ada jarak tersisa.

Deg!

Tubuh tegap Arga menegang seketika. Ia tidak pernah membayangkan ada mahasiswanya yang seberani atau se-tidak waras ini. Aroma parfum manis perpaduan vanila dan buah beri yang bercampur dengan aroma alkohol dari tubuh Queen langsung menyeruak, menusuk indra penciumannya dengan begitu pekat. Kedekatan fisik yang teramat intim ini membuat Arga bisa merasakan kehangatan kulit Queen yang kontras dengan suhu tubuhnya yang dingin.

Queen sedikit memiringkan kepalanya, menatap lurus ke dalam netra gelap Arga yang mulai memancarkan kilatan emosi yang campur aduk.

"Pak Arga lagi suntuk, ya? Makanya main ke club," bisik Queen tepat di depan wajah Arga, embusan napasnya yang hangat menerpa permukaan kulit sang dosen. Nada suaranya berubah menjadi sangat manja dan sensual. "Atau... istri Bapak lagi gak mau ngelayanin Bapak di rumah?"

Pertanyaan frontal itu bagai siraman bensin di atas bara api. Mata Queen bergerak turun, menatap lekat-lekat pada bibir seksi Arga—bibir kokoh yang biasanya hanya mengeluarkan makian dingin, peraturan ketat, dan kata-kata tajam yang menusuk telinga di dalam kelas. Malam ini, Queen ingin tahu apakah bibir itu bisa mengeluarkan suara yang berbeda.

"Turun, Queen. Lebih baik kamu pulang sekarang, dan belajar untuk kuis besok pagi," perintah Arga. Suaranya terdengar jauh lebih berat dari sebelumnya, ada getaran menahan diri yang amat kuat di sana. Arga mati-matian mengerahkan seluruh akal sehatnya yang tersisa untuk mempertahankan kewarasannya yang mulai goyah.

Namun, Queen adalah definisi nyata dari gadis bar-bar yang tidak pernah mengenal kata menyerah dalam kamus hidupnya. Ditantang seperti itu justru membuat gairahnya memuncak. Menatap bibir Arga yang begitu mengundang di depannya, Queen tidak tahan lagi. Ego dan rasa penasarannya meledak. Ia langsung memajukan wajahnya dan membungkam bibir Arga dengan sebuah ciuman yang ganas dan penuh tuntutan.

Arga tersentak kaget di tempat duduknya. Mata elangnya melebar sesaat. Naluri pertahanannya bangkit; ia merapatkan bibirnya dengan rapat, menolak memberikan akses apa pun bagi lidah nakal Queen untuk menginvasi mulutnya. Ia menolak didominasi oleh mahasiswanya sendiri.

Mendapat penolakan dan tidak ada balasan dari sang dosen, Queen tidak kehabisan akal. Dengan berani, ia sedikit menarik kepalanya lalu menggigit bibir bawah Arga dengan cukup kuat, memberikan rasa sakit yang mengejutkan sekaligus nikmat.

"Auhh..." Arga mendesah tertahan, mulutnya refleks terbuka akibat gigitan mendadak itu.

"Kau ini... benar-benar keterlaluan..." desis Arga di sela-sela napasnya yang mulai memburu dan tidak beraturan.

Namun, kata-kata Arga langsung lenyap ditelan malam. Begitu bibir kokoh itu terbuka, Queen tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia kembali merapatkan bibir mereka dan langsung melumat bibir Arga dengan brutal. Queen menyalurkan seluruh keliaran, rasa penasaran, dan jiwa mudanya yang meledak-ledak ke dalam tautan bibir mereka.

Detik itu juga, pertahanan Arga yang selama ini dikenal sekokoh es batu tiba-tiba luntur, hancur berantakan tanpa sisa. Rasa frustrasi karena tekanan pekerjaan, amarah yang membakar akibat dikhianati dan dibohongi oleh istrinya bertubi-tubi, serta gairah kelelakian yang sudah lama terpendam dan mati rasa, mendadak meledak bagai gunung berapi.

Pikiran sehat Arga menguap entah ke mana. Mengabaikan status mereka sebagai dosen dan mahasiswa, Arga mulai membalas ciuman Queen tak kalah brutal. Kedua tangan kokohnya yang dipenuhi urat-urat tegas secara refleks bergerak mencengkeram pinggang ramping Queen dengan sangat kuat, menarik tubuh seksi gadis itu agar semakin merapat dan menempel tanpa celah pada dada bidangnya. Arga melumat balik bibir manis Queen dengan dominasi penuh seorang pria dewasa, menghisap dan mengeksplorasi rongga mulut gadis itu dengan rakus, seolah-olah ia sedang melampiaskan seluruh beban hidupnya lewat ciuman panas tersebut.

Queen tersenyum penuh kemenangan di sela-sela ciuman brutal mereka. Merasa di atas angin, Queen perlahan mengalihkan kecupannya turun ke arah rahang tegas dan leher kokoh Arga yang berurat. Ia menghirup dalam-dalam aroma maskulin perpaduan parfum mahal dan wangi tubuh alami Arga yang sangat memabukkan bagi indra penciumannya.

Tidak berhenti sampai di situ, dengan gerakan yang teramat berani dan sengaja, Queen mulai menggesek-gesekkan bokong indahnya di atas selangkangan Arga. Tindakan provokatif itu langsung menyentuh titik paling sensitif dari kejantanan Arga yang kini sudah mulai menegang dan mengeras sempurna di balik celana kain mahalnya.

"Nggghh..." Arga mengerang rendah, sebuah suara serak yang sangat seksi lolos begitu saja dari tenggorokannya.

Napas sang dosen killer kini memburu hebat, terdengar ngos-ngosan di dekat telinga Queen. Seluruh tubuhnya terasa membara, dibakar oleh gairah liar yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya. Matanya yang biasa menatap dingin kini menggelap sepenuhnya, dipenuhi oleh hasrat murni seorang jantan yang siap menerkam mangsanya. Tangannya yang mencengkeram pinggang Queen bergerak naik, meraba lekuk punggung gadis itu dengan sentuhan yang menuntut lebih.

Namun, tepat saat Arga sudah berada di puncak gairah dan kehilangan seluruh kendali dirinya, Queen justru menyudahi kelakuannya secara mendadak. Ia menarik bibirnya dari leher Arga, memutus kehangatan yang baru saja tercipta.

Queen menarik diri sedikit, memberikan jarak yang membuat Arga menatapnya dengan pandangan tidak terima dan napas yang terengah-engah. Dengan senyum nakal yang tersisa di bibirnya yang kini basah dan sedikit bengkak, Queen mendekatkan wajahnya ke telinga Arga yang sudah memerah padam akibat gairah.

"Bapak terlihat sangat hot malam ini..." bisik Queen dengan nada manja yang teramat seksi, getaran suaranya langsung meremangkan bulu kuduk dan menggetarkan relung jiwa Arga yang paling dalam.

Queen memberikan jeda sejenak, membiarkan kalimatnya meresap ke dalam otak Arga yang sudah mati kutu. "Kalau istri Bapak tidak mau melayani Bapak di rumah... aku siap kapan saja untuk menjadi teman ranjang Bapak."

Sebagai sentuhan akhir yang mematikan dan tidak akan pernah bisa dilupakan oleh Arga, Queen menjulurkan lidahnya sejenak lalu menggigit cuping telinga Arga dengan lembut namun sensual, sebelum akhirnya ia dengan cepat berdiri dan melangkah turun dari pangkuan pria itu.

"Auhh..." Arga mengerang kecil, tubuhnya tersentak ringan.

Jakunnya bergerak naik-turun dengan cepat saat ia menelan salivanya sendiri yang terasa kering. Dengan napas yang masih memburu dan jantung yang berdegup kencang bagaigenderang perang, Arga hanya bisa terpaku di sofanya. Sepasang matanya yang menggelap menatap lurus kepergian Queen yang berjalan menjauh menembus kerumunan club. Di dalam dadanya, ada gairah yang menggantung tanpa tuntas, rasa penasaran yang teramat dalam, dan kesadaran pahit bahwa tembok es yang ia bangun dengan susah payah selama ini... telah runtuh seutuhnya malam ini di tangan mahasiswanya sendiri.

Episodes
1 TOPENG SEMPURNA DAN SANGKAR EMAS
2 TARUHAN GILA DI SUDUT REMANG
3 RUNTUHNYA PERTAHANAN SANG DOSEN KILLER
4 BAKAT TERPENDAM DAN STRATEGI BARU
5 DINDING ES YANG BELUM RETAK
6 BAYANG-BAYANG YANG MENGGANGGU
7 SERIBU SATU CARA SANG CEGIL
8 PERTEMUAN DI MEJA MAKAN
9 BATASAN YANG HAMPIR RETAK
10 RUNTUHNYA SEBUAH HARAPAN
11 MELAMPIASKAN LUKA
12 REALITAS PAGI HARI
13 IKATAN BARU DAN SENTUHAN PENYEMBUH
14 KESENYAMANAN YANG SEMBUNYI
15 INTUISI SEORANG SAHABAT
16 DI BALIK PINTU PRIVAT
17 DI BAWAH KABUT HASRAT
18 DI BAWAH SOROT MATALU
19 TOPENG YANG KIAN RETAK
20 TERSINGKAPNYA RAHASIA BESAR
21 KESEPAKATAN DI TENGAH BADAI
22 KONTRAKSI DAN SEBUAH DUGAAN
23 PENGUMUMAN DI TENGAH KEKACAUAN
24 TOPENG YANG HANCUR BERKEPING
25 RESTU DI BALIK BADAI YANG REDA
26 MAHKOTA YANG TERLUKA
27 DI BALIK DINDING KACA
28 JEJAK YANG TERTINGGAL
29 BAYANGAN DI BALIK KABUT
30 FASE BARU DI BAWAH CAHAYA MATAHARI
31 IKATAN DI ATAS ALTAR SUCI
32 TANGIS PERTAMA DI UJUNG DUNIA KECIL KITA
33 WARISAN KASIH DI BAWAH SURYA PAGI
34 BADAI YANG KEMBALI MENGULANG
35 KILAU BAJAK LAUT DI ATAS PISAU TAJAM
36 BAYANGAN DI BALIK TERALI BESI
37 PAGI SETELAH BADAI
38 Titik Balik di Ujung Senja
39 GEMA DI RUANG KELUARGA DAN RENCANA MASA DEPAN
40 LANGKAH PERTAMA DI DIASPORA SOSIAL
41 DI BAWAH LANGIT BOGOR YANG TEDUH DAN HANGATNYA KEBERSAMAAN
42 PULANG KE RUMAH, MENEMUKAN KELUARGA
43 Fajar Baru dan Janji yang Tak Lekang oleh Waktu
44 BAYANGAN MASA LALU YANG KEMBALI MENGISI RUANG
45 BAYANGAN YANG KEMBALI MENGULUR KELAM
46 DI UJUNG TANDUK
47 CAHAYA BARU DI BAWAH LANGIT PAGI
48 BAYANGAN BARU DI BALIK CAHAYA KEMENANGAN
49 JEJAK YANG KEMBALI TERKUAK
50 BAYANG-BAYANG DI BALIK CAHAYA KOTA
51 BADAI DI AWAL PEKAN
52 KEJATUHAN SANG PENGECUT
53 FAJAR BARU TANPA BAYANGAN
54 BAYANGAN DI BALIK KEMENANGAN
55 LABIRIN KEBOHONGAN DI LANTAI 42
56 EMBUN PAGI DI ATAS MENARA KEPERCAYAAN
57 PUSARAN HARMONI DI BAWAH LANGIT METROPOLITAN
58 SIMFONI DI ATAS PUNCAK KEJAYAAN
59 FAJAR KEEMASAN DAN JANJI YANG ABADI
60 BAYANGAN DI BALIK CAHAYA MENTENG
61 DETIK-DETIK MENEGANGKAN DI GERBANG SEKOLAH
62 BAYANGAN DI RUANG INTEROGASI
63 JEJAK DI BALIK HUJAN
64 JEJAK KAKI DI PAGI BUTA
Episodes

Updated 64 Episodes

1
TOPENG SEMPURNA DAN SANGKAR EMAS
2
TARUHAN GILA DI SUDUT REMANG
3
RUNTUHNYA PERTAHANAN SANG DOSEN KILLER
4
BAKAT TERPENDAM DAN STRATEGI BARU
5
DINDING ES YANG BELUM RETAK
6
BAYANG-BAYANG YANG MENGGANGGU
7
SERIBU SATU CARA SANG CEGIL
8
PERTEMUAN DI MEJA MAKAN
9
BATASAN YANG HAMPIR RETAK
10
RUNTUHNYA SEBUAH HARAPAN
11
MELAMPIASKAN LUKA
12
REALITAS PAGI HARI
13
IKATAN BARU DAN SENTUHAN PENYEMBUH
14
KESENYAMANAN YANG SEMBUNYI
15
INTUISI SEORANG SAHABAT
16
DI BALIK PINTU PRIVAT
17
DI BAWAH KABUT HASRAT
18
DI BAWAH SOROT MATALU
19
TOPENG YANG KIAN RETAK
20
TERSINGKAPNYA RAHASIA BESAR
21
KESEPAKATAN DI TENGAH BADAI
22
KONTRAKSI DAN SEBUAH DUGAAN
23
PENGUMUMAN DI TENGAH KEKACAUAN
24
TOPENG YANG HANCUR BERKEPING
25
RESTU DI BALIK BADAI YANG REDA
26
MAHKOTA YANG TERLUKA
27
DI BALIK DINDING KACA
28
JEJAK YANG TERTINGGAL
29
BAYANGAN DI BALIK KABUT
30
FASE BARU DI BAWAH CAHAYA MATAHARI
31
IKATAN DI ATAS ALTAR SUCI
32
TANGIS PERTAMA DI UJUNG DUNIA KECIL KITA
33
WARISAN KASIH DI BAWAH SURYA PAGI
34
BADAI YANG KEMBALI MENGULANG
35
KILAU BAJAK LAUT DI ATAS PISAU TAJAM
36
BAYANGAN DI BALIK TERALI BESI
37
PAGI SETELAH BADAI
38
Titik Balik di Ujung Senja
39
GEMA DI RUANG KELUARGA DAN RENCANA MASA DEPAN
40
LANGKAH PERTAMA DI DIASPORA SOSIAL
41
DI BAWAH LANGIT BOGOR YANG TEDUH DAN HANGATNYA KEBERSAMAAN
42
PULANG KE RUMAH, MENEMUKAN KELUARGA
43
Fajar Baru dan Janji yang Tak Lekang oleh Waktu
44
BAYANGAN MASA LALU YANG KEMBALI MENGISI RUANG
45
BAYANGAN YANG KEMBALI MENGULUR KELAM
46
DI UJUNG TANDUK
47
CAHAYA BARU DI BAWAH LANGIT PAGI
48
BAYANGAN BARU DI BALIK CAHAYA KEMENANGAN
49
JEJAK YANG KEMBALI TERKUAK
50
BAYANG-BAYANG DI BALIK CAHAYA KOTA
51
BADAI DI AWAL PEKAN
52
KEJATUHAN SANG PENGECUT
53
FAJAR BARU TANPA BAYANGAN
54
BAYANGAN DI BALIK KEMENANGAN
55
LABIRIN KEBOHONGAN DI LANTAI 42
56
EMBUN PAGI DI ATAS MENARA KEPERCAYAAN
57
PUSARAN HARMONI DI BAWAH LANGIT METROPOLITAN
58
SIMFONI DI ATAS PUNCAK KEJAYAAN
59
FAJAR KEEMASAN DAN JANJI YANG ABADI
60
BAYANGAN DI BALIK CAHAYA MENTENG
61
DETIK-DETIK MENEGANGKAN DI GERBANG SEKOLAH
62
BAYANGAN DI RUANG INTEROGASI
63
JEJAK DI BALIK HUJAN
64
JEJAK KAKI DI PAGI BUTA

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!