MY HOT KILLER LECTURER

MY HOT KILLER LECTURER

TOPENG SEMPURNA DAN SANGKAR EMAS

Gemerlap lampu kristal yang menggantung di langit-langit ballroom hotel bintang lima itu memantulkan kemewahan yang menyilaukan mata. Ratusan tamu undangan dari kalangan konglomerat, pejabat tinggi, hingga rekan bisnis internasional memadati ruangan, memberikan ucapan selamat atas pernikahan paling fenomenal tahun ini. Pernikahan antara Arga Dirgantara dan Keysha Amalia.

Di bawah sorotan lampu sorot, Arga Dirgantara berdiri dengan tegak. Di usianya yang menginjak 30 tahun, ia adalah definisi nyata dari kesempurnaan seorang pria. Sebagai CEO utama dari Dirgantara Group, sebuah imperium bisnis yang bergerak di bidang properti dan teknologi, Arga memiliki wibawa yang sanggup mengintimidasi siapa saja hanya dengan satu tatapan mata. Postur tubuhnya tinggi tegap, proporsional layaknya seorang model papan atas dengan perut sixpack yang terbentuk sempurna, tersembunyi rapi di balik setelan tuksedo rancangan desainer ternama Italia yang melekat pas di tubuh bidangnya. Tak hanya sukses di dunia korporasi, kecerdasan otaknya yang di atas rata-rata juga membawanya mengabdi sebagai seorang dosen di universitas swasta paling ternama di ibu kota.

Namun, di balik semua kemewahan, ketampanan, dan kekuasaan yang dipuja-puja semua orang, tidak ada yang tahu bahwa Arga seumpama bidak catur yang tak berdaya di tangan keluarganya sendiri.

Pernikahan megah malam itu sama sekali tidak dilandasi oleh setitik pun rasa cinta. Ini adalah murni transaksi bisnis. Demi mengamankan merger raksasa dan menguatkan cengkeraman saham Dirgantara Group di pasar Asia, Arga dipaksa menerima perjodohan mutlak dari kedua orang tuanya. Ia harus menikahi Keysha, putri dari mitra bisnis terbesar ayahnya. Arga telah mencoba menolak, namun kewajiban sebagai putra mahkota keluarga Dirgantara mengikat lehernya terlalu kencang. Ia mengorbankan kebahagiaannya sendiri demi kejayaan dinasti keluarganya.

Di sudut ballroom, seorang gadis muda dengan gaun satin berwarna marun menatap panggung pelaminan dengan tatapan yang dipenuhi rasa cemas sekaligus iba. Dia adalah Alya Dirgantara, adik kandung Arga. Berbeda dengan para tamu yang tersenyum lebar, Alya adalah satu-satunya orang yang tahu betapa dinginnya telapak tangan sang kakak saat menjabat tangan para tamu. Alya menyaksikan seluruh prosesi itu dengan dada yang sesak. Ia tahu betul bahwa kakaknya sedang mengorbankan diri masuk ke dalam sangkar emas yang mematikan.

Ketika jam dinding berdentang menunjukkan pukul dua dini hari, pesta mewah itu akhirnya usai. Arga dan Keysha melangkah masuk ke dalam kamar presidential suite yang telah didekorasi dengan taburan kelopak bunga mawar merah dan keharuman aromaterapi yang menenangkan. Malam pertama yang seharusnya menjadi lembaran baru yang penuh kehangatan bagi sepasang pengantin baru, justru menjadi awal dari kehancuran hidup Arga.

Arga keluar dari kamar mandi dengan mengenakan jubah tidur satin hitam, mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil. Di atas ranjang berukuran king size, Keysha sudah menunggu dengan gaun malam yang minim. Arga menarik napas dalam-dalam, mencoba meyakinkan dirinya sendiri untuk menerima takdir ini dan memperlakukan Keysha dengan baik sebagai istrinya yang sah.

Namun, lembaran malam itu robek dengan cara yang paling menyakitkan.

Ketika penyatuan itu terjadi, naluri dan akal sehat Arga sebagai seorang pria dewasa tersentak hebat. Tidak ada rintangan yang seharusnya ada pada malam pertama seorang gadis, tidak ada ketegangan yang alami, dan bercak merah yang menjadi simbol kesucian di atas seprei putih itu sama sekali absen. Keysha telah menyerahkan tubuhnya pada Arga dengan begitu lancar, seolah ranjang ini bukanlah tempat baru baginya. Di atas ranjang pengantin itu, Arga mendapati kenyataan pahit yang menghantam harga dirinya telak: istrinya sudah tidak perawan.

Arga bangkit, menjauhkan tubuhnya dengan napas yang memburu. Matanya menatap tajam ke arah Keysha yang langsung menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Kecewa, terhina, dan amarah bercampur menjadi satu, menghantam dada Arga hingga ia merasa sesak. Ego lakilakinya yang selama ini dijaga tinggi-tinggi, runtuh seketika di malam pertamanya sendiri.

Keysha mulai terisak, air matanya menetes membasahi bantal. "Mas Arga... maafkan aku... aku bisa jelaskan..."

Arga memejamkan matanya rapat-rapat. Rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya menonjol. Sebagai pria yang memegang teguh tanggung jawab dan sangat menghormati komitmen pernikahan, Arga mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ia menelan seluruh kepahitan itu sendirian. Demi nama baik Dirgantara Group, demi kehormatan orang tuanya yang telah mempertaruhkan segalanya untuk perjodohan ini, Arga memilih mengubur egonya dalam-dalam.

"Tidur," ucap Arga dingin, suaranya sedatar es. "Aku memaafkanmu kali ini. Jangan pernah bahas malam ini lagi."

Arga berbalik, berjalan menuju sofa panjang di sudut kamar dan menghabiskan sisa malamnya di sana dengan hati yang mulai mendingin. Ia mengira pengorbanannya malam itu adalah puncak dari kelapangan hatinya. Namun, ia keliru. Badai yang sesungguhnya baru saja bersiap menghantam satu minggu kemudian.

Tepat tujuh hari setelah malam yang hancur itu, Arga baru saja pulang dari kantornya saat ia mendapati Keysha terduduk di lantai kamar mandi, menangis gemetar sambil memegangi sebuah benda kecil di tangannya.

Arga melangkah mendekat, matanya tertuju pada benda putih dengan dua garis merah yang sangat jelas di tangan istrinya. Jantung Arga seakan berhenti berdetak sesaat.

"Kamu... hamil?" suara Arga bergetar hebat. Ada nada ketidakpercayaan yang mendalam di sana. Satu minggu. Mereka baru menikah satu minggu, dan alat itu menunjukkan hasil positif yang sangat kuat. Secara medis, itu adalah hal yang mustahil jika benih itu berasal darinya.

Keysha langsung merangkak, bersimpuh di kaki Arga, menangis histeris sambil memegangi ujung celana kain suaminya. "Maafkan aku, Mas... Maaf... ini anak... ini anak pacarku. Hubungan kami tidak direstui oleh orang tuaku, makanya mereka memaksaku menerima perjodohan ini... Maafkan aku, Mas Arga!"

Blar!

Dunia Arga serasa runtuh seketika. Langit-langit kamar mewah itu seolah runtuh menimpa kepalanya. Satu minggu pernikahan yang dipaksakan, dan kini ia harus menerima kenyataan pahit bahwa rahim wanita yang berstatus sebagai istrinya telah diisi oleh benih pria lain. Rasa muak, benci, jijik, dan hancur bergolak menjadi satu di dalam dadanya. Jiwanya serasa tercabik-cabik tanpa sisa.

"Lepas!" bentak Arga, menghempaskan kaki hingga pegangan Keysha terlepas. "Kau menjadikanku tameng untuk menyembunyikan aibmu?!"

Arga ingin berteriak sekeras-kerasnya. Ia ingin menyeret wanita manipulatif ini keluar dari rumahnya dan melemparkan surat cerai ke wajahnya detik itu juga. Pernikahan sandiwara ini harus berakhir. Ia tidak sudi menjadi ayah dari anak pria lain yang telah merusak istrinya.

Namun, Keysha bukanlah wanita amatir yang mudah menyerah. Mendengar keributan di lantai atas, kedua orang tua Arga yang kebetulan sedang berkunjung segera berlari masuk ke dalam kamar. Dan di sinilah sandiwara menjijikkan itu dimulai.

Keysha dengan cepat mengubah gestur tubuhnya. Di depan mertuanya, ia menangis tersedu-sedu, bersujud di lantai seolah dirinya adalah korban paling menderita yang tertindas. Ia memoles wajahnya dengan akting yang begitu luar biasa, merangkai cerita bohong bahwa ia dijebak dan diperkosa oleh mantan pacarnya sebelum pernikahan terjadi, dan ia terlalu takut untuk jujur pada Arga.

Orang tua Arga, yang terbuai oleh sifat manipulatif dan air mata buaya sang menantu, langsung termakan sandiwara tersebut. Bagi mereka, yang paling utama bukanlah perasaan Arga, melainkan saham, bisnis, dan nama baik keluarga Dirgantara yang dipertaruhkan di lantai bursa.

"Arga, cukup!" bentak sang ayah, menatap putranya dengan pandangan sedingin es. "Maafkan Keysha. Apa kamu tidak memikirkan dampak jangka panjangnya jika berita ini tersebar? Saham kita akan anjlok, investasi ratusan triliun akan gagal! Demi nama baik keluarga dan kelangsungan bisnis kita, pertahankan pernikahan ini dan akui anak itu sebagai anakmu!"

Arga menatap ayahnya dengan pandangan tidak percaya. "Ayah... dia mengandung anak pria lain! Di mana harga diriku sebagai seorang suami?!"

"Harga dirimu ada pada kejayaan Dirgantara Group, Arga!" balas ayahnya tanpa belas kasihan.

Di sudut ruangan dekat pintu kamar yang sedikit terbuka, Alya menyaksikan seluruh kekacauan itu dengan air mata yang mengalir di pipinya. Jantungnya berdenyut sakit melihat bagaimana kakak laki-lakinya yang selalu ia banggakan, kini ditekan dan dihancurkan dari segala arah. Alya melihat bagaimana Keysha sempat melirik ke arah Arga dengan tatapan kemenangan di sela-sela tangis palsunya. Alya mengepalkan tangannya erat-erat; ia sangat muak melihat kelakuan kakak iparnya yang berhati iblis itu.

Arga berdiri mematung di tengah kamar. Ia mengepalkan tangannya begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih dan kukunya hampir menembus kulit telapak tangannya sendiri. Menolak berarti menghancurkan imperium yang dibangun ayahnya, menerima berarti membunuh jiwanya sendiri.

Malam harinya, di dalam kamar yang sunyi, Arga duduk di kegelapan. Keysha baru saja kembali dari kamar mandi setelah membersihkan wajahnya. Wanita itu memegang ponselnya, tersenyum tipis, dan dengan jari-jarinya yang lentik, ia sibuk bertukar pesan mesra dengan pacarnya di balik selimut. Keysha mengira Arga sudah tidur, namun sepasang mata elang Arga mengawasi setiap gerak-gerik menjijikkan itu dari kegelapan. Hanya beberapa jam setelah memohon ampun dengan bersujud di kaki Arga, wanita itu sudah kembali bermain belakang tanpa rasa bersalah sedikit pun.

Arga memejamkan mata, menghela napas panjang yang terasa begitu berat di dadanya. Demi kewajiban moral yang dipaksakan, demi ambisi buta orang tuanya, Arga memaafkan untuk kedua kalinya. Ia memilih diam dan membiarkan sandiwara ini berlanjut. Namun, malam itu, di dalam kesunyian kamar yang dingin, hati Arga Dirgantara telah mati seutuhnya. Rasa percaya, kehangatan, dan cinta telah menguap dari dalam dirinya, digantikan oleh kekosongan yang membeku.

Sejak hari yang terkutuk itu, Arga berubah total. Topeng kesempurnaan yang ia kenakan sehari-hari kini dilapisi oleh dinding es yang tak tertembus oleh siapa pun. Ia mengunci rapat-rapat hatinya dari dunia luar. Pria yang dulunya masih bisa melemparkan senyum tipis kini bertransformasi menjadi sosok yang dingin, cuek, dan sama sekali tak tersentuh. Pengkhianatan beruntung yang dilakukan oleh istrinya sejak awal pernikahan telah merubah genetik emosinya menjadi monster yang mati rasa.

Perubahan drastis itu paling terasa di lingkungan universitas tempatnya mengajar. Di koridor kampus, nama Arga Dirgantara berubah menjadi momok yang paling ditakuti. Ia dikenal luas sebagai 'Dosen Killer'.

Setiap kali langkah kaki panjang Arga yang dibalut sepatu pantofel mewah terdengar menggema di lorong gedung fakultas ekonomi, para mahasiswa yang sedang mengobrol akan langsung terdiam seketika. Aura dingin dan mencekam yang menguar dari tubuh tegapnya sanggup membuat nyali siapa pun menciut. Di dalam kelas, Arga tidak pernah mentoleransi kesalahan sekecil apa pun. Tatapan matanya yang setajam silet, ditambah suara baritonnya yang datar namun menusuk, siap menguliti mental mahasiswa yang tidak siap mengikuti kuisnya.

Bagi Arga, ruang kelas dan ruang kerja CEO-nya adalah satu-satunya tempat di mana ia bisa memegang kendali penuh atas hidupnya, sebuah kompensasi dari kehidupan rumah tangganya yang hancur berantakan dan dikendalikan oleh orang lain. Aura dingin yang menakutkan itu sebenarnya hanyalah sebuah perisai kokoh. Sebuah topeng yang ia gunakan untuk melindungi hatinya yang telah hancur berkeping-keping di balik kemeja mahalnya. Pria tampan berusia 30 tahun itu telah bersumpah, tidak akan pernah ada satu wanita pun di dunia ini yang diizinkan untuk mendekat atau menyentuh hatinya lagi.

Namun, Arga tidak pernah menduga bahwa takdir memiliki caranya sendiri untuk mempermainkan manusia. Di balik ketatnya perisai es yang ia bangun, sebuah badai baru yang jauh lebih liar, berisik, dan tak terduga sedang bersiap untuk menerjang hidupnya yang sepi. Badai dalam wujud seorang gadis belia berusia 20 tahun yang siap menghancurkan seluruh kewarasannya.

Episodes
1 TOPENG SEMPURNA DAN SANGKAR EMAS
2 TARUHAN GILA DI SUDUT REMANG
3 RUNTUHNYA PERTAHANAN SANG DOSEN KILLER
4 BAKAT TERPENDAM DAN STRATEGI BARU
5 DINDING ES YANG BELUM RETAK
6 BAYANG-BAYANG YANG MENGGANGGU
7 SERIBU SATU CARA SANG CEGIL
8 PERTEMUAN DI MEJA MAKAN
9 BATASAN YANG HAMPIR RETAK
10 RUNTUHNYA SEBUAH HARAPAN
11 MELAMPIASKAN LUKA
12 REALITAS PAGI HARI
13 IKATAN BARU DAN SENTUHAN PENYEMBUH
14 KESENYAMANAN YANG SEMBUNYI
15 INTUISI SEORANG SAHABAT
16 DI BALIK PINTU PRIVAT
17 DI BAWAH KABUT HASRAT
18 DI BAWAH SOROT MATALU
19 TOPENG YANG KIAN RETAK
20 TERSINGKAPNYA RAHASIA BESAR
21 KESEPAKATAN DI TENGAH BADAI
22 KONTRAKSI DAN SEBUAH DUGAAN
23 PENGUMUMAN DI TENGAH KEKACAUAN
24 TOPENG YANG HANCUR BERKEPING
25 RESTU DI BALIK BADAI YANG REDA
26 MAHKOTA YANG TERLUKA
27 DI BALIK DINDING KACA
28 JEJAK YANG TERTINGGAL
29 BAYANGAN DI BALIK KABUT
30 FASE BARU DI BAWAH CAHAYA MATAHARI
31 IKATAN DI ATAS ALTAR SUCI
32 TANGIS PERTAMA DI UJUNG DUNIA KECIL KITA
33 WARISAN KASIH DI BAWAH SURYA PAGI
34 BADAI YANG KEMBALI MENGULANG
35 KILAU BAJAK LAUT DI ATAS PISAU TAJAM
36 BAYANGAN DI BALIK TERALI BESI
37 PAGI SETELAH BADAI
38 Titik Balik di Ujung Senja
39 GEMA DI RUANG KELUARGA DAN RENCANA MASA DEPAN
40 LANGKAH PERTAMA DI DIASPORA SOSIAL
41 DI BAWAH LANGIT BOGOR YANG TEDUH DAN HANGATNYA KEBERSAMAAN
42 PULANG KE RUMAH, MENEMUKAN KELUARGA
43 Fajar Baru dan Janji yang Tak Lekang oleh Waktu
44 BAYANGAN MASA LALU YANG KEMBALI MENGISI RUANG
45 BAYANGAN YANG KEMBALI MENGULUR KELAM
46 DI UJUNG TANDUK
47 CAHAYA BARU DI BAWAH LANGIT PAGI
48 BAYANGAN BARU DI BALIK CAHAYA KEMENANGAN
49 JEJAK YANG KEMBALI TERKUAK
50 BAYANG-BAYANG DI BALIK CAHAYA KOTA
51 BADAI DI AWAL PEKAN
52 KEJATUHAN SANG PENGECUT
53 FAJAR BARU TANPA BAYANGAN
54 BAYANGAN DI BALIK KEMENANGAN
55 LABIRIN KEBOHONGAN DI LANTAI 42
56 EMBUN PAGI DI ATAS MENARA KEPERCAYAAN
57 PUSARAN HARMONI DI BAWAH LANGIT METROPOLITAN
58 SIMFONI DI ATAS PUNCAK KEJAYAAN
59 FAJAR KEEMASAN DAN JANJI YANG ABADI
60 BAYANGAN DI BALIK CAHAYA MENTENG
61 DETIK-DETIK MENEGANGKAN DI GERBANG SEKOLAH
62 BAYANGAN DI RUANG INTEROGASI
63 JEJAK DI BALIK HUJAN
64 JEJAK KAKI DI PAGI BUTA
Episodes

Updated 64 Episodes

1
TOPENG SEMPURNA DAN SANGKAR EMAS
2
TARUHAN GILA DI SUDUT REMANG
3
RUNTUHNYA PERTAHANAN SANG DOSEN KILLER
4
BAKAT TERPENDAM DAN STRATEGI BARU
5
DINDING ES YANG BELUM RETAK
6
BAYANG-BAYANG YANG MENGGANGGU
7
SERIBU SATU CARA SANG CEGIL
8
PERTEMUAN DI MEJA MAKAN
9
BATASAN YANG HAMPIR RETAK
10
RUNTUHNYA SEBUAH HARAPAN
11
MELAMPIASKAN LUKA
12
REALITAS PAGI HARI
13
IKATAN BARU DAN SENTUHAN PENYEMBUH
14
KESENYAMANAN YANG SEMBUNYI
15
INTUISI SEORANG SAHABAT
16
DI BALIK PINTU PRIVAT
17
DI BAWAH KABUT HASRAT
18
DI BAWAH SOROT MATALU
19
TOPENG YANG KIAN RETAK
20
TERSINGKAPNYA RAHASIA BESAR
21
KESEPAKATAN DI TENGAH BADAI
22
KONTRAKSI DAN SEBUAH DUGAAN
23
PENGUMUMAN DI TENGAH KEKACAUAN
24
TOPENG YANG HANCUR BERKEPING
25
RESTU DI BALIK BADAI YANG REDA
26
MAHKOTA YANG TERLUKA
27
DI BALIK DINDING KACA
28
JEJAK YANG TERTINGGAL
29
BAYANGAN DI BALIK KABUT
30
FASE BARU DI BAWAH CAHAYA MATAHARI
31
IKATAN DI ATAS ALTAR SUCI
32
TANGIS PERTAMA DI UJUNG DUNIA KECIL KITA
33
WARISAN KASIH DI BAWAH SURYA PAGI
34
BADAI YANG KEMBALI MENGULANG
35
KILAU BAJAK LAUT DI ATAS PISAU TAJAM
36
BAYANGAN DI BALIK TERALI BESI
37
PAGI SETELAH BADAI
38
Titik Balik di Ujung Senja
39
GEMA DI RUANG KELUARGA DAN RENCANA MASA DEPAN
40
LANGKAH PERTAMA DI DIASPORA SOSIAL
41
DI BAWAH LANGIT BOGOR YANG TEDUH DAN HANGATNYA KEBERSAMAAN
42
PULANG KE RUMAH, MENEMUKAN KELUARGA
43
Fajar Baru dan Janji yang Tak Lekang oleh Waktu
44
BAYANGAN MASA LALU YANG KEMBALI MENGISI RUANG
45
BAYANGAN YANG KEMBALI MENGULUR KELAM
46
DI UJUNG TANDUK
47
CAHAYA BARU DI BAWAH LANGIT PAGI
48
BAYANGAN BARU DI BALIK CAHAYA KEMENANGAN
49
JEJAK YANG KEMBALI TERKUAK
50
BAYANG-BAYANG DI BALIK CAHAYA KOTA
51
BADAI DI AWAL PEKAN
52
KEJATUHAN SANG PENGECUT
53
FAJAR BARU TANPA BAYANGAN
54
BAYANGAN DI BALIK KEMENANGAN
55
LABIRIN KEBOHONGAN DI LANTAI 42
56
EMBUN PAGI DI ATAS MENARA KEPERCAYAAN
57
PUSARAN HARMONI DI BAWAH LANGIT METROPOLITAN
58
SIMFONI DI ATAS PUNCAK KEJAYAAN
59
FAJAR KEEMASAN DAN JANJI YANG ABADI
60
BAYANGAN DI BALIK CAHAYA MENTENG
61
DETIK-DETIK MENEGANGKAN DI GERBANG SEKOLAH
62
BAYANGAN DI RUANG INTEROGASI
63
JEJAK DI BALIK HUJAN
64
JEJAK KAKI DI PAGI BUTA

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!